Jurnal Novel komik petualangan agen 005 Surosena:Kronologi Kerajaan besar Ibrohim ‘as.,:Siroh Nabawiyah-Fathul Khoibar

Surosowan Tb Arief Z-flamming art

Font Satria Surosena/ serial agen 005 Surosena (2012), by Tb Arief Z-flamming art. Aplikasi vektor Adobe ilustrator CS 6 dan Psd CS6

Surosowan-Tb Arief Z-art

Kerajaan Ibrohim dan Sarasen

Tb Arief Z-art

Macan Ali, by Tb Arief Z-art

Surosowan-Tb Arief Z-art

pedang-dul-fakhar Nabi SAW., Panglima sayidina Ali dan gunungsepuh dzuriyah Surosowan/ kekaisaran Sultan Banten Darussalam

Tb Arief Z-art

(Step-2) Masjid Madinah (2012). By Tb Arief Z-art. Paint on black shirt.

Surosowan-Tb Arief Z-art

Motor Jagur (2012), by Tb Arief Z-art. lukisan di kaos hitam.
Price : Rp 80.000

 

 

 

Bersambung ke: http://wp.me/P22Vy9-jO

Novel komik agen 005 Surosena: Babad Tanah Jawi : Kisah Jaka Tarub dan Babad Mataram

Surosowan-Tb Arief Z-art
Font Satria Surosena. (2012) By Tb Arief Z-art
Surosowan-Tb Arief Z-art
Desain-1 sampul novel komik agen 005 Surosena: Perjuangan Jati diri
Surosowan-Tb Arief Z-art doc
relief hijau Ki Ageng Jaka Tarub

Mungkin di buku-buku dominan memberitahu siapa senopati Majapahit hingga ke kronologi sejarah Joko Tingkir sebagai puteranya Panglima senopati andalan Majapahit, Andayaningrat. Tapi ironisnya kurang di angkat sejarah siapa turunannya Ki Sunan Kudus,  juga Panglima Suronata Majapahit tapi di pihak oposisi sesama Majapahit yang bahkan berhasil menewaskan Andayaningrat, bahkan hingga memburu para turunannya, Ki Tingkir, hingga mengalahkan Adiwijaya di dekat Merapi waktu perang melawan Senopati ing alaga Mataram . Maka inilah kisahnya turunannya Ki Sunan Kudus, Joko Tarub hingga pribadi termasuk turunannya.

Karena di masa orla, pendiri Pertamina ialah purn. Jend. Ibnu Sutowo, salah satu turunannya Adiwijaya/ Joko Tingkir, kemudian Pertamina jadi perusahaan minyak tumpuan utama BUMN nasional. Apalagi kontroversinya perwakilan turunan Mataram di penguasa orba ialah mantan Presiden RI ke-2, purn. Mayjen Pangkostrad R. Soeharto. Kontroversi terlebihnya sebenarnya bukan pada Pak Hartonya tapi pada anak-anak keluarga Cendana.

Padahal hadiningrat Mataram pula bukan hanya keluarganya, tapi seolah keluarganya saja sebagai keistimewaan hadiningrat Mataram. Walau di segenap hadiningrat Mataram juga jangankan punya perusahaan sendiri, pekerjaan dengan gaji cukup pun ada yang tidak punya. Bahkan seperti keluarga putera mahkota gunungsepuh kesultanan Banten Darussalam yang juga peranakan keraton Kota Gede pun kesultanannya belum di kembalikan/ di kompensasi utuh hak istimewanya.

Padahal hadiningrat Kota Gede adalah dari keraton tersulung/ kasepuhan  di segenap Mataram dari Pakubhuwono, Surakarta, Ngayogyakarta.

Kini keraton Kota Gede hingga kini pun penghuni dan hadiningrat asalnya tetap di anggap sebagai kasepuhan Mataram, dan masuknya di wilayah Propinsi DI Yogyakarta, bersama kota Klaten, situs candi Kalasan. Tapi, dulu karena tidak kebagian jatah kedaton kesultanan Mataram, maka di antaranya ada yang pindah ke kesultanan Banten, termasuk menjadi keluarga putera mahkota kesultanan Banten seperti keluarga pribadi, dari cucu buyut Sultana Ratu terakhirnya, Ratu Kahinten. Tapi keratonnya di Kota Gede tetap jadi simbol kasepuhan segenap Mataram.

Jadi di urutkan dengan Pak Harto yang di biografinya dituliskan masih turunan selir kesekian dari Sultan HB VII, berarti masih Om, atau paman ke pribadi, atau adik kekerabatan/adik sepupu di hubungan Mataram.

Juga dengan terdapatnya Prof Srihadi Sudarsono/keluarga Sudarsono, mantan Menhan Prof. Juwono Sudarsono dari keraton Surakarta, juga masih adik kekerabatan, berdasar latar segenap Mataram adalah kasepuhannya keraton Kota Gede/ di sebut juga hadiningrat Dul Gendhu.

Hingga kini masih ada keluarga penghuni keraton kasepuhan Kota Gede, yang bahkan menyebutkan tidak sembarang, atau untuk menjaga tanda garis keturunan di susuhunan Mataram, juga di keraton Pakubhuwono, keraton kasunanan Surakarta, keraton kanoman Ngayogyakarta.

Jadi walau keraton kasepuhan Kota Gede termasuk di dalam wilayah Propinsi DI Yogyakarta, di mana terdapat tradisi kedaerahan panjenengannya pada Sri Sultan HB Ngayogyakarta, apalagi kini dengan adanya RUUK DI Yogya, tapi secara adat/adab keluarga, susuhunan tetap saja setiap Sultan Mataram juga adiknya keluarga keraton Kota Gede.Jadi tidak berlaku buat keluarga Kota Gede panjenengan pada bahkan tiap Sultan Mataram. Justru kebalikannya sesuai adab kekerabatan, adik yang hormat pada kakak kekerabatannya.

Info keterangan ini untuk pemberitahuan situasi adat tradisi sebenarnya di Mataram.

  • Kisah dzuriyah Joko Tarub cucu Ki Sunan Kudus bertemu Bidadari.

Putera Sunan Kudus menentang perintah ayahnya di jodohkan dengan perempuan pilihan ayahnya yang keras, Ki Sunan Kudus. Yang juga mantan Panglima Suronata berjasa, pahlawan perang Suronata.

Karena sudah punya pilihan sendiri jodohnya, kemudian kabur dari Kudus. Tapi di pelarian kekasihnya yang sedang hamil mangkat, tapi bayinya sempat tertolong lahir. Yakni Jaka Tarub.

Joko Tarub mulanya tumbuh sebagai pemuda yang suka berburu hingga ke pedalaman hutan.

Suatu ketika Joko Tarub tak sengaja menemukan bidadari dari langit turun ke kali jernih dekat air terjundi hutan.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc
Joko Tarub di hutan yg belum dirambah

Dasar mata pemuda nakal, Joko Tarub terus saja melihat pemandangan itu. Dan matanya memperhatikan tiap sosok-sosok gadis bidadari yang sedang hendak mandi bertelanjang.Ketika satu-persatu dari mereka melepaskan busananya. Semakin nampak tiap-tiapnya cantik bertubuh elok bagaikan bidadari.

Dan pandangannya tertuju pada satu sosok bidadari yang di anggapnya paling menarik di antaranya, Dewi Nawangwulan.

Maka rencana usilnya pun muncul. Tadi teringatnya selendangnya Dewi Nawangwulan berwarna hijau, dan Jaka Tarub mengambilnya. Kemudian menyembunyikannya.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc
Kisah Jaka Tarub lukisan R Basuki Abdulah

Kemudian Jaka Tarub mendatangi para bidadari yang sedang asyik mandi. Membuat mereka tiba-tiba terkejut dengan kedatangan Jaka Tarub. Dan meninggalkan keasyikannya sedang mandi di air terjun di hutan.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc
lukisan Jaka Tarub

Ketika satu-persatu gadis-gadis bidadari meninggalkan kolam, naik ke darat mengambil selendangnya. Tinggal Dewi Nawangwulan yang sembunyi saja di kolam, dan nampak kebingungan menemukan selendangnya hilang.

Sedangkan tanpa selendangnya berarti ia tidak bisa terbang pulang kembali ke kahyangan.

Tapi teman-temannya pada meninggalkannya. Tinggal Jaka Tarub memanfaatkan situasi.

Kemudian memboyongnya pulang ke desanya.

Di desa ia Jaka Tarub di wanti-wanti oleh Dewi Nawangwulan untuk tidak memberitahukan siapa dirinya sebenarnya sebagai Bidadari dari surga.

Kemudian Dewi Nawangwulan dan Jaka Tarub menjadi suami-isteri.

Dari pernikahan Dewi Nawangwulan dan Jaka Tarub berketurunan puteri Dewi Nawangwulan.

Hingga suatu ketika Jaka Tarub dalam urusan pergi bekerja, Dewi Nawangwulan menemukan kain selendangnya.

Setelah Jaka Tarub pulang, Dewi Nawangwulan memperlihatkan kain selendang temuannya. Tanda Jaka Tarub yang selama ini telah berbohong padanya.

Karena sudah menemukan kain selendangnya Dewi Nawangwulan kembali pulang terbang ke kahyangan. Meninggalkan Jaka Tarub yang sudah usia separuh baya bersama anak perempuannya, Dewi Nawangsih.

Setelah dewasa, Dewi Nawangsih bertemu Raden Bondan Kejawan, putera bungsunya Prabhu Kertabhumi.

Perrnikahannya di restui Ki Jaka Tarub, lurah di desa Citarub (entah juga desa Citarub ini di mana, ada pula wilayah bernama Citeureup kini dekat Cibinong, Bogor).

Dari pernikahan Raden Bondan Kejawan dan Dewi Nawangsih, berketurunan Ki ageng Selo. Ki ageng Selo ini di Babad Mataram yang di ceritakan sejak masa kanak dan pertumbuhannya memiliki kemampuan aneh. Seperti menangkap petir, Ki Bicak. Mungkin juga karena pengaruh masih dekat puteranya bidadari.

Di mana cerita Babad Mataram juga di katakan peneliti barat, seperti buatan politik kekuasaannya Sultan Agung Mataram.

Dan di babad Mataram sejak Ki Ageng Selo, dan masih turunan awal Mataram juga di ceritakan tiapnya memiliki kemampuan sebagai pendekar, di samping lurah desa. Hingga turunannya Ki ageng Ngenis hingga Ki Gede Pemanahan di samping sebagai lurah juga menjadi pendekar prajurit bayaran.

Ki ageng Ngenis juga pernah di minta bantuan oleh kesultanan Demak waktu itu pemerintah pusat.

Ki Ageng Ngenis kemudian berketurunan Ki Gede Pemanahan.

Di samping sebenarnya antar sebagai sesama keturunan Majapahit ada seperti rasa ketidakpuasan, lantaran takhta Majapahit jadi hanya jatuh ke Demak. Seperti yang juga di rasakan Jaka Tingkir.

Tapi Jaka Tingkir sejak muda belajar ilmu kanuragan ke banyak guru, hingga menjadi kuat.Dan di terima menjadi prajurit di Demak, bahkan hingga naik pangkat ke senopat dan Dipati, bahkan di angkat menjadi menantu Sultan III Demak, Trenggono, walau dalam pengabdiannya di Demak, Joko Tingkir juga kadang berseberangan pendapat dengan Trenggono.

Waktu itu Sultan Demak Trenggono punya puteri-puteri Demak yang cantik-cantik.

Sultan Demak Trenggono punya menantu-menantu seperti Pangeran Madura, Pangeran Maulana Hasanuddin Dipati Banten yang menikah dengan puteri ke3,  Pangeran Dipati Kalinyamat, Dipati Hadiwijaya (Joko Tingkir) menikah dengan puteri ke-5 Trenggono.

Maulana Hasanuddin ini pernah di bantu Sultan Trenggono waktu misinya menggulingkan Dipati korup di Banten, dengan mengirimkan Panglima Demak, Fatahilah. Hingga melalui ayahnya Ki Sunan Gunung Jati yang berusia 105 tahun waktu itu sekalian di angkat menjadi Sultan Banten Darussalam. Bahkan Fatahilah kemudian naik pangkat jadi penasihat Sultan Maulana Hasanuddin, melalui Ki Sunan Gunung Jati. Dan Sultan Trenggono waktu itu sangat hormat pada Wali Pandita Ratu.

Sejak Trenggono mangkat, terjadi gono-gini perebutan takhta dan warisan di kesultanan Demak. Antara puteranya Trenggono, Sunan Prawoto dengan adiknya Trenggono dari lain ibu, atau isteri ke-2 Raden Patah dari puteri Kanduruwan. Alias paman Sunan Prawoto, P. Seda Lepen. Jika P.Sabrangler dan Trenggono dari isteri puteri Sunan Giri yang juga masih kesultanan Giriprapen waktu itu di Jatim, terletak di dekat Surabaya.

Dalam pertikaian di sungai, P.Seda Lepen tewas bersimbah darah. Puteranya Aria Penangsang, yang juga Dipati Jipang, menuntut dendam pada P. Sunan Prawoto yang juga di tabalkan menjadi penerus Sultan Demak (IV).

Aria Penangsang berhasil membalas dendam dengan memimpin pasukan Jipang-kang membakar kota Demak, tinggal sisa Masjid. Sunan Prawoto yang kabur ke Semarang tewas ketika sempat terkejar pasukan Aria Penangsang.

Munculnya Aria Penangsang sempat membuat cemas di sekitar para Pangeran Demak, termasuk para Pangeran Dipati menantu-menantu Trenggono. Karena Aria Penangsang ini juga di kenal kuat, punya ilmu kebal, di samping di bantu Ki Sunan Kudus (kesekian). Dan punya senjata keris pusaka.

Pangeran Kalinyamat yang menentang padanya di bunuh secara licik, dengan suruhan orang-orang pasukannya. Aria Penangsang pun menjadi ‘bigbos’ waktu itu.

Aria Penangsang yang punya ambisi merebut kekuasaan juga mengincar para sisa Dipati menantu-menantu Trenggono, termasuk Hadiwijaya bahkan hingga Maulana Hasanuddin, dengan adanya rencana misi ekspedisi pasukanya ke Cirebon terlebih dulu.

Makanya di Jayakarta, mendadak bupati Fatahilah di panggil Ki Sunan G. Jati ke Cirebon, untuk membangun benteng.

Dan Fatahilah jadi pensiun sebagai Bupati dan menyerahkan jabatan pada Tubagus Angke, masih keturunan dari kakak perempuannya Sultan Banten Maulana Hasanuddin.

Tubagus Angke ini yang juga kemudian bergelar P. Jayakarta I/ P.Wijayakrama I.  Tapi di masa kekhawatiran di Cirebon, Sultan Banten malah menugaskan Tubagus Angke yang juga mantunya, untuk menjaga Banten dari Jayakarta, karena ia hendak memimpin ekspedisi pendudukan di Lampung buat mendapatkan lahan perkebunan baru buat kesultanan Banten.

Dari sejarah yang nampak, Maulana Hasanuddin nampak tidak khawatir dengan munculnya Arya Penangsang, karena ia punya adik ipar Dipati Hadiwijaya yang bisa di andalkan.

Dan Hadiwijaya dengan Aria Penangsang sempat berhadap-hadapan, bahkan nyaris bertarung setelah memperlihatkan keris pusaka masing-masing. Aria Penangsang sempat khawatir ketika Hadiwijaya mengatakan masih punya keris pusaka lebih kuat dari Ki Setan Kober, dan Ki Cerubuk. Kemudian datang Ki Sunan Kudus kesekian melerai, sebenarnya khawatirnya justru Aria Penangsang yang tewas.

Dipati Hadiwijaya kemudian memanggil Ki Gede Pemanahan, Ki Panjawi buat di sewa untuk membantunya di misi membunuh Aria Penangsang.

Ki Gede Pemanahan bahkan sudah punya putera yang sudah berusia pemuda, Raden Ngabehi Saloring Pasar, atau Sutawijaya. Hadiwijaya yang memberikan senjata pusakanya, tombak Ki Plered, senjata pusakanya rata-rata peninggalan pusaka Majapahit. Semuanya di yakini ada ‘isi’nya.

Kemudian Ki Gede Pemanahan memberikan tombak Ki Plered pada puteranya, Sutawijaya.

Siasat di jalankan, tukang kudanya Aria Penangsang di potong kupingnya. Hingga dalam keadaan masih memegang bagian telinganya yang berdarah, membuat Aria Penangsang yang sedang makan jadi menggebrak meja hingga patah menjadi 2. Dengan keadaan marah, Aria Penangsang langsung naik kudanya Gagak Rimang.

Tapi begitu masuk hendak menyeberang sungai, langsung di panah pasukan Hadiwijaya.

Walau sudah di hujani panah demikian banyaknya, Aria Penangsang masih mengamuk di sungai. Kemudian Sutawijaya datang menusukkan tombak Ki Plered, hingga kena Aria Penangsang pun tewas.

Sejak itu, Ki Gede Pemanahan dengan puteranya Sutawijaya menagih janjinya pada Sultan Pajang, Hadiwijaya yang telah berjanji jika misi sudah di kerjakan, maka di beri hadiah tanah Mataram.

Tadinya Hadiwijaya sempat mau urung membayar janjinya, tapi setelah di datangi Ki Sunan Kalijaga membela Ki Gede Pemanahan, Hadiwijaya jadi segan.

Lagi2 Hadiwijaya kesal pada Sutawijaya, karena puteri cantik titipannya dari hadiah Ratu Kalinyamat malahan di nikahi Sutawijaya.

Kemudian lagi2 Hadiwijaya di datangi Ki Sunan Kalijaga, dan Hadiwijaya pun jadi merestui.

Sepeninggal Ki Gede Pemanahan yang sebenarnya juga ada perseteruan dingin dengan Sultan Pajang Hadiwijaya, ketegangan antara Mataram dengan Pajang meningkat.  Dan ada faktor2 yang menguntungkan Mataram, di antaranya faktor Hadiwijaya yang telah berusia tua.

Oleh Ki Sunan Tembayat, Sutawijaya di anjurkan membangun benteng.

Sutawijaya yang sempat belajar juga dari Hadiwijaya, lama-kelamaan enggan membayar pajak saban tahunannya, atau menghadap pada bapak angkatnya, Hadiwijaya. Bahkan hasil-hasil pajak dari Dipati lain di cegatnya, kemudian di belokkan ke Mataram.

Bahkan di Mataram Dipati yang di belokkannya di ajak pesta, hingga para Dipati tadinya bawahan Pajang jadi berbelok mendukung Sutawijaya di Mataram.

Sultan Pajang Hadiwijaya mendengar laporan dari mata-matanya bahwa Sutawijaya sedang membangun benteng di Mataram.

Kemudian ia mengirim utusannya ke Sutawijaya.

Bersambung ke http://wp.me/P22Vy9-jd

Novel komik agen 005-Surosena : Kerajaan Ibrohim Kronologi Kerajaan Sarasen: Kisah dzuriyah Jaka Tarub, cucu Wali Ki Sunan Kudus dari Syarif Palestina dan Majapahit

Surosowan-Tb Arief Z-art

Kerajaan Ibrohim dan Sarasen

Surosowan-Tb Arief Z-art

Desain-1 sampul novel komik agen 005 Surosena: Perjuangan Jati diri

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

Kisah Jaka Tarub lukisan R Basuki Abdulah

Menurut Babad Tanah Jawi, Ki Jaka Tarub ialah masih cucu keturunan Ki Sunan Kudus.

Dari Ki Jaka Tarub juga termasuk moyangnya pendiri kesultanan Islam Mataram. Salah satunya Ki ageng Selo yang masih keturunan Bondan Kejawan, atau Lembu Peteng dari pernikahan dengan puterinya Ki Jaka Tarub.

Ki Sunan Kudus juga peranakan Syarif (dzuriyah)  Palestina /Qudds dan bangsawan Majapahit. Dan termasuk Wali Songo dan Panglima Suronata II waktu pralaya menghadapi pemerintah pusat Majapahit, menggantikan ayahnya Raden Ja’far atau Sunan Kudus I yang gugur waktu berhadapan dengan Senopati andalan Majapahit, Andayaningrat (kakeknya Joko Tingkir/ Sultan Pajang, Hadiwijaya) yang mulanya bernama Kebo Kenanga. Seorang pendekar Jawa yang sakti digjaya dari desa, di angkat jadi senopati karena mampu masuk ke keraton Majapahit dan ke kamar puterinya Prabhu Kertabhumi, semacam dengan ilmu menghilang. Hingga lahir Ki Tingkir ayahnya Joko Tingkir.

Perang Suronata terjadi lantaran Majapahit terlebih dulu mengirim pasukan untuk menggempur bangsawan-bangsawan nusantara  berlaskar bumiputera yang beragama Islam lantaran di curigai hendak memberontak dan mempersiapkan pasukan untuk mengambil alih pusat pemerintahan di Majapahit. Walau memang benar.

Mulanya laskar gerilya Suronatara kalah kuat dari pasukan Majapahit sebagai pasukan pemerintah yang lebih terlatih militer, tapi di akhir babak, dengan rahmat ALLOH, pasukan pemerintah Majapahit yang hendak menindas di gulingkan.

Sejak dari peristiwa Suronata ini, jadi seperti terdapat hikmat jangan terlalu mempercayakan memperkuat kekuatan dan kedaulatan di pemerintah, atau elit, justru di rakyat.

Prabhu Kertabhumi ialah naik takhta dengan merebut takhta dari Prabhu Majapahit sebelumnya. Bahkan menjadi Prabhu di masa Majapahit mengalami kebangkrutan. Tapi di tolong oleh Wali yang juga pedagang kaya dari Tiongkok, Syekh Bentong.

Justru Syekh Bentong yang datang menumpang kapalnya Chengho, melalui kesaksian juru tulisnya yang juga muslim, Ma Huan, menuliskan orang-orang Jawa ini keras, jika terjadi perselisihan maka langsung cabut keris dan duel bahkan hingga tak takut mati.

Bahkan  terjadinya paregreg lantaran sesama bumiputera kesal lantaran haknya dikorupsi, di khianati. Hingga ke  masa modern dampaknya jadi menggunakan persekutuan dengan mancanegara atau barat.

Jikalau keadilan sudah utuh sedari mula hal-hal itu mungkin saja bisa tak terjadi.

Dan di Jawa sebenarnya kekayaan alamnya melimpah. Emas, tambang.  Makanya hingga kini pun pengusaha Cina, termasuk mengambil kekayaan alamnya banyak dari Indonesia hingga membuat negaranya kaya. Bahkan ada koruptor turunan Tionghoa misalkan kemudian kaburnya berhasil ke negeri Cina, dulu di lindungi. Bahkan ada yang hingga di jadikan pejabat di negeri Cina.

Apalagi di tambah dengan masuknya penjajah barat di jaman dulu. Tapi bangsa Indonesianya yang tidak pandai mengolah, ironisnya.

Bahkan tidak utuh segenap kekayaan alam Indonesia di kuasai dan di miliki segenap bangsanya sendiri.  Bahkan ada pemerintah nasional mestinya sebagai pembesar malahan korupsi atau melaluinya turut menjual sebagian besar kekayaan alam Indonesia ke asing.

Kebangkrutannya lantaran juga ulah para pembesar atau pejabat negara, diantaranya banyak yang  korupsi, dan akibat paregreg berkepanjangan.

Di babad tanah Jawi, ceritanya Joko Tarub bertemu dengan perempuan bidadari, di mana di lukiskan R. Basuki Abdulah nampak berkulit kuning langsat bagaikan cerita perempuan Wandan di Babad tanah Jawi.  Kemudian muncul ucapannya pendeta Budha dari Siam, yang mengatakan juga datang dan kadang melakukan pemandian di suatu area air terjun ketika datang ke Jawa.

Tapi jika di perhatikan orang-orang tua dulu dari hadiningrat Mataram, di lukisan potret atau fotonya dulunya memang nampak berpostur tinggi-tinggi, gagah, tampan para pangerannya, dan cantik puterinya. Seperti Surosena melihat foto neneknya dari bapaknya, nampak cantik berkulit putih, berupa mirip Yessi Gusman.

Demikian juga nenek dari Bogor, yang juga peranakan Surosowan dan Kota Gede. Di tambah lagi indo Belanda, hingga usia nenek-neneknya pun masih nampak seperti nenek bule Belanda muslimah. Kedua neneknya nampak berkulit putih.

Apa lantaran juga pengaruh cerita Babad tanah Jawi- Jaka Tarub menikah dengan bidadari. Jika menilik pada cerita Jaka Tarub juga jadi takjub juga bahwa dirinya termasuk turunan bidadari, tapi tetap manusia. 

Ada pula kata alm Zaenuddin MZ manusia bisa jadi setengah malaikat bisa juga jadi makhluk buas.

Unik juga cerita Jaka Tarub ini, karena di dapat renungan juga, bahwa hingga bidadari surga pun turun mandinya di Jawa, kenapa tidak turun di wilayah lain. Apa lantaran Jawadwipa demikian indahnya dulu dengan mata airnya yang jernih hingga menarik bidadari surga mandinya di Jawa. Atau renungan seperti besarnya rahmat dari Takdir ALLOH SWT jua, hingga mengarahkan bidadari ketemunya dengan kakek Ki Jaka Tarub, di antara segenap laki-laki di  seantero bumi.

Surosena jadi geli juga jika misal ingat bersekolah atau sempat di tanya hubungan biodata pribadi, kemudian dengan pertanyaan, siapa orangtuamu? dari suku, kota kebangsaan mana? Kemudian jika di jawab anak bidadari. Sedangkan pula bidadari dari ras netral, karena berasal dari luar bumi. Jika menghubungkan sejarah asal-usul ini, seperti cerita komik X-men tapi masuk ke kenyataan. Atau cerita Alien.

Pernah teringat olehnya, ketika dosen lukisnya, Mas Tantio Adjie selepas kelulusan ujian S-1nya di seni lukis FSRD IKJ, sempat berucap seperti selipan canda,”,,,anak siapa tuh,,,.” Jadi sempat bertanya juga apa ia juga sampai berpikiran ke cerita Jaka Tarub ini, sampai berucap demikian, setelah dosennya tau asal-usulnya berhubung hadiningrat Mataram dan kesultanan Banten.

Tapi, ada pula yang tetap percaya bahwa sesuai ceritanya di Babad tanah Jawi, gadis-gadis yang di temukan Jaka Tarub, benar-benar bidadari dari surga turun mandi ke bumi, dan kebetulan pula ketemunya dengan cucu dzuriyah Ki Sunan Kudus, Jaka Tarub.

Di siroh nabawi pun di ceritakan Nabi SAW., hingga dzuriyah puterinya, Fatimah ra., di karuniai ALLOH SWT., bisa melihat hal-hal ghoib termasuk melihat malaikat Jibril. Juga para sahabat ra., dan umat yang di karuniai ALLOH SWT., kemampuan demikian.

Bahkan jika Nabi-nabi hingga Nabi penutup Nabi Muhammad SAW., di karuniai ALLOH SWT., mukjizat, maka di antara keluarga, keturunan, cucu-cucu beliau SAW., dzuriyah dengan para sahabat ra., umat Islam ada di karuniai ALLOH SWT., seperti kekuatan ghoib di sebut karomah.

Misal di cerita sayidina Ali ra., Umar ra., hingga para Wali Songo yang juga cucu-cucu Nabi SAW. Seperti di pembuka surat Al-Baqoroh juga tercantum soal beriman dengan yang Ghoib.

Di mana memang ada juga berbagai kisah-kisah ghoib di sekitar dzuriyah. Misal seperti saudara sepupu yang kembar, ketika berusia kecil kebetulan rumahnya di Bogor dekat kawasan hutan, ketika bermain di dekat hutan, tiba-tiba di datangi 2 sosok orang tua misterius, berpakaian seperti orang Sunda, kemudian tiba-tiba saja alat vitalnya sudah di khitan olehnya secara ghoib.

Atau ketika pribadi dengan sekeluarga tiba-tiba ketika mobil sedang mogok di jalan tol, bahkan bersama petugas jasa marganya melihat sosok seperti hantu berjalan terbang di bukit ketika Maghrib. Kemudian kata petugas jasa marganya memang sudah biasa nampak pemandangan demikian.

Waktu kecil pun pribadi pernah ketika dengan sekeluarga menuju ke Jawa  duduk di belakang mobil holden station wagon di malam hari melintasi alas roban, sempat melihat seperti sosok orangtua berpakaian tradisional Sunda seperti pakaian Baduy dan di sampingnya harimau putih besar seperti piaraan jinaknya, seperti menjaga.

Kemudian malah ketika dewasa penglihatan yang mungkin di sebut jenis ilmu terawangan itu seperti  aus terpupus. Tapi, hanya seperti mendapat tanda-tanda surealis yang kadang pernah muncul, di antara sekian banyak lintasan memori data, dan kajian di otak kepala, di samping realitas : adanya kemungkaran/ kemangkiran.

Bahkan di antara kakak-kakak hingga sepupu dari Sunda atau Jawa, ada yang masih mengaku masih dapat penglihatan terawangan itu. Lagipula saudara Sunda dari Surosowan, dari Jawa Mataram, juga masih sama bertalian turunan dari Majapahit dan Mataram juga.

Tapi ada juga yang berpendapat perempuan itu Wandan. Mencoba berlagak cari terjemahan realistis kasat mata.

Perempuan Wandan itu adalah sebutan lain dari keturunan Cina. Makanya di lukiskan juga berkulit kuning langsat.

Tapi buat R. Basuki Abdulah, mungkin juga lantaran cari model telanjang buat lukisannya mudahnya dari perempuan etnis Indocina. Sedangkan ia mungkin punya minatnya di melukis/ menggambar anatomi.

Di samping Indonesia juga negara berpenduduk mayoritas umat Islam.

Di samping menurut tabib Majapahit, pada Raja Majapahit mengambil perempuan Wandan ada khasiatnya. Khasiatnya mengobati penyakit raja singa.

Di samping alasan utama sebenarnya lantaran dari isteri pertamanya, puteri Kamboja, Dwarawati mandul.

Dwarawati juga puteri sulungnya Raja Islam Prabhu Anom di Kamboja. Adapun adiknya, Chandrawati yang di nikahi Wali Syekh Maulana Malik Ibrohim, pamannya Sunan Gunung Jati, Syarif Hidayatuloh. Kemudian berputera Raden Ali Murtala dan R. Ali Rahmat/ Ki Sunan Ampel.

Makanya ketika mendapat kesempatan mengambil puteri Syekh Bentong jadi selirnya, Prabhu Kertabhumi jelas tertarik. Hingga hamil putera sulungnya Raden Patah Jimbun, tapi malah di cemburui oleh permaisuri Chandrawati, dan menyuruh isterinya puteri Syekh Bentong yang sedang hamil Raden Patah Jimbun di usir dari keraton Majapahit di Trowulan.

Sehingga suatu kali Brawijaya Kertabhumi terkena penyakit ketika mengambil hubungan dengan perempuan lain, malah salah pilih, sudah terkena penyakit hingga menularkan penyakit rajasinga padanya.

Kemudian di anjurkan tabib mengambil perempuan Wandan sebagai selirnya untuk mengobati penyakitnya. Dan berhasil sembuh, tapi dari hubungan pelaminan, si perempuan Wandan hingga hamil Bondan Kejawan.

Yang sakit hati akibat peristiwa pengusiran ibu-ibunya tersebut adalah anak-anaknya kebetulan putera-putera Prabhu Kertabhumi, termasuk Raden Patah Jimbun dan Bondan Kejawan.

Karena jadi tumbuh besarnya justru bukan di istana kerajaan. Kesal karena hak asal-usul istimewa mestinya, malah tidak di berikan adil, malah di tempatkan sama dengan warga di kampung.

Mulanya bahkan anak-anaknya Kertabhumi Pangeran Majapahit yang tadinya tidak di aku kemudian baru di akui, atau baru di ketahui sebenarnya Pangeran2 Majapahit, justru bergabung, benar untuk memberontak dan merebut takhta Majapahit dari ayahnya Kertabhumi. Apalagi Prabhu Kertabhumi sudah menjadi kepala negara sekitar 30-an tahun lebih juga.

Tapi, para Walisongo dan Islam juga yang menolong para Pangeran Majapahit anak-anaknya Kertabhumi.

Bahkan anak-anaknya juga menikahi puteri-puterinya turunan para Wali songo yang juga turunan Nabi SAW., hingga walau belum sempat di masukkan sebagai daftar putera mahkota Majapahit, martabatnya turut terangkat sebagai termasuk keluarga Qorba Rosul, yang jadi pemilik kerajaan besar sesuai Alkitab Qur’an,  pemilik wewenang Dul Fakhar, jadi termasuk pangeran-pangeran Timur tengah dan internasional, hak istimewanya jadi lebih besar berbanding ayahnya walau Prabhu Brawijaya, tapi hanya Prabhu dari turunan manusia biasa.

Kemudian si bapak Prabhu Kertabhumi yang berbalik terancam kekuasaannya. Apalagi anak-anaknya Pangeran Majapahit setelah tumbuh dewasa juga memiliki ilmu kanuragan pendekar semua di samping telah jadi umat Islam.

Tapi, oleh para Wali Songo, terutama dari Ketua I sesepuhnya Ki Sunan Ampel kerap menasihati, bagaimanapun Kertabhumi juga orangtuanya, dan Prabhu Majapahit juga telah menerima umat Islam dengan baik, di samping nasihat beliau untuk menjaga ketenteraman.

Di samping mengingat Islam adalah agama damai.

Tapi perang pun tak terelakkan, karena dari pemerintah pusat negara Majapahit duluan yang mengirimkan aparat untuk menyerang.

Dan umat Islam pun seperti rakyat bertahan dari kedatangan penindasan aparat pemerintah, perumpamaannya.

Kemudiannya melalui perang Suronata, para Pangeran muslim anak-anaknya Kertabhumi yang benar-benar mengambil alih kekuasaan Majapahit, dengan menggulingkan ayahnya, tapi Kertabhumi di lengser keprabonnya, hanya di jadikan tahanan rumah di Demak, dan singgsana beserta pusaka, atribut Majapahit di pindah ke Demak.

Kemudian turunannya menjadi kesultanan-kesultanan besar penguasa di Indonesia, seperti kesultanan gunungsepuh Banten Darussalam ( Kaisar Sultan Bang Wetan) yang bahkan tetap utuh menjadi kekaisaran Sultan, dan kesultanan Mataram, yang tapi terbagi jadi 3, lantaran perebutan internal. Hingga ketiganya bersepekat sekedar menjadi kesultanan Mangkubhumi. Tapi kekaisaran Sultan gunungsepuhnya tetap di Banten Darussalam/ Surosowan. Atau dengan sebagai Gunungsepuh Bang Wetannya.

Sebenarnya berdasar Jas merah, hak asal-usul istimewa kedaerahan pasal 18 BAB Otonomi Daerah UUD 45, berhubung RUUK Yogya, sejarah susuhunan demikian pula hak istimewa RUUKnya.

Walau sama telah jadi Propinsi DI Yogya atau DI Banten, di mana di Indonesia Propinsi Daerah Istimewa hanya 3 dengan Aceh. Walau dapat di setujui RUUK istimewa, Sultan Yogya tetaplah adiknya keluarga gunungsepuh kesultanan Banten Darussalam yang juga sebagai hak Kaisar Sultan di Indonesia dan internasional.

Maka sejak itu, keturunan Majapahit jadi beragam, ada yang seperti ke Austronesiaan, Melayu, dan ketionghoaan.  Bahkan setelah masa Hindia, di tambah ada yang keindoeropaan.

Tapi tetap bhineka tunggal ika kekeluargaan besar asal Majapahit.

Bondan Kejawan adalah putera bungsu dari Prabhu Majapahit Brawijaya, Kertabhumi.  Masih adik dari Raden Patah, putera sulungnya Prabhu Kertabhumi.

Jadi saudara seayah sebenarnya Demak, Banten, Mataram, di silsilah royal Majapahit. Makanya dari latar asal-usul ini, Sultan agung Mataram pernah memanggil Bang Wetan pada Sultan ageng Tirtayasa.

Bang Wetan berarti juga Abang Timur, dari Blambangan atau Majapahit maksudnya.

Ki Ageng Selo kemudian berketurunan Ki Ageng Ngenis, hingga Ki Gede Pemanahan berputera Raden Ngabehi Saloring Pasar atau Sutawijaya atau Senopati ing alaga Mataram.

Makanya di jaman modern mungkin dari kisah orang-orang tuanya yang hadiningrat Mataram, misal ada yang juga nakal-nakal, atau nekat buat mengambil perempuan jadi jodohnya, generasi dulunya pandai merayu perempuan, biasanya Raden-raden laki-laki, yang generasi dulunya sebelum menikah banyak pacarnya.

Tapi ketika sudah menikah rata-rata setia. Dan di masa mudanya yang generasi dulu banyak yang jadi tentara, di AD, AL, AU ditiap jurusan militer ada. Bahkan pernah ikut perang membela negara Indonesia.

Tapi ironisnya setelah kedaulatan Majapahit di pindah ke Demak, mulanya kerajaan-kerajaan menerima kehadiran Sultan I Demak, Raden Patah Jimbun yang juga tidak memaksakan kekuasaan atau memberi kebebasan kemerdekaan pada wilayah-wilayah kerajaan-kerajaan yang dulu di kuasai Majapahit untuk memilih. Jadinya membuat kerajaan-kerajaan memilih bersatu dengan sukarela.

Di samping Sultan Raden Patah juga hidupnya tidak berlebih-lebihan. Karena ia juga sempat berguru pada Ki Sunan Ampel.

Masjid Demak di bangunnya lagi sebagai masjid kasunyatan kesultanan Demak/ Demak moro dengan 3 tanda, rukun Islam, rukun iman dan rukun ihsan (keikhlasan/ kesukarelaan). Karena ada juga ajaran Islam adalah agama ikhlas/ sukarela.

Bahkan di abad 14 m., ketika di kekaisaran Cina juga mulai pudar, justru kekuasaan di Asia-Pasifik jadi berganti berpusat di kesultanan Demak. Sejak dulu pula, orang-orang Indian Amerika seperti suku Cherokee juga sudah beragama Islam. Bahkan huruf Indiannya bertulisan kaligrafi Islam.

Hingga suku Cherokee punah oleh masuknya imprealisme barat, sejak kedatangan Columbus dari Spanyol di abad 15m.

Tadinya lintas dagang di sekitar Asia-pasifik juga di kuasai kapal-kapal pedagang dari Demak. Yang juga mempunyai pelabuhan-pelabuhan besar, seperti pelabuhan Moro di Jateng, dan Semarang.

Tapi Demak juga mulai merasakan gangguan di kekuasaannya lantaran kedatangan Portugis sejak menguasai Gujarat, hingga di Malaka.

Sultan Demak I senopati Raden Patah Jimbun juga Sultan yang tidak pandang bulu soal menegakkan keadilan. Contohnya pada peristiwa ia memimpin pasukan Demak menyerang kelompok etnis Tionghoa yang dilatari gabungan cukong-cukong yang bahkan koalisi dari negeri Cina, memberontak di Semarang, karena mangkir atau bakhil di pinta jizyah buat baitul mal ekonomi.

Tapi, Demak juga menurun ketika setelah masa Sultan Demak III Trenggono, putera-puteranya berperang saudara, apalagi ketika di kuasai oleh Arya Penangsang, maka antipati pada Demak mulai terjadi.

Tapi Arya Penangsang pun kemudian di lawan oleh mantu-mantunya Trenggono, seperti Pangeran Kalinyamat dan isterinya Ratu Kalinyamat, Dipati Joko Tingkir termasuk dengan mengambil pendekar Ki Gede Pemanahan dan puteranya Ngabehi Saloring Pasar, Sultan I Banten Maulana Hasanuddin yang pro pada kekhawatiran ayahnya Sunan Gunung Jati dengan Fatahilah membangun benteng di Cirebon mawas dari terusan serangan pasukan Arya Penangsang ke Cirebon.

Arya Penangsang tadinya dengan kemunculannya menguasai pusat kedaton pemerintahan di Demak, juga muncul sebagai sosok yang kuat, punya ilmu kebal senjata, dan kemiliteran. Dan ahli strategi penuh tipu daya dan perangkap, di samping punya pasukan-pasukan siluman dari aparat. Tapi sebagai pemimpin negara tirani, semena-mena, manipulatif dan koruptif juga. Umpamanya seperti regenerasi duri dalam daging di Jawa.

Sejak masa Trenggono pun, Demak telah di kritik tidak adil, melakukan diskriminasi ras, seumpama hanya membantu ekonomi pada masyarakat Tionghoa saja, sementara penduduk bumiputera Jawa, di biarkan kesengsaraan miskinnya. Atau di kritik berbeda dengan masa Sultan I Demak, Raden Patah berlaku sebagai pusat kedaton/ pemerintahan negara.

Bahkan di masa Sultan I Demak Raden Patah juga berlaku keras pada negara Cina, sebagai penandaan bahwa penguasanya kini keluarga Sultan Demak di Jawa.

Perbandingannya dengan cerita di antara Surosowan, Aki Mohammad Harun ketika muda dari Jawa di jadikan romusha hingga di jadikan tentara Jepang di Siam. Kemudian menikahi gadis muslim Siam dari Pattaya, Patani dekat situs istana Sultan Mudzaffarsyah. Di sekitar juga terdapat permukiman kampung Jawa hingga kini.

Tapi, beda masa dulu dengan kini, kalau masa modern kini, perempuan-perempuan muda Wandan, atau turunan Cina kini yang cantik2, malahan dari bersolek, upayanya, hingga telanjangnya untuk sekedar memikat lelaki bule untuk mencari gengsi dan kesenangan hidup duniawi sia-sia belaka, bahkan ada sekedar di jadikan pelacur.

Maka lantaran seperti istilahnya sudah ‘salome’ belum tentu atau tidak lagi sesuai layak menyandang  gelar ‘Wandan obat’ yang pernah di berikan babad tanah Jawi seperti melalui cerita Prabhu Kertabhumi.

Bahkan menebus dengan membayar fa’i (ghonimah) ke bagian dzuriyah pun tidak. Malah seperti kacang lupa kulitnya, bahwa Rajanya adalah dari Majapahit, yang juga telah jadi kesultanan-kesultanan dzuriyah dari susuhunan kekaisaran Sultan gunungsepuh Surosowan Banten Darussalam (Bang Wetan) hingga para kesultanan mangkubhumi Mataram hingga Palembang.

Tapi, di samping kenyataan di masa  modern ini, di antara kebanyakan dzuriyah bahkan di keluarga kesultanan Indonesia, juga mulai berkurang ketertarikannya mengambil isteri dari perempuan etnis Cina, beda seperti di abad 13-14 m./ abad klasik.

Malahan regenerasi dzuriyah bisa jadi kembali lebih tertarik dengan perempuan muda setanah air kelahirannya, walau dari kakek-kakeknya pernah pula menikah dengan gadis mancanegara dari  puteri Cina, Tionghoa, barat  Belanda, Perancis (makanya hingga ada Paris van Java di Bandung), hingga Siam, hingga dengan lokal setanah air Indonesia, dengan puteri Kamboja, Demak, Jawa, Sunda, Jakarta, Rangkas, hingga Padang.

Seperti contoh sejarah pernikahan kakek-kakek dinasti Ki Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatuloh, yang rupanya banyak juga ragam pernikahan para Sultan dan Pangeran-pangerannya dengan koleksi keragaman isteri-isteri dan nenek-neneknya dinasti Syarif Hidayatulah.

Tapi ada yang belum di temukan, misal dengan Inggeris, Skotlandia (tapi terbawa bersaudara dari ipar keluarga feodal AS dengan Skotlandia) , Irlandia, Norwegia, Swedia, Denmark, Jepang, Korea, bahkan dengan negara tetangga Malaysia dan Brunai Darussalam, di samping di urutannya walau Raja-rajanya masih ada hubungan kerabat Raja-raja Melayu, tapi juga sebagai kelompok adik kerabatnya.

Memang mungkin ada pula pertimbangan sebagai generasi gunungsepuh dengan bibit bebet bobotnya Jawa. Justru jadi lebih hati-hati memilih. Bahkan banyak di antara generasi pemuda di keturunan gunungsepuh Sultan Banten yang hingga usia 50 tahun pun hingga tidak menikah di masa modern, mungkin juga karena pengaruh soal pilihan tersebut.

Tapi, di dampak lainnya di masa modern, di samping telah punahnya dzuriyah sayidina Hasan ra., dan  tinggal sisa dzuriyah sayidina Husain ra., dari cucu Nabi SAW., di mana cucu-cucu dari Nabi lain pun sudah punah, seperti dinasti Nabi Ishak/ Nabi Israil (lantaran juga di bunuh Raja Persia dan Raja Romawi), adiknya Nabi Ismail ‘as., dari 2 puteranya Nabi Ibrohim ‘as., di mana gunungsepuh sayidina al-Husain ra., pun semakin melangka.

Mungkin buat publik lebih mementikan keluarganya Raja Inggeris, Perancis, Jepang, padahal di hikmat AlKitabulah dan hadits Nabi SAW., di sebutnya, ALLOH SWT., hanya memberikan hak kekuasaan kerajaan besar pada keluarga Nabi Ibrohim ‘as., dan amanat bagi orang-orang beriman mengutamakan mendukungnya (yang mau dapat syafa’at di surga akhirat),  jikalau keluarga Nabi semakin melangka, maka bumi ini pun ikut bereaksi dan makin banyak azab, bencana alam, di samping punahnya keluarga Nabi sebelum kiamat bumi kemudian di mulai.

Dan minat ketertarikan juga misteri dan berhubung pilihan hati nurani individu-individu dari generasi ke generasi yang juga plural/ beragam.

Tapi juga, untuk mendirikan kembali kerajaan besar seperti kekaisaran Sultan gunungsepuh Banten Darussalam di jaman modern ini, maka ada pertimbangan melakukan seperti cara Sultan pertamanya mendirikan kesultanan dengan istana dan modal perusahaannya, memelihara lahan warisan agrikultur, dengan poligami dengan bantuan beristeri gadis-gadis sukses dan mapan.Di samping cara utamanya adalah dengan mengandalkan banyak bantuan. Membangun apapun paling penting di mulai dari tahapan kesesuaian basis pondasinya.

Bahkan di temukan di sejarah pendirian segenap kesultanan di Jawa pun demikian.

Atau berbanding dengan sejarah modern jika di kerajaan Perancis, Rajanya mengambil isteri aktris Grace Kelly, tapi pasif skill, besar sombong gengsi Hollywoodnya di samping kesombongan genetik Raja-rajanya sejak Louis XVI, yang bahkan di kontroversi rakyat Perancisnya, Kaisar Napoleon asal Corsica Italia yang juga arogan dan tirani.

Memang jika di lihat di sejarah Perancis, yang di nilai baik adalah : Voltaire, J.J. Rousseau, Baron Charles Montesquie, Letnan Du puy yang melawan penindasan Daendels di Banten, dan Three Musketeer, dan Eugene Delacroix dan komik Asterix dan Obelix, Tanguy Laverdure, terutama di cerita Penyabotan ke Israel, sewaktu Kapten Tanguy dan Letnan Laverdure sebagai perwira Perancis justru dengan berani menentang atasan militernya Israel yang jahat, dan manipulatif.

Maka ada lagi contoh seperti di Argentina, Pemimpin Juan Peron beristeri Evita Peron yang juga pandai bernyanyi ‘Don’t cry for me Argentina,’ merakyat, dan membantu suaminya sebagai pemimpin walau dari menengah di kerajaan di  unitaris negara sosio-nasional, di kondisi keperihatinan krisis global dan kontroversi korupsi dan kapitalisme.

Justru contoh Evita Peron ini lebih bagus jika di dapat putera mahkota kekaisaran Sultan gunungsepuh Banten Darussalam, di mana  jika benaran menjelma bisa mengalahkan karismanya sejarah kerajaan Perancis modern kemarin.

Kaisar Sultan Banten Darussalam berpermaisuri Evita Peron jelas bisa mengalahkan Raja Perancis berpermaisuri Grace Kelly.

Di mana dengan hubungan Banten juga tempat asal kemunculan Madilog Tan Malaka.

Seperti di cerita / siroh Nabawi, yang di sebut Nabi SAW., “Sebaik-baik perempuan adalah yang beriman.”

Membuat perempuan-perempuan muda lajang justru berebut mendatangi pada Nabi SAW., dan kerabatnya terlebih dulu untuk menikah.

Ada yang terlebih dulu  di ambil di pilih jadi isteri oleh Nabi SAW., kerabatnya dzuriyah yang masih lajang, sisanya yang tidak, baru di bagi-bagikan ke sahabat ra., dan umat Islam yang masih lajang, hingga ke segenap umat manusia dengan di jadikan mualaf ke Islam. Tapi itu iman umat Islam dulu, entah kini.

Di siroh Nabawi juga di ceritakan Nabi SAW., dan para dzuriyah pula yang menjadi Wali dan Hakim utama urusan nikah.

Walau kini di sistem nasional ada KUA, tapi dari tinjauan hak hukum dari ALLOH SWT., berhubungan hak kekuasaan kerajaan besar keluarga Nabi Muhammad SAW., walau suatu pernikahan sudah di sahkan oleh KUA, tapi selama di sampingnya ada melewati persetujuan dzuriyah, tetap saja bisa termasuk di anggap tidak sah nikahnya, berhubungan urusan syafa’at akhirat.

Karena nikah juga masuk ke urusan ibadah. Dan ibadah juga ada adab-adab, dari yang wajib hingga sunah wajib, sunah muakad, dll.

Dan ada di hubungan di Al-Kitabulah Qur’an surat Ath-Thur (Bukit Thursina), Muthoo’in samma Amiin. Berarti firman ALLOH SWT., ” Hendaknya umat beriman ta’at / patuh pada perintah Nabi SAW., dan dzuriyah (keluarga cucu-cucu Nabi SAW)., termasuk pada Syarif Arifin yang juga keluarga putera mahkota kekaisaran Sultan gunungsepuh Banten Darussalam.

Hingga lanjutan ayatnya, Wama shoohibukumm bimajnun : artinya dan kawanmu (Muhammad SAW.,). bukan pula seorang gila.

Ada hubungan hikmat, bahwa perlu menanggapi serius pada Nabi Muhammad SAW., dan pada dzuriyah jika sudah berurusan dengan kehendak atau keinginan dengan hak wewenang istimewa kekuasaan kerajaan besarnya dari pemberian ALLOH SWT.

Juga dengan hubungan ucapan ta’lim dari ajaran Ulama turunan Jayakarta, ” Berhati-hati sama haknya dzuriyah.”

Surosowan-Tb Arief Z-art

pedang-dul-fakhar Nabi SAW., Panglima sayidina Ali dan gunungsepuh dzuriyah

Makanya ada juga terjemah, umat Islam yang beriman juga berupaya kenal dengan keluarga Nabi SAW., minimal di antaranya. Atau pernah pula Ulama turunan P. Jayakarta sebelum memulai khutbah sholat Jum’at memberikan ajaran ta’lim, hingga berucap,” Maka hati-hati dengan haknya dzuriyah.”

Termasuk tanda-tanda perempuan beriman adalah dari hadits Nabi SAW., berikut,” Perempuan sebaiknya bersedekah.”

Atau seperti pada peristiwa Fathul Khoibar (penaklukan Yahudi Khoibar), di mana di babakan siroh ini, bahkan NAbi SAW., menyuruh Raja Arab Selatan yang juga komandan regu pasukan, Dihyah ra., yang mengalah soal Shufiyah ra., di ambil Nabi SAW. Hak wewenang istimewa ini khusus haknya Nabi SAW., dan dzuriyah.

Makanya di siroh Nabawiyah sedari masa periode awal Islam masa Nabi Muhammad SAW., para sahabat ra., kaum umat Islam terlebih dulu berupaya mendahulukan pemberian jatah (fa’i) bagian kebahagiaan Nabi SAW., dan keluarganya, hingga anak-cucu beliau SAW., (dzuriyah), supaya lancar tiap urusan peribadatan. Karena jika Raja besar dengan keluarganya dari hak Alkitabulah sudah di bahagiakan, maka bisa jadi mempermudah berbagai ijin kesepakatan sesuai area peribadatan. Jika di beri thoffif, maka bisa ada balasannya pula jika tidak di dunia melalui azab, bencana alam, atau dengan sanksi di akhirat.

  • Kisah dzuriyah Joko Tarub cucu Ki Sunan Kudus bertemu ‘bidadari’ Wandan.
Surosowan-Tb Arief Z-art doc

Joko Tarub di hutan yg belum dirambah

Joko Tarub mulanya tumbuh sebagai pemuda yang suka berburu hingga ke pedalaman hutan.

Suatu ketika Joko Tarub tak sengaja menemukan pemandangan para perempuan cantik sedang mandi di air terjun di hutan.

Dasar mata pemuda nakal, Joko Tarub terus saja melihat pemandangan itu. Dan matanya memperhatikan tiap sosok-sosok gadis Wandan yang sedang hendak mandi bertelanjang.Ketika satu-persatu dari mereka melepaskan busananya. Semakin nampak tiap-tiapnya cantik bertubuh elok bagaikan bidadari.

Di jaman itu, perempuan Wandan yang singgah ke Jawa, biasanya pilihan. Atau seperti perempuan-perempuan pengiring pendeta Budha Siam ke Jawa.

Gadis-gadis yang di samping cantik-cantik, bertubuh elok, dari kelompok agama pula, dan tengah nampak bertelanjang  dengan asyik mandi di hadapannya. Bagaikan bidadari kayangan turun ke mayapada Jawa.

Dan pandangannya tertuju pada satu sosok yang di anggapnya paling menarik di antaranya, Dewi Nawangwulan.

Maka rencana usilnya pun muncul. Tadi teringatnya selendangnya Dewi Nawangwulan berwarna hijau, dan Jaka Tarub mengambilnya. Kemudian menyembunyikannya.

Kemudian Jaka Tarub mendatangi para bidadari yang sedang asyik mandi. Membuat mereka tiba-tiba terkejut dengan kedatangan Jaka Tarub. Dan meninggalkan keasyikannya sedang mandi di air terjun di hutan.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

lukisan Jaka Tarub

Ketika satu-persatu gadis-gadis meninggalkan kolam, naik ke darat mengambil selendangnya. Tinggal Dewi Nawangwulan yang sembunyi saja di kolam, dan nampak kebingungan menemukan selendangnya hilang.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

relief hijau Ki Ageng Jaka Tarub

Sedangkan tanpa selendangnya berarti ia tidak bisa terbang pulang kembali ke kahyangan.

Tapi teman-temannya pada meninggalkannya. Tinggal Jaka Tarub memanfaatkan situasi.

Kemudian memboyongnya pulang ke desanya.

Di desa ia Jaka Tarub di wanti-wanti oleh Dewi Nawangwulan untuk tidak memberitahukan dirinya sebenarnya sebagai Bidadari dari surga.

Kemudian Dewi Nawangsih dan Jaka Tarub menjadi suami-isteri.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Jaka Tarub jadi mendapat berkah dengan beristerikan Nawangwulan.

Kehebatan Dewi Nawangwulan hanya dengan sebutir beras di masak menjadi nasi sepanci. Juga dengan hidangan-hidangan lauk-pauk lezat dengan minuman segar selalu tersaji. Hingga setiap harinya tercukupi kebutuhannya Jaka Tarub. Padahal tadinya ia hanya pemuda yatim-piatu pemburu miskin.