Album-5 chronology history of elder Java royal family Surosowan-Sultanate Banten-Prince Jakarta-Dul Gendhu / Kota Gede Mataram palace-Indonesia by Prince Jakarta Tubagus Arief Z-view

  • 1945
Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu Yo waktu Seskoad-tentara perempuan pertama RI 1945

Ibu Yo /Siti Johana Menara Saidah, tentara perempuan pertama Indonesia/Komandan Seskoad yang berjasa menyelusup ke markas kempetai di Menteng, mengumpulkan bahan bendera pusaka merah putih kemudian di serahkan pada Ibu Fatmawati yang menjahitnya kemudian di kibarkan di Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945 di rumah Laksamana Maeda, jl. Pegangsaan kini.

Di foto yang nampak ini, Ibu Yo (Uwak Yo) /Siti Menara Saidah sedang mengikuti latihan tentara Seskoad, sebelum 17 Agustus 1945. Melihat foto ini, jadi bingung juga mana duluan Seskoad dan BKR sebagai cikal bakal kemudian jadi TNI/ABRI.

Ibu Yo/Uwak Yo yang bernama asli Siti Johana Menara Saidah, kelahiran Bukittinggi, Padang (sekampung kelahiran Drs. Mohammad Hatta) juga telah menikah dengan Chaerul Saleh, tokoh pemuda di Barisan Sukarni menjelang persiapan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Siti Johana Menara Saidah/Uwak Yo, atau inginnya di sebut Ibu Yo, sebenarnya juga masih keluarga bangsawan, dari ayahnya bangsawan Padang, dari Ibunya, bangsawan peranakan Surosowan-Banten dan Dul Gendhu/ keluarga keraton Kota Gede.

Menurut temuan artefak dari Kompas, tersebut temuan bahwa kerajaan tertua di Indonesia bahkan di Asia Tenggara adalah di Padang. Bahkan juga di sebut letaknya masih di dekat sekitar Bukittinggi, masih letak istana kerajaan Padang di berdirikan kembali oleh Adityawarman, mantan Senopati andalan Majapahit yang membelot dari Gajah Mada, ketika di misi ekspedisi penguasaan Majapahit di Sumatera/ Pamalayu Majapahit, lantaran Adityawarman juga masih peranakan Dharmasraya, dari puteri Dara Jingga.

Di sejarahnya di sebut bahwa puteri Dara Jingga tadinya di berikan sebagai upeti kerjasama pada Prabhu Singosari Kertanegara. Kemudian di berikan pada Mahamantri Singosari, dan lahir Adityawarman. Yang kemudian di angkat menjadi  senopati Majapahit bersama Gajah Mada sempat melakukan penaklukan-penaklukan ekspedisi perluasan wilayah Majapahit sekalian mempersatukan segenap wilayah nusantara di bawah panji Majapahit.

Tapi justru ketika di Sumatera, Adityawarman berbelok mendirikan kerajaan sendiri, karena juga masih menuntut haknya sebagai bagian dari Dharmasraya.

Dan di sejarah asal-usulnya hingga ke Ibu Yo/ Uwak Yo (Siti Johana Menara Saidah) yang juga puteri bangsawan peranakan dari ayahnya Datuk Tengku Padang, istana Bukittinggi yang juga peninggalan dari Adityawarman/Dharmasraya, dan dari ibunya Saidah Surosowan (keluarga kesultanan Banten) dari keraton Kahibon (masih dari seketurunan Ratu Kahinten) yang  juga  peranakan Surosowan-Dul Gendhu (keraton kasepuhan Kota Gede), jadinya kembali bersambungan asal-usul silsilah kekerabatan.

Sejak Belanda menduduki Padang, sejak itu juga terdapat bumiputera Padang yang peranakan Belanda. Tapi Ibu Yo mendapatkan peranakan Belandanya dari Ibunya yang juga Saidah Surosowan-Banten. Memang di sejarahnya Belanda tiba pertamanya di Banten, di 1596m., bahkan hingga menempatkan ibukotanya masih di kota milik keluarga Surosowan kesultanan Banten, yang masih hubungan kerabat dekat adik-kakak dengan keluarga P.Jayakarta, yaitu di Batavia yang didirikannya dari merebut kota Jayakarta, haknya keluarga Pangeran Jayakarta/P.Jakarta, keluarga kasepuhannya Surosowan.

Memang sayangnya dari pernikahan Ibu Yo  dan Dr. Chaerul Saleh tidak berketurunan, tapi ada anak-anak kemenakannya. Adapun saudara dan anak-anak kemenakan dari Ibu Yo ialah yang di Surosowan keraton Kahibon yang juga Dul-Gendhu. Adapun saudara dan anak-anak kemenakan dari Datuk Paduko Rajo Dr. Chaerul Saleh (Uwak Lung), ialah keluarga dari bapaknya, Dr. Achmad Saleh, yang juga masih keluarga Minangkabau dan Tapanuli (Sawah lunto masuknya di Tapanuli-Batak). Terdapat juga masih saudara dari keluarga Saleh ialah keluarga marga Panggabean.

Jika Ibu Yo/Siti Johana Menara Saidah dari kelahiran keluarga istana Tengku Padang, di Bukittinggi, maka Datuk Paduko Rajo Dr. Chaerul Saleh ada terindikasi asal-usulnya dari keluarga Raja Tapanuli/Batak, seperti yang di ketahui di sejarah terdapat Raja Tapanuli terkenal, yakni Sisingamangaraja XII.

Ibu Yo bahkan sempat ikut Seskoad, yang juga di sebut Ibu, mungkin lembaga militer pertama nasional yang terbentuk di Indonesia. Kemudian bahkan di angkat menjadi komandan Seskoad untuk misi mengambil bahan untuk pengibaran bendera pusaka merah putih di upacara Proklamasi Kemerdekaan RI 17 Agustus 1945. Bahkan di misinya hingga mesti masuk ke markas kempetai / pasukan polisi militer Jepang di jl. Menteng 31 kini.

Bahan itu kemudian di berikan untuk di jahit oleh Ibu Fatmawati ( yang masih berstatus isteri Pak Soekarno waktu itu).

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Sri Sultan HB IX dengan pernyataan Negeri Ngayogyakarto sebagai Daerah Istimewa dalam NKRI

Sri Sultan Hamengkubhuwono IX, tokoh pahlawan nasional yang berjasa sebagai perencana siasat utama di peristiwa Serangan Umum 1946.

Sebenarnya penelusuran info-info sejarah mengarahnya pada temuan, bahwa Sri Sultan Hamengkubhuwono IX asal dari perencana siasat peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1946 di kota Ngayogyakarta. Yang juga melibatkan segenap pasukan bumiputera, bahkan terdapat juga bantuan dari pasukan Batalyon divisi Siliwangi.

Terdapat juga di tayangan televisi di Metro TV, Kolonel Hutagalung yang juga menyebut sebagai atasan dari Soeharto yang berpangkat Letkol di regu Werkhreise juga menyebut demikian.

Pernah mendengar dari bapaknya teman dari seni lukis di IKJ, Deden FG., yang bapaknya Pak Soegeng, pelukis mantan dosen di ASRI yang juga tinggal di Yogya, dan mengaku masih termasuk Raden Mataram-hadiningrat Yogya, pernah berkata, Wah kayak dia sendiri yang berjasa,,,(maksudnya alm.Soeharto). Jadi dari keterangannya di dapat banyak melibatkan pasukan yang berpartisipasi di peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1946.

Setelah munculnya pemerintahan RIS, di kerajaan-kerajaan Indonesia menjadi terbagi 2 kelompok yang tidak setuju dan setuju dengan RIS.

Kelompok kerajaan yang tidak setuju dengan RIS di antaranya meliputi:

Kesultanan Ngayogyakarta-Sri Sultan Hamengkubhuwono IX, residen kesultanan Banten di wakili residennya K.H Tubagus Ahmad Khotib, keluarga istana Bukittinggi, Padang, Datuk Paduko Rajo Tapanuli-Batak,dll. Yang setuju pro RIS walau jadi negara boneka Belanda, ada juga tapi minoritas dengan seperti keberadaan Presiden negara Pasundan, yang bahkan bukan dari golongan Raja di Sunda, dll, dan Presiden RIS, Amir Syarifuddin. Cenderung karena menggunakan peluang dapat kedudukan, tapi kurang memperhatikan kemaslahatan nasional.

Pak Sri Sultan Hamengkubhuwono IX juga sempat mendirikan TRM/ Tentara Rakyat Mataram, yang bahkan dengan pengangkatan senopatinya, Pak Soedirman, yang kemudian menjadi Panglima TNI.

Bahkan Pak Sri Sultan sempat pula termasuk di Panglima TNI, sekitar rayon Yogyakarta-Jawa Tengah. Makanya di antara bangsawan-bangsawan Mataram dulu bersama-sama rakyat banyak turut terjun menjadi pejuang gerilya dan tentara di masa gerilya kemerdekaan negara Indonesia.

Bahkan walau di kemudian hari di masa orba pun tidak nampak di munculkan di media, televisi, mungkin waktu itu yang nampak paling di tonjolkan hanya dari film janur kuningnya Pak Harto yang sedang jadi Presiden RI ke-2. Tapi Pak Harto pun ternyata masih Raden Mataram keturunan dari selir Sultan Hamengkubhuwono ke-VII.

Ketika di masa awal orde baru, Pak Sri Sultan Hamengkubhuwono IX sempat di angkat jadi Wapres RI pertama di masa orba, dan kesekian sejak masa orla.  Tapi setelah di masa jabatannya pun sempat berseteru dingin dengan Pak Harto. Tapi Pak Harto juga masih menghormati pada Pak Sri Sultan Hamengkubhuwono IX walau pun pernah menjadi Wapres tapi juga masih di anggapnya kasepuhannya.

Dari peninggalan Pak Sri Sultan Hamengkubhuwono IX, di antaranya adalah partai Golkar yang juga berlambang pohon beringin. Partai Golkar yang mendirikan sebenarnya Pak Sri Sultan Hamengkubhuwono IX, tapi yang menguasainya kemudian Pak Harto dan kelompoknya.

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Chaerul Saleh dan Ibu Yo, di tanah air Indonesia,1950

  • 1964
Surosowan-P.Jayakarta art doc

Bude Sri dan keluarga Pandawa modern Dul-Gendhu Moelyopratomo

(Alm) Bude Sri, kakak perempuan (alm) Bapak, yang juga saudara sulung di keluarga Dul-Gendhu Moelyopratomo, nampak masih kentara sebagai priyayi.

Surosowan-P.Jakarta Tb Arief Z-art doc

gamelan di pernikahan Bude

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Di pernikahan Bude Pakde Paseban dgn (alm) Pakde Narjan (R.Soenardjan Pratomo), Pakde Moedji/ Pakde Pikun (R. Moedji Pratomo) dan bpk (R. Teguh Pratomo). sbg pengiring di rumah gedong di Solo, 1964

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Pernikahan Bude-Pakde dgn bpk sbg penPernikahan Bude Sri-Pakde Toto dengan bapak, R. Pernikahan Bude Sri-Pakde Toto dengan Pakde Narjan-Surabaya danbapak, R. Teguh Pratomo sbg pengiring di rumah gedong Mbah Solo, 1964

Di peristiwa pernikahan Bude Sri dan Pakde Toto, atau Bude-Pakde Paseban, di rumah gedong di Solo, 1964. Nampak di foto atas, Bude Sri duduk dengan latar hiasan keluarga Pandawa bersais Batara Kresna, terbuat dari kerajinan logam. Yang nampak berasal dari kerajinan Kota Gede. Alm Bapak sempat merepronya tapi dari kerajinan kayu jati setelah menikah dengan ibu yang Saidah Surosowan binti Ki Sunan Gunung Jati, di 1965. Memang hingga kini pun di FSRD IKJ, FSRD pertama di Jakarta ada yang tidak ada di seni kriya/kerajinannya adalah kriya logam seperti yang terdapat di FSRD ISI Yogya.

Yang ada kriya kayu, kriya keramik, kriya tekstil.

Di foto nampak juga (alm) Pakde Narjan (R.Soenardjan Pratomo) yang juga mantan pejuang arek Suroboyo di hari Pahlawan 10 November 1945 di bawah unggahan semangat dari Bung Tomo. Pakde Narjan kemudian tinggalnya masih di jl.Dinoyo, Surabaya, hingga mangkatnya. Dan ialah kakak saudara laki-laki yang paling dekat dengan (alm) bapak, R. Teguh Pratomo. Kakak laki-laki kedua atau anak ketiga dari keluarga Dul Gendhu Moelyopratomo ialah (alm) R.Moedji Pratomo, yang juga mahasiswa pertama dari UI-Indonesia yang mendapatkan bea siswa ke AS, di Universitas Michigan, jurusan Agriculture Engineering, di 1950-an. Kemudian lulus menjadi Profesor di usia muda dan di angkat menjadi dosen senior ketika awal mula IPB di dirikan di Bogor. Dan mendapatkan komplek dosen IPB di Sempur (yang memang sepertinya khusus buat dosen-dosen senior di awal berdirinya IPB). Dan nampak juga  (alm) bapak (R. Teguh Pratomo) yang baru pulang dari ikut perang operasi pembebasan Irian barat, 1963-1964, kemudian keluar dari militer terakhir berpangkat Letnan satu AL (naik pangkat dari Letda-AL dari AMN, setelah ikut misi tsb), lulusan AMN, Magelang. Nampak di sini dulu keluarga Dul-Gendhu-Mataram Moelyopratomo bertubuh tinggi-tinggi dan besar. Mungkin juga karena pengaruh lahirnya masih di masa penguasaan penjajah Belanda di Indonesia.

  • 1965
Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Lamaran Bapak, R. Teguh Pratomo untuk menikah dgn Ibu, Tati Murtasih di pintu rumah(Nenek) Saidah Neneng Murdinah di jl.Pasirkudajaya, komplek Surosowan, Ciomas Bogor, Jabar

Peristiwa Lamaran Pernikahan Tohaan- R. Teguh Pratomo Dul Gendhu Pratomo dan Ibunda Saidah Surosowan Tati Murtasih binti Neneng Murdinah binti Pangeran Mohammad Damien, di jl. Pasirkudajaya, komplek Surosowan-Ciomas, Bogor, Jawa Barat/Sunda, di 1965.

Di sejarah kerajaan Mataram purba, Raja Sanjaya menikah dengan puteri Raja Kawali/Sumedang-Pajajaran. Kemudian oleh Bapak mertuanya, Sanjaya juga di beri gelar kehormatan Sunda, Tohaan, atau berarti yang di pertuan Raja-Sunda Jawa.

Dan di 1965, terjadi peristiwa lamaran pernikahan R. Teguh Pratomo Dul Gendhu Mataram, atau dari keluarga keraton kasepuhan Kota Gede Mataram, pada Ibunda Saidah Tati Murtasih dari keluarga keraton Kahibon, keraton terakhir Surosowan-kesultanan Banten Darussalam. Dengan di saksikan Nenek, Saidah Neneng Murdinah. Nenek Neneng Murdinah juga masih adik sepupu dengan Ibu Yo, (Uwak yo), Siti Johana Menara Saidah, isterinya Datuk Paduko Rajo Dr. Chaerul Saleh (Uwak/ Pak Lung).

Nampak di foto, walau Nenek Neneng Murdinah keturunan putera mahkota P.Mohammad Damien dari keraton terakhir kesultanan Banten, keraton Kahibon, tapi dari rumahnya nampak hidupnya sederhana. Nampak mebelnya pun dari rotan bambu, hingga dinding rumahnya masih berbilik bambu. Memang di Sunda termasuk cirinya menggunakan bambu, atau kayu jati. Nenek masih nampak mengenakan kebaya dan berkerudung.

Di sejarah Pajajaran, Dipati Surosowan ialah putera keduanya Prabhu Siliwangi, Prabhu Pajajaran terkemuka di masanya.

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Bpk R.Teguh Pratomo Dul Gendhu Mataram sungkem ke Nenek, Ibu mertuanya di jl.Pasirkudajaya, komplek Surosowan, Ciomas,Bogor

Di foto ini nampak (alm) Bapak, R. Teguh Pratomo Dul Gendhu Mataram sungkem ke (alm-Nenek) Ibu mertuanya, Saidah Neneng Murdinah binti P.Mohammad Damien (kakek uyut, putera mahkota terakhir keraton Kahibon abad 19m), saat lamaran menjelang pernikahannya dengan Ibunda Saidah Tati Murtasih., di rumah Nenek Neneng Murdinah di jl. Pasirkudajaya, komplek Surosowan, Ciomas Bogor.

Sebenarnya dulunya waktu meneruskan kuliah di akademi Perhotelan HI di 1964, R. Teguh Pratomo sempat punya beberapa pacar, di antaranya bahkan perempuan bule, ada di foto hitam-putih lain dulunya. Dan tiap kali hendak wakuncar, minta kembangnya pada Ibu.

Hingga Bapak jadinya melamar Ibu. Kejadiannya alamiah.

Pada hubungan selanjutnya, bahkan Bapak lebih dekatnya ke Nenek Neneng Murdinah sebagai Ibunya, di samping Bapak sempat kecewa telah mengundang Ibu kandungnya ke hari lamaran nikahnya di Bogor, malahan tidak datang. Bahkan tanpa memberitahu alasan kenapa tidak bisa datang, walau melalui surat.

Tapi Ibu dari isteri ketiganya (kakek ) bapaknya, Mbah Moelyopratomo, dengan saudara-saudaranya dari seibu, lain ibu turut datang.

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Bapak, R. Teguh Pratomo Dul Gendhu-Mataram sedang menandatangani pernyataan menikah dg Ibu, Saidah Tati Murtasih, di saksikan Wali nikah dan Nenek, di 1965

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu-Bapak-Nenek seusai nikah, di jl.Pasirkudajaya, Ciomas Bogor1965

Surosowan-P.Jakarta_Tubagus Arief Z-art doc

Foto nikah Ibu-Bapak dgn Nenek Saidah Neneng Murdinah di rumah jl. Pasirkudajaya, komplek keluarga Surosowan-Ciomas Bogor, Jabar, 1965

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Foto pernikahan Bapak-Ibu dgn Mbah Balitung, Mbah Dede, Ibu Yo, Pasirkudajaya, Ciomas Bogor,1965

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu-Bapak setelah resmi menikah bersilaturahmi ke kerabat

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu (Uwak) Yo menyalami Nenek di pernikahan Ibu-Bapak, di Pasirkudajaya Ciomas, Bogor, 1965

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu Yo (Uwak Yo) berkebaya Padang-Sunda

Ibu Yo( Uwak Yo) isteri Dr. Chaerul Saleh (Uwak Lung).

Di hadits Nabi SAW., ketika di tanya oleh umat Islam, siapa orang tua yang paling layak dihormati, dan Beliau SAW.,bersabda, Ibumu,,,Ibumu,,,Ibumu, hingga 3 X, baru di katakan Nabi SAW., kemudian Bapakmu.

Memang di kebanyakan fenomena umum, anak kebanyakan dekat dengan Ibunya. Walau bapak Ibunya juga masih tergolong orangtua yang baik.

Dan di kenyataan ada pula misal mendengar dari tetangga, teman, ada juga anak yang hingga mengalami nasib sejak kecilnya juga di perlakukan kurang baik oleh Ibunya. Bahkan juga mendengar dari apa yang pernah di alami (alm) bapak sendiri. Padahal (alm) bapak juga telah kehilangan ayahnya sejak baru lahirnya.

(Alm) bapak sempat mengalami dengan saudara laki-lakinya seperti juga yang di sebut perlakuan diskriminatif atau penganiayaan oleh bahkan Ibu kandungnya sendiri (Mbah puteri) di masa kecilnya. Hal demikian terjadinya juga di sebabkan Mbah puteri Klaten sempat mengalami perceraian dengan kakek R.Moelyopratomo.

Bahkan sejak kecil dengan kakaknya, sempat juga di pakaikan pakaian militer. Di samping  dengan saudara laki-lakinya, bapak  sejak lahirnya masih di masa penjajahan Belanda, yang juga bergaya kepemimpinan kolonial gubernur jenderal militer.

Di masa penjajahan Belanda, orang-orang Mataram termasuk yang paling di tekan dan di tindas penjajah Belanda.

Dari sejarah masa perjuangan Pangeran Diponegoro, setelah berakhir dengan tertangkapnya P.Diponegoro, juga membuat segenap keluarga-keluarga keraton Mataram di jaga ketat bahkan hingga di rumah-rumahnya oleh serdadu-serdadu Belanda. Bahkan walau pada anak yang baru lahir, ada juga yang di pisahkan dari keluarga keratonnya, di didik secara Belanda masa kolonial dulu.

Bahkan ada desa-desa yang dulunya pernah jadi jaringannya Pangeran Diponegoro, hingga ada yang di gempur juga oleh Belanda. Bahkan ada di temukan masih anggota keluarga dari jaringan laskar P.Diponegoro juga di tawan oleh serdadu Belanda. Tujuannya untuk menjatuhkan semangat perlawanan gerilya di waktu itu.

Memang (alm) Bapak seperti terdengar juga masih keturunan dari Mataram, pernah dengar juga sifatnya keras, bagaikan peninggalan orang-orang Majapahit dulu seperti kesaksian Mahuan juru tulis Chengho. Bahkan nama sejarah Mataram pun ada di sebut Kaca Benggala. Walau sebenarnya di sejarah kemudiannya juga terdapat kesedihan, kesengsaraan di masa berkuasanya pemerintahan penjajah Belanda.

Seperti ada pula di temukan di tulisan sejarah, dulu sempat kerajaan-kerajaan Mataram sebagai sisa kerajaan yang masih memiliki dan memproduksi artileri sendiri, bahkan juga di sebut terkuat di Hindia (nama Indonesia dulu), kemudian juga mendapatkan larangan dan embargo dari pemerintah pusat kolonial Belanda.

Bahkan terdapat pula di sejarah hingga di abad 19 dan awal abad 20 m., masih terdapat kelompok-kelompok dari juga orang-orang Mataram masih melakukan perlawanan menentang pendudukan pemerintah kolonial Belanda. Bahkan ada di antaranya yang hingga kini pun masih misterius dengan kehilangannya. Ada pula yang di temukan di tangkap, sempat di jebloskan ke bui dan di aniaya serdadu-serdadu atau polisi-polisi Belanda.

Atau pernah di televisi ada kesaksian dari seorang tua dulunya mengaku mengiranya bapaknya pergi bekerja ke tempat lain, ternyata ia kemudian menemukan bapaknya di tangkap Belanda kemudian hilang.

Termasuk hingga ke rumah kakek R.Moelyopratomo bahkan di bom persis di bangunan rumahnya. Walau di sejarah dari pengakuan Belanda ( dari militernya) melakukan latihan perang melalui pemberangkatan kapal-kapal militernya dari pangkalan di Australia.

Tapi untungnya di kejadian hari itu, entah bagaimana, kakek R.Moelyopratomo nampaknya sudah ada intuisinya rumahnya bakalan kena bom Belanda, bahkan kebetulan di hari itu kakek membawa sekeluarga dengan bapak yang masih bayi dengan mobil Fordnya, keluar dari Kebumen.

Memang seperti terdengar di jaman sejarah gerilya kemerdekaan, modern/ kini, AS di samping sebagai negara adidaya modern juga di sebut turut sebagai negara penjajah di internasional, tapi dari sejarah keluarga di peristiwa itu juga bagian dari AS turut menyelamatkan sejarah keluarga dari kakek, bapak. Bahkan secara alamiah keluarga dari bapak juga jadinya berbesanan dan beradik kerabat dari negeri Paman Sam, yang juga masih golongan feodal bahkan masih keluarga Presiden dan pendiri CIA di AS.

Tapi juga di waktu penjajahan Belanda,  orang-orang Mataram juga sempat mengalami tekanan dari penjajah Belanda, bahkan hingga ke keluarga keraton Mataram, terutama dari militernya. Atau di sejarahnya Sentot Prawiradirdja yang semula jadi senopati andalannya P.Diponegoro kemudian malah berbalik berkhianat menjadi serdadu kompeni kolonial karena tekanan penjajah Belanda.

Memang ada rasa iba pada Sentot yang juga melakukannya lantaran ada anggota keluarganya di sandera oleh serdadu penjajah, tapi juga bagaimana dengan nasibnya P.Diponegoro yang malahan berakhir demikian yang malah tinggal tersudut, bahkan kemudian terpenjara, terbuang, teraniaya dan di eksekusi.Padahal beliau Mbah P.Diponegoro memperjuangkan kebenaran.

Tapi senopatinya Sentot masih bisa berbelok2 fleksibel dan dapat untung bayaran pula bahkan walau dari penjajah Belanda. Manipulasi kulturstelsel/ korupsi masih berjalan. Atau seperti kini yang masih oportunis juga seperti sosok SBY, sanak kerabatnya, bigbos, para mafia korupsi, markus.

Maka wajar saja jika keluarga Mataram Bapak juga telah mengambil sekutu bekingan, bahkan sebelumnya sempat mengontak Italia.

Apalagi di jaman modern, walau masih keturunan dari Wali Sunan Kudus yang juga Panglima Suronata di masa silam, tapi itu masa silam, berbanding perubahan realita di jaman modern. Walau masih tergolong dzuriyah juga malahan tidak bisa hanya mengandalkan Syi’ah yang justru malahan bisa turut membahayakannya, apalagi di masa modern.

Atau seperti Bung Karno pernah menuliskan di bukunya, Di Bawah bendera revolusi, Waspada pada penjajah dari bangsa sendiri.

Bahkan sosok seperti Presiden SBY pun pernah melakukan pertemuan dengan George W Bush, Presiden di masa penganiayaan di penjara Guantanamo.  Dan juga bahkan sempat jadi lulusan militer di Australia.

Bahkan orang jahat/ koruptor pun juga bersiasat.

Teringat ucapan dari teman senior di lukis, jaman kini lain dengan dulu, kalau dulu lawan penjajahnya ketahuan, tapi kini ada yang gak ketahuan. Atau seperti di tayangan televisi di skandal Century dari opini-opininya seperti Adnan Buyung Nasution SH, Todung Mulya Lubis SH, mengatakan adanya mafia markus (makelar kasus), mafia korupsi, hingga ke big bossnya. Fitnah gestapu dari masa silam dengan keberadaan di antara orang-orang modern kini yang juga plural.

Dan setiap orang punya HAM, juga punya hak kemerdekaannya, dengan pertimbangan dominan baik dari jahatnya, demokrasi-rasa keadilan. Dan self defense di istilah internasionalnya.

Tapi ada juga pendapat menyebut bahwa paduan keras dan lembut justru dapat berpadu menjadi keseimbangan dalam nilai2 kehidupan. Jika juga di tempatkan pada tempatnya, kapan saat keras, kapan saat lembut di saat yang tepat. Seperti di pepatah Cina, ada yin ada yang, Tao (keseimbangan, alamiah).

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Dr. Chaerul Saleh berseragam Dewan Jenderal kehormatan, bersama Menpangad Letjen Ahmad Yani, sesama eks komandan gerilya

Dr. Chaerul Saleh,atau Datuk Paduko Rajo Chaerul Saleh atau Uwak Lung

Di foto ini dan di sejarah sempat terbaca memang Dr. Chaerul Saleh sempat di undang dan mendapat kehormatan di angkat menjadi Jenderal kehormatan bersama-sama dengan Menpangad, Letjen Ahmad Yani, bahkan juga dengan Letjen A.H. Nasution di masa orde lama.

Tapi Dr. Chaerul Saleh dan Pak anumerta Jenderal Ahmad Yani juga mengalami nasib akhir hidupnya dengan pembunuhan, dengan digulingkannya orde lama.

Dr. Chaerul Saleh sempat di sebut Presiden RI waktu itu, Ir. Soekarno atau Bung Karno sebagai tangan kanannya. Di samping sebagai tokoh pemuda.

Ada juga isu, karena Pak Karno punya ilmu kesaktian dan masih ada simpatisan dari rakyat, maka tidak bisa di bunuh/ melalui upaya racun begitu saja. Makanya masih nampak dengan di jaga ketat tentara-tentara di waktu itu, bahkan walau ada yang menyapa, tapi di pisahkan oleh tentara dan di masukkan ke mobil.

Dan di antara kemenakan Dr. Chaerul Saleh, ternyata juga baru di temukan infonya sebagai juga kakak sepupu kaca benggala Mataram dari keluarga penguasa di masa orba. Dan setelah masa orba pun sudah kehilangan taji kaca benggalanya.

Surosowan-Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Bung Karno-Guntur Soekarnoputera dan Chaerul Saleh http://rosodaras.wordpress.com/tag/chaerul-saleh/

Surosowan-P.Jakarta Dul Gendhu-P.Tubagus Arief Z.DG-MP

Keluarga Dul Gendhu Mataram R.Moelyopratomo-Moelyowihardjo dengan mobil Ford sport klasik

Bpk wkt  memulai karir mencari nafkah sebagai staf Kasir di HI

Bpk wkt memulai karir mencari nafkah sebagai staf Kasir di HI, 1965

Surosowan-P.Jakarta_Tubagus Arief Z-art doc

Bapak, R. Teguh Pratomo dan temannya sewaktu pegawai angkatan lama di HI, 1973

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z art doc

Bapak dan Yayang Nurtanto (kakak sulung) wkt kecil dulu

(Alm) Bapak, R. Teguh Pratomo waktu masih muda baru berketurunan putera pertama yang juga kakak sulung

Menurut asal-usulnya pernah terdengar dari Ibunya, Mbah Moegirah Moelyowihardjo dari ayahnya/kakek uyut masih berasal dari keraton Kota Gede. Bapaknya/ kakek ialah Raden Moelyopratomo, bin Raden Brodjo Soetomo (tertulis di batu nisannya di makam di Petanahan, pantai Karanganyar, kabupaten Kebumen, Propinsi DI Yogyakarta/ tadinya termasuk Propinsi Jawa Tengah. Seperti di temukan di dekat tapal batas gapura Jateng, terdapat juga tugu Pangeran Diponegoro dengan naik kuda berukuran tinggi dan besar, sekitaran dari Tegalredjo ke Purworedjo, Kutohardjo dan Kebumen (dulunya juga masih termasuk di Propinsi Jawa Tengah). Walau ironisnya jalannya menuju kesana pernah nampak masih berbatu-batu.

Bapak/ R. Teguh Pratomo tadinya sempat kuliah di Fakultas Kedokteran, kemudian pindah ke AMN, Magelang di 1957. Tadinya berniat mendaftar ke AU, karena berminat ingin seperti saudara iparnya, perwira AU Ignatius Dewanto yang juga pilot jagoan penembak jatuh pesawat AS.

Tapi di AMN, di kenai mesti melalui Pendidikan Dasar setahun, bahkan ia sempat seangkatan dengan Pak Try Soetrisno di Pendidikan Dasar Militer di AMN, Magelang, di 1957.

Dan Pak Try Soetrisno mendaftarnya ke AD. Di Pendidikan Dasar semua penjurusan seangkatan di kumpulkan mesti melaluinya setahun. Hampir sama seperti ketika kuliah di FSRD IKJ (yang di dirikan oleh alm. purn Jenderal-AL Ali Sadikin), tahun pertama di wajibkan PDSR, sebelum ke penjurusan. Memang sekolah di masa orba masih ada nuansa militeristiknya.

Tapi, setelah melewati setahun Pendidikan Dasar, R. Teguh Pratomo di pindahkan ke jurusan AL. Di sebutnya ada mengidap penyakit turunan, dan tidak cocok di AU, apalagi sebagai pilot pemburu seperti tujuan semula mendaftarnya.

Hingga di 1964, R. Teguh Pratomo baru keluar dari militer. Persis setelah usai misi perang merebut Irian Barat ke NKRI dari 1963-1964. Dan R. Teguh Pratomo seperti katanya sempat lulus dari AMN, dan berpangkat Letnan-AL.

Setelah keluar dari militer, di mana sebelumnya di pesta pernikahan kakak sulungnya yang perempuan, Bude Sri di Solo, 1964, sempat di malamnya kedatangan polisi militer. Mempermasalahkan soal urusan administrasi di kantor militer.

Setelahnya R. Teguh Pratomo melanjutkan kuliah di akademi Perhotelan di HI, yang baru saja di resmikan pendiriannya oleh Presiden waktu itu, Ir. Soekarno. Bahkan masih berstatus sebagai BUMN.

Ketika kuliah di akademi Perhotelan HI di 1964, dan sempat berasrama mahasiswa di Bandung,  R. Teguh Pratomo bertemu Ibu, dan menikah di 1965, di rumah (Nenek) Saidah Banten, Neneng Murdinah binti P.Mohammad Damien, di jl. Pasirkudajaya, komplek Surosowan-Ciomas, Bogor, Jawa Barat.

Orde baru-1980-an, kemudian dan seputar sejarah sebagai pencari nafkah-lapangan kerja-ekonomi

Surosowan-P.Jakarta_Tubagus Arief Z-art doc

Bapak wkt jadi manajer HI dan bos bule dari AS, manajer Sheraton di masa merger (penggabungan HI-Sheraton. Di sekitar 1970-80-an Sheraton adalah hotel berbintang internasional yang paling berjaya di masanya. Kemudian muncul Hilton, hingga muncul oposisi lagi, seperti Mandarin, hingga Marriot.

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Bpk-R.Teguh Pratomo manajer HI dan Bpk bule AS manajer Sheraton dengan teman2 pegawai

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Kenangan Bapak R. Teguh Pratomo wkt jadi manajer HI dan Manajer Sheraton-Bpk bule AS dengan segenap teman-teman pegawai di HI

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Bapak wkt manajer di HI

Sejak di dirikan dan diresmikan Presiden I RI, Ir. Soekarno, HI awalnya berstatus BUMN.

Hingga mulai awal masuk ke masa orde baru terjadi transisi status di Hotel Indonesia. Tapi pegawai-pegawai perwakilan  bumiputeranya di bagian senior-officialnya tetap di pegang orang-orang masa Pak Karno.

Presiden ke-2 RI, purn. Jenderal Pangkostrad-Soeharto waktu sekitaran 1980-an tidak mau kalah pamor dengan kharisma simpatik Presiden Soekarno yang masih membekas simpati di hati rakyat. Beliau juga mendirikan hotel berbintang Presiden, persis di depan Sogo kini, samping HI. Yang kini juga di jadikan tempat wawancara di tayangan televisi, seperti di TV One, di hotel Presiden dulu.

Bahkan melalui anak keluarganya Cendana, sempat mengambil alih juga Pasaraya Sarinah, yang terdapat di jl. M.H. Thamrin dan Blok M.

HI memasuki era orde baru melakukan merger/ penggabungan dengan hotel berbintang internasional terkemuka di masanya, Sheraton. Bahkan hingga dengan mendirikan cabang hotel Samudera beach di kawasan pantai selatan.

Dulunya Bapak sempat naik pangkat menjadi manajer di HI, sudah setingkat Direktur sebenarnya waktu itu, di samping keberadaan manajer hotel Sheraton dari AS, yang orangnya juga baik.

Kemudian setelah kemunculan hotel Mandarin, beberapa tahun kemudian status bos di HI di kuasai orang-orang Cina.

Sejak itu pula di tempatkan orang-orang Cina mendominasi di HI, termasuk dengan menyingkirkan  (mem-PHK) orang-orang lama di HI, yang kebetulan kebanyakan orang-orang Indonesia.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

The last family throne Surosowan/ the elder mountain Empire Sultanate Banten Darussalam from Prince Mohammad Damien grandson of Queen Sultana Kahinten from Kahibon palace the last Sultanate Banten palace 19th century, and noble Dul Gendhu/hadiningrat kasepuhan Kota Gede Mataram, also royal family of Prince Jakarta family

Tubagus Arief Z-art doc

foto dengan keluarga akhir era 1970-an berlatar lukisan Uwak Lung (Dr. Chaerul Saleh). Dengan nenek, Ibu, kakak2 dan saya (waktu usia balita yang berdiri di kanan atas)

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

saya, Tubagus Arief Z- Pratomo waktu kecil usia balita berkunjung di rumah gedong Mbah Klaten- Moelyowijardjo di Klaten, Propinsi DI Yogyakarta, 1977

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Nenek membesuk Ibu Yo waktu sakit 1973, di rumahnya di jl. Gg Melati, Puncak, Bogor, Jawa Barat

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Dodit dan teman kecil sesebaya saya, Rani yang dulu juga tetangga dekat dan teman sekolah TK dan SD di garasi rumahnya

Kenangan dengan teman kecil sepermainan waktu masa kecil

Waktu masa kecil, di kawasan jl. Bangka belum ramai. Dan teman awal masa kecil ialah Rani, bocah perempuan di waktu itu yang juga tetangga dekat. Rani ialah anak dari keluarga Bapak dan Ibu Rahmat, yang juga berasal dari Yogyakarta, dan Bapak atau di sebut Om Rahmat bekerja di Jakarta di sekitar awal 1980-an.

Keluarga Bapak dan Ibu Rahmat ini baik. Dulu di masa kecil juga memang memilih teman sepermainan. Karena pengaruh dari Ibu-Bapak mulanya juga mungkin pengaruh mencari hubungan dengan orang yang baik. Juga berhati-hati di Jakarta.

Rani sempat seangkatan di TK dan SD. Tapi ketika di SDN Selong 01 Pagi, jl. Senopati, sekitar di kelas 4, dengan sekeluarganya pindah dari Jakarta, ke Yogyakarta.

Di Yogyakarta, terdengar kabar bahwa Rani lulus duluan kuliah sebagai Insinyur Pertanian di UGM, sekitar sebelum 1999. Dan telah terlebih dulu menikah dan beranak. Sementara pribadi waktu masih kuliah di FSRD IKJ, sebelum 1999 sempat mengalami masa apakah mampu lulus, dan masih sibuk dan terpikiran dengan beban tugas-tugas kuliah, PR.

Rani sejak dulu termasuk siswa yang pandai, apalagi setelah pindah ke Yogyakarta, kota pelajar. Dulu sempat membanding-bandingkan juga antara Yogyakarta dengan Jakarta kota metropolitan, yang juga terdapat gangguan tawuran pelajar, di masa masih bersekolah. Di soal ketenteraman sebagai pelajar di Jakarta.

Tubagus Arief Z-art doc

holden kingswood keluarga dulu waktu nyekar di Jawa sekitar 1978

Surosowan-Dul Gendhu Jakarta-Tb Arief Z art-doc

alm bapak-alm kakak kedua- dan adik di Bogor

foto remaja dg kakak2 dan adik di borobudur

foto remaja dg kakak2 dan adik di borobudur

Sekeluarga Tohaan modern ketika di Candi Borobudur, Propinsi DI Yogyakarta / Central Java.

Candi Borobudur di dirikan oleh Raja Sailendra, Samaratungga di abad 8m. Kerajaan Sailendra dan Samaratungga beragama Budha.

Candi Borobudur juga di sebut oleh peneliti sebagai contoh peninggalan struktur bangunan sejarah terbaik. Di samping bermuatan hasil-hasil karya seni bernilai tinggi.  Sebelumnya, wangsa Mataram juga telah membangun candi Prambanan.

Dan berketurunan puteri Pramodhawardhani dan adiknya, Indrawarman.

Puteri Pramodhawardhani menikah dengan Raja Medang-Mataram, Rakai Pikatan.

Rakai Pikatan ialah keturunan kesekian dari Raja Sanjaya yang menikah dengan puteri Raja Kawali-Pajajaran. Dan dari Raja Kawali, Sanjaya sempat mendapat gelar bangsawan kehormatan, Tohaan. Atau di bahasa Indonesia kini, Raja yang di pertuan.

Setelah menikah dengan Puteri mahkota Pramodhawardhani, membuat Rakai Pikatan juga di tahbiskan sebagai Raja Sailendra di samping sebagai Raja Medang Mataram.

Di sejarahnya sempat, Indrawarman tidak terima takhta kerajaan Sailendra di ambil Rakai Pikatan. Maka sempat terjadi perang saudara. Tapi Rakai Pikatan masih beruntung bisa memenangkan perang dan mempertahankan kedudukannya sebagai Raja Jawa, dan muncul Dharmawangsa sebagai penerus kekuasaan kerajaan Jawa. Dan Indrawarman mengungsi ke Sriwijaya, hingga muncul Dharmasraya sebagai penerus kekuasaan kerajaan Sumatera.

Berabad kemudian kerajaan-kerajaan besar di Sumatera dan Jawa menjadi kerajaan-kerajaan Islam.

Dan gelar Tohaan demikian terulang lagi di jaman modern dengan melalui pernikahan (alm) Bapak yang juga Raden Mataram (yang telah jadi kerajaan Islam) dari keraton Kota Gede dengan Ibu yang puteri kesultanan Banten dan keluarga Pangeran Jakarta. Sesuai dengan asal-usul istimewa kedaerahan persisnya, sebagai (keluarga) Tohaan modern.

Tubagus Arief Z-realism art doc

sekeluarga dg kakak menggambar

Sekeluarga dengan (alm) kakak ke-2 menggambar

(Alm) kakak ke-2 di foto ini menggambar ketika masih berusia di tingkat siswa SMAN 24 KJ, Jaksel. SMAN 24 KJ tadinya berlokasi di jl. Sudirman, kemudian pindah ke jl. Daha menjadi SMAN 82, persis setelah (alm) kakak ke-2 lulus dan masuk ke jurusan arsitektur di Fakultas Teknik Sipil-kampus UKI, Cawang, Jaktim.

Memang dari bacaan di sejarah keluarga kesultanan Mataram, sejak Raden Iman turut menjadi arsitek pertama pembangunan Masjid Banten, hingga di masa Panembahan senopati Sutawijaya membangun keraton dan benteng kota gede. Hingga di masa Sultan HB II terdapat di sebut juga menjadi arsitek dan pelukis, dan musisi. Di bacaan sejarah nampaknya Sultan HB II ini di samping sebagai Raja juga seniman serba bisa.

Entah juga apa karena latar asal-usul genetik ini , atau juga sejak dari masa Mbah Sultan II Yogya, lama masa ke regenerasinya kemudian mungkin tinggal tersebar secuil-secuil atau beberapa bagian dari darah genetiknya, hingga di regenerasi/peranakan Mataram kemudian ada yang jadi arsitek, desainer interior, lukis, bahkan ada yang jadi Profesor dosen lukis (Prof. Srihadi Soedarsono dari keraton hadiningrat Surakarta),  dalang, yakni Ki Manteb Soedarsono-dari keraton hadiningrat Surakarta, hingga musisi seperti contoh rocker Bangkit Sanjaya yang juga seangkatan dengan Anggun C.Sasmi yang telah menjadi penyanyi profesional kelas go-internasional.

Tapi ada juga pendapat, bisa itu karena terbiasa, ada kemauan, dan bukan bakat belum tentu berasal dari turunan. Walau di realitanya terdapat kenyataan yang membuktikan kenyataan apa adanya.

Di samping di masanya Mataram kembali melakukan perlawanan pada penjajah kumpeni VOC-Belanda, dan Sultan HB II juga menjadi Senopati lagi sebagai sampingan profesinya.

Tapi di jaman modern di bidang FSRD juga ada Desain. Di majalah Desain Grafis juga menyebut, mungkin munculnya Desain Grafis di Indonesia baru di sekitaran era 1980-an. Dan telah sejak masa tersebut menjadi bagian keluarga FSRD.

Di foto juga nampak adik bungsu yang masih di pangku Ibu, waktu itu usianya masih balita. Tapi di keluarga justru adik bungsu yang menikahnya duluan dengan pemuda sesebayanya yang masih keturunan keluarga Raden Sumedang, juga dari Ibunya, kakak  dari mantan Jenderal Polisi, dan mantan cagub DKI (dari PKS) di pilgub 2007,  R. Adang Darajatun, dan telah berputera satu, kini di 2013 masih berusia balita.

Teringat waktu menikahnya di Kemang, Ibu sempat bilang seperti masih ada di antara kerabatnya yang juga masih kerabat. Ibu juga dari bapaknya juga sama dari keluarga Raden Sumedang.

Seperti pernah di belakangan tahun, Ibu ketika sedang melakukan nyekar mengunjungi saudara-saudaranya (alm) Bapak, juga setelah berbincang-bincang jadi menemukan masih ada hubungan kerabat.

Setelah mengetahui dari pemberitahuan Ibu, berhubungan hal-hal ini, jadinya tadinya seperti menemukan di pulau Jawa ini seperti daun kelor, di sana-sini kerabat, padahal dulu sempat dengar Ustadz P.Jayakarta di masjid At-Taqwa pernah bercerita ada pasangan yang sempat jadi bercerai, lantaran belakangan tau masih hubungan kerabat. Juga dari temuan bacaan di ayat Al-Baqoroh. Akibatnya pelariannya lihat perempuan-perempuan bule.

Tapi Ibu juga pernah bilang, kalo di fiqih Islam jika masih saudara sepupunya dari Ibu, masih ikhtilaf boleh menikah.

Tubagus Arief Z-realism art doc

Waktu kecil menggambar

Potret Tubagus Arief Z., ikutan kakak ke-2 menggambar.

Tadinya karena terpengaruh kakak ke-2 menggambar, hingga tak nyana di 1994 masih lolos mendapatkan kesempatan kuliah di terima di FSRD IKJ.

Tadinya sempat juga bingung bisa mendapat di terima kuliah di mana di Jakarta. Apalagi Jakarta juga ibukota metropolitan, yang penduduknya juga kian bertambah, khawatir dengan persaingan di Jakarta yang kian jadi kota kapitalisme, tapi ironis juga jika warga lokal sampai tersingkir soal kebutuhan prasarananya di kota kelahirannya.

Alaminya cari  jatah selamat juga walau meski melalui persaingan di kontroversi pada kota Jakarta yang jadi kapitalisme.

Jadinya turut mendukung rasa keadilan pemerataan pembangunan dan infrastruktur, supaya orang tak lagi pindah ke Jakarta, dan seimbang jumlah kependudukannya. Di samping khawatir tak kebagian jatah penghidupan layak. Tapi ingin juga semua kebagian jatah penghidupan layak, tapi juga dengan strategi untuk mencapai keseimbangan.

Mulanya di terima di jurusan Desain Grafis, tapi setelah melalui Pendidikan Dasar Seni Rupa setahun kemudian pindah jurusan ke studio seni lukis. Dan lulus 2 kali, di 1999 lulus D3 dan di 2004 lulus S1/ S.Sn.

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu Tubagus Arief Z  DGMP

waktu libur semesteran kampus FSRD-IKJ di Carita Anyer Banten, 1995

Liburan semesteran FSRD IKJ di Carita, pantai Anyer, Banten, 1995

Di IKJ, terdapat fakultas-fakultas kesenian meliputi Fakultas Film dan televisi, Pertunjukan, Seni Musik, Seni Rupa dan Desain (FSRD). Dan di IKJ yang di dirikan Gubernur DKI pertama, purn. Jenderal AL Ali Sadikin, di masa orde baru juga merupakan institusi seni pertama di Jakarta. Ada juga yang menyebut statusnya masih negeri, karena yang mendirikan juga Gubernur DKI.

Entah apakah karena pendirinya juga Gubernur Ali Sadikin yang juga sempat dekat dengan seniman-seniman kelompok tua dan muda di Jakarta, maka di IKJ juga di temukan mahasiswanya juga ada dari orang seni dan banyak pula dari anak-anak tentara.

Ketika itu sedang bingung mau kuliah di mana, sempat daftar sana-sini, ikut tes di UI sekalian di IKJ, di samping ada cadangan brosur dari Sekolah tinggi Manajemen dan Ekonomi yang entah bagaimana bisa mengetahui nama, indeks nilai di sekolah, tapi sempat bersyukur juga di terimanya di FSRD IKJ. Jadinya masih bisa meneruskan hobi sejak kecil, yakni menggambar. Sempat kepikiran beban juga seandainya tiada di terima satupun di sekolah-sekolah yang telah mengikuti tes pendaftarannya, alih-alih kembali ke ekonomi akuntansi. Sebenarnya dulu pun di SMA terpaksa belajar ekonomi akuntansi, terpikiran beban lagi-lagi menghitung, menghafal rumus-rumusnya, catatan bertumpuk2. Dan beban terpikiran lainnya ialah bakal semakin kehilangan waktu untuk menggambar.

Memang awalnya di terimanya bersama teman-teman dari se-SMA mendapat keberuntungan termasuk yang di terima di jurusan mendaftarnya. Waktu itu yang pendaftaran favorit adalah di jurusan Desain Grafis, bahkan hingga kini. Dan sempat ada tidak enak juga ketika bertemu teman se-SMA ada yang mengaku di terimanya tapi di pindah ke jurusan lain.

Kemudian pun di wajibkan mesti mengikuti Pendidikan Dasar setahun, dan setiap jurusan di FSRD di kumpulkan. Dan melalui melewati Pendidikan Dasar itupun kerap juga sempat mendapat seperti ada kesenjangan antar teman. Di samping juga jadi menciut nyali untuk terus bertahan hingga setahun kemudian masuk ke penjurusan studio Desain grafis. Karena juga di studio Desain grafis, mahasiswanya berjumlah paling banyak sekitar 40-an lebih. Pastinya nanti bakal ada persaingan ketat. Tapi memang di dunia kerjanya nampak menjanjikan.

Apalagi di akhir semester PDSR juga sempat melihat pameran Dede Eri Supria di galeri cipta TIM, yang juga di sponsori oleh Tempo. Yang nampak bahkan bukan karya-karya lukisan kanvas Dede Eri, tapi karya-karyanya sebagai ilustrator, yang juga nampak menggunakan airbrush.  Mungkin Dede Eri Supria termasuk pelukis airbrush pertama di Indonesia.

Dan pernah dengar dari kakak sepupu dari keponakan (alm) Bapak, juga pernah menyebut ia masih saudara ipar, isterinya yang masih saudara.

Dan tiba-tiba, apalagi ketika di ajak teman-teman berpameran PDSR, kemudian melukis di rumahnya Agas, tiba-tiba seperti dapat rasa minat dadakan, apalagi menjelang dekat keesokannya juga hari mulai dapat masuk ke studio. Yang entah tidak bisa di sebut secara detil apa alasan, dllnya, abstraksi, hanya dari mengambil keputusan tiba-tiba saja.

Ingat waktu berkumpul dengan Deden dan Anto yang sama telah menempuh pendidikan sanggar lukis, Deden juga keturunan pelukis bahkan dosen ASRI, Anto yang waktu di PDSR juga daftarnya di studio lukis, bahkan juga dari sanggar yang bahkan kenal dengan guru sanggar lukis, nampak sedang semangat hendak memajukan studio lukis. Nampaknya asyik juga kedengarannya, dan mereka membincangkannya juga ketika sedang dekat masa ke pindah studio, telah hampir habis setahun masa PDSR.

Maka setahun kemudian karena juga sempat dekatnya dengan teman-teman yang masuk ke studio lukis, maka pada tahap ke studio pun memutuskan pindah jurusan ke Seni lukis. Walau sempat dari Kajur Desain Grafis, (alm) Pak Prinka yang juga mantan pemred Tempo, sempat mendapatkan seringai dari wajahnya, dan ucapan seperti nada kesal, Kamu juga mau pindah?

Tapi setelah pindah ke studio lukis, di mana juga nampak wajah-wajah (alm) Bang Aditya Tobing dan teman-teman menyambut, Untung, Ali Bonzo, Weldi, hingga Rudi Faisal. Yang nampak belakangan Dedi di masjid juga nampak murung. Dedi juga pindah dari DG ke lukis, tapi ia juga teman senasib. Melihat rupa Dedi nampak murung di masjid Amir Hamzah sempat geli juga. Gelinya di perkiraan, ia sedang murung memikirkan kenapa gw bisa pindah,,,bagaimana nasib gw di masa depan.

Sempat kepikiran tapi juga ada bagian pelengkap semangat, Dedi juga berasal dari STM Grafika kenapa ia bisa memutuskan pindah ke seni lukis. Tapi seperti diri sendiri hal itu juga rasanya abstrak. Teringat ucapannya Ugeng (Soegeng), ingin cari zona nyaman, mungkin itu jawaban tepatnya.

Dan mendengar kabar kemudian, Anto Wibowo ternyata pindah dari seni lukis ke desain grafis. Rupanya ia memanfaatkan jatah-jatah dari teman-teman mahasiswa Desain grafis yang pindah di ambil bangkunya, setelah sebelumnya nampak melakukan upaya-upaya persuasif, bahkan hingga membuat teman-temannya pindah dari jurusan yang semula telah di raihnya.

Tapi pun kemudian setelah bertahun-tahun di IKJ, melalui SKS demi SKS di studio Desain Grafis yang seangkatan juga menemukan teman-teman yang dulu padat berjumlah 40-an lebih sekelas di studio DG, berhilangan satu-persatu, tinggal sekitar 20-an saja.

Dan kadang sempat mendengar juga teman-teman yang masih di DG, sempat sembari membawa tugasnya juga sempat mengeluhkan betapa berat beban-beban tugas kuliahnya. Belum dengan yang di tambah masih ada yang berutang mengulang di PDSR.

Sempat teringat Bondan atau di panggil juga Bondi sempat mengeluhkan betapa beratnya membuat brosur rumahsakit, bahkan ia mesti berupaya terlebih dulu mengurus ijin, mengumpulkan info, dll.

Belakangan jadi sempat mendapatkan pengamatan bahwa Anto justru membuktikan sebagai latar dari anak sanggar lukis, dari tahap dini menguasai seni lukis justru juga sebagai prasarananya berkembangnya di desain grafis andal. Hingga ia bisa memenangkan juara I lomba desain internasional dari PBB. Hingga pengorbanan 3 temannnya memberikan bangku desain grafis padanya juga jadi bermanfaat.

Jadinya memang yang nampak kuliah di seni lukis lebih ringan, apalagi setelah boleh pakai alat bantu fotografi, tapi juga ada terbawa beban dengan studio lukis yang dulu letaknya strategis, bebannya adalah ketika di pakai sebagai tempat mabuk-mabukan. Hingga sebenarnya di tiap studio ada masalahnya. Di seni lukis justru di masa awal-awalnya yang lebih berat, karena sempat tidak di perbolehkan menggunakan alat bantu fotografi/kamera. Apalagi di masa awal dulu 1994 hingga 1995 alat lukis kebanyakan hanya terdapat cat minyak. Baru di 1995 kemudian muncul cat akrilik di toko-toko.

Dan dari cat minyak pindah ke cat akrilik lebih mudah, ketimbang dari akrilik ke cat minyak, tiap media lukis ada perbedaan sifat materinya, entah di cat minyak, akrilik,cat air, cat duco, cat mowilek, cat kayu, cat karet. Pernah sempat di ajak ikut mengecat pagar masjid dengan cat besi campur afduner, ternyata sulit juga. Atau ketika pernah melihat pameran lukisan kaca, bahkan terdapat bergaya realisme, padahal di buatnya di lukis secara terbalik. Lukis kaca ini dari Cirebon, dan memang nampak berteknik lukis paling sulit.

Sebenarnya teknik lukis ada lagi, termasuk di seni lukis airbrush. Tapi memang juga berhubungan dengan modalnya. Kalau punya alatnya cukup dengan latihan mungkin bisa, apalagi yang sudah belajar melukis.

Di Unair Surabaya, civitas lukisnya yang nampak paling banyak menggunakan airbrush. Apalagi di AS., seperti nampak di tayangan televisi luar, misalkan acara West Coast, Chip Foose, Pimp My ride, melukis airbrush di mobil-mobil hingga menjadi bagian dari desain modifikasinya. Bahkan di AS ada kuas khusus untuk keperluan melukis dengan garis lancip di mobil.

Teringat dulu sempat melihat pameran karya2 lukisan airbrush Dede Eri Supria, tapi hingga kini pun belum mewujudkan bagian keinginan itu.

Dan lukis airbrush pun bersamaan dengan perkembangan aplikasi grafis telah turut ada seperti di aplikasi photoshop, digital painting. Bahkan ada alatnya lebih memudahkannya dengan Wacom.

Jadi teringat waktu di mata kuliah ilustrasi sempat berbarengan dengan teman-teman mahasiswa Desain Grafis, walau kini telah berganti nama jadi DKV.

Melukis baru terasa mudah, setelah bisa. Dan memang kebisaannya juga termasuk berhubungan dengan penguasaan/ kepemilikan alat. Wah lagi-lagi ke materi.

Teringat juga kata guru ilmu bumi dan karate di SMPN 13, Di atas langit ada langit. Ternyata setelah menonton film kungfu jadul produksi Shaw, juga ada pendekar mengutip ajaran Tao, berbunyi sama.

Tapi setelah mendengar ajaran ini, juga bisa membuat hikmat kemalasan berupaya lagi pada siswa, karena toh sudah berupaya masih ada langit di atas langit, seperti dulu ketika di SMPN 13 juga siswa-siswanya pernah cabut/bolos bersama, bahkan hingga 2 kelas lebih, dan perginya ke warung atau tamasya ke kebun raya Bogor.

Nyatanya diri sendiri justru merasakan lebih sulit persaingan di seni lukis, setelah melalui ikut dari lomba ke lomba. Karena juga mesti berhadapan dengan pelukis tua yang bahkan tekniknya juga sangat hebat, tapi di soal ketahanan daya matanya juga masih di pertanyakan dan masih bisa jadi celah titik penyerangannya. Di samping juga adanya kongkalikong komunitas pelukisnya dengan konglomerat kapitalisme / kolektor, hingga juga bisa menghasilkan penjurian tidak benar. Bahkan seperti di juri2 JAA 2012 di antaranya juga terindikasi pelaku korupsi, salah satunya mantan Gub DKI Prof. Fauzi Bowo, atau Ong Jien kolektor lukisan palsu, atau Ciputera yang juga sedang terindikasi perusak fasilitas drainase tata kota dengan pembangunan mal-malnya.

Tapi juga mendapati bahkan ada masih dari kerabat paman Mataram, (dari hadiningrat Surakarta) jadi dosen bahkan jadi Profesor Srihadi S, juri lomba, tapi melihat hasil karyanya biasa saja, bahkan dari diri sendiri masih bisa mengatakan lebih unggul darinya.

Di samping pernah baca di Babad Mataram sempat pernah terjadi pralaya antara keraton Yogya dengan Surakarta. Surakarta duluan yang sekutu dengan VOC dan berkhianat. Bahkan sempat memblokir dan mengembargo keraton Kota Gede, di masa pralaya antara Amangkurat vs Pangeran Puger.

Atau pernah di kasus modern, perkara antara Pangeran Saladin dan adiknya, Emirudin yang juga dari peranakan Surakarta, tiba2 menyerobot takhta Raja Cirebon. Entah kenapa masih ada peninggalan sifat2 Amangkurat antek kumpeni VOC hinggap di antara hadiningrat Surakarta, bahkan di jaman modern. Atau refleksi mangkubumi Rana Menggala di sosok Foke.

Padahal masih kerabat tapi juga kadang seperti air dan minyak.

Teringat ucapannya alm Bang Aditya Tobing, kalau terdapatnya penyelenggaraan lomba-lomba lukis tujuan di baliknya sebenarnya hanya untuk terus memotivasi pelukis muda terus berkarya. Jadinya ada indikasi kepalsuan.

Tubagus Arief Z-art doc

Ibu dengan temannya warga Jakarta dari Padangketika melaksanakan ibadah haji 1997

Ibu naik haji di 1997 bersama (alm) adiknya, Bi Mamah dan teman-temannya Ibu Rusli dan Ibunya (asal kelahiran Padang).

Mungkin ketika menjalankan ibadah haji ke Mekah, Ibu dari temannya Ibu Rusli mungkin juga membawa bekal rendang, kuliner tahan lama berasal dari Padang.

MUKADDIMAH ASHOBIIYAH

STATUS ISTIMEWA KESULTANAN PANGERAN JAKARTA

BERDASARKAN HUKUM KITABULOH DAN

UUD 45 PASAL 18 BAB OTONOMI DAERAH

By Tubagus Arief Z-S.Sn

 

Berdasarkan KITABULOH QUR’AN SEBAGAI KITAB HUKUM AGAMA ISLAM SEBAGAI UNIVERSIL

Berdasarkan sumber hukum KITABULOH Qur’an Surat An-Nisa’ 54

Sesungguhnya ALLOH SWT telah memberikan kekuasaan kerajaan besar pada keluarga Ibrohim (termasuk pada keluarga Nabi Muhammad SAW, cucu keturunannya dari putera sulungnya Nabi Ibrohim, Nabi Ismail ‘as).

Berdasarkan Qur’an Surat An-Nisa’ 55

Maka barang siapa yang dengki/khianat pada hak tersebut, ALLOH akan memasukkannya ke siksa neraka jahanam.

Berdasarkan UUD 45-Negara Kesatuan Republik Indonesia yang telah di sahkan oleh Komisi HAM internasional

UUD 45 BAB Otonomi Daerah-pasal 18

Di bagian kalimatnya berbunyi, pemerintah, MPR, DPR, negara wajib memandang hak asal-usul istimewa kedaerahan.

UUD 45 pasal 29

Negara berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa

Sejarah Founding father/pendiri kota Jayakarta/ Jakarta :

Menurut sejarahnya kota Jayakarta mulanya di dirikan oleh tokoh-tokoh seperti Ki Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatuloh, dan Ki Fatahilah.

Ki Fatahilah ialah tokoh Panglima Macan Ali yang juga berasal dari pidatonya setelah dengan pasukan bumiputera menyatakan kemerdekaan dari pendudukan penjajah hingga serangan ke-2 dari pangkalan Malaka Portugis di abad 15 m.

Adapun tokoh Ki Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatuloh yang waktu itu berusia 105 tahun, sebagai tokoh penting ‘Ulama kasepuhan- Ketua ke-2 Dewan Wali Songo,Wali Pandita Ratu Sultan Cirebon, Wali khutub Masriki yang di angkat Wali khutub internasional, Syekh Abdul Qpodir Jaelani (yang juga Ulama besar guru beliau), tokoh Wali songo kasepuhan yang baik dan di segani, pengesah berdirinya kota Jayakarta dengan peranan beliau, di tandai dengan menanam pohon Jati, yang kini terdapat di sekitar wilayah bernama Jatinegara, di Jaktim. Yang juga menandai mulai sejatinya sejak kota Jakarta berdiri.

Sejarah asal-usul istimewa keluarga besar Pangeran Jakarta/Jayakarta

Pangeran Jayakarta/Pangeran Jakarta sebenarnya terdiri dari :

  1. Keluarga Bupati Jayakarta I, Fatahilah atau Pangeran Samudera Pase, Fadilah Khan, Panglima Macan Ali termasuk founding father pendiri kota Jakarta bersama Ki Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatuloh. Kedudukannya sebagai Bupati I Jayakarta di angkat oleh Ki Sunan Gunung Jati yang berusia 105 tahun di waktu itu.

Adapun keluarga dari Ki Fatahilah yang menikah dengan Ratu Ayu Pembayun, keturunannya di sebut juga Pangeran Wijayakrama/ keluarga Wijayakrama, termasuk keluarga Pangeran Jayakarta/Pangeran Jakarta.

  1. Keluarga Bupati Jakarta II, Tubagus Angke/ Pangeran Jayakarta/Pangeran Jakarta yang kedudukannya sebagai Bupati ke-2 Jayakarta di angkat oleh Ki Fatahilah dengan menyatakan masa pensiunnya.

Asal-usul istimewanya Tubagus Angke ialah Pangeran Cirebon yang berasal dari orangtua Ibunya Ratu Winahon, kakak sulungnya Sultan I Banten, Maulana Hasanuddin dari pernikahan Ki Sunan Gunung Jati dengan Ratu Kawunganten, masih puteri dari Dipati Surosowan, putera ke-2 Prabhu Siliwangi, Pangeran Pajajaran yang telah beragama Islam , yang di angkat sebagai Dipati Pesisir di Banten.

Tadinya kota Jayakarta bernama Surakarta, dan termasuk sempat di jadikan ibukota di masa Raja Surawisesa, puteranya Prabhu Sangiang, putera sulung Prabhu Siliwangi.

Memang Banten dan Jakarta dulunya dari asal-usul istimewa daerahnya termasuk dengan hubungannya dengan kerajaan Sunda Pajajaran, atau jaman dulu di sebut Negara Sunda, waktu masih jaman kerajaan-kerajaan masih menjadi negara masing2 di Indonesia.

Dan suku Sunda juga terdapat lagi nama suku-sukunya, seperti Panjalu, Kawali, Sunda, Sedayu (suku Sunda –Jakarta yang kemudian juga di sebut Betawi), Baduy.

Atau perbandingan seperti di Jawa dengan sejarah Mataram, menjadi Yogyakarta, Surakarta, Pakubuwono. Atau seperti di sejarah kerajaan Gowa, dengan Raja Ampat, Papua di Indonesia Timur, hanya menjadi beberapa nama, tapi sebenarnya berasal dari seketurunan keluarga Raja tadinya.  Atau pernah kejadian sejarah dengan kerajaan Bali dan Lombok.

Di mana sejarah-sejarah ini mungkin juga berhubungan dengan penyelesaian masalah soal otonomi daerah dan hak asal-usul istimewa kedaerahan dari sudut kerajaan di Indonesia.

Bung Karno, dan sudut pandang sejarah klasik Trias Politika, J.J.Rousseau, Montesquie.

Di mana masa Pak Karno sempat menyebut soal referensi Trias Politika di Indonesia. Trias Politika di sejarahnya terdapat di sejarah Revolusi kemerdekaan Perancis, di mana sejak peristiwanya terdapat perundingan soal kekuasaan negara antara kubu perwakilan Sosialis yang di wakili J.J Rousseau dan Monarki di wakili Baron Charles Louis Montesquie.  Tapi slogan utamanya tetap, dari rakyat untuk rakyat.

J.J. Rousseau sebagai perwakilan rakyat/Sosial, menyatakan pendapatnya mengenai kekuasaan di pegang rakyat. Dan Montesquie dari perwakilan Monarki menyebut pendapatnya, bagaimanapun keberadaan kerajaan tidak bisa di musnahkan di negara, karena kerajaan juga telah lama termasuk sebagai simbol keistimewaan di sejarah negara, dan keluarga Raja juga punya hak istimewa di negaranya. Montesquie juga menyebutkan usulan berdampingannya kerajaan dan rakyat di kekuasaan negara. Hingga dari perundingan kedua perwakilan menghasilkan kesepakatan Trias politika.

Walau di sejarah kemudian terjadi kontroversi di rakyat juga di kalangan keluarga kerajaan, lantaran kekuasaan di ambil oleh militer, melalui kemunculan Napoleon  si Kepala negara yang juga mentahbiskan dirinya sebagai Kaisar Perancis.

Dari penelusuran sejarah pula  ditemukan bahwa Napoleon melalui militer pula menciptakan kekisruhan, kekacauan, perselisihan tak berujung lanjutan, sebagai manipulasi untuk meloloskan kemunculan penguasa dari militer.

Tapinya  juga Napoleon  di kenal di bagian sejarah dunia sebagai sosok Pemimpin diktator, menciptakan masalah krisis ekonomi baru, pemerintahan korupsi.

Jadi pemimpin yang juga menyimpang dari mandat, tidak memberi solusi dan maslahat bagi rakyat dan negara.

Di Inggeris, di masa klasik yang sama juga sempat terjadi revolusi rakyat terhadap Rajanya yang memerintah dengan lalim, tirani, dan sempat terjadi kesenjangan teramat sangat antara kubu bangsawan dan rakyat proletar, maka muncul pernyataan dari Oliver Cromwell sebagai perwakilan rakyat di Parlemen Inggeris, yaitu Commonwealth, atau ciptakan kesejahteraan umum, atau kesejahteraan bersama.

Dan asal dari revolusi-revolusi di masa klasik memang berasal dari soal masalah rasa keadilan, HAM dan masalah ekonomi kerakyatan.

Makanya Pak Karno pernah menyebutkan JAS MERAH, Jangan sekali-kali melupakan sejarah. Juga pernah berkata, kalo pepatah dulu sedikit bicara banyak bekerja (yang juga munculnya di masa penjajahan di mana bumiputera sempat di jadikan budak kolonial), tapi setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, Banyak bicara banyak bekerja. Lantaran Pak Karno di samping sebagai Presiden I RI juga lulusan insinyur, di realita modernnya kenal dengan  perencanaan/perancangan bagian dari bekerja. Bicara maksudnya mungkin sebagai aspirasi, bagian perencanaan, mencari penjelasan titik terang sebagai bagian bekerja juga.

Atau seperti di reaita pernah ada tukang buruh asal bekerja, tapi kemudian malah bertentangan dengan maksud perancangan arsiteknya.

Kesimpulannya dari makna-makna demikian, supaya tidak latah juga. Boleh banyak bicara asal benar dan dengan tujuan ke  Jihad pernyataan adil dan bekerja/ ikhtiar.

Sebagai bagian pelajaran juga soal di berbangsa bernegara Merdeka : Bebas-aktif dan JURDIL, Jujur dan Adil.

Kontroversi di jaman KIB I-II SBY, pengembalian hak-hak kerajaan hanya pada sebagian, belum pada hak kesultanan Pangeran Jakarta dan Deli dan tunggu tanggal main waktunya

Pertimbangan mendengar pendapat Prabowo S., sebagai pilihan Capres yang bagus  di pilpres yang sebentar lagi setelah akhir masa KIB I-II SBY

 

 

 

 

 

Essay risalah poligami Pangeran Mohammad Damien dan soal di milennium abad 21 m., misalkan terdapat Sultan/Pangeran masih ada yang melakukan poligami 2, 3 atau batas maksimal 4 isteri, sesuai masih termasuk hak istimewanya sebagai Sultan melalui keperluan kemaslahatan dan hak kemerdekaan bangsa negara dan kewenangan pemimpin istimewa melaui BAB Otonomi Daerah pasal 18 UUD 45 NKRI.

Soal poligami, yang di Islam melalui fatwa MUI di sebut tidak di anjurkan tapi juga tidak dilarang, dan sesuai hikmat fiqih syari’at Islamnya berdasar ayat Qur’an, di batasi maksimal suami beristerikan 4, dan terdapat di ayat Qur’an pula, mesti bisa berlaku adil pada isteri-isteri bermaksimal batas 4 sesuai hikmat Qur’an.

Dan pernah dari mendengar ucapan kakak, poligami mestinya terlebih dulu dengan ijin dari isteri pertama.

Sebenarnya buat Sultan Syarif/ Sultan/ Pangeran dzuriyah (Sultan/ Pangeran yang juga dari keluarga Raja bumiputera dan cucu Nabi SAW) yang juga mendapat hak istimewa di Qur’an, hak poligami termasuk bagian hak istimewanya yang bahkan tidak perlu di permasalahkan. Tapi juga mesti masih berdasarkan hikmat fiqih Islam, bersumber dari 2 pusaka ajaran pedoman Islam, yakni Qur’an dan hadits (shohih).

Terdapat hadits Nabi SAW., sambil memandang cucunya, Hasan ra., ketika berpidato di hadapan umat Islam, dan mengatakan,” Cucuku ini sayid (pemimpin istimewa).”

Bahkan pernah, Sri Sultan Hamengkubhuwono X di tayangan wawancara dengan Kick Andy-spesial, mengakui, Memang saya juga termasuk produk poligami, tapi saya termasuk yang tidak ingin berpoligami. Kemudian Andi menyambung, Walaupun anda sebagai Sultan punya hak itu,,,

Berdasarkan sejarah keluarga dari keraton Kahibon,  sebagai keraton kesultanan Banten yang baru berakhir di abad 19 m., dari Sultana Ratu Kahinten yang bercucu buyut P.Mohammad Damien, Pangeran Mohammad Damien ialah sisa Putera mahkota keraton Kahibon yang meninggalkan keratonnya di abad 19m., pindah ke Batavia (Jakarta kini) untuk bekerja sebagai pegawai tinggi dan kemudian menjadi pengusaha, tuan tanah.

Di sejarah masa dulu, keluarga keraton kesultanan Banten, termasuk di keraton Kahibon, sebagai sisa keraton kesultanan Banten abad 19m., juga masih dekat dengan lingkungan masjid kasunyatan, atau lingkungan atau orang-orang Ulama kasunyatan di Banten. Maka jadi masih mendapatkan ilmu pengetahuan agama Islamnya, dari ‘Ulama, Ustad, Santri, Majelis Ta’lim.

Karena sempat berpindah-pindah tempat, putera mahkota Banten-Pangeran Mohammad Damien sempat berpoligami, bahkan diantaranya beristerikan puteri Pangeran Jayakarta.

Pangeran Mohammad Damien sebenarnya menikah , dan hingga berpoligami dengan 2 isteri.(Hitungannya sebelumnya monogami 1 isteri, kemudian isterinya wafat baru poligami 2 isteri),  Semuanya muslim atau beragama Islam.  Dan memang kebetulan yang di nikahi setiapnya juga puteri Ulama. Maka dengan mudah pula rata2 berkerudung, dan masih mengaji membaca Kitab Qur’an. Memang kakek uyut P.Mohammad Damien termasuk orang yang beruntung mendapatkan isteri-isteri demikian.

Walaupun berpoligami dengan 2 isteri muslimah., yang soal masalah poligami masih jadi perdebatan kontroversi di masa kini, terutama dari sudut sebagian kaum perempuan berlatar emansipasi, feminisme. Tapi juga apapun secara akal sehat perlu pemakaian titik obyektif ( rasio/ pertimbangan keseimbangan dengan akal sehat ).

Memang kasusnya P.Mohammad Damien sebagai suami usianya lebih panjang dari isterinya, agak jarang di kenyataan biasa. Biasanya isteri yang lebih panjang usia dari suami. Tapi P.Mohammad Damien, seperti kakek moyangnya, Ki Sunan Gunung Jati termasuk lelaki yang mendapat rahmat ALLOH SWT., berusia panjang.

Di mana dari sejarah terdapat di sebut, Ki Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatuloh berusia hingga 109 tahun.

Dan dari sejarah Nabi-nabiyalloh yang juga sehubungan genetik asal-usul segenapnya,  juga ada yang berusia lama atau 60 tahun seperti Nabi Muhammad SAW.Tapi misalkan Nabi Adam ‘as., hingga berusia 1000 tahun (dimana Siti Hawa ra., mangkat duluan), Nabi Nuh ‘as., sekitar 900 tahun, Nabi Ibrohim juga berusia panjang. Nabi Syu’aib di Madyan.

Dan bagaimanapun sunatuloh agama dari segenap wahyu Ilahi yang di turunkan pada Nabi-nabiyalloh yang di sempurnakan adalah Islam. Entah juga apa bagian dari genetik juga mempengaruhi faktor lamanya usia.

Dan terdapat di QS Ali Imron, ALLOH SWT mengistimewakan Adam, Nuh, keluarga Imron, sebagai satu keturunan dari keturunan yang lain.

Dari cerita Ibu, alasan P.Mohammad Damien melakukan hingga berpoligami juga berhubungan dengan kemaslahatan. Sebenarnya sebelumnya P.Moh Damien bermonogami 1 isteri puteri Jakarta, tapi isterinya mangkat dengan Takdir ALLOH SWT., maka kemudian menikah lagi, lagi-lagi dengan puteri Jakarta, dan lantaran sempat di pindah lama bertugas/ kerja di Serang, maka jadi menikah lagi jadinya berpoligami. Jadi ada hubungan maslahatnya di berpoligaminya.

Hingga ketika di Bogor menjadi pengusaha  tuan tanah yang juga berhasil jadi kaya. Ketika di Bogor, P.Mohammad Damien berhasil memiliki sejumlah tanah luas meliputi segenap jl. Pasirkudajaya, hampir mayoritas wilayah kabupaten Ciomas, Bogor kini. Bahkan ada yang di jadikan sawah, kebun. Memang di Jawa Barat dulu sempat menonjolnya di bidang usaha agrikultur.  Bahkan hingga kini masih nampak perkebunan teh di puncak, Bogor.

Di Pasirkuda, terdapat Bosbow, semacam tempat penelitian sekumpulan tanaman, pohon-pohon yang juga terdapat partisipasinya P.Mohammad Damien bekerjasama dengan Belanda karena waktu itu masih di jaman pemerintahan Hindia.

P.Mohammad Damien ketika berhasil menjadi tuan tanah kaya, seperti info dari Ibu, juga membagi-bagikan tanahnya pada kerabat-kerabatnya. Makanya di segenap jl. Pasirkudajaya warganya juga kerabat semua dulunya.  Dulunya jl. Pasirkudajaya yang juga dekat ke sungai Citarum, dulunya area kesananya dominannya di khususkan sebagai kawasan hutan, kebun, sawah, berhubung dekat ke sungai, aliran mata air, irigasi.

Juga terdapat peninggalan Kebun Raya Bogor yang juga dekat dengan kantor dan residen buatan Belanda, kemudian di tinggali Raffles yang pindah ke Bogor sejak tidak betah di Batavia. Sir Thomas Stamford Raffles yang orang Inggeris di sejarahnya tidak suka dengan bangunan Belanda.

Dan Raffles dengan isterinya juga membuat paviliun dengan penanaman bibit-bibit pohon, tanaman di area yang kini di kenal sebagai Kebun Raya Bogor. Yang juga bahkan telah menjadi sumber penyebaran bibit-bibit tanaman di segenap wilayah Indonesia, bahkan pernah ekspor ke mancanegara.

Mungkin ada pertanyaan, kenapa bisa P.Mohammad Damien bisa jadi pegawai tinggi hingga menjadi tuan tanah kaya?

Seperti pertanyaan kenapa orang lain bisa hasut, iri, merasa sebagai lelaki kalah tertantang sebagai playboy, lelaki don yuan dengan apa jatah istimewa yang pernah di dapat bahkan buat cucu Nabi SAW., yang juga putera mahkota kesultanan Banten Darussalam, sehingga seperti di masa modern bermunculan fenomena realitas aneh-aneh, asimetri, bahkan hingga merusak konservasi cagar tata hunian, lingkungan dulu beda dengan modern.

Seperti kita ketahui jika melihat film berlatar lingkungan di negara Inggeris, terdapat rumah ada namanya, sesuai tanda keluarganya. Dari keluarga royal putera mahkota kerajaan Windsor,bangsawan Duke Spenser hingga ke rumah warga umum, sebagai petani, atau bidang pekerjaannya apa. Tapi jika di bandingkan ke realita modern di Indonesia termasuk di Jabar, Jakarta, makin liar penataan itu.

Memang ada pula haditsnya Nabi SAW., termasuk tanda akhir jaman, hak-hak tidak di abaikan, bermunculan kejahatan, korupsi, hamba sahaya mendadak jadi kaya, tapi bangsawan dzuriyah malah jadi jatuh miskin.

Padahal di Qs Al-Hujurot juga telah tercantum di ayat 1nya, Janganlah kamu rooina (meninggikan nada suaramu), pada Nabi SAW.,/ dzuriyah cucu keturunan beliau SAW. Tapi di jaman modern yang juga kapitalisme, tiada di hiraukan ayat Qur’an itu. Orang sudah bisaberkedudukan bos tak peduli, malahan seperti dapat menggunakan kesempatan jika terdapat dzuriyah jadi pegawainya di bentak, walau anak yatim. Itu baru suara, apalagi soal harta., asal mementingkan gengsinya, kesombongannya. Tapi juga ada ALLOH SWT., dan para Malaikat mengawasi keadilan di langit dan bumi.

Jawaban pastinya adalah Berkat Rahmat ALLOH SWT., Yang Maha Penentu Takdir, Maha Kaya dan Maha Pemberi Rahmatuloh.

Mungkin juga di waktu itu P.Mohammad Damien juga mengantongi warisan tanah-tanah sawah, kebun, dan di gabung dari gajinya di tabung, kemudian di belikan tanah luas di Bogor, dan di jadikan modal usaha juga.

Orang dulu Indonesia, memang bisa jadi sukses kaya dari berbisnis di bidang agrikultur, tanaman-tanaman.

Lagipula P.Mohammad Damien berpoligami karena keperluan maslahat bukan karena buat gagah2an, playboy, don yuan, merendahkan martabat perempuan. Justru cenderung buat maslahat karena kebutuhan, urgensi, keperluan bantuan perempuan sebagai isteri pendamping dan penunjang  di samping upaya sebagai wiraswastawan maka berpoligami. Justru isterinya jadi penolongnya juga, di hikmat maslahatnya.

Atau di jaman perjuangan gerilya seperti terdapat sejarah Teuku Umar dan isterinya, Cut Nyak Dien. Di sejarah juga di sebut keduanya figur pejuang pahlawan nasional.

Walau kemudian ke regenerasi anak-cucunya masuk ke abad 20 m., kemudian terkikis juga dari warisan lumbung hartanya, mungkin juga karena berhubungan dengan urusan keperluan keseharian, atau belum sepandai kakek uyutnya soal jadi usahawan, bisnis.

Pangeran Mohammad Damien juga kakek uyut dengan keluarga pribadi di hubungan asal-usul istimewa keluarga Sultan Banten Darussalam dan Pangeran Jayakarta.

Pernah kakeknya, Pangeran Banten yang juga indo/peranakan puteri Ratu Kahinten menikah dengan lelaki muslim Belanda. Kemudian kakeknya menikah dengan gadis perempuan Belanda yang tadinya beragama Nasrani, bernama Marcy/Marrietje kemudian di wajibkan mualaf mengucap syahadatain masuk beragama Islam, sebelum menikah.

Jadi di hikmat pernikahannya dengan gadis/perempuan muda non Islam juga dengan memualafkannya sebelum ke menikah dan berumahtangga dengannya. Dengan syarat demikian juga jika dengan perempuan non muslim.

Yang mana fenomena di sejarah keluarga ini juga menjadi bagian syarat tradisi di keluarga Sultan Banten dan Pangeran Jayakarta-kakek uyut P.Mohammad Damien.

Mungkin di kenyataan modern Putera mahkota P.Jakarta menemukan persoalan misalkan mulanya dengan 1 gadis muslim, kemudian juga sempat kontak asmara dengan gadis non muslim, tapi jika di hadapkan ke poligami dengan batas maksimal 4 sesuai hikmat syarat fiqih Islam.

Maka yang non muslim itu di wajibkan mualaf terlebih dahulu, atau jika tidak bersedia, maka belum dapat di hitung berpoligami, atau telah menikah dengan gadis non muslim itu, sesuai tradisi keluarga putera mahkota P.Jakarta-kesultanan Banten, kakek uyut P.Mohammad Damien.

Dan terdapat di sabda Nabi SAW., ketika mengangkat anak-kemenakannya sayidina Ali ra., sebagai Panglima di misi Penaklulkan Yahudi Khoibar, “Seandainya ada di antara mereka mau masuk Islam lantaranmu, maka hal itu lebih berharga ketimbang unta merah bagimu.”

Setelah penaklukan Khoibar pun, Nabi SAW., mengambil puteri pemimpin Raja Yahudi Khoibar, Shufiyah ra., sebagai pampasan.

Terdapat di pepatah AS, realita bukan hanya hitam putih tapi ada juga area abu-abu. Maka di area abu-abu ini pun perlu risalah juga.

Dari kenyataan asal-usul ini terdapat realita, bahwa keluarga P.Mohammad Damien juga peranakan bumiputera , Eropah, Timur tengah, Afrika, dan Cina (dari latar sejarah pernikahan dengan puteri Sultan Demak).

Dan menurut terjemah ayat-ayat Qur’an dari surat Ar-Ruum dan Asy-syuuro, terdapat bunyi ayat, ALLOH SWT., menciptakan manusia di ciptakan berpasang-pasangan dari jenis (suku, ras bangsanya). Dan hikmat ayat ini juga berhubungan ke makna fiqih soal memilih pasangan pernikahan bersumber ajaran Islam.

Dan berlatar dari ayat-ayat Qur’an, jadinya ke regenerasi keluarga P.Mohammad Damien ini masih punya keleluasaan soal memilih jodoh, atau misalkan berpoligami dengan antar ras, bangsa.

Di maslahatnya, seperti di Indonesia kini, terdapat kenyataan justru jumlah lelaki lebih banyak ketimbang perempuan. Belum lagi terdapat yang menikahnya dengan lelaki mancanegara, TKW korban perkosaan ketika di Arab atau di Malaysia, di bunuh.

Maka sekali lagi di hubungan kesimpulan maslahatnya sebagai lelaki muslim bangsa Indonesia dengan kesempatan penggunaan haknya, termasuk sebagai lelaki muslim kaukasia, indo Cina, indo Timur tengah, indo-Afrika di maslahat modern kini jika berpoligami, pilihannya dengan ekspansi sekaligus pemualafan perempuan mancanegara, di samping sebagai ekspedisi perintis pembuka jalur dan perluasan wilayah.

Apalagi laki2 juga status kedudukannya sebagai penetrator (seperti nama istilah di sejarah Syi’ar Islam-Indonesia: penetration Pacifique/ penetrator  damai yang di sejarahnya ada di sebut melalui jalur syi’ar dakwah dan pernikahan pemualafan, contoh yang pernah di lakukan Wali Songo-Indonesia, Syekh Maulana Malik Ibrohim dengan menikahi puteri Raja Kamboja, Dwarawati, atau Wali Syarif Hidayatuloh dengan menikahi puteri Kaisar Cina, Ong tien) dengan sebagai beragama Islam juga dengan adab Islaminya, layaknya.

Dan di kenyataan lain di jaman modern kini, di perempuan ras Eropa misalkan yang tersebar di Eropa hingga di AS, benua Amerika, bahkan hingga perempuan Afrika, hingga perempuan keturunan Cina  di Cina, Korea, Jepang, Vietnam, Filipina, Indo Cina, banyak tapi di soal agamanya non Islam.

Di samping, sebagai tujuan dan inovasi mendirikan kesultanan Jakarta, setelah di masa silam abad 16m., sempat ada tujuannya Pangeran Jayakarta, tapi keburu sempat di hadang dengan rencana pendirian kota Batavia oleh VOC-Belanda. Maka berhubungan keperluan bangsawan dzuriyah malah jadi jatuh miskin, misi tersebut, pendirian kesultanan Jakarta di abad 21m., ini perlu juga modal yang kuat.

Bahkan di kepadatan kependudukan kota Jakarta kini juga memerlukan perluasan wilayah.

Di samping, nyatanya tidak semua manusia punya hak sama bisa berpoligami antar ras, leluasa memilih jodoh pasangan untuk pernikahan antar ras bangsa.

Tapi di antara segenap manusia di bumi ini tidak semua manusia haknya sama di soal ini, dengan berdasarkan latar asal-usul genetiknya, di hubungkan berdasar fiqih Islam.

Memang ada yang beralasan kan semua Bani Adam, tapi juga ada ayat diciptakan manusia berbangsa-bangsa untuk saling kenal mengenal. Tapi di soal memilih jodoh pernikahan juga ada cantuman ayatnya berdasarkan surat Ar-Rum dan Asyuuro tersebut.

Seperti dipepatah Indonesia ada kalimat, Serupa tapi tak sama. Ada keserupaan ada pula perbedaan hak umum dengan hak istimewa.

Di hubungan bumiputera keluarga putera mahkota keraton Kahibon Banten, P.Jakarta dan peranakan bangsa mancanegara sisa dinasti Syarif Palestina dan Syarif Mamluk Mesir

Seperti di ketahui di peristiwa silam 2000-an nampak agresi brutal zionis pada bangsa Palestina, di mana nampak hingga anak-anak bangsa Palestina terkubur hidup-hidup. Dan,,,masih ada sisa bangsawan kesultanan Syarif Palestina di dinasti Mataram, termasuk di keluarga P.Jakarta cucu P.Mohammad Damien.

Seperti jika ada konservasi harimau yang nyaris punah, demikian juga pada keberadaan peranakan bangsa Palestina di jaman modern ini. Al-Kitab juga mengajarkan untuk berlaku adil.

Soal perkara takhta Sultan Jakarta di antara kelompok-kelompok keluarga P.Jakarta yang tidak jelas mana yang lebih sulung atau adik kerabat

Soal perkara siapa pewaris hak takhta Sultan Jakarta dari antara kelompok-kelompok P.Jakarta yang tidak jelas mana yang lebih sulung atau adik kerabat, dari keturunan P.Jakarta Tubagus Angke, jelasnya sebagai pewaris hak takhtanya, ada bedanya dengan perkara pewarisan takhta Sultan di kerajaan lainnya.

Misalkan dengan perkara di kesultanan Cirebon, pernah kejadian antara Pangeran Saladin dan Emirudin, yang jelas mendapatkan hak waris takhta melalui almarhum Ayahnya Sultan Cirebon sebelumnya, adalah pada Pangeran Saladin.

Sebenarnya di perkara kesultanan Banten pun masih terasa janggal, jika di turutkan berdasar siapa pewaris sah hak takhta Sultannya mestinya dari keluarga turunan Sultan/Sultana sebelumnya.

Karena dari temuan datanya, Sultana terakhir kesultanan Banten ialah Sultana Ratu Kahinten di akhir abad 18m., yang masih bertakhta di keraton Kahibon. Dan berketurunannya hingga cucu buyutnya, P.Mohammad Damien, yang masa hidupnya di sekitar abad 19m., persis masa penemuan berakhirnya keraton Kahibon sebagai simbol keraton terakhir kesultanan Banten Darussalam.

Hanya saja, kebetulan di tahun 2010-an ini tiba-tiba sudah ada yang mengambil takhta Sultan Banten, yang pernah mendengar di berita, juga mengaku dari keturunan kesultanan Banten. Tapi memang, ada hal yang masih belum di ketahui, seperti dari asal-usul Sultan Banten yang mana, apa termasuk dari keraton terakhir Banten, seperti dari keraton Kahibon.

Walau mungkin pengangkatannya karena melalui kesepakatan pemilihan juga, tapi janggalnya tidak berdasar tradisi adat Banten juga, melalui hak waris, pada di antara keluarga keraton terakhir, Sultan/Sultana Banten bertakhta.

Karena seperti di perkara takhta Sultan Cirebon juga dari pewarisan. Contoh di perkara kenaikan takhta Sultan Saladin.

Memang di hubungan masa modern kini,  sebagian besar dari keluarga keraton terakhir, Kahibon, keluarga P.Mohammad Damien juga telah termasuk peranakan keluarga P.Jayakarta, di samping sebagian besar sudah tidak di Propinsi DI Banten.  Tapi sudah tersebar di Propinsi DKI Jakarta, Jawa Barat, bahkan hingga di Sumatera, Kalimantan, Papua barat.

Ada yang masih di Propinsi DI Banten, tapi juga ada kegiatan pekerjaannya, seperti mengurus sawah di Banten, pengusaha bengkel otomotif juga di Banten.

Yang nampak memang dengan kegiatan, pekerjaan, lahan, modal usaha yang di Banten, sudah tidak lagi membutuhkan takhta Sultan di Banten. Melainkan sibuk cari nafkah, mungkin juga  dengan pencukupan modal usaha yang berada di Propinsi DI Banten. Lagipula ekonomi juga kebutuhan dan prasarana.

Semakin sejahtera justru dengan ekonomi bisa mendahulukan membantu keluarga, kerabat yang miskin, setelahnya kemudian membantu yang lain yang fakir miskin di ekonomi, menurut ajaran sunahnya Nabi SAW.

Dan hal lainnya adalah pertimbangan jika sudah tidak di Propinsi DI Banten, bagaimana dapat turut berpartisipasi seperti melakukan kegiatan memelihara keraton-keraton di Banten lama, pusaka kesultanan di museum di Banten.

Maka dengan hubungan rasa keadilannya, adalah di barter, atau hak takhta Sultannya  dari sebagai keluarga keraton terakhir kesultanan Banten dari keraton Kahibon yang dulu pernah sebagai pengganti keraton Surosowan, di tukar dengan takhta dan keraton kesultanan Pangeran Jakarta, lantaran juga punya hak sebagai peranakan keluarga Pangeran Jakarta.

Memang P.Mohammad Damien sebagai Pangeran putera mahkota keraton Kahibon ini sempat meninggalkan keraton Kahibon di abad 19m., karena juga sebagai pengusaha. Dan realitanya pengusaha juga butuh modal usaha, termasuk di visi dan misi pendirian keraton kesultanan Pangeran Jakarta kini.

Realitanya di jaman modern ini tiap kesultanan juga perlu punya perusahaan, dan perlu juga modal usahanya. Tentunya di bidang usaha yang sesuai di visi dan misi Sultannya. Di samping dengan punya perusahaan tentunya juga di misi mengumpulkan baitul mal kesultanannya.

Dan sesuai UUD 45, pasal 18 BAB Otonomi Daerah, kesultanan juga punya hak /wewenang otonomi daerah kesultanannya.  Di mana di pasal tersebut terdapat isi: Pemerintah, MPR, DPR, negara, wajib memandang hak asal-usul istimewa kedaerahan.

Dan UUD 45 juga telah turut di setujui Komisi HAM internasional.

Sekilas sejarah keluarga indo kasepuhan Surosowan keraton Kahibon & Mataram Dul-Gendhu Keraton Kota Gede.

Dari Ibu juga memberitahu, sebenarnya P.Mohammad Damien di samping peranakan putera mahkota Surosowan keraton Kahibon abad 19m., Belanda juga kasepuhan Mataram Dul Gendhu, dari keraton Kota Gede.

Mungkin dari ayahnya, Pangeran Banten indo Belanda yang menikah dengan puteri kasepuhan Dul Gendhu, kemudian berputera P.Mohammad Damien.

Dari (alm) Bapak pun, ternyata Ibunya/Mbah puteri Klaten, bapaknya R. Moelyowihardjo ternyata juga berasal dari keraton Kota Gede, kasepuhan Mataram.

Sejarah asal-usul keluarga kasepuhan Dul Gendhu berasal dari keraton Kota Gede, yang juga di kenal sebagai kota kerajinan logam.

Di Yogyakarta terkenal dengan seni kerajinan logam, yang asalnya juga berasal dari Kota Gede, yang juga memiliki simbol kotanya, yakni : kuda.

Keraton Kota Gede adalah istana terakhir Sultan Mataram kesekian di masa memasuki tonggak kejayaannya, yakni ketika Sultan Agung Hanyokrokusumo bertakhta.

Hingga kini pun masih terdapat keluarga kasepuhan Mataram di keraton kasepuhan Kota Gede, yang juga terletak di samping Masjid agung Kota Gede. Masjid pertamanya kesultanan Mataram.

Di sejarah masa perang Batavia, di masa Sultan Agung, juga terdapat info sejarah, bahwa Sultan agung untuk menarik jalinan hubungan dengan warga bumiputera Jakarta dan Sultan Banten Tirtayasa waktu itu, adalah juga melalui seni budaya.

Maka seni Betawi/seni Jakarta lama sebenarnya juga akulturasi dari seni Mataram.

Contoh seperti terdapatnya seni wayang, dulunya masih seni wayang beber, wayang yang di lukis, juga wayang kulit yang juga di lukis, hingga munculnya seni wayang Jakarta bergaya atau berlakon modern, yang juga di lukis.  Dan bukan hanya di seni rupa, tapi juga di seni musik, seperti masih di jaman modern sempat ada pemain sitar dan kecapi dan berpakaian lurik Jawa dan berbelangkon di Jakarta. Sitar itu adalah gitar khas orisinilnya Jawa.

Jika di perhatikan di pemain orkes keroncong, gitarnya juga terdapat gitar kecil seperti ukulele, namanya gitar keroncong, memang khusus termasuk buat alat musik keroncong-Jakarta, di sampingnya juga terdapat pemain tanjidor atau di tambah pemain sitar dan kecapi Jawa, di irama musik keroncong Jakarta.

Dari sejarah itu juga menampakkan bahwa Sultan agung Hanyokrokusumo ternyata bukan hanya sebagai senopati, tapi beliau juga punya bakat di seni.

Kemudian setelah peristiwa perjanjian Giyanti di Wonogiri, keluarga Mataram terpecah, bahkan sempat setelah mengalami pralaya berebut kekuasaan.

Hingga terpecah-pecah dan tersebar, yang kelompok keluarga kasepuhan di keraton Kota Gede, atau di sebut Dul-Gendhu, dan yang kelompok keluarga anak ke-2 menjadi keraton kesultanan mangkubhumi-Kartasura, berkeraton di kota Surakarta atau Solo, mendekat di Jawa Timur, dan yang kelompok keluarga anak ke-3 menjadi keluarga keraton kesultanan mangkubhumi Pakubhuwono dan yang keluarga bungsu menjadi keluarga keraton kesultanan mangkubhumi-Ngayogyakarta yang paling terkenal, melalui Sri Sultan Hamengkubhuwono yang juga ada berkiprahnya dapat masuk di panggung elit politik NKRI.

Justru yang keluarga kasepuhan keraton Kota Gede yang tidak menjadi kesultanan, tapi juga berhubungan di sejarah masa Pangeran Puger yang juga kakek buyut dari dinasti kesultanan Ngayogyakarta Hamengkubhuwono, maka keraton kasepuhan Kota Gede memilih tergabung di Propinsi DI Yogyakarta. Dan masih tersebut sebagai keluarga keraton kasepuhan-Mataram.

Di sejarah masuk ke abad 19-20m., di antara keluarga keraton kasepuhan Kota Gede/Dul Gendhu bergabung melalui mantenan dengan keluarga keraton Kahibon, keraton kasepuhan dan keraton terakhir Surosowan kesultanan Banten Darussalam.

Hingga di masa P.Mohammad Damien, menikahi puteri P.Jayakarta, hingga termasuk juga di keluarga Pangeran Jakarta.

Dan seperti di ketahui dari sejarah, Masjid Matraman dan bahkan wilayah Matraman (berhubungan sejarah masa dan orang-orang Mataramnya Sultan agung Hanyokrokusumo) di Jakarta sejak awal di dirikannya sudah terdapat, bahkan sebelum berdirinya kota Ngayogyakarta, bersamaan dengan kemunculan keraton kesultanan Ngayogyakarta.

Di sejarahnya kerajaan Islam-Mataram, atau di sebut juga Babad Mataram, atau Kaca Benggala, Danang Sutawijaya, atau Panembahan Senopati Mataram, atau Raden Ngabehi Saloring Pasar, punya beberapa keturunan, hingga dari putera kesekiannya ialah Raden Mas Jolang/Prabhu Hanyokrowati yang juga berketurunan beberapa dan putera kesekiannya ialah Hanyokrokusumo yang kemudian di kenal Sultan Agung Mataram/ Panembahan senopati juga, yang bahkan sempat meluaskan wilayah kesultanan Mataram meliputi segenap Jawa Timur, bahkan hingga ke Lombok dan di Bali hingga melakukan perjanjian batas wilayah dengan Raja Bali di Bali yang waktu itu agama negaranya, Hindu.

Bahkan sempat menduduki kesultanan Cirebon, walau kemudian melepaskannya, karena masih memandang pada kontroversi dari Sultan Banten Tirtayasa.

Hingga sempat menduduki sebagian Jawa Barat, hingga Krawang dan Batavia atau Jakarta kini, bersama-sama dengan Sultan Banten, Tirtayasa dan P.Jayakarta tentunya.  Tapi di hak asal-usul istimewa kedaerahannya Jakarta ini kedatonnya keluarga P.Jakarta.

Dan di masa kini juga ada dari keluarga Dul Gendhu/ kasepuhan Mataram juga telah jadi peranakan P.Jakarta, yakni keluarganya kakek uyut P.Mohammad Damien.

Memang dulunya kota Jakarta sebagai bagian dari pulau Jawa, masih di kuasai Pangeran Jawa. Bahkan di sejarah Presiden-presiden NKRI dan Gubernur DKI Jakarta pun dominan masih orang Jawa. Walau kini telah jadi kota heterogen.

Bahkan sempat ada opini seperti kritik, kenapa sih pemimpin negara selalu yang di pilih orang Jawa? Tapi di Jas merahnya pun pernah terdapat kerajaan besar Majapahit yang pernah menguasai segenap Indonesia bahkan hingga ke mancanegara Malaysia dan Brunai Darussalam, bahkan hingga ke laut dan wilayah Cina Selatan, bahkan hingga pernah melakukan perjanjian dengan Kaisar Cina lantaran masalah penguasaan batas wilayah di Asia.

Tapi yang terjadi orang-orang Jawa menikahi perempuan bahkan hingga pendekar perempuan Cina, hingga terdapat juga orang Jawa berperawakan peranakan Cina. Ada hubungannya dari masa sejarah Majapahit ( terdapat di buku Mata-mata Majapahit, Tutur Tinular).

Bahkan hingga di aplikasi internet internasional pun hingga muncul aplikasi oracle Java.

Bahkan hingga di negeri AS pun yang termasuk keluarga feodal di negeri paman Sam tsb, juga terdapat orang Jawa. Bahkan ada yang hingga bisa menjadi Presiden AS, yakni Barack Obama, yang dari ayahnya juga peranakan Afrika-Jawa.

Bahkan juga di Amerika Selatan terdapat pula di negaranya, warga lamanya yang juga turut partisipasi di masa gerilya kemerdekaan negaranya juga terdapat orang-orang Jawa. Dan fenomena ini termasuk di lanjutan sejarah kenyataan modern.

Dulunya orang-orang Jawa menjelajah hingga di Afrika, India, Malaka, Kamboja, laut Cina selatan, negeri Cina, di sejarah modern hingga ke Jepang, Korea dan benua Amerika dan Eropa, internasional.

Bahkan terdapat di sejarah pahlawan mujahidin yang turut memerdekakan negara Afganistan dari penjajahan Uni Sovyet berpusat dari Rusia, kelompok mujahidinnya termasuk orang Jawa. Contoh dari berita silam terdapatnya Amrozi cs.

Memang ada juga yang menyebut, orang-orang Jawa sifatnya ulet, ada juga menyebutnya kreatif. Walau di kenyataannya entah juga. Tapi memang di kenyataannya misalkan di pedagang-pedagang kecil pun nampak orang-orang Jawa. Hingga dengan kemunculan seperti warung-warung Tegal. Bahkan ada yang menyebut petani Jawa ada bedanya soal kemampuan dan ilmunya ketimbang petani dari daerah lain.

Bahkan hingga Eddie Van Halen, gitaris grup band rock terkenal juga mengaku bapaknya juga dari Jawa.

Tapi juga menurut tulisan sejarah dari Ma Huan, seorang muslim Cina awak kapal di armada Chengho, ketika di Jawa, juga menuliskan penemuannya, orang Jawa dengan sesamanya ini juga berwatak keras, jika sudah berselisih keras, maka bisa mencabut keris dari sarungnya dan membunuh.

Bahkan aktor laga, Mickey Rourke hingga membuat film Java heat yang juga di bintangi Atika Hasiholan.

Di mana memang di masa kini, Indonesia sedang panas dengan carut-marut korupsi di negaranya. Bahkan telah tercatat termasuk di daftar 10 negara terkorup di dunia.

Memang ironisnya di pemimpin dari orang Jawa, mungkin terburuknya ialah di masa kini, di masa Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono/SBY, apalagi di masa KIB II, yang juga berWapres dari orang Jawa, Prof Boediono, yang di masa orba bahkan anteknya IMF turut campur di Indonesia.

Padahal dulunya menurut legenda/mitosnya, Indonesia sudah menjadi negara yang paling berpengaruh di dunia, sejak di Jawa terdapat pusat istana negeri kerajaan Ngastina dan Pandawa. Dulunya dengan berpusat di Jawa, Pandawa setelah berpralaya hingga berhasil menaklukkan Kurawa, kemudian melakukan ekspedisi-ekspedisi perluasan wilayah, bahkan hingga sempat menguasai di sekitar banyak wilayah di Asia-Pasifik. ( Baca : cerita petualangan Bimasena bertemu Dewa Ruci, yang di tafsirkan di sekitar wilayah-laut Pasifik).

Hingga terdapatnya mitos kejayaan bayangan legendaris  ksatria-Pandawa dari Indonesia. Hingga menurun ke kenyataan sejarah seperti masa Mataram purba, Kediri, Singosari, Majapahit. Memang hingga ke masa jadi kesultanan di Jawa, belum menunjukkan keunggulan hasil kejayaannya seperti masa kerajaan besar pendahulunya. Tapi juga di mitosnya pun terdapatkan Kurawa pula, yang juga di simpulkan sebagai golongan durjana bangsa.

Tapi di kenyataan kini, misal dengan terdapatkannya koruptor2, bromocorah/pelaku2 kejahatan.

Justru yang nampak makin ke masa kemudian terjadi pula degradasi kenegaraan, misal di soal gemah ripah loh janawi tata tenterem kertaraharja, keadiluhungan/degradasi kewibawaan dan di seganinya bangsa-negara di samping degradasi kenyataan rasa keadilan, (ekspedisi) Palapasraya.

Atau misalkan di sejarah dulu, Majapahit sudah terkenal sebagai produsen hasil bahan baku bangsa negara sendiri, bahkan juga sebagai pengekspor, ketimbang ketika jadi nasional malahan yang terjadi masuknya impor, tanah, kekayaan alam negara sendiri bahkan juga di kuasai asing/mancanegara.

Sekilas pengamatan, opini / asipirasi pengadaan keraton Sultan P. Jakarta dan pembangunan/ infrastruktur tata kota di sekitar sudut Jakarta

Terdapat di tayangan berita di televisi, mengenai keberadaan taman ria di kawasan Senayan, yang juga terjadi persengketaan antara pemilik modal dan tanah katanya dengan hendak membuat mal di bekas lahan taman ria Senayan dulu, yang nampak telah tinggal sisa-sisa tak terawat yang bahkan di pagari.

Dan di beritahukan tadinya sempat terdapat program dari Gubernur DKI sebelumnya, Foke untuk membuat lahan hutan sebagai paru-paru kota. Dan rencananya ada di setujui oleh sebagian anggota DPR.

Dan dari pemberitaan di sekitar jalan di Senayan pula terjadi kemacetan.

Sepengetahuan penulis, sempat ada kolam renang Senayan di sana, di sekitar kawasan taman ria. Yang jadi pertanyaan pula, bagaimana keberadaan kolam renang Senayan, yang pernah terdapat di sana.

Jika dari sudut pribadi sebagai bagian anggota keluarga P.Jakarta, ada setujunya di jadikan lahan pepohonan, taman paru-paru kota Jakarta, di samping pula tetap mengadakan kolam renangnya Senayan. Karena sudah sejak dulu terdapat kolam renang Senayan seperti bagian dari ciri kota Jakarta sejak dulu.

Lagipula kolam renang umum di Jakarta kian berkurang kenyataannya. Apalagi di hubungkan dengan soal fasilitas buat anak / pelajar sekolah. Misalkan di hubungan mata pelajaran olahraga, kemudian di mata pelajaran berenang.

Dari yang penulis ketahui dulu terdapat kolam renang umum di Bulungan, Cikini dan Senayan. Tapi yang di Cikini pun telah berubah fungsi bangunan, yang nampak telah jadi kawasan toko-toko.

Justru ketika mengamati di sekitar kawasan jl. Bangka-Kemang, di mana mulai nampak bertebaran seperti waralaba-waralaba dari asing hingga Indonesia yang juga mempekerjakan staf-staf lokal, meliputi dari tempat-tempat makan/restoran, galeri-galeri, hotel, bahkan apartemen, toko-toko dan sejak lama ramai, anehnya tiada toko buku-stationery seperti Gramedia dan bioskop 21 , warnet, toko penjualan fasilitas komputer, wacom, instalasi-software sekalian misalkan,karena juga telah terdapat waralaba cuci cetak-fotografi di sekitarnya, atau sekalian saja di jadikan kawasan seperti Malioboro Yogya, di berhubungan kawasannya sebagai area usaha berdampingan dengan permukiman warga.

Atau lebih bagusnya ada pula penerbitan. Misalkan penerbitan dan percetakan buku, entah buku edukasi atau komik. Karena di sekitar jl. Bangka-Kemang juga terdapat  warga yang juga pelukis-pelukis, ilustrator dan lulusan STM Grafika. Di mana bahkan terdapat di antaranya juga anggota keluarga P.Jakarta. Bahkan ada yang telah mendirikan usaha keluarga di bidang percetakan, tapi masih UKM, padahal telah sejak lama juga berpengalaman di bidang percetakan.

Namun di percetakan P.Jayakarta yang besar di Gunung sahari,kini malahan tiada sahamnya di pegang oleh keluarga P.Jakarta di kotanya.  Walau dulu sempat terdapat pegawai lamanya juga dari kerabat P.Jakarta. Tapi di samping usianya telah tua juga telah keluar dari sana. Dulu pernah ikut mencetak buku surat-surat Raja-raja nusantara koleksi museum Inggeris, khazanah Islam di Indonesia, hingga mushaf Qur’an terbesar di dunia.

Memang dengan hubungan sejarah percetakan dan penerbitan, di kesultanan Banten pernah terdapatnya di sejak masa Sultan II Banten, Maulana Yusuf. Dulu, kesultanan Banten sempat punya perusahaan-perusahaan di samping pabrik rempah, tambang emas, besi, juga percetakan dan penerbitan. Dan di masa Sultan I Banten, Maulana Hasanuddin sempat muncul seni lukis batik khas Banten.

Seperti contoh di Palmerah atau Bintaro pernah juga terdapat demikian. Kenapa tidak berani mencobanya juga di jl. Bangka-Kemang yang juga telah terdapat usaha-usaha dari waralaba UKM kecil dan besar, hingga galeri-galeri dan terdapat juga sekolah-sekolah dari SD, SMP, SMA hingga universitas dan mahad.

Kenapa penulis singgung jl.Bangka-Kemang di Jaksel sepertinya termasuk yang perlu di perhatikan sebagai kawasan keramat di Jakarta. Karena memang ada hubungan sejarah asal-usul istimewa kedaerahannya kawasan jl. Bangka-Kemang di Jaksel.

Di Jl. Bangka-Kemang, terdapat salah satu Masjid tertua di Jakarta, berdiri sejak abad 18m., yang di dirikan oleh Wali dari Banten. Di samping di jl. Bangka-Kemang terdapat rumah-rumahnya keluarga-keluarga Pangeran Jakarta dan Wijayakrama (dari Fatahilah).

Dan kawasannya juga termasuk dataran tinggi di Jakarta. Jalan Bangka sesuai istilah kamus betawinya berasal dari kata tua-bangke/ tetua bangke/tempat permukiman (para) Pangeran dan Wali Ulama kasepuhan di Jakarta.

Sayangnya sejak masa orba istilah keluarga pusaka hanya melekat dengan keluarga ‘Cendana’, sebagai keluarga Presiden di masa orba, padahal ada juga keluarga P.Jakarta, tapi malahan kurang di perhatikan, padahal melalui UUD 45 termasuk ada hak otonomi memandang asal-usul istimewa kedaerahan, di pasal 18. Di mana realitanya masih berderetan bertetangga kini para keluarga P.Jakarta dan Wijayakrama adalah di kawasan jl. Bangka-Kemang, kelurahan Pela Mampang, kecamatan Mampang Prapatan, Jaksel.

Jika membaca yang nampak dipeta kota Jakarta, nampak sederetan nama-nama istimewa jalan2 pengawaldi sekitar jl. Bangka sebagai tambahan bukti.

Misal, di pucuk depan di kawal jl. Kapten Tendean dan jl. Robert Wolter Monginsidi (Harimau Malalayang Makassar), dan di sampingnya kawasan dulu di sebut Warung Jati, persis sebelum perempatan ke jl. Warung Buncit, Kuningan/jl. Hr. Rasuna Said.  Ke arah jl. Warung Buncitnya juga terdapat jl. Pejaten hingga Jatipadang. Dan di samping jl. Wolter Monginsidi terdapat jl. Wijaya hingga ke jl. Brawijaya, jl. Suryo hingga ke jl. Senopati.

Hingga ke arah Santa terdapat jl. Cibulan, cipayung, yang juga nama-nama wilayah di Sunda, hingga jl. Tirtayasa, jl. Sunan Kalijaga, jl. Trunojoyo, jl. Iskandarsyah, jl. Hasanudin, hingga di Blok P  terdapat juga jl Nipah dan di Blok M terdapat jl. Mahakam, dima aterdapat juga hubungan sejarahnya antara kasultanan Banten dan Landak di Kalimantan, atau Tarumanegara dan Kutai Kertanegara sebagai kerajaan-kerajaan tertua di Indonesia.

Memang nampak jalan di sekitar kerap nampak kemacetan. Tapi soal kemacetan biarlah masih jadi proses solusi. Di samping dengan melengkapi dan membuat nyaman sarana di kawasan usaha di sekitar jl. Bangka-Kemang yang telah lama ada.

Dan di jaman Hindia waktu Jakarta masih bernama Batavia, oleh Belanda hingga kerjasama dengan front ABCD Inggeris, AS, wilayah jalan Bangka-Kemang sempat di jadikan kawasan permukiman elit.  Mungkin di jl. Bangka-Kemang dulunya adalah kawasan elit pertama di Jakarta sejak masa Batavia dan hingga awal berdirinya NKRI, kembali jadi Jakarta.

Memang jika dulunya di samping menjadi kawasan komplek permukiman elit pertama di Jakarta, di sekitarnya juga masih terdapat kebun-kebun buah-buahan, hingga dibelakangnya di dataran rendah dekat kalinya terdapat area kawasan bernama kampung sawah. Mungkin juga dulunya sempat terdapat sawah beberapa di sana. Tapi kini tinggal sisa pohon-pohon pisang yang terdapat.

Kritik pada pantai Ancol sebagai obyek pariwisata-umum Jakarta menjadi milik kapitalisme, berbanding dengan kawasan obyek wisata pantai Kute di Bali tanpa berpintu loket tarif.

 

Kritik pada keberadaan sekolah-sekolah di Jakarta dan penyimpangan di lembaga pendidikan nasional, dan ingatan Tut Wuri Handayani-pendidikan.

Kini sedang hangat persoalan UN/Ujian Nasional yang gagal, terdapat penyimpangan dan  tidak benar.  Hingga berakibat muncul banyak pendapat cenderung untuk menyatakan UN 2013 batal dan mesti di ulang.

Misalkan dari lembar soalnya ada yang berbeda-beda, ada yang berkertas buram, lembar soalnya berbeda dari ujian2 dulu sebelumnya.

Bahkan terdapat juga infonya telah terdapatkan banyak bocoran jawaban pula.

Terdapat pula pengakuan dari siswa peserta UN, kecewa karena merasa siswa di jadikan seperti kelinci percobaan. Dan ungkapannya  adalah bagaikan bumerang utamanya tertuju pada Mendikbud dan Depdikbud.

Juga terdapat pengakuan dari guru, guru dan siswa ada pula jadi merasa tertekan, karena bahkan hingga masuk ke UN hingga juga di jaga prajurit militer bersenjata di sekolah-sekolah. Memang nampak konyolnya di realitas tersebut.

Soal sekolah di kenyataan kini masa KIB II-SBY, semakin susah, mempersulit, tidak imbang, dan terdapat juga korupsi di antaranya, bahkan korupsinya mungkin hingga ke Depdikbud.

Padahal di UN-UN dulu atau ketika masih bernama Ebtanas, kurikulum CBSA (Cara Belajar Siswa Aktif), memang pernah juga ada bocoran di waktu-waktu sebelumnya, bahkan telah lama sejak sepengetahuan di masa orba, tapi siswa juga sadar belajar. Bahkan karena sudah belajar malahan tidak terlalu peduli soal bocoran, walau sempat dengar di kiri kanan ada bocoran, tapi karena sudah mempersiapkan diri dengan belajar maka jadinya cenderung percaya diri dari hasil jawaban dan pembelajaran sendiri.

Bahkan untungnya di jaman dulu, sempat ada ujian di beberapa mata pelajaran yang juga ada di bolehkan gurunya open book.  Ada guru juga yang melakukan kebijaksanaan, termasuk untuk menolong siswa di samping juga masih sebagai pendidik, seperti dengan cara demikian.

Memang jika tipe sekolah dulu, guru-gurunya juga ada yang sadar sekadar sebagai pengantar siswa di pendidikan menuju ke jenjang pendidikan lanjutan.

Sepertinya sekolah di buat-buat di persulit, bahkan ada pula pemberitahuan kalau anak sekolah bahkan ada yang di minta uang Rp 25.000 hanya untuk membuat kartu tanda pelajar yang juga ada di wajibkan di sekolahnya.

Atau hingga anak sekolah membawa buku pelajaran berlebihan hingga juga berlebihan beratnya di tasnya di panggul di bahunya  anak sekolah.

Karena seperti di sekolah menengah, seperti namanya juga posisinya di lembaga pendidikan menengah. Apalagi setelah ebtanas/UN, bisa saja kemudian siswanya ketika masuk di kuliahnya justru di jurusan kejuruan, yang bahkan ilmu-ilmu pendidikan dari sekolah menengahnya pun banyak tidak lagi terpakai. Sekali lagi kesadaran lembaga pendidikan sekadar sebagai pengantar pendidikan.  Seperti terdapat di lambangnya pendidikan sejak SD, yang nampak terpampang besar, bahkan terdapat hingga di bet saku seragam sekolah, yakni lambang Tut Wuri Handayani.  Yang juga berarti pengantar, motivator, mendukung dari belakang.

Padahal seperti di Jakarta, di urusan sekolah masih ada hal-hal yang penting di urusi, seperti misalkan tidak adanya sekolah menengah kejuruan seni di Jakarta, berbanding di Yogyakarta (SMSR Yogya) dan Padang (SMSR Padang). Memang di kota Yogya dan Padang terdapatnya masih Sekolah Menengah Seni rupa, tapi baru di institusi Seni terdapatnya segenap fakultas seni, meliputi musik, teater, kajian seni pertunjukan,  seni rupa dan desain, film dan televisi.

Tapi kenapa tidak di buat masukan pelengkap sekalian di Jakarta di buatnya sekalian  sekolah menengah kejuruan seni (SMKS).

Yang memang belum ada di antara sekolah-sekolah kejuruan seperti SMK, STM, SMEA, Muhammadiyah (Sekolah Menengah Pendidikan agama Islam), atau entah apa namanya kini.

Dengan permodalan pada keberadaan pendirian keraton Sultan P.Jakarta yang tepat, dengan beserta hak kewenangan otonomi istimewanya sebagai Sultan P.Jakarta, Propinsi DKI Jakarta perlu perluasan wilayah mencakup Tangerang, Bekasi, Krawang.

Di Jakarta, juga bakal terjadi ajang rebutan kursi di pilpres, pemilu, pemilihan caleg anggota MPR, DPR, hingga Gubernur DKI Jokowi pernah melakukan lelang jabatan camat dan lurah.

Tapi, ada yang kurang di Jakarta, adalah di soal pengadaan pentahbisan dan pemodalan takhta dan keraton Sultan P.Jakarta, beserta perusahaannya, untuk baitul mal kesultanan sekalian. Dan soal pemilihan pada siapa yang bertakhta Sultan P.Jakarta ini sifatnya pewarisan genetik, dan musyawarah antar keluarganya P.Jakarta.  Tidak berebut dengan persaingan seketat di bakal pilpres, pemilu anggota pusat yang bakalannya di Jakarta juga.

Padahal Sultan P.Jakarta dengan permusyawaratan sekeluarga kesultanannya dan mungkin dengan para staf kesultanan P.Jakarta juga punya hak otonomi istimewa bahkan di ibukota Jakarta yang juga simbol pemerintah pusat NKRI.

Secara UUD 45 pasal 18 BAB Otonomi Daerah, istana di Jakarta sebagai ibukota NKRI juga, mestinya ada 2, istana Sultan P.Jakarta dari kekuasaan otonomi istimewa/pusaka privilisasi negara, (kekuasaan privilisasi ) dan istana merdeka, istana negara dari kekuasaan eksekutif negara.

Seperti tercantum di ilmu Tata negara, sejak berdirinya negara Indonesia, terdapat kekuasaan eksekutif (meliputi Presidensiil, Menteri, aparatur negara), kekuasaan yudikatif (di hukum, meliputi MA, hingga kini di tambah Mahkamah Konstitusi (MK), dan kekuasaan legislatif.

Kesultanan/kerajaan di Indonesia ini, sama saja seperti simbol pusaka-pusaka istimewa negara.

Teringat Jas merah ketika Sri Sultan Hamengkubhuwono IX, menyatakan Negeri Ngayogyakarto termasuk Daerah Istimewa dalam Negara kesatuan Republik Indonesia. Seperti Negeri istimewa dalam NKRI. Dan bukan hanya Sri Sultan Mataram yang punya hak itu, tapi juga Sultan kasepuhan P.Jakarta berdasar hak asal-usul istimewa kedaerahannya. Apalagi juga terletak kesultanannya persis di ibukota negara kesatuan RI, yang juga pusat pemerintahan negara.

Atau sama dengan berarti, Presiden berstatus Kepala negara dari pemimpin eksekutif, dan Sultan P.Jakarta sebagai Kepala Negara dari pemimpin kasepuhan  kerajaan besar di negara Indonesia.

Yang bahkan punya hak istimewa sekaligus masih di lingkup hak istimewanya sebagai Sultan yang juga termasuk Sayid pemimpin negara, hak istimewa seperti walau poligami sesuai di batas ajaran Islam maksimal beristeri 4, tapi tetap sebagai Sultan pemimpin istimewa, yang hak kewenangan istimewanya termasuk di aspirasi otonomi daerah kesultanannya juga wajib di pandang pemerintah, MPR, DPR, negara.  Di samping sesuai juga dengan UUD 45 dan Pancasila. (di sila 4 juga tercantum dengan hikmat kebijaksanaan permusyawaran perwakilan, di sila 5nya keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia).

Dan sekali lagi, bunyi di UUD 45, pasal 18, BAB Otonomi daerah, adalah: Pemerintah, MPR, DPR, negara wajib memandang hak asal-usul istimewa kedaerahan.

Surat2 Qur’an dan hadits-hadits  Nabi SAW., sekitar khilafaiyah dan perikemanusiaan

QS Al-Baqoroh : Janganlah kamu nikahi saudaramu dari bapak-ibumu, saudaramu dari bapakmu.

QS An-Nisa’58, Wahai orang-orang yang beriman jika kamu hendak menetapkan hukum hendaknya dengan adil.

QS Al-Maidah : 5, Bertolong-menolonglah kamu dalam kebajikan dan takwa dan janganlah kamu bertolong-menolong dalam kejahatan.

Qur’an : Wahai orang-orang yang beriman tegakkanlah apa yang benar dan lawanlah kemungkaran/kejahatan.

QS An-Nur, Wahai orang-orang yang beriman, nikahkanlah orang-orang muslim yang masih melajang di antaramu. Jika di antara mereka terdapat yang tidak mampu maka dengan rahmat ALLOH SWT.

Qur’an: ALLOH hanya memberikan hak khusus soal menikah pada Nabi Muhammad SAW.(Tafsir Al-Azhar, Buya Hamka, hak khusus menikah hingga s/s 10 isteri khusus buat Nabi SAW dan nabi-nabiyaloh terdahulu).

Qur’an : Menikahlah dengan 1, atau 2,3 atau 4 isteri, jika kamu bisa berlaku adil terhadap isterimu.

Hadits Nabi SAW., tanda setujunya perempuan di pinang adalah (minimal) dengan (isyarat) diamnya. Jika tidak setuju, maka menggeleng. (Atau memberikan reaksi penolakan).  Kalau janda, tanda setujunya dengan mengangguknya.(reaksi penolakannya sama, dengan menggeleng atau memberi reaksi penolakan).

Hadits Nabi SAW., Janganlah meminang perempuan yang sedang di pinang.

Hadits Nabi SAW., ketika mengambil Shufiyah ra., dari Raja Dihyah yang juga komandan pasukan laskar Islam, Shufiyah saya ambil. Dan Dihyah langsung memberi. Hikmatnya Nabi SAW., atau dzuriyah lajang boleh mengambil perempuan lajang walau sedang di posisi di pinang, punya hak keistimewaannya khusus buat Nabi SAW., dan dzuriyah lajang-baligh.

Siroh Nabi SAW., Nabi SAW., menjadi Wali nikah, memberi restu, membantu menikahkan si fulan yang fakir miskin dengan perempuan yang mampu. (Ketika Beliau SAW., sudah beristeri pula tentunya, dan sebelumnya telah menikahkan kerabat dan anak kemenakannya, dzuriyah lajang yang telah baligh).  Dari makna siroh nabawiyah ini, setiap pernikahan tanpa restunya Nabi SAW., sebagai juru syafa’at atau melewati dzuriyah baligh (beragama Islam) masih melajang, bisa berarti belum sah nikahnya, berhubung syafa’at di akhirat, juga berhubung dengan Nabi SAW., dan restu cucu-cucu beliau SAW.,/ dzuriyah (walau antar ras, suku, bangsa-bangsa).

Bahkan ketika Nabi SAW., atau sayidina Ali ra., menikah dengan Fatimah ra., para segenap umat juga sempat di kenai kewajiban turut membantu, sekemampuannya, dari harta, hidangan, atau bantuan di upaya, aksi. Memang berhubung juga dengan hak istimewanya  Baginda Nabi SAW., dan dzuriyah, yang juga berhubungan dengan orang-orang beriman yang sadar dengan bakal bantuannya di syafa’at akhirat kelak, melalui Nabi SAW., sebagai juru syafa’at di akhirat kelak.

Terdapat di ajaran Ulama P.Jayakarta, di khutbah Jum’at, Maka berhati-hati pada hak dzuriyah.

Di samping hadits Nabi SAW., Sorga di telapak kaki Ibu. Dan syafa’at akhirat di tangan Nabi SAW., hingga cucu-cucu dzuriyah beliau SAW.

Maka orang yang tahu agama Islam/ Samawi sebaiknya soal nikah mendahulukan jatahnya segenap dzuriyah lajang yang baligh, untuk mendapatkan ketenteraman di urusan menikahnya, atau bisa bermasalah di urusan syafa’at akhiratnya kelak, tanpa restu segenap dzuriyah dengan benar.

QS Al-Fath : Orang-orang mukmin saling berkasih sayang dengan sesamanya (yang baik-baik), tapi berlaku keras pada yang berbuat mungkar (berbuat jahat).

QS Thoffif : Celakalah orang-orang yang berbuat curang.

Qur’an : Dirikanlah sholat.

Sabda Nabi SAW., Segala sesuatu di mulai dari niatnya.

Nabi SAW., bersabda di pidato terakhirnya di haji wada’(haji terakhir), ku titipkan 2 pusaka yang jika kalian berpedoman padanya tidak akan tersesat, yakni Qur’an dan Sunah.

Nabi SAW., sambil memandang cucunya ketika berpidato  di hadapan segenap umat Islam bersabda,   Cucuku ini Sayid ( tuan/ Tohaan/ pemimpin istimewa).

Beliau SAW., juga bersabda, Jihad utama adalah pernyataan keadilan terhadap penguasa zolim.

Beliau SAW., juga bersabda, Setiap kamu adalah pemimpin dan setiap pemimpin ada pertanggungjawabannya.

Beliau SAW., sambil menggendong cucunya., bersabda: Barangsiapa tidak menyayangi maka tidak di sayangi.

Nabi SAW.,juga bersabda, Mukmin dengan mukmin seperti bangunan, yang satu saling menguatkan yang lain.

Nabi SAW., juga bersabda, Suatu kaum tidak akan berubah sebelum kaum itu yang berusaha mengubah nasibnya.

Nabi SAW., bersabda, Belum sempurna iman seseorang jika ia belum bersedekah pada kerabatnya yang fakir miskin.

Nabi SAW., bersabda, Sebaik-baiknya kamu bersedekah, di mulai pada keluargamu yang fakir miskin, kemudian pada kerabatmu yang fakir miskin, kemudian pada siapa fakir miskin.

Nabi SAW., bersabda, Bersedekahlah kamu tapi jangan pula melupakan bahagianmu.

Hadits Nabi SAW., Celakalah-celakalah. Kemudian ditanya oleh umat, Siapa yang celaka wahai Rosululloh? Nabi SAW., menjawab, orang-orang yang suka berbuat mengusik tetangganya.

Hadits Nabi Saw., pada sayidina Ali ra., Apabila kamu menemukan anak-anak muda keluar dari agamanya seperti busur lepas dari panahnya, maka bunuhlah mereka di manapun kamu jumpai. Karena dengan membunuhnya kamu juga mendapatkan pahala.

Hadits Nabi Saw., Sesuatu yang bermaslahat wajib di patuhi.

Hadits Nabi SAW., Adalah mendapat kesempurnaan bagi seseorang jika ia meninggalkan sesuatu yang tidak bermanfaat bagi dirinya.

Terdapat juga di hadits Nabi SAW., Boleh meninggalkan jama’ah, beribadah sendiri jika mulai merasakan tidak mendapatkan manfaat/ rasa keadilan yang benar bagi (hak) dirinya. Dan sebutan hadits itu juga berhubungan jika di kenyataan masanya juga bertanda di akhir jaman.

Sabda Nabi SAW., pada ‘Ammar ra., yang terzolimi, Bagaimanalah kamu ikhlas dalam beragama wahai ‘Ammar.

Hadits Nabi Saw., Tiada agama tanpa akal sehat.

WalloHu a’lam bishshowab.

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu-Tubagus Arief Z-art doc

Jalan Sultan lama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s