Dari Wali Songo di seni budaya, sejarah kasepuhan-Jakarta, hingga Ismail Marzuki, Bang Ma’ing the historical musician of Jakarta

Di masa para Wali Songo yang juga masih sekekerabatan, diantaranya juga terdapat sebagai pembuat karya seni.

Yang paling sebagai seniman serba bisa adalah Ki Sunan Kalijaga, beliau pandai melukis, menggambar, bermusik, menjadi dalang, bahkan beliau juga menciptakan alat musik dan lakon/ cerita wayang. Ki Sunan Kalijaga juga pernah menciptakan lagu, di antaranya : Lir Ilir.

Ki Sunan Kalijaga bahkan juga terdapat di sejarah sebagai pencipta karakter desain busana Jawa. Misal ketika beliau mengenakan blangkon dengan pakaian lurik-lurik di hias kain Jawa dengan ciri motif-motif dan hiasan lurik. Juga dari Ki Sunan Kalijaga.

Adapun corak kain sarung bermotif kotak-kotak mungkin juga berdasar namanya berasal dari Banten. Karena pakaian prajurit Surosowan / prajurit kerajaan Banten, juga bermotif kotak-kotak. Dan motif kotak2 juga masuk ke ornamen motif di khas tradisional Jakarta.

Gurunya, Ki Sunan Bonang juga ahli memainkan alat musik. Yang juga merupakan asal namanya, yaitu alat musik Bonang, berupa suling yang di tiup mengeluarkan suara merdu.

Hingga puteranya Ki Sunan Kalijaga, Sunan Muria juga meneruskan beliau sebagai pemusik tradisional di masanya. Hingga di Yogyakarta masih ada di acara tradisinya bersumber dari Ki Sunan Kalijaga.

Terdapat di sejarah, Ki Sunan Giri juga bisa berkegiatan di seni musik. Beliau juga menciptakan lagu, di antaranya Gundul-gundul Pacul, cublak-cublak suweng.

Juga pada Ki Sunan Gunung Jati, nampak di sejarah Cirebon juga pernah menciptakan lagu yang pesannya untuk memelihara ketenteraman, dan rasa damai.

Lagu itu di ciptakan setelah beliau melalui usianya yang panjang ke-105 tahun lebih juga telah melalui masa-masa perang jihad, sejak masa perang Suronata melawan penguasa pemerintah korup, sewenang-wenang, tidak adil, hingga masa perang Jayakarta melawan masuknya penjajah Portugis ke Indonesia.

Di antara liriknya Yo ayo jangan mudah ketawuran. Lebih baik jaga rasa persatuan dan perdamaian (versi aslinya dengan bahasa Cirebon). Karena waktu itu sudah memasuki ke masa damai, dan kekuasaan pemerintahan dan negara juga di pegang Wali Ki Sunan Gunung Jati dan putera-puteranya menjadi Sultan-sultan dan di bantu dengan Ki Fatahilah yang juga sudah memasuki usia tua.

Dari Ki Sunan Kudus yang nampak partisipasinya di seni adalah di seni arsitektur, seperti nampak di bangunan Masjid Kudus memadukan gaya Majapahit dan Palestina/ Qudds.

Ki Sunan Kudus juga yang membuka cara tenggang rasa/ tepa selira, misal di waktu tradisi merayakan hari raya Qurban, boleh menggunakan kambing. Dan bertenggang rasa dengan peninggalan kepercayaan penduduk walau sudah umat Islam tapi sejak transisi dari Hindu masih mengistimewakan satwa sapi. Di Hindu, satwa sapi seperti simbol hewan istimewa.

Mungkin di seni budaya, para Wali Songo bukan lagi masuknya di golongan musisi tua, tapi golongan ketuaan. Tapi hasil-hasil karyanya juga masih terdapat dalam koleksi keragaman khazanah seni musik di Indonesia yang juga di tempatkannya di jenis seni tradisional, dan lagu daerah.

Di mana di peninggalan hasil-hasil lagu daerah terdapat juga karya-karya adiluhung seperti Es lilin-Kelapa muda, Pileleuyan, Jali-jali, Surilang Njot-njotan, Kicir-kicir, Ampar-ampar pisang, rasa sayang-sayange, dll, yang bahkan di antaranya tidak di ketahui siapa sebenarnya para pencipta lagunya. Cuma di ketahui di sebut lagu daerah asal Jakarta, Sunda, Papua, Sumatera, Jawa, dll di Indonesia.

Dan nampaknya lagu-lagu daerah kebanyakan iramanya riang-riang, memberi motivasi semangat, mungkin juga di hubungkan untuk turut memotivasi baik semangat rakyat di tiap-tiap daerah. Yang menampakkan juga sifatnya orang-orang tua moyang dulu sebagai pengayom dan pemotivator baik hingga buat anak bangsanya kelak.

Dan Ki Sunan Kalijaga juga pernah memberikan ucapannya mengenai prinsip seni, adalah untuk menciptakan seni adiluhung. Seni yang juga bukan sekedar kualitas mutu mengikut selera kapital, tapi juga bersifat luhur, baik, ada rasa keadilannya.

Surosowan-Jakarta art doc

Pangeran_Jayakartahttp://www.sufiz.com/kisah-mujahid/pangeran-jayakarta-membumihanguskan-sunda-kelapa.html

Dari hubungan sejarah Wali Songo ke transisi sejarah awal berdirinya kota Jakarta.

Keluarga kesultanan-kesultanan Jawa ke keluarga kasepuhan Pangeran Jakarta.

Dari penelusuran sejarah asal-usul keluarga Raja-raja di Jawa, di temukan bahwa walau tidak menjadi para Sultan di masa modern, tapi ternyata segenap keluarga Pangeran Jakarta ini di temukan juga sebagai keluarga kasepuhan para Raja.

Dan pada 1947, Presiden I RI, Ir. Soekarno hingga mendatangi residen bangsawan Kiai Banten, termasuk sejak itu terjadi pemindahan ibukota di Jakarta tadinya sempat di Bandung dan Yogyakarta.

Memang ironis juga di Jakarta yang nampak seperti di realita kini hanya kebanyakan soal fasilitasi keistimewaan Presiden, Wapres, Ketua MPR, DPR dengan para anggotanya sebagai pejabat kehormatan istimewa di ibukota Jakarta. Atau Gubernur dengan Wagub DKI yang nampak di tonjolkan, tapi memang layak jika pengabdiannya buat rakyat, menghargai hak-hak rakyat secara benar adil.

Bahkan jika di jalan umum nampak pejabat mendapatkan kawalan protokoler hingga jika lewat jalan umum di kosongkan dan di amankan khusus buat pejabat, sementara anggota keluarga Pangeran Jakarta, bangsawannya lokalnya kota Jakarta sendiri dari bus umum, motor, atau mobil murahan ikutan melihat di posisi jalan yang macet dan di kebelakangkan.

Padahal mereka juga punya hak istimewa menurut UUD 45 pasal 18 BAB Otonomi Daerah, sebagai keluarga keratonnya kota Jakarta. Di mana bahkan simbol, fasilitasi residen keratonnya kota Jakarta saja tiada. Menampakkan kontroversi hak-hak privilisasinya keluarga Pangeran Jakarta yang di kesampingkan sejak lama.

Itulah Indonesia yang dengan adanya Pancasila, UUD 45, katanya demokrasi terpimpin jurdil, tapi nyatanya banyak terdapat inkonsistensi keadilan. Di samping banyak terdapat hak-hak rakyat justru di curangi, tidak di beri adil sesuai porsi hak penghidupan layaknya.

Tapi yang nampak para kapital di jadikan elit, tapi ironisnya keluarga Pangeran Jakartanya nyatanya justru tidak termasuk golongan elit, padahal sesuai UUD negara juga punya hak privilisasi jadi elit yang bahkan terdapatnya di ibukota NKRI sejak lama.

Keluarga Pangeran Jakarta sebenarnya terdapat dari beberapa keturunan bangsawan masih sekitar keturunan Pangeran Surosowan (putera ke-2 Prabhu Siliwangi dari Pajajaran) yang juga dari warga sejak lama di Jakarta. Meliputi :

1. Keturunan pernikahan Tubagus Angke dengan puteri ke-2 Sultan I Banten, Maulana Hasanudin dari istana Surosowan.

Tubagus Angke berdasar dari garis Ibunya, ialah Ratu Winahon, puteri anak sulungnya Ki Sunan Gunung Jati dari pernikahan dengan isteri ketiganya, Ratu Kawunganten, keturunan dari Dipati Surosowan, putera kedua Prabhu Siliwangi ( dari isteri pertama puteri manik mayang Sunda).

Adapun Ibunya Ki Sunan Gunung Jati Syarif Hidayatulah ialah, Nyai Rara Santang dengan kakaknya Pangeran Cakrabuwana adalah anak ke-3 dan ke-4 Prabhu Siliwangi dari isteri kedua, Nyi Rara Subanglarang, keturunan dari Dipati Mertasinga (Singapura) wilayah bawahan kerajaan Sunda Pajajaran di masanya.

Tubagus Angke, ayahnya ialah Pangeran Cirebon yang menikah dengan Ratu Winahon, kakaknya Maulana Hasanudin yang di angkat jadi Sultan I Banten Darussalam/ gunungsepuh Banten.

Di tradisi kesultanan Banten, dari keturunan laki-laki yang di utamakan menjadi Raja, tapi keturunan perempuan yang nyata sebagai sulung tetap di tempatkan sebagai kasepuhan. Sebagai contoh dengan keberadaannya keraton Kahibon di samping terdapatnya keraton Surosowan (yang hancurnya lebih dulu akibat Daendels).

2. Keturunan keraton terakhir, keluarga Kahibon-Kahinten kasepuhan kesultanan Banten (pengganti keraton kesultanan Banten, setelah keraton Surosowan di hancurkan Daendels). Keturunan terakhir keraton Kahibon ialah Ratu Kahinten yang juga menjadi Sultana Banten terakhir, dan dari puterinya menikah dengan pria muslim Belanda, kemudian berketurunan Pangeran Banten indo Belanda menikah dengan gadis mualaf muslimah Belanda, Marcy/Marrietje, berketurunan Pangeran Mohammad Damien yang kembali menikahi puteri2 Jakarta dan Rangkasbitung dari Banten.

Dan di sebutnya keluarga Pangeran Mohammad Damien yang juga sejak masa Batavia dengan keturunannya telah lama tersebar menjadi warga Betawi-kasepuhan di Jakarta hingga kini.

Hingga di kenyataan modern, keraton kasepuhan Kahibon sebenarnya telah berpindah di Jakarta. Sejak Pangeran Mohammad Damien meninggalkannya dan pindah ke Jakarta, karena urusan pekerjaan. Bahkan beliau sempat karena pekerjaannya jadi memiliki tanah luas buat keturunannya di Bogor. Di samping keturunannya ada di Jakarta, Rangkasbitung, Propinsi DI Banten.

Hingga Kahibon modern di Jakarta turut berkedudukan sama dengan residen-residen keluarga Pangeran Jakarta, yang juga warga-warga lama Jakarta di masa modern kini.

Bahkan di 2012, sekedar untuk partisipasi di festival keraton nusantara di 2010-2012, perwakilan dari Banten hanya menggelari sebagai Sultan muda Banten, di samping jika mau aduan latar silsilah asal-usul istimewa kedaerahan sebagai berasal dari kelompok kasepuhan keluarga keraton kesultanan Banten, juga tak nampak darinya.

Dan di masa Sir Thomas Stamford Raffles juga terdapat data sejarah, terdapatnya di antara keluarga kesultanan Banten ada yang di angkat menjadi Bupati-bupati misal di Pandeglang, Serang. Misal seperti keluarga P.Achmad Jayadiningrat yang tertulis dari Ibunya dari puteri keturunan Bupati Pandeglang.

Tapi juga di masa Raffles yang di angkat jadi Bupati-bupati dari keluarga kesultanan Banten juga dari kelompok adik-adik kekerabatan dari segenap keluarga kesultanan Banten.

Sedangkan yang kelompok keluarga sulung masih di tempatkan di keraton terakhir, keraton Kahibon, masih bertakhta sebagai Ratu Kahinten.

3. Keturunan pernikahan Ki Fatahilah dengan Ratu Ayu Pembayun (yang di ambil isteri oleh Ki Fatahilah, dari mendiang Sultan II Demak, Yunus/Pangeran Sabrangler). Ratu Ayu Pembayun juga termasuk puteri bungsu kesekiannya Ki Sunan Gunung Jati.

Menurut sumber sejarah dari buku Sejarah Cirebon tulisan PS Sulendraningrat, Ki Fatahilah bernama asli Fadilah Khan, Pangeran Samudera Pasai yang berasal dari keturunan Sultan Samudera Pase, Sultan Hud.

Makanya ketika Fatahilah di angkat menjadi Panglima Demak (masa Sultan III Demak, Trenggono/Tung-Ka-lo), dan mendarat di pelabuhan Cirebon, kemudian pelabuhannya di namai pelabuhan Pesambangan, di sebut di buku itu masih ada pelabuhannya di Cirebon.

Dan keturunan Ki Fatahilah-Ratu Ayu Pembayun di tempatkan di urutan ketiga di segenap keluarga Pangeran Jakarta, karena berdasar temuan dari buku sejarah Cirebon tulisan Pangeran Cirebon, Sulaeman Sulendraningrat, Ki Fatahilah masih anak kemenakan (anak adik sepupu) dari Ki Sunan Gunung Jati. Di masa peristiwa melawan penjajah Portugis, Ki Sunan Gunung Jati berusia 105 tahun, Ki Fatahilah berusia sekitar 50-an tahun, dan putera sulungnya Ki Sunan Gunung Jati yang di angkat menjadi Sultan I Banten, Maulana Hasanudin masih berusia sekitar 30-an tahun.

Tapi di posisi status kekerabatan walau Maulana Hasanudin berusia lebih muda di posisi status kerabat sebenarnya masih sebagai kakak sepupu Ki Fatahilah, tapi karena memandang dan menghormati posisi Ki Fatahilah sebagai Panglima kesultanan Demak yang waktu itu terkuat di Jawa, juga menikahi Ratu Ayu Pembayun (mantan janda mendiang Sultan II Demak, Yunus/P.Sabrangler) dan karena di angkat sebagai penasihat Raja Banten, melalui ayahanda Ki Sunan Gunung Jati, Maulana Hasanudin memanggilnya Kanda. Juga dengan memandang bantuan dari Ki Fatahilah merebut Banten, hingga mendirikan istana, masjid, Tiamah, benteng, laskar, artileri.

Memang yang nampak di sejarah juga, dari antara keturunan Syekh Jamaludin al-Husain, yang nampak yang putera sulungnya Syekh Ali Nurul ‘Alim (di garis patrilinealnya Ki Sunan Gunung Jati, ke putera sulung/ gunungsepuh Surosowan, Maulana Hasanudin) yang dari keturunannya justru berketurunan paling belakang. Atau karena di usianya yang memasuki usia pemuda tua mengambil isteri yang berusia jauh lebih muda. Sebenarnya kerabat kasepuhan tapi bernampak berusia lebih muda-muda.

Atau seperti di realita modern, nampak di sekeluarga bersaudara yang paling duluan menikah yang bungsunya. Hingga berketurunan duluan. Hal-hal ini juga termasuk unsur-unsur terdapatnya golongan muda ternyata kasepuhan muda.

Tubagus Arief Z art-doc

Ki Fatahilah Pahlawan pendiri Jakarta

Keturunannya Ki Fatahilah dengan Ratu Ayu Pembayun di sebut juga Pangeran Jayakarta. Terdapat di website hingga terdapat 4 keturunannya, yang sulungnya Pangeran Zakaria (yang makamnya di duga  yang di Matraman), hingga Pangeran  Wijayakrama.

Hingga kini pernah bertemu tetangga yang mengakunya keturunan Pangeran Jakarta dari Pangeran Wijayakrama. Dan ia juga pernah jadi ketua Pamswakarsa yang koordinasi dengan Jenderal Syafrie Samsudin. Yang juga di bawahannya Jenderal Wiranto waktu sekitar peristiwa 1998.

Dan setelah pertemuan dengan tetangga tersebut jadi tahu masih kerabat, yang juga sama di segolongan Pangeran Jakarta.

Keturunan Pangeran Jayakarta dari Ki Fatahilah ini yang di masa melawan penjajah Portugis di misteriuskan. Hingga masa awal VOC Belanda-J.P Coen melakukan pembumihangusan di kota Jayakarta.

Di misteriuskan karena masih di dalam masa gerilya, merebut kembali kekuasaan di kota Jakarta dari penguasaan monopoli kapital kumpeni VOC yang juga bersifat koruptif, manipulatif, katebelece (mempersulit), menindas, semena-mena, menciptakan hukum yang tidak adil dan menyusahkan ke rakyat kecil tapi menguntungkannya buat golongan elit kaya-kaya.

Dan di atas puing-puing kota Jayakarta di dirikan Batavia. Tapi 3 abad kemudian jadi Jakarta lagi, dari telusur di temukannya sejak masa masuknya Jepang.

Dan sejak masa Batavia hingga kembali menjadi Jakarta, telah berabad lamanya kota Jakarta menjadi tempat ibukota, pusat pemerintahan, tempat para pejabat elit pusat bercokol.

Hingga kini, masih terdapat pemusik orkes keroncong-Betawi yang mengenakan pakaian bermotif kotak-kotak sebagai simbol pendukung keluarga Raja di Jakarta. Yang sebenarnya keluarga Raja lokal di Jakarta juga adalah para kasepuhan kini di kesultanan Banten, dan Jawa, berdasarkan telusur silsilah yang telah di sebut di atas.

Di masa Fatahilah sedari posisi jabatannya sebagai penasihat Sultan I Banten Maulana Hasanudin, kembali bertugas sebagai Panglima laskar Macan Ali, di misi melawan masuknya penjajah Portugis di Jawa, melalui penempatan benteng militernya di Sunda Kelapa, kota Surakarta (kemudian jadi Jayakarta).

Di mana Prabhu Pajajaran, Surawisesa juga telah menjalin perjanjian dengan Portugis. Malahan berakibat sekekerabatan para Pangeran Pajajaran yang umat Islam, jadi bangkit melakukan pemberontakan, untuk sekalian saja mengambil alih kekuasaan negara.

Memang di segenap anak-anaknya Prabhu Siliwangi, yang tersulungnya ialah Sangiang yang juga di tunjuk sebagai pewaris takhta, kemudian di teruskan puteranya, Prabhu Surawisesa. Dan dari keturunan Prabhu Siliwangi, dari putera ke-2 Sang Surosowan, ke-3 Pangeran Cakrabuwana (Pangeran kasepuhan Cirebon), perwakilan anak ke-4 (Nyai Rara Santang) Ki Sunan Gunung Jati, anak ke-5 putera ke-4 Pangeran Sengara/ Prabhu Garut Kian Santang, yang umat Islam semua, jadinya memberontak pada sepupu sulung-1, Prabhu Surawisesa.

Karena berkuasanya Prabhu Surawisesa sebagai Pemimpin-1 negara telah di anggap menyimpang dari mandat negara.

  • Ismail Marzuki, Bang Ma’ing salah satu musisi kebanggaan dari Jakarta
Surosowan-Jakarta-Tubagus Arief Z art-doc

Ismail Marzuki/ Bang Ma’ing historical musician of Jakartahttp://en.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki

http://en.wikipedia.org/wiki/Ismail_Marzuki

Ismail Marzuki lahir di Kwitang. Wilayah yang juga dekat sekitar jl. Kalipasir, Kramat jaya, Menteng, Cikini, Pasar Senen.

Ayahnya ialah pemilik autorepair otomotif juga memainkan musik rebana. Musik tradisional khas Betawi,  di samping Tanjidor (akulturasi Portugis), gambang kromong, dll.

Ismail Marzuki belajar musik secara otodidak.

Dan mungkin Ismail Marzuki adalah penciptanya musik jenis orkes keroncong di Indonesia. Dan jenis seni musik yang muncul dari Indonesia di antaranya juga adalah dangdut. Di mana hingga kini Rajanya masih Rhoma Irama, atau bernama asli Mangkudilaga dari kelahiran Tasikmalaya yang juga masih ada hubungan kerabat di Bogor dengan keluarga Surosowan.

Salah satu lagu ciptaannya yang terkenal adalah O, Sarinah. Yang lagunya menceritakan mengenai  kepedulian pada orang-orang miskin.

Sarinah kemudian jadi inspirasinya Presiden I RI, Ir. Soekarno di penulisan bukunya, Sarinah. Hingga ketika beliau mendirikan pasar Sarinah di Blok M kini dan di jl. Jenderal Sudirman, Jakarta.

Di bukunya Sarinah, Bung Karno menuliskan, bahwa seorang laki-laki untuk meraih kewajaran dalam hidupnya, pemimpin yang ksatria piningit membutuhkan perempuan hebat juga di belakangnya.

Surosowan Jakarta-Tubagus Arief Z art doc

Ismail-Mz-21http://irvanfanorama.blogspot.com/2012/01/ismail-marzuki-indonesia-pusaka.html

Karya-karya Ismail Marzuki lainnya yang juga menjadi karya-karya berharga di Indonesia, di antaranya Rayuan Pulau Kelapa, Indonesia pusaka, Gugur bunga lagu yang juga pernah di lantunkan setelah peristiwa tragedi 12 Mei 1998 pada peristiwa demonstrasi lanjutan yang di gelar mahasiswa dan rakyat., sambil membawa seperti sampel usungan keranda mayit korban 12 Mei 98. Di mana di lirik lagunya terdapat kalimat,,,gugur satu tumbuh seribu.

Untuk menantang pada aparat pembela penguasa zholim, walau ada korban tapi  juga masih bakal muncul rakyat yang bakal terus bertumbuh menyuarakan rasa keadilan. Waktu itu juga di masanya rakyat malah jadi tak takut gugur, akibat walau telah di ancam dengan penembakan pembunuhan.

Atau teringat, ketika menonton sepakbola tim Belanda, misal ketika masuk ke liga piala Eropa atau piala dunia. Di mana di bagian suporternya Belanda, dengan kerumunan baju warna oranye ada yang nampak membawa seperti terompet besar alat musik Belanda yang juga buat orang awam nampak mirip Tanjidor. Dan kemudian melantunkan lagu-lagu folklor Belanda yang terdengarnya mirip dengan lagu buat pelajaran lagu/musik buat anak-anak  di masa SD.

Teringat dulu waktu SD, sempat dapat guru tamu, yang juga musisi lama, Ibu dari Saladin yang kemudian menjadi pemain keyboard pencipta band lama, Emerald. Yang vokalisnya, Ricky Johanes baru di Maret 2013 kemarin tiba-tiba mangkat. Ada yang menduganya akibat berolahraga futsal. Karena sudah ada kejadian beberapa orang masih berusia muda, tiba-tiba nyeri di dada, sakit jantung juga akibat berolahraga futsal, contoh model, aktor dan anggota DPR dari f-Demokrat, Adjie Masaid.

Tapi memang pelajaran musik termasuk pelajaran yang susah di masa SD. Teringat dulu sampai jika misal tak hapal not-not buat tugas hapalan pelajaran meniup suling dengan menghafal lagu-lagu, kemudian oleh gurunya yang orang Batak bermarga Hutapea, siswanya di suruh memukul-mukulkan kepala ke meja belajar. Untungnya dari kayu yang sudah lama.

Teringat dulu waktu SD, termasuk paling takutnya di belajar mata pelajaran musik dasar, buat siswa SD.  Dulu di samping sempat di ajari sedikit pelajaran di meniup suling, juga pelajaran main angklung.

Tapi ironisnya kini sudah lupa semuanya. Pelajaran musik ingatnya ada hafalan-hafalannya juga sedari dasar. Seperti penyesuaian birama, tempo, dan ada irama presto (cepat), alegro, sedang, dan lainnya sudah lupa.

Ingatnya waktu SD dulu, masa 1980-an, jika pulang sekolah di tiap sore menonton hanya satu saluran TVRI, itupun sempat dari masa transisi dari hitam putih ke berwarna.

Tiap sorenya nampak Pak Tino Sidin dengan senyum dan gaya keramahan khasnya, kemudian setelah demo menggambar, memeriksa tiap karya kiriman anak-anak di masa sesebaya, dan selalu Pak Tino Sidin mengatakan bagus,,,bagus,,,tapi juga ada selipan masukan pelajaran darinya mengomentari beberapa karya. Tapi juga dengan tetap memberi semangat pada anak-anak untuk menggambar.

Dan jika malam tiba, TVRI waktu itu hanya siaran hingga sekitar pk 22.00 WIB. Dan di siaran terakhirnya adalah terdapat tayangan film serial yang bahkan masih hitam putih ke warna. Yaitu film Baba Blackship, yang di bintangi oleh Robert Conrad. Film mengenai tayangan pangkalan pasukan pesawat tempur AS di masa perang Asia Pasifik raya, melawan skuadron Jepang.

Tapi di masa SD, para guru-guru selalu mengajarkan bahwa belajar bidang apa saja bagus. Tiada gap/ batasan-batasan bidang untuk belajar. Tapi sedari anak-anak juga memadukan dengan masanya bermain, bergaul dengan teman sesebaya waktu SD. Hingga ke anak-anak tetangga.

Ingat ucapan Ibu, anak itu tidak bisa di paksakan ia mesti di bidang mana. Ibu pendapatnya biar si anak saja yang memilih nantinya minatnya kemana.

Dulu sekolah SDN di Selong 01 Pagi mulai ke kelas 4 s/d 6 kadang-kadang mulai mendapatkan program pencarian olah bakat di bidang seni vokal oleh Bina Vokalia asuhan Pak Jaya Suprana. Dan dari antara siswa seangkatan di SDN Selong 01 Pagi setelah melalui seleksi ada beberapa terpilih masuk ke kelompok tim SD ke Bina Vokalia.

Ada ketika waktu seleksi sebagian siswa mengajaknya absen ke belakang sekolah yang banyak tempat jajanannya. Dan yang mengajak atau waktu di belakang sekolah sambil duduk bersama di bagian parit lebar yang bersih di depan rumah belakang sekolah dengan tertutup bermacam pohon-pohon dari palm hingga lainnya ada yang berkata, buat apa ikut cuma buat nonjol2an tapi buat anak-anak di bedakan. Ya demikianlah jadinya abel/kelompok anak belakang. Tapi lama-kelamaan kelompok abel jadi bertambah juga dengan anak-anak laki-lakinya. Kebanyakan memang dari Tulodong.

Sebenarnya jadi anak abel sejak kejadian kedatangan Bina Vokalia itu, karena takut. Dan sadar diri tiada bakat atau juga mungkin tidak percaya diri soal di tempatkan di kelompok vokal grup SD, di seni suara.

Tapi, memang tidak enaknya akibat terlalu empati ewuh pakewuh dengan teman-teman kelompok-abel di SD, jadinya tim bulutangkis SDN Selong 01 pagi tadinya sempat termasuk di wakili kakak sejak pribadi ke tingkat kelas 5 s/d 6 jadi tiada. Di samping jarang yang termasuk jago di sesebaya seangkatan soal bermain bulutangkis, hanya ada 1 teman SD yang bertubuh bongsor tapi kuat, tinggi dan lumayan berotot waktu di SD.

Sedangkan untuk minimal keberadaan 1 tim SD, minimal ada 5-7 pemain bulutangkis, yang wajarnya juga pernah masuk di anggota tim PB di Rt-Rwnya, ketika masuk ke tim untuk pertandingan/ pernah ada minimal sekali pernah bertanding mewakili tim PB-nya.  Tapi cuma dengan 1 teman yang ada demikian.

Padahal waktu masa kakak itu juga baru pertamakalinya SDN Selong 01 Pagi punya tim bulutangkis SD hingga mengalahkan tim SDN Blok S.

Dan tadinya sempat ada tempat hall untuk tim bulutangkis SD yang baru di buat berubah alih fungsi.

Di waktu itu juga andalan timnas Indonesia tunggal utamanya ialah Liem Swie King di masa akhirnya hingga menggantung raket. Kemudian di gantikan pemain Icuk Sugiarto yang baru muncul di waktu itu.

Di samping dari pemain barat, dari Denmark juga baru muncul Morten Frost Hansen di pemain tunggal utama. Waktu itu ingatnya dari andalan orang Eropa cuma Morten Frost Hansen, itu pun masih nampak culun ketika menghadapi pemain timnas Indonesia.

Hingga kemudian dari Cina muncul pemain tunggal utama yang sangat hebat, Yang-yang dengan mengandalkan permainan kidalnya. Kemunculannya membuatnya di segani tim-tim internasional. Dan tiap pertandingan internasional ketemunya timnas Cina dengan Indonesia.

Sebenarnya waktu SD lebih senang menonton pertandingan bulutangkis di televisi, di lapangan masih di dekat rumah. Tapi ketemu teman siswa sekolah dominannya suka bermain sepakbola. Padahal timnas sepakbola Indonesia waktu itu juga tidak pernah hingga masuk ke kualifikasi piala dunia.

Tapi di waktu SD juga dari obrolan dengan teman-teman SD jadi tahu dengan sempat muncul nama-nama di pemain sepakbola Indonesia seperti Robi Darwis dari Persib yang juga pemain tua, Ajat Sudrajat, dan ada lagi striker dari Sumatera, sepertinya ingatnya namanya Ricky Yakob. Mulai ikutan tertarik menonton sepakbola ketika muncul pertandingan persahabatan dengan kedatangan tim klub Belanda, PSV Eindhoven dengan timnas Indonesia.

Waktu itu PSV Eindhoven kaptennya Ruud Gulit yang masih berusia muda. Bahkan di pertandingan itu berakhir dengan skor 3-2. Tadinya di awal pertandingan striker Indonesia yang mencetak gol terlebih dulu, melalui striker Ricky Yakob. Bahkan ia juga yang menyumbang gol kedua. Seandainya waktu itu kedudukan sama 3-3 juga melaluinya, mungkin Ricky Yakob jadi tercatat sebagai pencetak hatrick.

Kemudian terdapat di berita di samping PSV Eindhoven masih ada lagi klub Ajax yang terkuat di Belanda. Hingga akibat pertandingan sepakbola antara PSV Eindhoven dengan timnas Indonesia. Apalagi Kapten PSV, Ruud Gulit juga di jadikan kapten kesebelasan di timnas Belanda, hingga sekitar 1988 dengan kehandalan striker dari Ajax Marco van Basten menjuarai piala Eropa.

Jadinya sempat membuat demam bola di Indonesia.

Kemudian di seangkatan yang kebanyakan siswa lelakinya gemarnya bermain sepakbola, ketika hingga bertanding dengan SDN Blok S, mengalami kekalahan. Lagipula SDN Blok S punya lapangan sepakbola sendiri persis di depan sekolahnya.

Dan di waktu seleksi kebanyakan terpilihnya siswa perempuan. Dan dari siswa laki-lakinya yang nampak juga bertubuh tinggi, atletis bagaikan bakal calon coverboy, yang juga ternyata dari anak-anak orang kaya.

Hingga kadang-kadang bisa di liburkan sekolahnya dan masuk di tayangkan di TVRI.

Di waktu SD, akibat kehilangan tim dan hall lapangan bulutangkis menjadi hall kosong atau penempatan latihan kelompok vokal grup terpilih buat Bina Vokalia dan di lapangan lain yang sebenarnya tidak sebesar lapangan sepakbola benaran dengan kegemaran mayoritas teman-teman siswa SD bermain sepakbola di alihkan ke menggambar. Memang waktu SD masih termasuk yang unggul di bidang mata pelajaran menggambar. Teringat jika waktu dapat tugas, malahan jadi di datangi teman-teman minta di gambari.

Dan di kantin sekolah, yang juga terdapatnya di belakang sekolah dengan keluarganya yang masih keturunan Betawi dari pasangan Bapaknya yang Betawi bernama Pak Ali dan Ibu tua, Bu Ali yang dari Jawa. Dari anaknya yang bungsu yang paling kenal, bernama Beben. Beben ini mahir bermain sepeda dan juga alat musik gitar. Tapi ia malah tidak bersekolah hingga tinggi.

Dan Beben ini berusia sekitar 2 tahun lebih tua. Kakaknya Beben yang mahir bermain gitar dan juga ada berkaryanya di seni rupa. Pernah waktu di undang masuk dari kantin ke pintu rumahnya, kakaknya Beben memperlihatkan ada karya-karyanya berbentuk patung-patung satwa dari lilin. Tapi sudah seperti realis bentuknya.

Dan di kegemaran lainnya adalah di bermain gamewatch yang baru muncul trendnya permainan Don Key Kong. Di permainannya nampak Gorila jantan berupaya menyelamatkan anaknya. Tapi di tengah upayanya ada juga mesti melalui hadangan-hadangan.

Dulu waktu SD pun sudah ada masa pubernya, tapi yang bisa berpacaran cuma anak-anak orang kaya dengan yang cakep2. Dan hal ini masuk ke kesenjangan sosial juga berbanding adanya abel/ backstreet boys dari kelompok barat yang dari antaranya dulunya tumbuh dari kawasan bronk, berandalan anak bule campur afro modern atau seperti kawasan Brooklyn atau Harlem di Jakarta. Yang juga persis di antara komplek perumahan anggota MPR/DPR.

Abel juga sebenarnya kelompoknya lebih banyak dan terdiri dari anak-anak berasal dari kawasan Tulodong yang juga pernah di kenal dari pandangan luar kasat mata sebagai wilayah anak nakal-nakal, berandalan berada di belakang rumahnya mantan TRM (pasukan kesultanan Mataram ) dan rumah Jenderal masa gerilya, Soedharmono.

Tapi sebenarnya mereka juga memilih teman, dan ketika sudah berteman dengannya mungkin juga karena seperihatinan senasib keluarga menengah ke bawah yang nampak masih sebagai anak-anak yang baik. Walau sebenarnya penampakan menengah ke bawahnya juga sebenarnya kasat mata. Bahkan di antaranya ternyata masih keturunan anak bangsawan Jawa.

Pernah di suatu waktu di kelompok anak-anak orang kaya yang berpacaran, nampak keren berbanding yang kelompok abel susah menengah ke bawah, intinya karena persoalan di rasa ketidakadilan, sempat hingga menonjok di antaranya, hingga pecah hidungnya keluar darah, dan dengan masih darah mengocor dari hidungnya membawa mobil kendaraannya.

Waktu anak-anak memang nampaknya masih jujur mengungkap perasaan.

Di samping di sejarah Jakarta sejak masa Fatahilah, keturunannya di misteriuskan, hingga bermain belakang dengan kesenjangan golongan kapital  Batavia, munculnya gerilya Mataram-Banten, pendekar Pitung dan Ji’i, pendekar Jampang, hingga ke masa gerilya kemerdekaan.

Melalui masa Uwak Lung/ Dr. Chaerul Saleh yang pernah di posisi elit pemerintah malahan berada di posisi rawan padahal berdedikasinya masih benar sebagai pembesar negara malah kena di khianati. Di bawah pun seperti masa kini pun rawan pula di tekan penguasa, seperti di kasus Prita Mulyasari, dll.

Melalui masa ke masa masih ketemu juga pengkhianat busuk keterlaluan.

Tapi belajar dari masa peristiwa gestapu 65, pengkhianat paling berbahaya justru dari kelompok dengan jaringan kolusinya yang bahkan tidak di ketahui, masih misterius, hingga kemudian di hasil finalnya menghasilkan penjelmaan pengkhianatan busuknya. Seperti melalui masa mafia korupsi skandal Century, pembunuhan Nasrudin, dll.

Apalagi di kota Jakarta juga telah bertumbuhan kelompok-kelompok kapital, yang di antaranya juga dengan di permukaannya di kenal dengan istilah demikian mafia korupsi, mafia markus, di samping terdapatnya penjelmaan2 baru setelah ke masa KIB dari I berubah ke KIB II. Entah juga esoknya, juga setelah pemilu 2014.

Teringat di Jakarta juga ada khas di kulinernya yang tiap perayaan hut Jakarta banyak di buat, dulunya, yakni roti buaya. Di samping tari topeng, Surilang njot-njotan, Jali-jali, ondel-ondel dan lagu lenggak-lenggok Jakarta.

Dan dari telusur sejarah juga terdapat sudah ada permainan ‘main belakang,’ sejak masa VOC di dirikan dengan manipulasinya J.P.Coen menyiapkan armada belakang dari Madagaskar, armada bantuan di perang Batavia, kasus korupsi skandal century, kasus pembunuhan Nasrudin.,yang bahkan nampak komplotan jahat yang memulai duluan memberikan pelajaran main belakang, menjadi pengkhianat busuk. Atau di  New York di masa terdapatnya kelompok Dutch Schultz vs Harlem-Bumpy Johnson.

Kini juga ada di realitanya jaman penipuan.

Jadi teringat ucapannya alm Bang Aditya Tobing waktu bertemu tempatnya mengajar kursus di belakang studio lukis, apa-apa yang di buat seperti lomba, dll sebenarnya maksud di belakangnya untuk memotivasi terus berkarya. Hingga terdapat percakapan di balik itu semua sudah ada di aturnya, ada sudah di atus dengan kolusinya panitia.

Tapi Jakarta juga kota dengan khas roti buaya.

Tb Arief Z-art

Fly over metamorfosis. By Tb Arief Z-art.(2012) Lukisan cat akrilik di kanvas 120 X 90 cm. Price : Rp 3 juta/ 3 million rupiahs

Juga terdapat di hadits Nabi SAW., sumber malapetaka kejahatan adalah perempuan. Dimana di realitas juga yang nampak laki-laki tanpa mendapat perempuan hebat di belakangnya juga dapat menjadi elemen penghancur dunia dan sekitarnya pula.

Apalagi jika laki2nya termasuk golongan kasepuhan Raja-raja, dzuriyah, yang juga melalui kitab sebagai satu-satunya kelompok keluarga teristimewa yang mendapatkan hak istimewa kekuasaan kerajaan besarnya bahkan langsung dari ALLOH SWT, di langit dan di bumi. Di mana golongan keluarga bangsawan kasepuhan dunia kini ialah juga keluarga kasepuhan Pangeran Jayakarta/ Keluarga Pangeran Jakarta.

Tapi nyatanya kejahatan di realitas kini juga banyak di lakukan oleh kaum laki-laki. Dan korban paling banyak juga perempuan. Misal TKI, Prita Mulyasari, banyaknya kasus perkosaan di angkot dll. Miris juga dengan kenyataan kini banyak perempuan hingga anak-anak jadi korban kejahatan di masa kini. Perlu kemawasan dan kehati-hatian di masa kini. Sementara kecewanya para pemimpin dan pembesar negara yang di tempatkan sebagai pejabat hingga anggota MPR, Dewan juga melenceng bukan sebagai orang baik harapan bagian sebagai Pemimpin, pembesar negara dan wakil rakyat.

Sementara keberadaan Ulama kasepuhan yang ternyata juga dari keluarga Pangeran Jakarta, di masa kininya nampak semakin tua, ‘uzur.

Di generasi mudanya para Pangeran Jakarta juga miskin-miskin, tapi memang Alhamdulilahnya bukan termasuk golongan terlemah di warga Jakarta dan Indonesia. Ada dulunya masa orba nampak dari Sarjana IKIP Rawamangun jadi guru sekolah, Ustad, dan rangkap sebagai guru silat waktu mudanya masih nampak tinggi, sehat, kini nampak ‘uzur rambutnya juga mulai berubah dari dominan hitam menjadi banyak beruban keputihan.

Dulu ingatnya para kasepuhan muda Pangeran Jakarta, kini gigi mulai bertanggalan dari belakang hingga ke depan menjadi Macan Ali ompong dan mulai transisi kasepuhan muda uzur-Jakarta. Dengan mulai tumbuh uban juga satu dua helai. Dan sempat berandai jika saja memasuki tahapan usia demikian juga sudah seperti Richard Branson, bangsawan Inggeris yang walau sudah memasuki usia pemuda tua tapi maunya tetap sebagai pangeran muda eksentrik yang juga bahkan tergolong orang kaya di dunia.

mantan Gub DKI koruptor dana bansos buronan KPK, Fauzi Bowo/Foke cuma dari ipar, tapi bukan termasuk orisinil keluarga Surosowan dan Pangeran Jakarta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s