Sketsa-gambar-lukis di media kontemporer : kertas dan aplikasi digital. By Tb Arief Z-art (part-1)

  • Sketsa latihan potret
Tb Arief Z-art

(Step-1) sketsa gambar potret Ibu Limawati Lukito. (2012) ByTb Arief Z-art

Tb Arief Z-art

(Step-2 colour) potret Ibu Limawati Lukito (2012), by Tb Arief Z-art

(Step-2 )gambar potret-Ibu Limawati Lukito. (2012) By Tb Arief Z-art

(Step-2 )gambar potret-Ibu Limawati Lukito. (2012) By Tb Arief Z-art

Latihan gambar potret Ibu Limawati Lukito.

Tb Arief Z-art

Self portrait-Tb Arief Z. (1998) Sketsa crayon lilin dan tinta biru

Sketsa potret diri ketika gondrong. Entah kenapa jika ingat masa itu bisa kuat berambut gondrong. Padahal kini panjang sedikit rambut jadi pusing.

Ada seperti renungan berhubungan soal kebiasaan. Ketika masih mahasiswa seni di IKJ, dulu seperti ada komitmen semiotik dengan komunitas civitas mahasiswa seni berambut gondrong.

Dan terpengaruh hingga juga berambut gondrong. Bahkan ketika berpameran di Yogya pun, waktu itu sehabis cukur pendek, seperti ada kejanggalan. Misal ketika ajak nongkrong bareng anak FSRD ISI di Malioboro, semua gondrong-gondrong dan nampak jadi ikutan di segani nongkrong di Malioboro bareng anak FSRD ISI dengan rambut gondrong dan motor-motornya.

Jadi teringat salah satu hadiningrat Mataram roker 1980-an, Bangkit Sanjaya dan gengnya. Padahal diri sendiri juga termasuk hadiningrat Mataram.

Dengan anak IKJ yang nampak  lebih banyak yang berambut pendek anak lakinya. Sedangkan yang gondrong tinggal minoritas. Sedari pertemuan pameran bersama Dialog 2 kota I FSRD IKJ-ISI di TIM, Jakpus, 1995. Pameran bersama itu pula sebagai penyambung silaturahmi IKJ-ISI, sejak 1970-an lama (masa GSRB/ Gerakan Seni Rupa Baru) civitas mahasiswa seni antar kota tidak lagi bertemu. Bahkan di masa GSRB pertemuannya hingga melibatkan 3 institusi seni negeri, IKJ, ITB, ASRI ( ISI).

Tapi, bedanya dari masa GSRB itu banyak memunculkan seniman-seniman bahkan menjadi sosok-sosok intelektual dan kritis, seperti alm WS Rendra, Jim Supangkat, Dede Eri Supria, alm Harry Roesli.

Tapi di ISI ada seperti di anggap janggal atau mungkin istilah prokemnya cemen. Memang ketika berpameran antar mahasiswa-i 2 kota, juga nampak ada seperti stimulus ajakan persaingan institusi.

Memang waktu itu institusi negeri termasuk satu-satunya perwakilan Jakarta, IKJ, di Yogya, ISI. Sedari GSRB 1978 (setelah tragedi Malari) pula IKJ, ITB,ISI seperti menjadi 3 besar institusi negeri.

Tapi sebenarnya dengan pertalian kekeluargaan besar institusi, civitas mahasiswa, hal itu sekedar di jadikan stimulus atau latihan sparing partner, untuk senantiasa memotivasi diri berlatih dan terus berkarya. Sebenarnya mahasiswa seni ISI itu sangat kompak mayoritasnya.

Bahkan ada yang pernah mengkritik sedari pengamatannya pameran bersama pertamakali di Jakarta, dan melihat orang-orang Jakarta itu egosentris, individualistis. Arti lainnya nampak tidak kompak. Anak ISI sebenarnya lebih suka berpameran di kotanya Yogya, dengan suasana Yogya yang masih bernuansa tradisional, sosialnya kuat. Ketimbang di Jakarta sekedar buat cari duit.

Dan kenyataan dari prediksi, juga seperti di lingkungan TIM, kampus IKJ kian kapitalisme. Hal itu juga berarti semiotik fenomena di lingkungan di sekitar Jakarta.

Nampak bahwa yang turut merusak kota Jakarta menjadi kapitalisme juga tikus-tikus birokrat-birokratnya. Sebenarnya di civitas mahasiswanya dulu sekitaran 1998 ke atas juga telah memulai menjalin hubungan antar civitas, pertemanan, bahkan pribadi hingga kenal dengan civitas mahasiswa di Surabaya, Jatim.

Tapi, justru tikus-tikus birokratnya itu yang troublemaker. Jakarta juga dulunya Batavia, pegawai pemerintahnya juga didikan VOC, dengan peninggalan manipulasi katebelece (mempersulit), kongkalikong korupsi, kapitalisme, politik devide et impera. Buktinya pula kini tarif kuliah atau sekolah makin mahal, tarif pameran di galeri juga di Jakarta termasuk termahal di wilayah Indonesia. Padahal di civitas mahasiswa juga miskin, Jakarta juga kota kapitalisme, lapangan kerja sulit.

Iklimnya berubah, sejak LPKJ di dirikan oleh Gubernur DKI Ali Sadikin. Kalau dulu, Pak Ali Sadikin seperti Pak Karno, Presiden I RI, sering melakukan pertemuan dan dekat dengan civitas seni, bahkan hingga yang belum populer dan mapan sekalipun di datangi, dan di fasilitasi. Bahkan sekolah di institusi seni negeri masih bertarif murah terjangkau, padahal mahasiswa mulanya juga di antaranya anak-anak berasal dari keluarga terpandang bercampur dengan anak-anak dari keluarga umum. Seperti di IKJ ada keluarga orang-orang orla Dr. Syahrir, Dr. Chaerul Saleh (pribadi), bangsawan kesultanan gunungsepuh Banten, hadiningrat Mataram ( sutradara Slamet Raharjo), bangsawan Tapanuli, indo Belanda, hingga kini ada dari AS, anak-anak militer, polisi, hingga yang sudah jadi artis kondang, misal alm Rian Hidayat, Mathias Muchus, Eeng Saptahadi, Subarkah, Iwan Fals, dll.

Di ASRI/ISI juga demikian, misal dengan terdapatnya Bangkit Sanjaya yang pernah muncul sebagai musisi roker populer di 1980-an, juga berasal dari hadiningrat Mataram.

ITB juga demikian, bahkan sejak di dirikan oleh Prof. Desain, Ries Mulder, orang Belanda.

Memang jika IKJ, di dirikannya juga transisi dari orang-orang Lekra (Lembaga kesenian rakyat) dan Persagi (Persatuan ahli gambar di dirikan oleh alm S.Soedjojono) dulunya bersanggar di Gedung Joang, Menteng tadinya gedung MPRS, hanya beranggota 70 orang kebanyakan pemuda akademis.

Di samping sebagai Ketua Partai Murba (Musyawarah Rakyat Banyak), ketuanya MPRS juga Dr. Chaerul Saleh juga waktu itu yang juga tangan kanannya Presiden RI I, Ir. Soekarno waktu itu. Maka ada seperti sifat nuansa gerilyawan kemerdekaannya dan merakyat. Satu hal lagi, Madilog (materialisme dialektik Islam dan logika), dari pengaruh Banten, Tan Malaka.

Di masa orde lama ada MPR, anggotanya hanya 70-an, dominan pemuda akademik terpercaya,  tapi DPRnya tidak ada, bahkan lekra yang terdiri dari seniman-seniman seni rupa tersebut yang jadi DPRnya. Mulanya lekra di dirikan ketua dan anggotanya pelukis dan perupa.

Dan demokrasi Indonesia juga demokrasi terpimpin, dengan ideologi dasar negara jurdil (jujur dan adil), Pancasila.

Tapi itu mulanya, kemudian kontroversinya IKJ kian lama melalui birokrasinya kian terasa jadi kapitalisme seperti kian hari kota Jakarta. Orang-orang penguasa elit birokrasinya juga berganti, seperti transisi lengser keprabon orla ke orba, gotong-royong hingga KIB I-II kini.

Tapi, jika sudah merasa cukup dan mapan, maka Qonaah perlu juga di dalam rasa keadilan, dan baru ikhlas, rela di lengser keprabon.  Kalau belum maka masih gerilya revolusi. Toh ada pepatah harimau mati meninggalkan belang, gajah mati meninggalkan gading. Harimau juga dulunya ada masanya pernah di kenal sebagai hewan buas, raja rimba tapi juga mengalami kepunahan seperti di Jawa. Atau menjadi melangka seperti fenomena sisa keluarganya macan di Jawa, misal tinggal Jagur (macan tutul) yang kini cenderung sembunyi di dahan pohon di gunung dan macan kumbang.

Dan memang benar Jakarta kian hari sedari menjadi kota heterogen, kian terasa kapitalisme. Kesendirian di tengah keramaian, kemacetan, di tambah hingar-biar keonaran pengendara motor mengusik ketenteraman.

Tapi tetap berteman, karena juga masih sesebaya dari generasi muda.

Kebetulan waktu itu sedang trend film serial Renegade.  Tapi enak juga di Yogya pameran dengan kondisi rambut bercukur, apalagi waktu itu juga menjelang malam tahun baru.

Tb Arief Z-art

Di rumah Butong masa suntuk kuliah. (1997). By Tb Arief Z.. Sketsa pulpen di kertas folio

Tb Arief Z-art

Ketika dg teman2 menemani Aloy yang sedang mengerjakan tugas di studio lukis FSRD IKJ , LPKJ,TIM, Jl. Cikini Raya, Jakpus (1998). By Tb Arief Z-art. Sketsa pulpen di kertas folio

Tb Arief Z-art

Untung dan Benyamin dialog bisnis. (1998). By Tb Arief Z. Sketsa pulpen boxy di kertas folio

Tb Arief Z-art

Surealis Untung Sleep style. (1998) By Tb Arief Z-art. Sketsa pulpen di kertas folio

Tb Arief Z-art

Tidurnya mhs seni (2001). By Tb Arief Z-art. Sketsa pulpen Boxy di kertas folio

Tb Arief Z-art

Di depan terminal lorong blok M (2012), by Tb Arief Z-art. Sketsa pulpen boxy di kertas Aryo Wiggins B2

Tb Arief Z-art

Di lantai kantin Grand Plaza Mal, Jl. Thamrin, ketika sekeluarga nebeng kupon kantor Bank kakak menu kuliner Italia . (2012). By Tb Arief Z-art. Sketsa pulpen boxy di kertas Aryo Wiggins B2

Tb Arief Z-art

kursi mebel gaya De Stijl -Jawa kayu Jati di rumahku sejak 1970-an. (2012) By Tb Arief Z

Tb Arief Z-art

Bunga di vila puncak Cipendawa. (2001). By Tb Arief Z-art. Cat air di kertas concord A4.

Tb Arief Z-art

Di tempat sablon Muda karya bersama pemiliknya (keturunan P.Jayakarta/Wijayakrama) Bang Adi (abang sepupu) dan Oding (staf). (2012). By Tubagus Arief Z. Sketsa cat air di kertas concord A4

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

Rudi Faisal teman sestudio waktu ujian akhir 1999 di FSRD IKJ. Ternyata termasuk saudara kekeluargaan besar Surosowan (kekaisaran sultan ageng Banten Darussalam). Dan anggota senior Wanadri. Termasuk Tim SAR. Pelukis mebel dan mural berpengalaman sejak 1999

Tb Arief Z-art

Ricky Malau, mahasiswa Desain grafis, dan rajin membuat sketsa. (1997) By Tb Arief Z-art.

Tb Arief Z

si Ali anak pembantu dulu (1996), by Tb Arief Z.

 

Tb Arief Z-art

Anaknya pembantu dulu baru datang dari kampung. (1997). By Tb Arief Z-art. Sketsa pensil di kertas folio A4

Tb Arief Z-art

Tumpukan koran majalah (1996). By Tb Arief Z-art

Tb Arief Z-art

Di sudut Prapatan, di Jatinegara. (1997). By Tb Arief Z-art. Sketsa mata pena di kertas folio

Melakukan sketsa ini, setelah dari toko Prapatan untuk membeli keperluan alat gambar / lukis, dari jembatan penyeberangan di sekitar Prapatan, Jatinegara.

Tb Arief Z-art

Fly over metamorfosis. By Tb Arief Z-art.(2012) Lukisan cat akrilik di kanvas 120 X 90 cm. Price : Rp 3 juta/ 3 million rupiahs

Tb Arief Z-art

Ketika proyek bongkaran teater arena di bangun (1997), by Tb Arief Z

Teringat melakukan sketsa ini setelah peristiwa 27 Juli 1997 di jl. Diponegoro, di ajak berjalan-jalan malam hari dengan Edi Sanjaya (Codot), Prayitno (Wiro), dan satu lagi lupa di sekitar Cikini hingga gondangdia, gereja Theresia di suasana malam yang lengang dan sepi, tapi aman dan masih bertemu pedagang makanan, warung.

Tb Arief Z-art

Kapal di pelabuhan Tanjung Priok (1999). By Tb Arief Z. Sketsa pensil di kertas folio

Melakukan sketsa ini ketika hari itu dengan di liburkan kuliah di mata pelajarannya, di ajak Dosen seni lukis Simon Simorangkir M.Hum, bersama Pungky (mhs 96) menyempatkan ke Tanjung Priok (kebetulan juga sedang jenuh kuliah). Pak Simon waktu itu dengan menenteng videocam hendak merekam kampung nelayan di Tanjung Priok. Mungkin terinspirasi cerita Fatahilah.

Setelah dari Tanjung Priok dengan naik taksi di bayari Pak Simon S., kemudian ke Pasar Seni Ancol. Waktu itu Pak Simon S., yang sedang jadi Ketua Sanggar Pasar Seni Ancol.

Kemudian bertemu para seniman di Ancol dalam acara kumpul dan rapat diskusi di rumah utama Pasar seni Ancol, dengan lesehan, suguhan hidangan, minuman.

Bang Simon S., juga pernah mengeluhkan kekecewaannya pada kelompok seniman sanggar pasar seni Ancol.  Di mana ada nampak kontroversinya mulai seperti tikus kantor, sikut-sikutan.

Nature explore (1999). By Tb Arief Z. Gouache di kertas concord A4

Nature explore (1999). By Tb Arief Z. Gouache di kertas concord A4

Sketsa ini sebenarnya dari foto pemandangan di Australia. Menariknya walau nampak seperti pemandangan imajiner surealis, tapi realis.

  • Sketsa kartun
Tb Arief Z-art

kartun Fico Vespa (2012). Sketsa pensil, kuas dan tinta di kertas folio

Tb Arief Z-art

kartun Fico Vespa (2012). By Tb Arief Z-art. Watercolour on paper A4

Tb Arief Z-art

desain art-kartun fico vespa . By Tb Arief Z-art

Tb Arief Z-art

kaos kartun fico vespa. (2012). By Tb Arief Z. Price : Rp 80.000

  • Sketsa ilustrasi novel komik-agen 005 Surosena Metamorfosis. By Tb Arief Z
Tb Arief Z-art

Step-1 colour novel komik hal. Agen 005 Surosena : Kedatangan VOC. By Tb Arief Z-art. Watercolour on paper A4 (2012)

Tb Arief Z art

Step-1 pesawat Arjuna. (2012) By Tb Arief Z

Tb Arief Z-art

sketsa-hal komik surosena bertemu metamorfosis.

Tb Arief Z-art

Sketsa Cover : Novel komik petualangan agen 005-Surosena : Perjuangan Kemerdekaan. (2008), by Tb Arief Z-art

Tb Arief Z-art

Desain sketsa-1 Cover : Novel komik agen 005 :Cover Perjuangan Kemerdekaan. By Tb Arief Z-art

Tb Arief Z-art

Surosena with metamorfosis wings (2012). Sketsa vektor aplikasi corel draw X5, by Tb Arief Z

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s