Album-4 chronology history of elder Java royal family Surosowan-Sultanate Banten-Prince Jakarta-Dul Gendhu / Kota Gede Mataram palace-Indonesia by Prince Jakarta Tubagus Arief Z-view

Tubagus Arief Z-art
sketsa pensil logo satria surosena, by Tb Arief Z (2006)
Surosowan-Jayakarta-Tubagus Arief Z-art doc
Elang bondol fly. Elang Bondol is mascot satwa Jakarta-as fly-bebas aktif. Efek Adobe Psd, by Prince Jakarta, Tubagus Arief Z
Tubagus Arief Z art-doc
Ki Fatahilah Pahlawan pendiri Jakarta
Tubagus Arief Z-art doc
Kota Banten sudut mata burung abad 17m
Surosowan-PJakarta-Dul Gendhu-P.Tubagus Arief Z DGMP
Kota Banten 18 m
Tubagus Arief Z-art doc
The ruins of palace Kahibon 19th century by Van de velde

Keraton Kahibon, keraton terakhir kesultanan Banten Darussalam

Di masa Sultan Mohammad Rafiudin, keraton Kahibon telah di gunakan sebagai tempat Ratu Suri, Ibundanya Sultan Mohammad Rafiudin.

Keraton Kahibon juga menjadi keraton pengganti istana Surosowan yang di hancurkan Daendels di masa Sultan Mohammad Rafiudin.

Di Keraton Kahibon terakhir bertakhta Sultana Ratu Kahinten di akhir abad 18 m.

Keturunannya ialah puterinya yang menikah resmi dengan lelaki muslim Belanda. Bahkan di masa Tirtayasa orang-orang muslim Belanda sempat kabur dari Batavia meminta perlindungan pada Sultan Banten, Tirtayasa. Lantaran di musuhi dan di cap kafir oleh orang-orang Belanda- VOC. Atau juga di sebut Moor sama seperti pada orang Bosnia di sebut oleh Serbia.

Di masanya sangat jarang lelaki Belanda menikahi perempuan bumiputera.  Dan lelaki muslim Belanda juga masih kaum minoritas di Belanda.

Kebanyakan di jadikan selir atau gundik, perempuan simpanan. Seperti di cerita Nyai Dasimah.

Di majalah intisari pernah di muat artikel sekitar kisah Nyai Dasimah. Terdapat cerita banyak keturunan Belanda dari ibu bumiputera, malu mengakui ibunya. Di samping malu karena berstatus sebagai anak haram.

Kecuali di pernikahan resmi puterinya Ratu Kahinten dengan pria muslim Belanda  yang kemudian berketurunan Pangeran Banten.

Pangeran Banten ini jadi tergolong bumiputera-indo Eropah pertama di Indonesia. Atau kasepuhan kaukasia Indonesia. Dan karena dari Ibunya, mendapat status Pangeran putera mahkota Banten, dari keraton Kahibon, keraton terakhir kesultanan Banten.

Pangeran Banten-kaukasia menikah dengan gadis Belanda, bernama Marcy/Marrietje. Gadis Belanda yang di mualafkan masuk ke Islam sekalian di proses menikah dengan Pangeran Banten. Kemudian Marcy termasuk nenek buyut yang juga berkerudung, berkebaya busana Islam.

Politik Islam Snouck de Hurgronje baru di mulai di awal abad 19m.

Belanda sangat mengalami kesulitan menghadapi perlawanan di Aceh. Yang juga hingga berpanglima Teuku Umar, hingga kemudian di teruskan isterinya Cut Nyak Dien.

Cut Nyak Dien setelah tertangkap, di buang ke Sumedang.

Dan perlawanannya masih terdapat lagi di teruskan Panglima Polim. Di Aceh terdapat juga beberapa Uleebalang.

Untuk menghadapinya Belanda menggunakan taktik pendekatan ke Islam. Dan juga pakarnya, Snouck Hurgronje untuk menyelidiki mengenai Islam, bagaimana pergerakannya di bumiputera Indonesia, di sekitar awal abad 19 m.

Ketika terjadi pemberontakan buruh di Cilegon, awal abad 20 m., lagi-lagi Snouck Hourgronje di kirim, ke Banten.

Dan di Banten Snouck Hurgronje menemui Pangeran Achmad Djayadiningrat, keturunan kesultanan Banten dari Ibunya puteri Bupati Pandeglang. Pandeglang juga wilayah yang dekat dengan kawasan tambang besi Cilegon.

Dan pemberontakan juga tidak hanya terjadi di Cilegon, tapi juga di Bogor, bahkan di Ciomas.

Pangeran Achmad Djayadiningrat pemikiran-pemikirannya menjadi masukan penting buat Snouck Hurgronje. Karenanya beliau di sekolahkan di akademi Belanda. Dan untuk dapat di terima di kalangan akademisi, di samping sebagai bumiputera Indonesia yang pertama hingga masuk ke akademi di negeri Belanda, beliau hingga mengganti namanya Wilhelm van Banten.

Ada pendapat seperti kenapa sih pemimpin yang di angkat keturunan penjajah. Tapi bukti sejarah P.Achmad Jayadiningrat justru juga membuktikan bahwa beliaupun dengan melalui kerjasama dengan elemen Belanda yang juga masih sebagai penjajah waktu itu, dan dapat keuntungan bahkan hingga di sekolahkan di akademi Belanda, bahkan juga hingga di biayai keliling Eropa.

Lagi pula dari telusur sejarah juga di temukan, bahwa orang Belanda pun terbagi-bagi beberapa kelompok. Dan jaman dulu sebelum Snouck Hurgronje, atau di masa Sultan Tirtayasa pun, orang-orang muslim Belanda di musuhi oleh orang Belanda bahkan di cap kafir. Atau seperti kejadian orang Bosnia di perlakukan oleh orang Serbia, padahal sama2 peranakan Eropa.

Pangeran Achmad Jayadiningrat ini yang menyumbang gagasan munculnya Volkraad, atau Dewan Perwakilan Rakyat. Dan beliau juga yang di angkat sebagai Ketua pertama Volksraad, setelah lulus dari akademi Belanda.

Dan keberadaan Snouck Hurgronje masih jadi penelitian, apakah ia benaran mendukung bumiputera, Islam atau memang sebagai pakar intelijen Belanda di bidang penyelidikan pergerakan Islam dan bumiputera di Hindia jaman dulu.

Tapi jika ia benaran intelijen, maka termasuk dari sejarah Wilhelm van Banten atau Pangeran Achmad Jayadiningrat yang bahkan di biayainya hingga lulus di akademi Belanda, berjalan keliling Eropa, menjadi Ketua Volksraad, maka berarti termasuk jaringan intelijennya Belanda pula. Entahlah.

Kakek uyut, Pangeran Mohammad Damien.

Pangeran Mohammad Damien ialah cucu dari Pangeran Banten yang menikah dengan Marcy/Marrietje, perempuan mualaf Belanda.

Pangeran Mohammad Damien meninggalkan keraton Kahibon, pindah ke Batavia dan menikahnya dengan puteri  P. Jakarta. Kepindahannya ke Batavia untuk bekerja sebagai pegawai tinggi.

Pangeran Mohammad Damien di anugerahi ALLOH SWT., berusia panjang, hingga di suatu waktu isterinya/ nenek uyut mangkat duluan. Dan dari pernikahannya sudah berketurunan.

Hingga P.Mohammad Damien menikah lagi dengan puteri Bogor. Kemudian karena di tugaskan lama di Serang, menikah lagi dengan puteri Rangkasbitung. Jadinya memang berpoligami dengan 2 isteri. Dan setiap isterinya juga puteri Ulama.

Justru setelah era Snouck, P.Mohammad Damien menikahnya dengan puteri2 bumiputera. Di samping tanda, kakek uyut juga bukan keturunan penjajah, walau terdapat di kakek dan neneknya juga Muslim Belanda.

Atau di sejarah terdapat sosok seperti Dr. Setiabudi.

Dan terdapat juga di ajaran Islam, jika sudah termasuk menjadi umat Islam, maka walau dari Indonesia, Afrika, Arab, Cina, Jepang, Belanda, dll, tidak lagi di batasi asal bangsa negaranya, statusnya juga telah sama sebagai umat Islam.

Namun di kenyataan belum tentu demikian sesuai teorinya. Tidak jauh-jauh seperti realita antara Indonesia dan Malaysia yang kadang terdapat benturan. Masih perlu kehati-hatian.

Surosowan Jakarta art-doc
Keraton kasepuhan Kotagede, masih terdapat penghuninya keluarga kasepuhan Dul Gendhu Matarami

Keraton Kota Gede, Propinsi DI Yogyakarta

Keraton Kota Gede di dirikan oleh Ki Gede Pemanahan di wilayah yang dulunya bernama alas Mentaok. Yang juga dari janjinya Sultan Pajang Hadiwijaya (Joko Tingkir) sebagai imbalan pada Ki Gede Pemanahan dan puteranya Danang Sutawijaya (Raden Ngabehi Saloring Pasar) jika berhasil membantunya melaksanakan tugas membunuh Aria Penangsang, Dipati Jipang yang merebut kekuasaan Jawa melalui merebut takhta Sultan Demak.

Keraton Kota Gede hingga kini masih di sebut sebagai keraton kasepuhan Mataram. Dan telah di pakai sebagai keraton singgasana Raja Mataram sejak Raja pertama, Sutawijaya hingga Sultan Agung Hanyokrokusumo.

Setelah masa Amangkurat, keraton pusat pemerintahan sempat di pindahkan, juga dengan sejarah pralaya antara Amangkurat II dan Pangeran Puger. Sementara keluarga keraton Kota Gede sempat di palang oleh Amangkurat II yang juga pro VOC.

Hingga di Wonogiri terjadi perjanjian Giyanti, membuat Mataram terpecah jadi 3 kerajaan di keraton berbeda wilayah. Tapi keluarga keraton Kota Gede yang juga sebenarnya sebagai keluarga kasepuhan masih bertahan di keratonnnya, walau tak jadi Raja. Tapi masih menyandang status sebagai ningrat kasepuhan Mataram. Atau di sebut juga Dul Gendhu/ Raden Mas (RM) di status kebangsawanan Mataramnya.

Dan adik-adik sepupunya yang jadi Raja-raja, menjadi keraton kesultanan Pakubuwono, keraton kesultanan Surakarta/Mangkunegaran, keraton kasultanan Ngayogyakarta.

Teringat waktu di kampus studio lukis IKJ, sempat mendapat dosen Ibu Farida hingga suaminya, Prof Srihadi Soedarsono, ternyata setelah menelusuri sejarah, statusnya Paman, karena beliau dari Surakarta.

Juga hingga ke Sri Sultan Hamengkubhuwono X. Atau bisa jadi adik sepupu. Karena juga lantaran faktor pernikahan dan berketurunan mana lebih cepatnya, dan belakangan. Karena usianya dengan kakak juga masih sesebaya.

Di sejarahnya, antara perselisihan keluarga keraton Kartasura dengan Ngayogyakarta, seperti ada terbalik-baliknya. Sempat Kartasura yang pro VOC dan kalah, sempat keraton Yogya yang pro Belanda juga sempat kalah oleh Kartasura/Surakarta .

Tapi yang tak nampak di perselisihan ialah keluarga kasepuhan keraton Kota Gede, tersulungnya Mataram. Dan missing link sejarah keluarga keraton Kota Gede, sebagiannya ternyata bergabungnya ke keraton kesultanan Banten, dan sekitar Jawa Barat,hingga ke Jakarta terlebih dulu,  sejak masih bernama Batavia. Di samping orang-orangnya Sultan Agung sudah dan masih terdapat di Batavia.

Maka jika di telusuri warga-warga lama di Jakarta, pasti di temukan terdapatnya orang-orang Mataram Kota Gede yang lebih lama dari Mataram lainnya.

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc
Masjid Matraman versi renovasi, masjid Matraman mula berdirinya sebelum di dirikannya kota Ngayogyakarta

Masjid Matraman di Jakarta

Masjid Matraman di foto ini sudah versi renovasi yang berbeda dari versi pertamanya di dirikan di masa Sultan Agung Hanyokrokusumo yang masih berkeraton di Kota Gede.

Di namakan  masjid Matraman, juga karena di pakai sebagai tempat berkumpul Ulama hingga senopati-senopati Mataram yang di antaranya juga terdapat Pangeran-pangeran Mataram. Yang juga di tempatkan di misi penyerangan Mataram ke Batavia, di masa Gubernur Jenderal VOC, J.P. Coen.

Bahkan sejak pertama di dirikannya Masjid Mataram, telah duluan ada, seabad sebelum munculnya kota Ngayogyakarta bersamaan dengan keraton kesultanan Ngayogyakarta dari putera kesekian Pangeran Pakuwan masih keturunan bungsu Pangeran Puger.

Di sejarahnya Mataram, Pangeran Puger walau termuda, tapi juga muncul sebagai sosok Pangeran terkuat di Mataram. Walau di sejarah kemudian sempat ada balasan-balasan dari Pangeran Kartasura membalik keadaan.

Entah kenapa, walau seperti tersembunyi, tapi di sejarahnya Mataram sempat juga mengalami pralaya, bak seperti terusan dari kutukan Empu Gandring pada Ken Arok.

Seperti padahal saudara tapi juga bersaing dan berselisih, terdapat jatuh-menjatuhkan, berebut kuasa, harta, takhta, padahal juga terdapat kesenjangan amat sangat antar kekerabatan. Hingga dari masa Singosari, ke Majapahit, hingga ke masa sejarah Mataram.

Bahkan seperti di berita kini, di keraton Surakarta masih terdapat perselisihan soal takhta.

Surosowan-Jakarta art doc
danang-sutawijaya (Raden Ngabehi Saloring Pasar). Raja pertama Mataram berkedudukan di keraton Kota Gede. Beliau juga di gelari Kanjeng Panembahan Senopati Ing Alaga Mataram
Surosowan-Jakarta art doc
Pangeran_Jayakartahttp://www.sufiz.com/kisah-mujahid/pangeran-jayakarta-membumihanguskan-sunda-kelapa.html

Pangeran Jayakarta/Pangeran Jakarta

Pangeran Jayakarta di gambar ini ialah Bupati Jayakarta ke-3 (Pangeran Jayakarta 3), putera dari Bupati Jayakarta ke-2, Tubagus Angke. Yang keduanya juga di sebut Pangeran Jayakarta/Pangeran Jakarta.

Pangeran Jayakarta ke-3 sempat hendak mendirikan kesultanan Jakarta, karena merasa sebagai kasepuhan dengan perkembangan kota Jakarta, ingin melepas status dari sebagai bawahan kesultanan Banten Darussalam, di abad 16 m. Bahkan sempat kedatangan dan menjalin hubungan dengan duta Inggeris.

Tapi keburu di hadang J.P.Coen yang membawa misi VOC Belanda mendirikan kota Batavia, sebagai ibukota kolonial kapital kumpeni VOC.

Bahkan keratonnya sempat di serang dan di bakar pasukan Belanda, dan di atas puing-puing kota Jayakarta, J.P.Coen mendirikan Batavia. Hingga sempat berada sekitar 3 abad lebih. Yang di bakar adalah keratonnya Pangeran Jayakarta dari keturunan Tubagus Angke.

Bahkan peristiwanya juga sempat di tentang oleh Sultan Tirtayasa yang baru naik takhta menggantikan almarhum ayahandanya, Sultan Abdul Mufakhir. Walau setelah memakamkan ayahnya dengan penghormatan, sebagai anak pada ayahandanya, tapi Sultan Tirtayasa di sebut di sejarah juga ada kontroversinya pada sebagian dari ayahnya ketika menjadi Sultan Banten, kontroversinya adalah karena bekerjasama dengan penjajah Belanda. Sedangkan Tirtayasa sudah jelas terang-terangan menentang dan tidak sudi berdampingan dengan kolonial VOC Belanda.

Walau di sejarah juga terdapat, Sultan Tirtayasa juga mempekerjakan dan melindungi orang-orang muslim Belanda yang kabur ke Banten dari Batavia. Karena di Batavia juga mendapatkan perlakuan diskriminatif dan bahkan di cap kafir oleh orang2 Belanda.

Tubagus Angke ialah berasal dari Pangeran Cirebon, ayahnya Pangeran Cirebon, ibunya Ratu Winahon, kakak perempuan Sultan I Banten, Maulana Hasanudin/P.Sebakingkin, dari seibu Ratu Kawunganten (puteri Dipati Surosowan, putera ke-2 Prabhu Pajajaran, Siliwangi) dan sebapak Wali pandhita Ratu-Ki Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatuloh, yang juga ketua ke-2 Dewan Wali Songo.

Dari pernikahan kakek uyut P.Mohammad Damien (putera mahkota yang berasal dari keraton Kahibon, simbol terakhir keraton kesultanan Banten abad 19m)., yang juga berpoligami dengan puteri P.Jayakarta di abad 19m. Maka menjadikan keluarga pribadi dari keluarga putera mahkota keraton terakhir kesultanan Banten, juga keluarga P.Jayakarta/Pangeran Jakarta.

Di sejarahnya, P.Mohammad Damien sebagai pewaris keraton Kahibon meninggalkan keraton Kahibon di abad 19m., pindah ke Batavia untuk bekerja sebagai pegawai tinggi, kemudian sempat berpindah-pindah di tugaskan bekerja, sempat juga lama di Serang, hingga menjadi pengusaha tuan tanah kaya di Bogor.

Keluarga Pangeran Jayakarta/Pangeran Jakarta ini termasuk golongan kasepuhan di segenap kekeluargaan besar Surosowan.

Menurut temuan data dari website dan bacaan literatur, golongan keluarga P.Jayakarta terdapat beberapa, meliputi:

1. Keluarga P.Jayakarta yang di sebut juga keluarga P.Wijayakrama. Berasal dari keturunan Bupati I Jayakarta, Fatahilah, atau Pangeran Samudera Pase, Fadilah Khan. Fatahilah juga berstatus Panglima Macan Ali dan Panglima Demak. Pensiun sebagai Panglima Demak setelah Sultan III Demak, Trenggono mangkat di misi pendudukan Pasuruan ke Blambangan. Kemudian pindah mengabdi ke Sultan Cirebon, Ki Sunan Gunung Jati, di samping pernah di angkat menjadi penasihat Sultan I Banten, Maulana Hasanudin puteranya Ki Sunan Gunung Jati, dan Bupati I Jayakarta. Di samping sepeninggal Sultan Trenggono terjadi kekisruhan perselisihan gono-gini di Demak.

Pangeran Fadilah Khan/Fatahilah dari buku sejarah Cirebon tulisan P.Sulaeman Sulendraningrat sebenarnya masih hubungan kerabat sebagai anak kemenakan dengan Ki Sunan Gunung Jati. Dari hubungan kekerabatan Syarif timur tengah, Syekh Jamaludin al-Husain. Ki Sunan Gunung Jati dari Syarif Abdulah, Sultan Mamluk putera Syekh Ali Nurul Alim putera sulung Syekh Jamaludin al-Husain. Dan Fatahilah dari putera Sultan Hud, putera Syekh Barakat Zaenal Alim, putera ke-2 Syekh Jamaludin al-Husain.

Jadi dengan Ratu Winahon ibunya Tubagus Angke/P.Jakarta bupati ke-2 dan Sultan I Banten, Maulana Hasanudin masih status adik sepupunya, tapi berusia lebih tua.

Pernah ada tetangga yang juga kenal baik sejak lama dan mengaku masih dari keturunan P.Wijayakrama. Dan pernah pula bekerja di jaringan Jenderal Syafrie Samsudin, di sebagai pimpinan Pamswakarsa, di sekitar peristiwa 1998.

Pamswakarsa ini yang mungkin kemudian termasuk jadi FPI.

2. Keluarga P.Jayakarta dari Tubagus Angke, Bupati ke-2 Jayakarta yang di angkat oleh Fatahilah. Termasuk ke keluarga P.Mohammad Damien, termasuk keluarga P.Jayakarta-Tubagus Angke ini.

Memang yang nampak di keluarga P.Jayakarta-Tubagus Angke di jaman modern ini, terdapatnya di seni dan grafis.

Teringat bacaan di buku sejarah Cirebon, Ki Sunan Gunung Jati mencantumkan ayat Laa Ikroha fiddin. Tiada paksaan dalam agama. Dan Ki Sunan Gunung Jati juga menggandeng Ki Sunan Kalijaga yang juga berdakwah dan berkarya dengan bidang kesenian.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc
Sultan Ageng Tirtayasa
Surosowan Jakarta art-doc
Sultan Agung Adi Prabhu Hanyokrokusumo masih berkeraton di Kota Gede. Di makamkan di Plered, Bantul
Surosowan-Jakarta art doc
Sultan Agung Hanyokrokusumo di usia tuanya bertakhta di keraton Kota Gede

Sekilas sejarah keluarga kerajaan Mataram setelah masa Sultan Agung Hanyokrokusumo

Sepeninggal Sultan Agung Hanyokrokusumo, takhta Sultan Mataram di berikan pada puteranya, Amangkurat I. Amangkurat I ini sosok yang kuat.

Di masa takhta Sultan Mataram Amangkurat-amangkurat ini  terjadi pralaya perebutan takhta di kesultanan Mataram. Di samping juga mengalami pemberontakan dari pangeran Mataram di Jawa Timur, Trunojoyo yang antipati pada Amangkurat yang mulai menjalin kerjasama dengan VOC.  Pangeran Trunojoyo bergabung dengan Pangeran Puger, adik dari Amangkurat II, yang sama menentang sekutu dengan VOC.

Pangeran Trunojoyo ini termasuk senopati Mataram berpengalaman sejak pernah turut serta di perang Batavia masa Sultan Agung, juga bersama pasukan Banten, Sultan Tirtayasa.

Di sekitar masa berkuasanya Sultan Amangkurat, yang memindahkan keraton kedaton Mataram dari Kota Gede ke Kartasura (keraton Surakarta kini).

Dan di sejarahnya sempat Amangkurat menjalin kerjasama dengan Belanda, kemudian di generasi kemudian berganti Pangeran Puger II yang bekerjasama dengan Belanda kemudian mendapatkan penentangan dari Amangkurat II dari keraton Kartasura. Atau sempat pralaya di menangkan kelompok Pangeran Puger, di waktu kemudian  di balas kelompok Kartasura.

Justru kalahnya kubu generasi Amangkurat atau Pangeran Puger ketika bersekutu dengan VOC.

Di waktu pralayanya kelompok Amangkurat dan Pangeran Puger, bahkan Amangkurat sempat memblokir jalan ke keraton Kota Gede. Karena keluarga keraton Kota Gede sempat bersimpatinya pada perjuangan Pangeran Puger di waktu Amangkurat bersekutunya dengan VOC.

Mungkin ada pertanyaan juga, lantas keluarga keraton Kota Gede ini dari keturunan yang mana dari Raja-raja kesultanan Mataram. Bahkan pernah dengar dari Ibu, masih keturunannya di Mataram dari keraton Kota Gede. Pernah juga Pak Sa’i dari Jagakarsa yang pernah menjual tanah di Jagakarsa pada (alm) Bapak juga kenal dengan Ibu dan kakak2 sempat berucap, pada kakak, kamu ini masih masuk keluarga Dul Gendhu lho. (ningrat keraton kasepuhan Kota Gede).

Di sejarahnya sejak Panembahan Sutawijaya/ Raden Danang Sutawijaya/ Raden Ngabehi Saloring Pasar, yang menjadi Raja pertama kerajaan Islam Mataram, punya beberapa keturunan. Putera pertamanya ialah Raden Rangga (pernah terdapat di tayangan sinetron sejarah-Kaca Benggala di perankan oleh Irgi, Adjie Pangestu dan Meriam Bellina), di mana Raden Rangga sebagai putera pertama juga mewarisi ilmu kanuragan ayahnya Panembahan senopati Mataram, tapi juga tak dapat menahan kesabarannya dan suka menjajal ilmunya pada pendekar-pendekar yang di temuinya.

Bahkan lantaran di tantang dan di usik di serang duluan beradu ilmu kanuragan dengan pendekar Banten orang bayarannya Sultan Pajang, Hadiwijaya, hingga membuatnya tewas dengan kepala pecah. Tapi sejak aduan tenaga dalam itu pula, Raden Rangga juga mengalami luka dalam. Tapi setelah kejadian itu ayahnya, Sutawijaya juga sempat memarahi bahkan sempat menghukum Raden Rangga, yang juga di usir dari keraton.

Raden Rangga pun terusir sambil membawa luka dalam kondisi lemah di tubuhnya.

Kemudian dalam keadaan demikian pun ia sekali lagi bertemu dan sempat bertarung dengan mayit Dipati Pajang yang di hidupkan oleh isterinya dengan sejenis ilmu sihir hitam. Bahkan jadi memiliki ilmu kanuragan lebih hebat dengan di rasuki ilmu jin siluman.

Sekali lagi walau Raden Rangga bisa bertahan, tapi luka dalamnya bertambah parah.

Hingga ia sempat menemui sejenis ular (jadi-jadian), dan ketika bermain dengan ular jadi-jadian itu tewas tergigit. Raden Rangga ini putera sulung Sutawijaya, tapi juga mangkat tanpa sempat menikah.

Kemudian ada lagi putera keduanya ialah Pangeran Puger (kasepuhan).

Pangeran Puger kasepuhan ini pernah melakukan pemberontakan yang termasuk paling berbahaya di sejarah kerajaan Mataram masa Raja ke-2, Prabhu Hanyokrowati/ Raden Mas Jolang yang juga masih adiknya dari lain ibu. Pemberontakannya tentunya karena kecewa takhta jatuhnya pada adiknya. Di sebut pemberontakan paling berbahaya di sejarah kerajaan Mataram, karena sempat menduduki ibukota kedaton Mataram waktu itu di keraton Kota Gede. Walau hingga kini pun keraton kasepuhan Kota gede nyatanya termasuk jatuh ke jatah  keluarga keturunan Pangeran Puger kasepuhan juga.

Tapi walau pemberontakan Pangeran Puger dapat di padamkan, tapi ia juga tidak sampai di jatuhi sanksi hukuman mati, bahkan dengan keturunannya masih sebagai penghuni keluarga kasepuhan keraton Kota Gede. Dan mungkin termasuk dari turunan Pangeran Puger kasepuhan ini, yang juga asal keluarga kasepuhan keraton Kota Gede/Dul Gendhu.

Kemudian melalui perjanjian Giyanti di Wonogiri di abad 17m., wangsa Mataram terpecah, menjadi keraton kasepuhan Kota Gede (yang tidak jadi kesultanan-tapi mendukung Pangeran Puger – di masa pralaya dengan Amangkurat yang pro VOC), keraton keraton kesultanan Surakarta (atau dari keraton Kartasura), keraton kesultanan Pakubuwono, keraton kesultanan kanoman Ngayogyakarta.

Yang di antara dari keraton kasepuhan Kota Gede/ Dul Gendhu-/Pangeran Puger kasepuhan ini sejak di masa pralaya Mataram, sejak dulu ada yang berpindah ke Matraman di Batavia, hingga ada yang menikah dengan keluarga keraton terakhir kesultanan Banten, keluarga keraton Kahibonnya Sultana Ratu Kahinten, dan menjadi keluarga Pangeran putera mahkota Surosowan, Mohammad Damien, yang juga menikah dengan puteri P.Jayakarta ketika pindah di Batavia.

Adapun Pangeran Puger hingga ke Pangeran Puger II di masa Amangkurat I-II, perpindahan kedaton dari keraton Kota Gede ke keraton Kartasura, ini   kakak beradik seketurunan dari Sultan Amangkurat I.

Bernama sama antara Pangeran Puger kasepuhan dan Pangeran Puger (yunior) kemudian I, II, istilah Puger dari bahasa Jawa yang kadang juga digunakan di bahasa Indonesia, berarti pugar, pemugaran, perbaikan, pembenahan, restorasi, renovasi, reformasi.

Adapun Pangeran Puger (yunior) I-II ini kemudian keturunannya menjadi Sultan Pakuwon, berkeratonnya di keraton Pakubhuwono kini. Di masa Sultan Pakuwon II kemudian berketurunan Sultan Pakubhuwono dan adiknya Sultan Hamengkubhuwono (I) yang mendirikan keraton kanoman dan kota Ngayogyakarta.

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu -Tubagus Arief Z- art doc
Royal family Surosowan-Banten ambasador to British kingdom (collection letter of Indonesia royal family sovereign history at British museum)
Surosowan-Tb Arief Z-art
situs cagar budaya pasal 18 UUD 45 BAB Otonomi Daerah-sisa istana Gunung sepuh Surosowan/ Kekaisaran Sultan Banten Darussalam. Surosowan palace or Sultanate Banten palace at old Banten, Ciomas, ruined by Governor General Dutch, Herman Willem Daendels at the time of Sultan Banten Mohammad Rafiudin,
Surosowan-art doc
1933 reruntuhan keraton kaibon. Keraton Kahibon di dirikannya di sekitar akhir abad 18 m. ebagai pengganti istana Surosowan yang hancur.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s