Album-history of elder royal family of Java: Surosowan Kahibon-P.Jakarta-Dul Gendhu (keluarga keraton Kota Gede Mataram)

Surosowan-Jayakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Elang bondol fly. Elang Bondol is mascot satwa Jakarta-as fly-bebas aktif. Efek Adobe Psd, by Prince Jakarta, Tubagus Arief Z

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Wayang kulit purwa Betawi

Tubagus Arief Z-art

Still life at lonely singleness waiting time- (sketsa1999), by Tubagus Arief Z

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu Tubagus Arief Z

Tubagus Arief Z dan Mbah Raden Arjuna :Wayang golek pakuan Bogor
Dzuriyah Syarif Suronata Sunda-Jawa-Indonesia, Mamluk Mesir-Libya (north Afrika), Syarif Qudds/Palestina, Tionghoa purba-Demakmoro, kaukasia Jawa-Eropa Belanda-Belgia-Flanders-Suriname, License to kill, owner of privilige right QS An-Nisa’54 (Empire Sultanate, elder dzuriyah/Syarif), pasal 18 UUD 45.

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

wayang golek Pandawa khas pakuan Bogor sunda galuh

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Wayang Wali Songo

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

sunankalijaga

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Candi gedong songo di Dieng

Candi Gedong Songo termasuk peninggalan candi purba tertua di Jawa dan Indonesia. Mungkin juga termasuk peninggalan masa kerajaan purba Mataram. Terletak di  barat Jawa Tengah, setelah memasuki gerbang batas propinsi Jateng di tandai tugu P.Diponegoro di atas kudanya. Suhunya sangat dingin, bahkan dari pemberitahuan saudara, sampai bila menghembuskan nafas, keluar asapnya, seperti pemandangan di Eropa ketika dingin.

Tapi dari tayangan berita kini, ironisnya ada pengunjung liar yang hingga mencoret2 bahkan di bagian candi.

Di kawasan pariwisata Gedongsongo Dieng, juga terdapat fasilitas penyewaan menunggang kuda sambil menyusuri sekitar kawasan Dieng.

Surosowan-P.Jakarta Dul Gendhu-P.Tubagus Arief Z.DG-MP

Keluarga Dul Gendhu Mataram R.Moelyopratomo-Moelyowihardjo dengan mobil Ford sport klasik

Foto Bude  Nardi, Yogya-Sosrowijayan Malioboro dan Pakde Dono (rumah gedong Solo) waktu remaja di halaman rumah gedong Mbah R.Moelyopratomo dengan peninggalan mobil Ford-sport Klasik Kakek R. Moelyopratomo

Terdapat cerita dari saudara, kalau Kakek R. Moelyopratomo dulu sempat termasuk sebagai konglomerat Jawa. Dan memiliki rumah gedong, di beberapa kota dan wilayah di Jawa, tanah-tanah sawah, kebun, hingga rumah sakit dan perusahaan. Bahkan juga memiliki simpanan harta emas. Tapi mungkin rumah sakitnya sekedar sebagai sarana pelayanan sosial bagi rakyat. Dan pemasukan hartanya dari perusahaannya, termasuk dari bisnis agrikultur seperti cara orang dulu.

Di wilayah Petanahan dan Kebumen dulunya di sebut orang Malang, termasuk wilayah lahan agrikultur tersubur di Jawa, sejak masa masih termasuk wilayah kerajaan Galuh. Dari sejarahnya kerajaan Galuh kemudian di taklukkan kesultanan Cirebon, dan sebagian wilayahnya jadi Cirebon, Kuningan, dan wilayah kesultanan Mataram (masa Sultan Agung-keraton Kota Gede). Di masa nasional, Kebumen jadi masuk ke Propinsi Jateng. Kemudian di masa RUUK Sultan Ngayogyakarta, masuk ke Propinsi DI Yogyakarta.

Di Kebumen, hingga di Petanahan, juga terdapat di dekatnya pegunungan, yakni  gunung Dieng (situs candi purba Gedong Songo/Candi Dieng) dan gunung Slamet (di balik utaranya Temanggung). Maka di Kebumen yang dekat gunung terdapat juga lahan sawah, di samping hasil teh dan tembakau. Makanya di pasar Petanahan sempat di jumpai justru hasil tembakau/rokok masih berharga sangat murah (yang di jualnya masih berupa bungkusan kiloan tembakau) ketimbang di kota Jakarta. Dan bedanya juga dari filternya, di samping pajak cukai ke pemerintah, dengan ketentuan tarif dari pemerintah. Harga rokok nasional sebenarnya yang membuat jadi terus naik juga termasuk akibat buatan pemerintah dan cukong. Memang ironisnya di produk rokok kurang juga di selipkan tanda anjuran batas usia, misal buat 30 tahun ke atas. Padahal di segi lain, pabrik rokok juga termasuk membuat penyediaan lapangan kerja.

Adapun letaknya Petanahan, pantai Karang Anyar juga persis di sebelah barat pantai Bantul dan parangtritis, Yogyakarta.

Menurut cerita, kakek memiliki kendaraan hanya Ford sport klasik dan kereta kuda. Bahkan mobilnya jarang di pakai, tapi kakek R.Moelyopratomo kebanyakannya berkuda, mobilnya hanya di pakai jika ada keperluan keluar kota. Ada juga yang menyebut orang dulu Mataram tidak bisa lepas dari kebiasaan berkuda, seperti tradisi. Maka orang dulu Mataram tubuhnya tinggi-tinggi, mungkin seperti info sebenarnya mengenai sosok P.Diponegoro. Di mana simbol Mataram juga kuda. Tapi wilayah kota di Jawa dulu beda dengan kini, bersamaan pupusnya tradisi dulu, dan bertumbuhnya generasi di masa modern.

Rumah gedong Kakek R.Moelyopratomo pada tahun 1937 di bom oleh pesawat militer Belanda. Terdapat infonya di web menyebut waktu itu Belanda membuat pangkalan militernya di Australia, dan melakukan latihan militer di sekitar pantai Karanganyar, Kebumen.

Dan di sejarah juga terdapat beberapa kali Belanda membom sekitar wilayah Kebumen, termasuk di agresi Belanda, waktu itu juga sempat terdapat info bahwa Kebumen termasuk kantung utama lumbung logistik buat keperluan gerilyawan di masa perang gerilya kemerdekaan.

Tapi kontroversinya adalah, tiada dari perwakilan negara Belanda yang mau mengganti rugi soal kejadian kena bomnya rumah gedong kakek R. Moelyopratomo. Padahal jika di taksir nilai ganti rugi sebagai tanggung jawab hutang negara Belanda pada segenap anggota keluarga R. Moelyopratomo adalah sekitar milyaran rupiah. Dan anggota keluarganya perkiraannya sekitar seratus orang.

Karena di rumahnya juga terdapat banyak ornamen desain keramik batik Jawa, tapi keramiknya produk Italia, yang memang di pesan oleh kakek R. Moelyopratomo, langsung dari Italia. Yang berarti juga yang di bom negara Belanda di rumah gedong kakek R.Moelyopratomo juga keramik yang bahannya dari gunung dari Italia.

Memang terdapat pula hiasan terali besinya seperti rumah jaman dulu, berpola motif Jawa, dan bahannya dari Jawa, seperti di ketahui dari kota Gede dan Yogya juga terdapat kriya logam.

Dan yang tersisa tinggal alas lantai dan tangga betonnya saja di reruntuhan rumah gedong kakek R. Moelyopratomo.

Dari kejadian tersebut, bisa berarti negara Belanda waktu itu sama dengan mengebom rumah gedong keluarga R.Moelyopratomo dan Italia, dan di kontroversinya negara Belanda masih belum juga memberikan ganti rugi layak dan masih berhutang pada keluarga R.Moelyopratomo milyaran rupiah. Malah bisa jadi puluhan milyar rupiah, karena keramik batik Jawa bahan keramik Italianya juga banyak, dari buat pelapis lantai hingga dindingnya.

Adapun di antara yang nampak di foto ini (alm) Pakde Dono (kedua dari kiri berbaju Jawa warna putih dan mengenakan atribut ningrat Mataram), tinggalnya di rumah gedong Solo. Juga anggota keluarga R. Moelyopratomo dan Mbah Moegirah Moelyowihardjo (dari keraton Kota Gede). Dan dari bantuan Pakde Dono, kakaknya alm Bapak yang membiayai pembelian tanah dan pembangunan rumah kediaman (alm)Bapak R. Teguh Pratomo, di jl. Bangka raya, di tahun 1965.

Tadinya Pakde Dono yang sempat jadi Wali soal warisan peninggalan kakek R.Moelyopratomo, sebagai saudara sulung, kemudian setelah mangkat di ambil alih Bude Sri dari Paseban (Bude Paseban), Jakpus.

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu-Tubagus Arief Z-art doc

Mbah puteri Klaten Moeghirah Moelyowihardjo (Nenek dari alm-Bapak, R.Teguh Pratomo)

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu Yo waktu Seskoad-tentara perempuan pertama RI 1945

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Markas API di Bekasi yang di bombardir Belanda dan AS, nampak Dr. Chaerul Saleh, Wikana, A.M Hanafi (kmd jadi dubes Kuba), by S.Soedjojono

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Sri Sultan HB IX dengan pernyataan Negeri Ngayogyakarto sebagai Daerah Istimewa dalam NKRI

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Chaerul Saleh dan Ibu Yo, di tanah air Indonesia,1950

Surosowan-P.Jayakarta art doc

Bude Sri (Bude Paseban) dan keluarga Pandawa modern Dul-Gendhu Moelyopratomo di 1964

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Di pernikahan Bude Pakde Paseban dgn (alm) Pakde Narjan (R.Soenardjan Pratomo), Pakde Moedji/ Pakde Pikun (R. Moedji Pratomo) dan bpk (R. Teguh Pratomo). sbg pengiring di rumah gedong di Solo, 1964

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Lamaran Bapak, R. Teguh Pratomo untuk menikah dgn Ibu, Tati Murtasih di pintu rumah(Nenek) Saidah Neneng Murdinah di jl.Pasirkudajaya, komplek Surosowan, Ciomas Bogor, Jabar

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Bapak, R. Teguh Pratomo Dul Gendhu-Mataram sedang menandatangani pernyataan menikah dg Ibu, Saidah Tati Murtasih, di saksikan Wali nikah dan Nenek, di 1965

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Bpk R.Teguh Pratomo Dul Gendhu Mataram sungkem ke Nenek, Ibu mertuanya di jl.Pasirkudajaya, komplek Surosowan, Ciomas,Bogor

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu-Bapak-Nenek seusai nikah, di jl.Pasirkudajaya, Ciomas Bogor1965

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu (Uwak) Yo menyalami Nenek di pernikahan Ibu-Bapak, di Pasirkudajaya Ciomas, Bogor, 1965

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Foto pernikahan Bapak-Ibu dgn Mbah Balitung, Mbah Dede, Ibu Yo, Pasirkudajaya, Ciomas Bogor,1965

Surosowan-P.Jakarta_Tubagus Arief Z-art doc

Foto nikah Ibu-Bapak dgn Nenek Saidah Neneng Murdinah di rumah jl. Pasirkudajaya, komplek keluarga Surosowan-Ciomas Bogor, Jabar, 1965

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Ibu Yo (Uwak Yo) berkebaya Padang-Sunda

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Dr. Chaerul Saleh berseragam Dewan Jenderal kehormatan, bersama Menpangad Letjen Ahmad Yani, sesama eks komandan gerilya

Surosowan-P.Jakarta_Tubagus Arief Z-art doc

Bapak, R. Teguh Pratomo dan temannya sewaktu pegawai angkatan lama di HI, 1973

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z art doc

Bapak dan Yayang Nurtanto (kakak sulung) wkt kecil dulu

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu-Tubagus Arief Z.

Kakak2 waktu kecil di reruntuhan rumah gedong Kakek R. Moelyopratomo (yang di bom Belanda-masa Hindia) di Petanahan, kabupaten Kebumen, pantai Parangtritis, Propinsi DI Yogyakarta

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Nenek, Ibu dan kakak2 di candi Prambanan, 1973

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu-Tubagus Arief Z-art doc

Mbah Moegirah Moelyowihardjo, (Mbah Klaten) sekitar 1973

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu-Tubagus Arief Z

Bapak dan Mbah Klaten

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu-Tubagus Arief Z-art doc

Mobil Bapak dulu, Fiat waktu di pakai mengunjungi Mbah Klaten di 1973

Mobil Fiat ini adalah  mobil pertama yang di miliki (alm)Bapak. Bahkan Bapak pernah membeli lagi versi sedannya. Kemudian di beli oleh Pakde Moedji ( waktu itu masih dosen IPB) yang langsung taruh uang segepok. Bapak menjualnya walaupun mobil Fiat itu juga kesayangannya.

Kemudian Bapak mengganti dengan mobil Holden Kingswood station wagon. Tapi dulunya Bapak juga penggemar Fiat. Di samping soal bahan bakar, Fiat lebih irit ketimbang Holden. Dan mesinnya lebih bagus, awet. Seperti di masa kini bahkan tim F-1 terbaikpun masih dari Italia, Ferrari.

Bahkan Bapak hingga memberi nama salah satu puteranya dengan nama mobilnya dulu, yakni pada saya. Ada kenangan sejarah keluarga Bapak berhubung dengan keramik desain motif batik Jawa yang di pesan kakek R.Moelyopratomo dengan bahan keramiknya dari Italia. Tapi rumah kakek R.Moelyopratomo malahan di bom Belanda.

Entah kenapa ada ningrat Mataram termasuk kesukaannya produk Italia, bahkan seperti contoh Setiawan Jodi yang bahkan hingga memiliki perusahaan Lamborghini.

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Nenek membesuk Ibu Yo waktu sakit 1978, di rumahnya di jl. Gg Melati, Puncak, Bogor, Jawa Barat

Kisah rumah gedong Kakek R. Moelyopratomo di Petanahan, pantai Karang anyar, kabupaten Kebumen, Propinsi DI Yogyakarta.

Rumah gedong kakek R. Moelyopratomo, seperti di sebut warga lama sekitar sejak dulu, rumah gedong, karena waktu itu merupakan rumah gedong satu-satunya di sekitar kawasan Petanahan Kebumen, yang dengan halamannya nyaris seluas istana merdeka di Jakarta.

Rumah gedong Kakek R.Moelyopratomo pada tahun 1937 di bom oleh pesawat militer Belanda. Terdapat infonya di web menyebut waktu itu Belanda membuat pangkalan militernya di Australia, dan melakukan latihan militer di sekitar pantai Karanganyar, Kebumen.

Dan di sejarah juga terdapat beberapa kali Belanda membom sekitar wilayah Kebumen, termasuk di agresi Belanda, waktu itu juga sempat terdapat info bahwa Kebumen termasuk kantung utama lumbung logistik buat keperluan gerilyawan di masa perang gerilya kemerdekaan.

Tapi kontroversinya adalah, tiada dari perwakilan negara Belanda yang mau mengganti rugi soal kejadian kena bomnya rumah gedong kakek R. Moelyopratomo. Padahal jika di taksir nilai ganti rugi sebagai tanggung jawab hutang negara Belanda pada segenap anggota keluarga R. Moelyopratomo adalah sekitar milyaran rupiah. Dan anggota keluarganya perkiraannya sekitar seratus orang.

Karena di rumahnya juga terdapat banyak ornamen desain keramik batik Jawa, tapi keramiknya produk Italia, yang memang di pesan oleh kakek R. Moelyopratomo, langsung dari Italia. Yang berarti juga yang di bom negara Belanda di rumah gedong kakek R.Moelyopratomo juga keramik yang bahannya dari gunung dari Italia.

Memang terdapat pula hiasan terali besinya seperti rumah jaman dulu, berpola motif Jawa, dan bahannya dari Jawa, seperti di ketahui dari kota Gede dan Yogya juga terdapat kriya logam.

Dan yang tersisa tinggal alas lantai dan tangga betonnya saja di reruntuhan rumah gedong kakek R. Moelyopratomo.

Dari kejadian tersebut, bisa berarti negara Belanda waktu itu sama dengan mengebom rumah gedong keluarga R.Moelyopratomo dan Italia, dan di kontroversinya negara Belanda masih belum juga memberikan ganti rugi layak dan masih berhutang pada keluarga R.Moelyopratomo milyaran rupiah. Malah bisa jadi puluhan milyar rupiah, karena keramik batik Jawa bahan keramik Italianya juga banyak, dari buat pelapis lantai hingga dindingnya.

Surosowan-P.Jakarta-Tb Arief Z-art doc

Di rumah Paseban Pakde Toto dan Bude Sri berfoto dengan sekeluarga dan pribadi waktu bayi sesebaya dg Mas Dimas (kini arsitek)

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Pernikahan Om Toto-Bibi Anti Sinaga di Jateng

Om Toto adalah kerabat dari adik (alm)Bapak, yang  masih tersisa di 2013 ini, dari kerabat sulung Bude Sri Pakde Toto Paseban, Pakde Narjan-Surabaya, Pakde Moedji-Sempur, hingga (alm) Bapak, Om Bud, dan Om Is sudah mangkat semua.

Dulu ingatnya masih di tingkat siswa SMPN di 13, jl. Tirtayasa, Jaksel, waktu turut dengan sekeluarga di undang menghadiri pernikahan Om Toto dengan Bibi  Anti Sinaga ini.

Om Toto ini sejak dulunya termasuk kerabat paling baik dan dekat, juga Bi Anti. Dari Ibu di beritahukan Bi Anti ini ternyata masih kerabat, yang masih ada hubungan kerabat dengan keluarga Pak Chaerul Saleh. Memang Pak Chaerul Saleh/Uwak Lung juga berasal dari keluarga Batak/ Tapanuli muslim. Nampak di marganya Pak Chaerul Saleh dari keluarga Saleh, Bi Anti dari marga Sinaga.

Jika di hubungkan dengan bacaan, marga Si itu berasal dari Singosari-Indrawarman, bangsawan Singosari yang dulu sempat di tempatkan dimisi Pamalayu masa Prabhu Kertanegara, kemudian menetap di Tapanuli. Jadi peranakan Singosari-Jawa dan Tapanuli.

Dan menurut bacaan dari buku Runtuhnya masa kejayaan Singosari-Majapahit Hindu ke Kerajaan Islam, tulisan Prof.Slamet Mulyana, Indrawarman mendirikan kerajaan, kemudian ketika jadi kesultanan jadi kesultanan Deli.

Marga Si ini terdapat misalkan marga Sinaga, Saleh, Siregar, Simorangkir, Simalungun, dll. Di masa Raja Bataknya, Sisingamangaraja, pahlawan nasional.

Ada pun Om Toto lahirnya di Wonogiri, yang juga di sebut darinya, tempat terjadinya perjanjian Giyanti-wangsa kesultanan Mataram. Hingga terpecah jadi keraton kesultanan kanoman Surakarta,  kanoman Pakubhuwono, dan kanoman Ngayogyakarta, semuanya jadi kesultanan. Tapi keraton yang tersulung, keraton Kota Gede tidak jadi kerajaan, tapi masih berstatus keraton kasepuhan di antaranya.

Kalau Bapak dan Ibu sama berasal dari keraton kasepuhan Kota Gede, atau di sebut juga Dul Gendhu. Adapun Om Toto adik (alm) Bapak dari satu kakek R.Moelyopratomo, lain Ibu. Tapi sudah sangat dekat hubungan kerabatnya, sudah seperti bagian dari kerabat Bapak-Ibu Dul Gendhu.

Memang di jaman modern ini, telah lama keraton Mataram terpecah-pecah, dan terasanya seperti sendiri-sendiri,berjarak atau ketika melihat di masa orba, hingga kemudian apalagi Sultan-sultannya, seperti nampak berkuasa dan istimewa sendiri dengan berbatas keraton dan pagarnya. Padahal ada pepatah di atas langit ada langit, di atas mereka walau telah berstatus Sultan, masih ada kasepuhannya.

Memang hingga di fenomena modernnya punya kerabat jadi publik figur-orang kaya itu malah di pertanyakan maslahat, sedekah dan menjalin silaturahminya dengan kekerabatan. Seperti nampak di sebutan hadits Nabi SAW., salah satu tanda akhir jaman, kerabat-kerabat terputus silaturahminya. Apalagi jika berkerabat seperti dengan Sultan dan keluarganya, Ibu Megawati Soekarnoputeri dan keluarganya, Ki Gus Dur dengan keluarganya, hingga mantan keluarga Presiden Soeharto/keluarga Cendana, yang juga ada penghalang pagarnya.

Atau seperti nampak di televisi ketika jadi pejabat, atau pengusaha konglomerat anaknya pejabat, berucapnya di televisi soal ekonomi, membantu rakyat, tapi ironisnya kerabat sendiri bahkan yang masih fakir miskin terabaikan. Atau berkoalisi hanya dengan figur atau kelompok politik, konglomerat yang kuat tapi hanya untuk keuntungan pribadi.

Atau pernah mendengar isu Tommy Soeharto ketika di depan Tinton Soeprapto hingga berucap, Udahlah mau duit berapa nih gw ada duit seember, tapi apa pernah menawarkan hartanya pada kerabatnya yang sedang kekurangan modal usaha di tengah kemiskinannya .

Padahal dulunya kesatuan Pandawa. Kemudian terpisah lagi, bahkan bisa seperti perpecahannya R.Gatotkaca dan Antasena. Malah pernah dengar dari ucapan adik, soal duit mana kenal sodara. Mungkin dari situlah perpecahannya, seperti sejak terjadinya cerita pralaya Bharatayudha, soal jatah harta, takhta. Atau berhubung ucapannya Ki Sunan Kalijaga yang juga pernah jadi dalang pencipta lakon Jamus Kalimasada : Adiluhung, rasa keadilan.

Terdapatnya di hadits Nabi SAW., ketika mendapat pertanyaan dari salah satu umat yang mengaku sudah bersedekah, tapi di sela Beliau SAW., Mulailah bersedekah justru pada sanak-kerabatmu yang masih fakir miskin. Kemudian jika masih mampu bersedekah pada fakir miskin lainnya.

Surosowan-P.Jakarta Dul Gendhu-Tubagus Arief Z

foto remaja dg kakak2 di borobudur

Surosowan-P.Jakarta-Tubagus Arief Z-art doc

Waktu di rumah Pakde Nardjan bersama Bude Yani dan Mas Danang,si Mbok, Ibu, kakak2, adik di jl. Dinoyo, Surabaya

Surosowan-P.Jakarta-Dul Gendhu Tubagus Arief Z-art doc

Foto wkt kecil berpakaian Sharif dg mini-gunnya bersama kakak dan adik

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s