Novel komik agen 005 Surosena: Babad Tanah Jawi : Kisah Jaka Tarub dan Babad Mataram

Surosowan-Tb Arief Z-art
Font Satria Surosena. (2012) By Tb Arief Z-art
Surosowan-Tb Arief Z-art
Desain-1 sampul novel komik agen 005 Surosena: Perjuangan Jati diri
Surosowan-Tb Arief Z-art doc
relief hijau Ki Ageng Jaka Tarub

Mungkin di buku-buku dominan memberitahu siapa senopati Majapahit hingga ke kronologi sejarah Joko Tingkir sebagai puteranya Panglima senopati andalan Majapahit, Andayaningrat. Tapi ironisnya kurang di angkat sejarah siapa turunannya Ki Sunan Kudus,  juga Panglima Suronata Majapahit tapi di pihak oposisi sesama Majapahit yang bahkan berhasil menewaskan Andayaningrat, bahkan hingga memburu para turunannya, Ki Tingkir, hingga mengalahkan Adiwijaya di dekat Merapi waktu perang melawan Senopati ing alaga Mataram . Maka inilah kisahnya turunannya Ki Sunan Kudus, Joko Tarub hingga pribadi termasuk turunannya.

Karena di masa orla, pendiri Pertamina ialah purn. Jend. Ibnu Sutowo, salah satu turunannya Adiwijaya/ Joko Tingkir, kemudian Pertamina jadi perusahaan minyak tumpuan utama BUMN nasional. Apalagi kontroversinya perwakilan turunan Mataram di penguasa orba ialah mantan Presiden RI ke-2, purn. Mayjen Pangkostrad R. Soeharto. Kontroversi terlebihnya sebenarnya bukan pada Pak Hartonya tapi pada anak-anak keluarga Cendana.

Padahal hadiningrat Mataram pula bukan hanya keluarganya, tapi seolah keluarganya saja sebagai keistimewaan hadiningrat Mataram. Walau di segenap hadiningrat Mataram juga jangankan punya perusahaan sendiri, pekerjaan dengan gaji cukup pun ada yang tidak punya. Bahkan seperti keluarga putera mahkota gunungsepuh kesultanan Banten Darussalam yang juga peranakan keraton Kota Gede pun kesultanannya belum di kembalikan/ di kompensasi utuh hak istimewanya.

Padahal hadiningrat Kota Gede adalah dari keraton tersulung/ kasepuhan  di segenap Mataram dari Pakubhuwono, Surakarta, Ngayogyakarta.

Kini keraton Kota Gede hingga kini pun penghuni dan hadiningrat asalnya tetap di anggap sebagai kasepuhan Mataram, dan masuknya di wilayah Propinsi DI Yogyakarta, bersama kota Klaten, situs candi Kalasan. Tapi, dulu karena tidak kebagian jatah kedaton kesultanan Mataram, maka di antaranya ada yang pindah ke kesultanan Banten, termasuk menjadi keluarga putera mahkota kesultanan Banten seperti keluarga pribadi, dari cucu buyut Sultana Ratu terakhirnya, Ratu Kahinten. Tapi keratonnya di Kota Gede tetap jadi simbol kasepuhan segenap Mataram.

Jadi di urutkan dengan Pak Harto yang di biografinya dituliskan masih turunan selir kesekian dari Sultan HB VII, berarti masih Om, atau paman ke pribadi, atau adik kekerabatan/adik sepupu di hubungan Mataram.

Juga dengan terdapatnya Prof Srihadi Sudarsono/keluarga Sudarsono, mantan Menhan Prof. Juwono Sudarsono dari keraton Surakarta, juga masih adik kekerabatan, berdasar latar segenap Mataram adalah kasepuhannya keraton Kota Gede/ di sebut juga hadiningrat Dul Gendhu.

Hingga kini masih ada keluarga penghuni keraton kasepuhan Kota Gede, yang bahkan menyebutkan tidak sembarang, atau untuk menjaga tanda garis keturunan di susuhunan Mataram, juga di keraton Pakubhuwono, keraton kasunanan Surakarta, keraton kanoman Ngayogyakarta.

Jadi walau keraton kasepuhan Kota Gede termasuk di dalam wilayah Propinsi DI Yogyakarta, di mana terdapat tradisi kedaerahan panjenengannya pada Sri Sultan HB Ngayogyakarta, apalagi kini dengan adanya RUUK DI Yogya, tapi secara adat/adab keluarga, susuhunan tetap saja setiap Sultan Mataram juga adiknya keluarga keraton Kota Gede.Jadi tidak berlaku buat keluarga Kota Gede panjenengan pada bahkan tiap Sultan Mataram. Justru kebalikannya sesuai adab kekerabatan, adik yang hormat pada kakak kekerabatannya.

Info keterangan ini untuk pemberitahuan situasi adat tradisi sebenarnya di Mataram.

  • Kisah dzuriyah Joko Tarub cucu Ki Sunan Kudus bertemu Bidadari.

Putera Sunan Kudus menentang perintah ayahnya di jodohkan dengan perempuan pilihan ayahnya yang keras, Ki Sunan Kudus. Yang juga mantan Panglima Suronata berjasa, pahlawan perang Suronata.

Karena sudah punya pilihan sendiri jodohnya, kemudian kabur dari Kudus. Tapi di pelarian kekasihnya yang sedang hamil mangkat, tapi bayinya sempat tertolong lahir. Yakni Jaka Tarub.

Joko Tarub mulanya tumbuh sebagai pemuda yang suka berburu hingga ke pedalaman hutan.

Suatu ketika Joko Tarub tak sengaja menemukan bidadari dari langit turun ke kali jernih dekat air terjundi hutan.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc
Joko Tarub di hutan yg belum dirambah

Dasar mata pemuda nakal, Joko Tarub terus saja melihat pemandangan itu. Dan matanya memperhatikan tiap sosok-sosok gadis bidadari yang sedang hendak mandi bertelanjang.Ketika satu-persatu dari mereka melepaskan busananya. Semakin nampak tiap-tiapnya cantik bertubuh elok bagaikan bidadari.

Dan pandangannya tertuju pada satu sosok bidadari yang di anggapnya paling menarik di antaranya, Dewi Nawangwulan.

Maka rencana usilnya pun muncul. Tadi teringatnya selendangnya Dewi Nawangwulan berwarna hijau, dan Jaka Tarub mengambilnya. Kemudian menyembunyikannya.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc
Kisah Jaka Tarub lukisan R Basuki Abdulah

Kemudian Jaka Tarub mendatangi para bidadari yang sedang asyik mandi. Membuat mereka tiba-tiba terkejut dengan kedatangan Jaka Tarub. Dan meninggalkan keasyikannya sedang mandi di air terjun di hutan.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc
lukisan Jaka Tarub

Ketika satu-persatu gadis-gadis bidadari meninggalkan kolam, naik ke darat mengambil selendangnya. Tinggal Dewi Nawangwulan yang sembunyi saja di kolam, dan nampak kebingungan menemukan selendangnya hilang.

Sedangkan tanpa selendangnya berarti ia tidak bisa terbang pulang kembali ke kahyangan.

Tapi teman-temannya pada meninggalkannya. Tinggal Jaka Tarub memanfaatkan situasi.

Kemudian memboyongnya pulang ke desanya.

Di desa ia Jaka Tarub di wanti-wanti oleh Dewi Nawangwulan untuk tidak memberitahukan siapa dirinya sebenarnya sebagai Bidadari dari surga.

Kemudian Dewi Nawangwulan dan Jaka Tarub menjadi suami-isteri.

Dari pernikahan Dewi Nawangwulan dan Jaka Tarub berketurunan puteri Dewi Nawangwulan.

Hingga suatu ketika Jaka Tarub dalam urusan pergi bekerja, Dewi Nawangwulan menemukan kain selendangnya.

Setelah Jaka Tarub pulang, Dewi Nawangwulan memperlihatkan kain selendang temuannya. Tanda Jaka Tarub yang selama ini telah berbohong padanya.

Karena sudah menemukan kain selendangnya Dewi Nawangwulan kembali pulang terbang ke kahyangan. Meninggalkan Jaka Tarub yang sudah usia separuh baya bersama anak perempuannya, Dewi Nawangsih.

Setelah dewasa, Dewi Nawangsih bertemu Raden Bondan Kejawan, putera bungsunya Prabhu Kertabhumi.

Perrnikahannya di restui Ki Jaka Tarub, lurah di desa Citarub (entah juga desa Citarub ini di mana, ada pula wilayah bernama Citeureup kini dekat Cibinong, Bogor).

Dari pernikahan Raden Bondan Kejawan dan Dewi Nawangsih, berketurunan Ki ageng Selo. Ki ageng Selo ini di Babad Mataram yang di ceritakan sejak masa kanak dan pertumbuhannya memiliki kemampuan aneh. Seperti menangkap petir, Ki Bicak. Mungkin juga karena pengaruh masih dekat puteranya bidadari.

Di mana cerita Babad Mataram juga di katakan peneliti barat, seperti buatan politik kekuasaannya Sultan Agung Mataram.

Dan di babad Mataram sejak Ki Ageng Selo, dan masih turunan awal Mataram juga di ceritakan tiapnya memiliki kemampuan sebagai pendekar, di samping lurah desa. Hingga turunannya Ki ageng Ngenis hingga Ki Gede Pemanahan di samping sebagai lurah juga menjadi pendekar prajurit bayaran.

Ki ageng Ngenis juga pernah di minta bantuan oleh kesultanan Demak waktu itu pemerintah pusat.

Ki Ageng Ngenis kemudian berketurunan Ki Gede Pemanahan.

Di samping sebenarnya antar sebagai sesama keturunan Majapahit ada seperti rasa ketidakpuasan, lantaran takhta Majapahit jadi hanya jatuh ke Demak. Seperti yang juga di rasakan Jaka Tingkir.

Tapi Jaka Tingkir sejak muda belajar ilmu kanuragan ke banyak guru, hingga menjadi kuat.Dan di terima menjadi prajurit di Demak, bahkan hingga naik pangkat ke senopat dan Dipati, bahkan di angkat menjadi menantu Sultan III Demak, Trenggono, walau dalam pengabdiannya di Demak, Joko Tingkir juga kadang berseberangan pendapat dengan Trenggono.

Waktu itu Sultan Demak Trenggono punya puteri-puteri Demak yang cantik-cantik.

Sultan Demak Trenggono punya menantu-menantu seperti Pangeran Madura, Pangeran Maulana Hasanuddin Dipati Banten yang menikah dengan puteri ke3,  Pangeran Dipati Kalinyamat, Dipati Hadiwijaya (Joko Tingkir) menikah dengan puteri ke-5 Trenggono.

Maulana Hasanuddin ini pernah di bantu Sultan Trenggono waktu misinya menggulingkan Dipati korup di Banten, dengan mengirimkan Panglima Demak, Fatahilah. Hingga melalui ayahnya Ki Sunan Gunung Jati yang berusia 105 tahun waktu itu sekalian di angkat menjadi Sultan Banten Darussalam. Bahkan Fatahilah kemudian naik pangkat jadi penasihat Sultan Maulana Hasanuddin, melalui Ki Sunan Gunung Jati. Dan Sultan Trenggono waktu itu sangat hormat pada Wali Pandita Ratu.

Sejak Trenggono mangkat, terjadi gono-gini perebutan takhta dan warisan di kesultanan Demak. Antara puteranya Trenggono, Sunan Prawoto dengan adiknya Trenggono dari lain ibu, atau isteri ke-2 Raden Patah dari puteri Kanduruwan. Alias paman Sunan Prawoto, P. Seda Lepen. Jika P.Sabrangler dan Trenggono dari isteri puteri Sunan Giri yang juga masih kesultanan Giriprapen waktu itu di Jatim, terletak di dekat Surabaya.

Dalam pertikaian di sungai, P.Seda Lepen tewas bersimbah darah. Puteranya Aria Penangsang, yang juga Dipati Jipang, menuntut dendam pada P. Sunan Prawoto yang juga di tabalkan menjadi penerus Sultan Demak (IV).

Aria Penangsang berhasil membalas dendam dengan memimpin pasukan Jipang-kang membakar kota Demak, tinggal sisa Masjid. Sunan Prawoto yang kabur ke Semarang tewas ketika sempat terkejar pasukan Aria Penangsang.

Munculnya Aria Penangsang sempat membuat cemas di sekitar para Pangeran Demak, termasuk para Pangeran Dipati menantu-menantu Trenggono. Karena Aria Penangsang ini juga di kenal kuat, punya ilmu kebal, di samping di bantu Ki Sunan Kudus (kesekian). Dan punya senjata keris pusaka.

Pangeran Kalinyamat yang menentang padanya di bunuh secara licik, dengan suruhan orang-orang pasukannya. Aria Penangsang pun menjadi ‘bigbos’ waktu itu.

Aria Penangsang yang punya ambisi merebut kekuasaan juga mengincar para sisa Dipati menantu-menantu Trenggono, termasuk Hadiwijaya bahkan hingga Maulana Hasanuddin, dengan adanya rencana misi ekspedisi pasukanya ke Cirebon terlebih dulu.

Makanya di Jayakarta, mendadak bupati Fatahilah di panggil Ki Sunan G. Jati ke Cirebon, untuk membangun benteng.

Dan Fatahilah jadi pensiun sebagai Bupati dan menyerahkan jabatan pada Tubagus Angke, masih keturunan dari kakak perempuannya Sultan Banten Maulana Hasanuddin.

Tubagus Angke ini yang juga kemudian bergelar P. Jayakarta I/ P.Wijayakrama I.  Tapi di masa kekhawatiran di Cirebon, Sultan Banten malah menugaskan Tubagus Angke yang juga mantunya, untuk menjaga Banten dari Jayakarta, karena ia hendak memimpin ekspedisi pendudukan di Lampung buat mendapatkan lahan perkebunan baru buat kesultanan Banten.

Dari sejarah yang nampak, Maulana Hasanuddin nampak tidak khawatir dengan munculnya Arya Penangsang, karena ia punya adik ipar Dipati Hadiwijaya yang bisa di andalkan.

Dan Hadiwijaya dengan Aria Penangsang sempat berhadap-hadapan, bahkan nyaris bertarung setelah memperlihatkan keris pusaka masing-masing. Aria Penangsang sempat khawatir ketika Hadiwijaya mengatakan masih punya keris pusaka lebih kuat dari Ki Setan Kober, dan Ki Cerubuk. Kemudian datang Ki Sunan Kudus kesekian melerai, sebenarnya khawatirnya justru Aria Penangsang yang tewas.

Dipati Hadiwijaya kemudian memanggil Ki Gede Pemanahan, Ki Panjawi buat di sewa untuk membantunya di misi membunuh Aria Penangsang.

Ki Gede Pemanahan bahkan sudah punya putera yang sudah berusia pemuda, Raden Ngabehi Saloring Pasar, atau Sutawijaya. Hadiwijaya yang memberikan senjata pusakanya, tombak Ki Plered, senjata pusakanya rata-rata peninggalan pusaka Majapahit. Semuanya di yakini ada ‘isi’nya.

Kemudian Ki Gede Pemanahan memberikan tombak Ki Plered pada puteranya, Sutawijaya.

Siasat di jalankan, tukang kudanya Aria Penangsang di potong kupingnya. Hingga dalam keadaan masih memegang bagian telinganya yang berdarah, membuat Aria Penangsang yang sedang makan jadi menggebrak meja hingga patah menjadi 2. Dengan keadaan marah, Aria Penangsang langsung naik kudanya Gagak Rimang.

Tapi begitu masuk hendak menyeberang sungai, langsung di panah pasukan Hadiwijaya.

Walau sudah di hujani panah demikian banyaknya, Aria Penangsang masih mengamuk di sungai. Kemudian Sutawijaya datang menusukkan tombak Ki Plered, hingga kena Aria Penangsang pun tewas.

Sejak itu, Ki Gede Pemanahan dengan puteranya Sutawijaya menagih janjinya pada Sultan Pajang, Hadiwijaya yang telah berjanji jika misi sudah di kerjakan, maka di beri hadiah tanah Mataram.

Tadinya Hadiwijaya sempat mau urung membayar janjinya, tapi setelah di datangi Ki Sunan Kalijaga membela Ki Gede Pemanahan, Hadiwijaya jadi segan.

Lagi2 Hadiwijaya kesal pada Sutawijaya, karena puteri cantik titipannya dari hadiah Ratu Kalinyamat malahan di nikahi Sutawijaya.

Kemudian lagi2 Hadiwijaya di datangi Ki Sunan Kalijaga, dan Hadiwijaya pun jadi merestui.

Sepeninggal Ki Gede Pemanahan yang sebenarnya juga ada perseteruan dingin dengan Sultan Pajang Hadiwijaya, ketegangan antara Mataram dengan Pajang meningkat.  Dan ada faktor2 yang menguntungkan Mataram, di antaranya faktor Hadiwijaya yang telah berusia tua.

Oleh Ki Sunan Tembayat, Sutawijaya di anjurkan membangun benteng.

Sutawijaya yang sempat belajar juga dari Hadiwijaya, lama-kelamaan enggan membayar pajak saban tahunannya, atau menghadap pada bapak angkatnya, Hadiwijaya. Bahkan hasil-hasil pajak dari Dipati lain di cegatnya, kemudian di belokkan ke Mataram.

Bahkan di Mataram Dipati yang di belokkannya di ajak pesta, hingga para Dipati tadinya bawahan Pajang jadi berbelok mendukung Sutawijaya di Mataram.

Sultan Pajang Hadiwijaya mendengar laporan dari mata-matanya bahwa Sutawijaya sedang membangun benteng di Mataram.

Kemudian ia mengirim utusannya ke Sutawijaya.

Bersambung ke http://wp.me/P22Vy9-jd

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s