Neo-Di Bawah Bendera Revolusi : Jakarta Raya

Neo-Di Bawah Bendera Revolusi : Jakarta ibukota-dan kesultanan kasepuhan Jakarta.
By Tb Arief Z.

[/caption]

Tubagus Arief Z-art

step-1 Sejarah Perjuangan kemerdekaan Jakarta melawan penjajah (2011), by Tubagus Arief Z.
Lukisan cat karet di atas kanvas liman 100 X 80 cm + efek photoshop CS6

Tubagus Arief Z-art doc

Chaerul saleh, Wikana, AM Hanafi, rekan2 pejuang gerilya sedang berdiskusi ketika kumpul di Markas API yang hancur di gempur penjajah, karya lukisan S.Soedjojono

Tubagus Arief Z-art

step-1 sketsa karikatur Jokowi teladan sumbangsih nyata lebih cepat dari bayangan, by Tubagus Arief Z. (akhir Mei 2013). Sketsa pensil di kertas watercolour Canson A3

Tb Arief Z-art

Fly over ekonomi metamorfosis. By Tb Arief Z-art.(2012) Lukisan cat akrilik di kanvas 120 X 90 cm. Price : Rp 2,5 juta/ 2,5 million rupiahs

Surosowan-Jayakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Elang bondol fly. Elang Bondol is mascot satwa Jakarta-as fly-bebas aktif. Efek Adobe Psd, by Prince Jakarta, Tubagus Arief Z

Sejarah kota Jakarta, sejak Jayakarta menjadi Jakarta.

Sejarah kota Jakarta, sumber-sumber pustakanya di dapat dari buku Fatahilah, Pahlawan Jakarta tulisan Rahmat Ali, terbitan Balai Pustaka dan sumber dari (alm) penyiar Betawi di radio Benz, Betawi punya gaye dan komik sejarah terbitan Gramedia.

Sejarah Jakarta di masa purbanya, ada juga bermula dari Sunda Kelapa, tadinya hanya berupa kampung nelayan, berpenduduk sedikit dan di buka mulanya oleh nelayan. (Maka hingga kini di sekitar Sunda kelapa hingga Muara Karang di pinggir kota Jakarta dekat laut masih terdapat desa-desa nelayan, yang kebetulan spt di Muara Karang dekat dengan pasar ikannya dan pembuatan kapal2 tradisional-dari perahu hingga pinisi Jakarta, anak studio kriya kayu dari FSRD IKJ dulu yg angkatan 80-an pernah buat perahu pinisi Jakarta).

Hingga Sunda kelapa tadinya hanya kampung kecil nelayan, lama-kelamaan berkembang. Hingga menjadi pelabuhan yang terkenal seantero dunia. Dan bumiputera lokalnya di sebut juga penduduk atau suku Sedayu.

Orang-orang suku Sedayu ini termasuk di antara suku-suku di Sunda, seperti suku Baduy, suku Kawali/Sumedang, suku Panjalu, dll. Di Indonesia yang terdiri dari suku-suku juga seperti di Indian di benua Amerika, ada dengan suku Indian dari peranakan Mongol, ada dari peranakan Austronesia (Afrika).

Di antara suku-suku di Indonesia, suku Sedayu, suku Sunda, suku Banten, suku Baduy, suku Dayak, suku Jawa, suku Kawali/Sumedang, suku Tengger (di Jawa), suku Bugis, suku Bali, suku Lombok, suku Sumbawa, suku Koeboe (di Sumatera),suku Batak, ada lagi suku Batak Gayo, suku Aceh, suku Padang, suku Palembang, suku Asmat (di Papua), dan
banyak lagi suku lainnya. Di Indian Amerika, dengan suku Apache, Sioux, Mohawk, Chihuahua, Mohican dll, hingga suku Cherokee yang punah. Di suku Indian Amerika terdapat kaukasia,atau seperti terdapat di film The last Mohican dengan sosok koboy-long riffle/ si laras panjang, di suku Indonesia juga.

Menurut sumber dari (alm) penyiar Betawi, dahulunya di masa Pajajaran, sebelum bernama Jayakarta, kota Jakarta bernama Surakarta, waktu di masanya Raja Surawisesa, di sekitar abad 15 m.

Raja Surawisesa ini masih putera dari Sangiang, Raja sebelumnya, juga putera sulungnya Prabu Siliwangi yang di warisi takhta Pajajaran.

Di sejarah Sunda, tersebut Prabu Siliwangi putera2nya, dari pernikahan pertamanya dengan puteri manik kentring Sunda, berputera : pertama Sangiang, kedua sang Surosowan (bapak dari Ratu Kawunganten, isteri kesekian Ki Sunan Gunung Jati, darinya berketurunan Ratu Winahon (yang menikahnya dengan P.Cirebon-entah dg yg dari kasepuhan Cirebon turunan P.Cakrabuwana/dari Sultan kanoman P.Pasarean), ibunya Tubagus Angke/P.Jayakarta dan Maulana Hasanudin). Dari pernikahan keduanya dengan Ni Rara Subang Larang, puterinya Dipatinya di Mertasinga (Singapura dulu wilayah bawahan Pajajaran), berketurunan : putera ke-3 P.Cakrabuwana (jadi Rama uwaknya Ki Sunan Gunung Jati, dan kasepuhan Cirebon), puteri anak ke-4, Ni Rara Santang (ibunya Ki Sunan Gunung Jati), anak ke-5/bungsu putera, P.Sengara/ Prabu Kiansantang berkerajaan di Garut.

Di sejarah Cirebon, tersebut pula terdapat Dipati Kuningan, yang di sejarahnya dari puteranya Raja hindu Galuh, ketika masih bayinya di ambil jadi putera angkat oleh Ki Sunan Gunung Jati dan sempat di ambil sebagai anaknya isteri kesekiannya dari puteri Kaisar Cina (puteri Ong tien puterinya Kaisar Ong-Gie, anaknya Kaisar Yung-lo masa dinasti Ming).

Di sejarah runtuhnya kerajaan2 hindu di Jawa, munculnya kerajaan2 Islam di Jawa, Kaisar Yung-lo ini Kaisar pertama masa dinasti Ming setelah menggulingkan dinasti Yuan dari Mongol/Kubilai Khan, yang pula sebagai Kaisar mengesahkan berdaulatnya kemerdekaan kesultanan Malaka, Raja Paramisora (tadinya Pangeran dinasti Kulisadara yang kabur karena di Palembang di serang ke-2 kalinya oleh Majapahit, dan Paramisora ini sisa satu2nya akibat serangan Majapahit tsb).

Di sebut Pangeran Kuningan, karena waktu di asuh oleh puteri Ongtien, di beri mainan terbuat dari emas, makanya di namai demikian. Dari pernikahannya puteri Ongtien dengan Wali pandita Ratu Ki Sunan Gunung Jati, tak berketurunan, karena puteri Ongtien waktu di Tiongkok di buat mandul rahimnya oleh perintah Kaisar Ong-Gie.

Maka mengangkat anak, Pangeran Kuningan tsb. Tadinya di ceritanya, waktu di Tiongkok, puteri Ongtien ini di samarkan hamil dengan di taruh bantal diperutnya buat Kaisar Ong-Gie menguji Syarif Hidayatulah yang sedang jadi guru agama berusia muda di Tiongkok. Tapi Syarif Hidayatuloh bilang itu puterinya hamil benaran, ternyata iya.

Tapi walau Kaisar Ong-Gie sempat antipati dengan Syarif Hidayatuloh, lantaran menganggap Syarif Hidayatuloh ini yang di tuduh berbuat menghamili puterinya,saking emosinya Kaisar Ong-Gie mengusir Syarif Hidayatuloh keluar dari negeri Tiongkok. Maka Syarif Hidayatuloh pulang kembali ke tanah airnya, dan baru tiba di tanah air, di tahbiskan Rama Uwaknya, P.Cakrabuwana jadi Raja, maka juga bergelar Wali pandita ratu.

Tapi puterinya bersikeras ingin menikah dengannya, tetap saja membuat Kaisar Ong-Gie menyuruh menggugurkan kandungannya puteri Ong tien, hingga akibatnya mandul di rahimnya.

Tapi puteri Ongtien nekad mengejar Syarif Hidayatuloh walau telah di usir dari negeri Tiongkok pulang ke tanah airnya, di Cirebon. Kaisar Ong-Gie pun tak tega dengan puterinya sendiri, dan mengirim puterinya dengan kereta emas dan kawalan penjaga. Hingga kini kereta emasnya terdapat di museum Cirebon.

Puteri Ongtien juga mengangkat anak dan turut mengasuh P.Jayakelana dan P. Bratakelana (P.Mohammad Arifin/P.Pasarean, putera dari isterinya Sunan Gunung Jati dari puteri Ki Sunan Ampel). P.Mohammad Arifin ini yang di warisi takhta Sultan Cirebon, penerusnya Sunan Gunung Jati, tapi mangkat di usia ke-25 tahun, tapi sudah beristeri dan punya anak masih usia bayi di waktu mangkatnya.

Ki Sunan Gunung Jati di ceritakan berusia panjang, hingga di usia 105 tahun masih turut serta dalam membantu misi putera sulungnya Maulana Hasanudin jadi Sultan I Banten, dengan mengontak Fatahilah waktu itu Panglima Demak. Hingga misi Fatahilah menghadapi masuknya penjajah Portugis bekerjasama dengan Raja Pajajaran waktu itu, Surawisesa.

Dan waktu masa Raja Surawisesa, ibukota Pajajaran sempat di pindah ke Surakarta. Jadi menurut sejarah Jakarta telah jadi ibukota sejak dulu, bahkan masih masa kerajaan Pajajaran.

Di sejarah Sunda, putera ke-2nya Prabu Siliwangi, Dipati Surosowan yang juga telah beragama Islam, di samping putera ke-3 P.Cakrabuwana, anak ke-4 Ni Rara Santang, dan putera bungsunya P.Sengara. Sang Surosowan di tempatkan jadi dipati pesisir, di Banten. Di masanya, telah pula terdapat kerajaan di Banten selatan, kerajaan Banten Girang, berprabu Pucuk Unum, masih adik sepupu dengan keluarganya Prabu Siliwangi.

Di Banten, wilayah yang paling subur dan terdapat sebagai kaya penghasil logam emas, di Banten selatannya, atau di kerajaan Banten Girang dulu. Hingga kini masih terdapat tambang emas di Banten selatan, juga tambang hasil besi seperti di Cilegon, dekat Pandeglang.

Fatahilah waktu berhasil membantu Hasanudin di misinya merebut kekuasaan di Banten, juga di angkat jadi penasihat Sultan Hasanudin yang di angkat melalui ayahnya, Ki Sunan Gunung Jati, yang juga masih kakak sepupu dengan Fatahilah/P.Fadilah Khan dari Samudera Pasai. Maka kerajaannya juga di namai Banten Darussalam.

Kini di antara daerah2 berstatus Propinsi Daerah Istimewa di Indonesia, seperti Propinsi DI Aceh, DI Banten, DKI Jakarta, DI Yogyakarta.

Fatahilah ini yang berperan sebagai inovator pembangun dasar2 kesultanan Banten Darussalam, dari pagar2 benteng, pelabuhan, kapal2 laut (tadinya kapal2 korap Demak gubahan Fatahilah dari kapal Pasai, sebelumnya dari kapal2 jung Jawa modifikasi gabungan antara kapal Majapahit dulu dengan kapalnya Chengho dari Tiongkok), hingga artileri (spt meriam, mesiu, hingga bedil) yang di datangkan dari Demak dan Timur tengah, karena Fatahilah dan Ki Sunan Gunung Jati ini dulunya masih dekat hubungan kekerabatannya dan di kenal oleh Raja2 di Timur tengah. Dulu untuk keperluan benteng, wanti-wanti dapat serangan balik dari penjajah Portugis. Dulu pula negara, masih di pegang kerajaan2 soal urusan hankamratanya negara.

Tapi senjata tradisional/klasik dengan artileri modern juga beda dengan canggihnya. Misal hanya sekedar simbol di perayaan ulangtahun kerajaan, hari raya, atau di HUT Jakarta.

Hingga yang turut membantu pendirian pertama tiamah/menara masjid ageng di Banten, juga Fatahilah, masjidnya oleh Raden Iman dari Majapahit, di akhir abad 14 m.

Hingga atas wasiatnya Ki Sunan Gunung Jati pada Maulana Hasanudin, juga di amanatkan membangun istana Surosowan, kenapa di namai Surosowan, Ki Sunan Gunung Jati juga mengajarkan penghargaan pada kakek, leluhur, asal-usul istimewa dari ibunya Maulana Hasanudin, sang Surosowan, putera ke-2 Prabu Siliwangi. Yang Ibunya Ratu Kawunganten, puteri Pajajaran di Banten.

Waktu masa Maulana Hasanudin, istana Surosowan hanya di bangun dengan sekesanggupannya, ala-kadarnya sebagai istana, bahkan masih sederhana, elemen2nya kebanyakan dari kayu/bambu, seperti di ciri arsitektur rumah tradisionalnya Sunda, buat keraton dulu, dengan bentuk rumah panggung, hingga furniturnya. Bambu juga ciri tradisionalnya Sunda. Dulu bambu2 Sunda ini dari pohon2 bambu yang besar2, ada berwarna hijau. Hingga di Jakarta dan Jabar bahkan Jawa, masih ada jenis bambu tsb.

Bahkan di rumah nenek pun, yang di Bogor, banyak di elemen rumahnya dari Bambu, walau dari luarnya spt nampak rumah campuran gaya arsitek Sunda dan Belanda. Spt di dindingnya dengan bilik bambu di pernis, tapi karena telah lama usianya, juga telah nampak rusak. Tapi di lantainya telah dengan ubin2 kecil, hanya sedikit di bagian ruang depannya saja dengan ubin kecil berhiasan motif batik Jawa, kalau yang di rumah gedongnya kakek di Jawa, ubinnya besar2. Dari pengamatan ada bedanya bangunan di tanah Sunda dengan yang di Jawa, masih dg peninggalan candi Prambanan, Kalasan, Borobudur. Tapi di keraton Kota Gedenya yang nampak spt di contoh segenap keraton2 kesultanan2 di Jawa awal mula dulunya.

Dulu pernah merasakan tiduran di kursi bambu yang panjang, ternyata enak buat di punggung, bangunnya seperti habis di pijat dengan bambu.

Tapi, bagaimana pula dengan sejarahnya kakak seibunya Maulana Hasanudin yang di angkat jadi Sultan I Banten, yakni Ratu Winahon yang menikah dengan Pangeran Cirebon. Di samping dengan Pangeran Cirebon yang mana di masanya, karena ada terdapat puteranya kasepuhan P.Cakrabuwana, ada lagi P.Jayakelana, dan P.Bratakelana/P.Mohammad Arifin (putera bungsunya di P.Cirebon yg dpt takhta) yang dari sejarahnya nampak bukan menikah dg Ratu Winahon.

Dan yang nampak di tradisi kesultanan Cirebon memberi takhta pada putera bungsu, juga hinggap di Mataram.

Kalau dari hikmat kesimpulannya, kenapa demikian bisa jadi untuk menjaga di sebagai wewenang Raja tidak semena-mena, spt di karena sifatnya merasa abang. Tapi adik yang jadi Raja pun tidak bisa sombong,dan sewenang2 dengan takhtanya, karena ada kakak kasepuhannya.

Telusur di sejarah Raja2 di Timur tengah, spt di Yordania, Suriah, Arab Saudi, Kuwait, hingga Dubai pun ternyata demikian, di temui sebenarnya dari asal-usul paman Nabi SAW., di dzuriyat juga adik2 sepupu di dzuriyat.

Dan mandatnya kekholifahan adalah berlaku adil. Jadi kholifah juga sebagai Wali penolong.

Fatahilah di misi Jayakarta

Ketika usai tugasnya Fatahilah di Banten, sebagai penasihat Sultan I Banten, Maulana Hasanudin, Fatahilah mendapat tugas lain, kembali menjadi Panglima. Panglima di misi Jayakarta.

Dan di misi Jayakarta ini sempat di rasa berat oleh Fatahilah, karena yang di hadapi ini Raja Surawisesa, sulung di kerajaan hindu-Pajajaran.

Raja Surawisesa ini sebenarnya tidak salah2 amat, tapi karena mulai melakukan perjanjian kerjasama dengan Portugis yang waktu itu penjajah, bahkan kapal2nya sempat masuk hingga ke sekitar pedalaman Cirebon,Jawa tengah, dan Jatim, bahkan ada yang melakukan perdagangan ilegal, spt membeli gading gajah yang mulai satwa langka, bahkan dengan harga murah. Padahal penduduk di Jawa juga sedang mengalami kemiskinan/krisis ekonomi, akibat dulu Demak melakukan ekspedisi2 militer ke Malaka, dari masa Sultan II Demak, Yunus/P.Sabrang lor/Yat-sun, hingga Sultan III, Trenggono/Tung-ka-lo. Di suatu masa di Jawa, Sultan paling berkuasa, Demak. Tapi beda masanya Sultan I Raden Patah, dengan Sultan2 kemudian anak2nya.

Kalau baca sejarah Jawa ini, di sebut pulau Jawa dwipa, atau Jawa emas, tapi di masa sejarah hingga kini, ada di temui beberapa kali penduduk Jawa jadi korban mengalami kemiskinan. Hanya di masa2 tertentu pemimpinnya pula sempat spt di kalimat emasnya Jawa, gemah ripah loh janawi tata tenterem kerta raharja jasa. Spt contoh di masa Prabu Airlangga, Prabu Jayabaya, Prabu Hayam Wuruk, di masanya kerajaan dengan penduduk sejahtera, negara kuat, memproduksi sendiri hasil produk nasional, bahkan dominan jadi eksportir ketimbang importir. Pejabat/pembesar negara korup dulu di hukum mati. Maka ada pula di kepercayaan orang Jawa, kalau pilih pemimpin juga yang dengan watak di gambaran ramalan Jayabaya, yang di sebut satria piningit. Pernah pula di sebut Ratu Adil.

Kontroversi soal fa’i ghonimah/ekonomi kerakyatan, sosio nasional.

Jadi Raja ini keuntungan dengan hak2 istimewanya:

1. Memiliki hak/kewenangan memajaki, sesuai di wilayah hak otonomi daerahnya masing2 sesuai hukum nasional di masa modern, melalui pasal 18 BAB OTONOMI DAERAH, UUD 45. Tapi memajakinya pun masih dengan mandatnya sebagai kholifah berlaku adil. Walau di sudut lain, seperti pada saudara2nya masih di kaum bangsawan, juga dengan rakyat yang masih merasakan kesenjangan, dengan kemiskinan jadi kontroversi juga dengan rasa keadilannya.

Kalau di haknya kel.PJayakarta juga di ibukota DKI Jakarta raya, dengan warga yang heterogen, dari yg berwarga org bule menikah dg bumiputera, dari asal Sumatera, Jawa,Sulawesi, Ambon, Bali, dll, plural , tapi juga banyak orang-orang kayanya, juga jadi kontroversi, ketika di warga Jakarta, tak ada yang mau konsekuen soal membayar upeti, bahagian fa’i ghonimah dengan pasal 18 BAB Otonomi Daerah UUD 45: Pemerintah, MPR,DPR, negara wajib memandang hak asal-usul istimewa kedaerahan. Juga dari Al-Kitab Qur’an QS Al-Anfal: 41, Bahagian Qorba dzuriyat (di berlaku adilnya, lokal), di urutan ke-3 jatah fa’i ghonimahnya, ke-4 baru anak yatim, ke-5 fakir miskin dan ibnussabil.

Apalagi di Jakarta sbg Ibukota juga tempat istananya Presiden, yang juga terdapat tempat kerjanya Presiden, hingga Departemen2 menteri2, panglima militer, panglima polri, hingga para konglomerat.

Dan status kebangsawanan dzuriyat kel.P.Jayakarta juga dzuriyat kasepuhan gunung sepuh. Tapi ironisnya di kota dengan hak otonomi daerahnya, kel.Pangeran Jayakarta tak mendapatkan bahagian semestinya di hak istimewanya, di dan dari kotanya sendiri, Jakarta, jadi kontroversi ketidakadilan pula.

Contoh yang punya usaha pun, di realita kini, hanya maksimal sebagai UKM di sablon bahkan di pasar, perlengkapan usaha percetakan sablonnya pun masih dengan tradisional, berbanding ada yang telah pakai peralatan modern, spt DTG. Bahkan soal kepemilikan kendaraan pribadi, berbanding ada yang hingga punya kendaraan lebih dari 1,2, bahkan bermobil mewah, di kel.PJayakarta yang sudah baligh, masih hanya mampu naik bus umum. Sepedanya pun turut raib gara2 kebodohan kakaknya, asal di kasih ke orang, padahal masih butuh, mobil sekedar 1 buat bawa karya lukisan misalkan, di banding harta dan pekerjaan yang di milikinya dan sekesanggupannya. Itu sudah spt mencurangi takaran hak spt di QS Thoffif (gol orang-orang curang) sebenarnya. Padahal menurut hak istimewanya sayid dzuriyat itu juga punya hak memajaki di tiap hak otonomi daerahnya, di sesuaikan hak kerajaan besar (QS An-Nisa’ 54) dan pasal 18 BAB OTONOMI DAERAH UUD 45. Itu saja masih di urusan demikian, belum hingga di urusan meneruskan memelihara peninggalan tanah sawah,kebun, apalagi hingga membangun rumah gedong sebagai sisa satu2nya kastilnya sekalian sebagai rumah mandor pengawas di usaha keluarganya di bidang agrobisnis.

Tubagus Arief Z-art

‘Anak’ di becak Jakarta-1996, by Tubagus Arief Z.
Oil painting on canvas.
Size : 120 X 90 cm

Tb Arief Z-art

Petani di penitipan sepeda pasar Petanahan, Karang anyar, Kebumen. (2010 dan 2012), by Tb Arief Z

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s