Novel komik detektif ksatria Surosena: Babad Tanah Jawi dan kisah generasi Wali songo perjuangan jati diri

Surosowan-Tb Arief Z-art

Font Satria Surosena. (2012) By Tb Arief Z-art

Surosowan-Tb Arief Z-art

Desain-1 sampul novel komik agen 005 Surosena: Perjuangan Jati diri

Kisah Wali Songo dengan Islam agama damai, rahmatan lil ‘alamiin.

Sejak di masa ketua I Dewan Wali Songo, Ki Sunan Ampel (Raden Rahmat/Ali Rahmatulloh), mengajarkan Islam masuk di tanah Jawa dengan damai. Ki Sunan Ampel juga mengatakan, bahwa Raja Majapahit telah memperlakukan kedatangan para Wali (Ulama) dengan baik.

Juga terdapat di hubungan ginealogis (hubungan keturunan/kerabat), bahwa Sunan Ampel dengan kakaknya, Sunan Burereh (Ali Murtala), waktu datang bersama ke Jawa, juga ada hubungan kerabat kemenakan dengan isteri (pertama) permaisuri Prabu Bhre Kertabumi, yakni Dewi Dwarawati yang berasal dari puteri Prabu Anom dari kerajaan Islam di Campa/Kamboja di  masa abad itu, sekitar 13 m.

Sunan Burereh dan Sunan Ampel berasal dari keturunannya Ki Sunan Maulana Malik Ibrohim/Sunan Gresik I, dan ibundanya Dewi Chandrawati, adik dari Dewi Dwarawati.

Hubungan Prabu Kertabumi dengan saudagar umat Islam, Ki Bentong dari asal Kanton (Hongkong) dari pelayaran armada Chengho di Jawa, di masa awal pemerintahan Prabu Kertabumi dengan nyaris kebangkrutan kerajaan Majapahit.

Ki Bentong ini termasuk di angkatan pertama-tama di anggota Wali Songo dengan Ki Sunan Gresik I, Maulana Malik Ibrohim.

Beliau juga asal keturunan kelahiran dari negeri Tiongkok, yang pernah menjadi saudagar  (pedagang/usahawan) sukses di kota Kanton (Hongkong kini).

Ki Bentong dengan menumpang kapal armada laksamana Chengho yang sempat berlayar dari negeri Tiongkok juga melewati jalur pesisir laut cina selatan, melalui juga Kanton, Vietnam, Filipina, hingga ke Jawa. Dari sejarah ini terdapat kalau Ki Bentong juga kenal dengan laksamana Chengho. Walau beliau dengan laksamana chengho yang juga umat Islam (dari bangsa Tiongkok) bukan dari kaum bangsawan di negeri Tiongkok, di samping di masa itu Kaisar di Cina masih dari dinasti Yuan, dari dinasti Khan_asal Mongol, yang telah lama menjajah di negeri Tiongkok. Dan juga mengakibatkan di abstraksinya di siapa dari juga dinasti bangsawan bumiputera kerajaan Tiongkok yang sebenarnya, atau dari bangsa Han, bumiputeranya Cina.

Di telusur sejarah lampau di Tiongkok pun juga pernah terdapat banyak perang saudara berebut kekuasaan, antar kerajaan2 bumiputera di Cina, seperti contoh di kisah Sam Kwok, cerita 9 pedang kerajaan. Atau dari hubungan catatan tokoh ahli strategi dari Tiongkok, Tsun Zu.

Terdapat di antara siasat dari panglima Tsun Zu, di suatu negara di persiapan terbaik membangun benteng negeri adalah dengan penguatan di pemerataan kecukupan perbekalan di rakyat dan negara. Siasat ini di pakai di suatu masa Kaisar dinasti Qing (yang sebenarnya juga masih dari peranakan dinasti Yuan/Khan Mongol), di sekitar abad 19 m., Tiongkok sempat kedatangan misi ekspansi/penjajahan dari Rusia.

Hingga karena melihat perbekalan di segenap rakyat dan tentara, dengan infrastruktur/fasilitas, artileri/persenjataan,  dan benteng dari segenap pelosok merata di Tiongkok kuat, pasukan Rusia jadi urung, dengan membatalkan misinya untuk menjajah di waktu itu.

Siasat ini juga pernah di pakai sedari di masa restorasi Meiji, oleh Kaisar Jepang, bahkan Jepang dengan perkembangannya yang sangat pesat hingga sempat di masa itu di khawatirkan oleh negara2 di dunia. Di samping terdapat kontroversinya dengan di masa pernah melakukan ekspedisi penjajahan juga dengan sangat keji.

Menelusur di sejarah Jepang juga teringat di kisahnya pendekar Musashi yang padahal juga menemui pendeta aliran Zen (keseimbangan) yang di kepercayaan Jepang, yang juga berlatar dari mengadopsi kepercayaan Cina, Taoisme, idem aliran keseimbangan juga dengan alam, hingga dari Cina juga terdapat ilmu fengshui.

Di Jepang juga mengambil ilmu-ilmu dari Cina, di samping di sejarah genealogis bangsa Jepang sebenarnya juga berasal dari bangsa Cina, tapi dari sejarah lampau, di bangsa Jepang juga pernah menjadi bangsa bajak laut/perompak. Seperti pernah melihat dari film sejarah asal ilmu karate dari pengembaraan pendekar Jepang yang juga sangat pandai, jenius, merantau di Cina, dan mendapatkan ilmu jurus harimau. Di film celeste klasik kungfu mengenai cerita ilmu ninja/ninjitsu tersebut asalnya juga dari salah satu pendekar hebat di Cina, kemudian berkembangnya di Jepang. Dan di ceritanya pernah di gunakan oleh ketua perkumpulan ninja Jepang di masa awal misi Jepang untuk menduduki di Cina. Di akhir kisah, terdapat pendekar muda Cina yang juga mempelajari ilmu ninja bersama dengan pendekar cina lainnya dengan memadukan ilmu kungfunya dengan ninjitsu yang telah di pelajarinya berhasil menumpas misi penjajahnya dan kejahatan dari Jepang, untuk membela hak tanah airnya.

Tapi ada perihatinnya juga membaca di sejarah masa Kaisar terakhir dinasti Sung (masih dari keturunan dinasti Qing, Yuan, Khan Mongol), yaitu Sung Pu-Yi, di hal juga berpoligami mengambil isteri selir salah satunya dari Jepang, dan turut jadi korban terzolimi. Di masanya Kaisar  Sung Pu-Yi bekerjasama dengan Kaisar Jepang Hirohito, tapi di rakyat Tiongkok juga tertindas dengan pembiaran masuknya penjajahan Jepang di Cina.

Di masa laksamana Chengho dan Kaisar terakhir dari dinasti Yuan, juga terdapat kelompok Ming yang berasal dari pergerakan bawah tanah dari rakyat bumiputera Tiongkok/bangsa Han yang ingin merebut kembali hak kekuasaan di tanah airnya. Hingga setelah terdapat kenaikan takhta dari kelompok Ming, dengan penggulingan dinasti Yuan, sempat dari dinasti Ming juga mengakui kalau di Prabu Majapahit juga sebagai Kaisarnya, tapi waktu di masa Hayam Wuruk. Di samping leluhur Hayam wuruk juga di sifatnya sebagai Prabu yang baik, dan memegang ajaran dari Gajah Mada, di hal kenegaraan, dengan gemahripah loh janawi tata tenterem kerta raharja jasa, menciptakan negara dengan pemerataan kesejahteraan di rakyat dengan aman dan tenteram, dan pula di masa berjayanya Majapahit.

Dari pupuh Negarakertagama, sepeninggal mangkatnya Gajah Mada, Hayam Wuruk sebagai Prabu juga berjalan hingga ke pelosok-pelosok, kampung/desa untuk memberikan/distribusi jatah ekonomi ke rakyat yang masih fakir-miskin,  di samping juga melakukan evaluasi di masa pemerintahannya. Atau di istilah kini dengan populernya baktinya Pak Jokowi dengan blusukannya.

Dan ironinya di sejarah kerajaan Majapahit setelah Hayam Wuruk, di keluarga raja juga jadi terdapat degradasi, di samping munculnya hedonisme (mau enaknya, praktis, kemanjaan) di keluarga raja, yang berbalik jadi peminta dengan istilahnya di masa itu seba keraton, di raja dengan keluarga raja tinggal jadi peminta jatahnya di kecukupan ekonomi/fasilitas dengan pula di masanya terdapat mangkubumi juga para pembesar kerajaan dan negara. Di degradasi dengan kemanjaannya, sepeninggal Hayam Wuruk di raja dan keluarga raja juga meninggalkan di perbuatan leluhurnya dulu, dengan pernah di kegiatan serupa blusukan, dari Hayam Wuruk. Dan di masa pemerintahan nasional juga di kerajaan dengan keluarga raja sebagai bagian dari simbol sejarah istimewa di negara Indonesia, tidak lagi seperti dulu dengan kewenangan istimewa juga sebagai pemerintah eksekutif (pelaksana).

Di samping di masa nasional, di keluarga raja Majapahit yang kini juga dzuriyat Jawa, juga masih terdapat yang miskin, keluarga anak yatim juga. Beda di masa Prabu Hayam Wuruk juga masa Gajah Mada, juga turut memberikan jatah tanah2 buat rumah, sawah, kebun dan kecukupan harta buat modal dengan fasilitas buat kecukupan di kebutuhan ekonominya juga usaha ekonominya. Kalau masa Pak Karno pernah mencanangkan program berdikari dan maksudnya buat merata ke segenap rakyat. Dari sejarah masa Hayam Wuruk dan Gajah Mada hingga di regenerasi kini dzuriyat keturunan Majapahit juga di antaranya yang sebagai sisa di bangsa Indonesia masih memiliki  tanah sawah, kebun, walau dengan dilema juga di hal dari masa pemerintahan pernah dengan kenaikan pajak tanah. di samping dengan pajak lainnya, pajak rumah, listrik, air. Dan masa kerajaan juga ada bedanya realita keadaan, di mana keluarga raja masih di berikan kebebasan soal pajak, dengan di masa pemerintahan masa nasional, yang dengan termasuk di rakyat, juga dengan masalah kendala susahnya lapangan kerja, cari  penghasilan kecukupan nafkah ekonomi, atau juga masih di masalah krisis ekonomi.

Tapi di masa berandal lokajaya/raden said sempat kontroversi dengan ulah dari dipati di tuban, karena mengumpulkan pajak buat ketamakan kekayaan pribadi, dengan kesenjangan dengan kesengsaraan di fakir miskinnya rakyat.

Di sejak masa leluhur Prabu Jayabaya hal itu juga tersirat dari pengamatan di wangsanya Mataram Kediri/Kamasywara, dengan melalui tulisannya bakal muncul ksatria piningit, juga  bukan dari keluarga raja, sebagai pelaksana kerja/bakti ksatria piningitnya buat bangsa dan negara.

Hingga di masa awal berdirinya negara Cina dengan nasional, dengan tokoh founding fathernya, Mao Zedong, kenapa juga berawal dengan negara sosio-nasionalnya dengan sosio-komunis.

Di samping di sejarah raja-raja setelah Hayam Wuruk di Majapahit juga pernah lama terjadi perang saudara berkepanjangan berebut kekuasaan, bahkan dengan pembesar negara yang juga ambisi mau jadi penguasa, tapi juga dengan sifat jelek, dan bahkan pernah antar keluarga Majapahit saling bunuh, buat ambisi mau naik takhta, seperti di sejarah pembunuhan Prabu Kertajayawardhana oleh Bhre Kertabumi, masih keponakannya sendiri. Dan Kertabumi naik takhta dengan di masa kebangkrutannya Majapahit akibat pralaya juga korupsi. Hal itu juga penyebab di degradasinya (kemunduran) di keluarga Majapahit.

Di samping Prabu Kertabumi lahirnya juga di masa carut marut di hal politik, dan pralaya berkepanjangan di Majapahit. Bahkan di keluarga raja pun turut curiga, mawas, dan pernah terjadi pembunuhan, yang terdapatnya pada di antara yang pernah jadi raja, hingga yang jadi pejabat elit, politik dinasti tapi korupsi dan dirasa tak memberi pertolongan berguna bahkan ke keluarga raja sendiri yang sedang kesusahan, dan dari keluarga raja juga ada yang ingin naik takhta, memiliki kewenangan penguasa juga untuk memperbaiki dari situasi kacau, pembesar korupsi yang telah sekian lama.

Saudagar kaya Ki Bentong juga yang menolong sebagai penyandang dana ke Prabu Kertabumi untuk keluar dari masalah kebangkrutan negara/deflasi apbn di masa Majapahit. Tapi yang menarik, walau Majapahit di waktu itu dengan masalah di ambang kebangkrutan sebagai negara, tapi belum punya masalah hutang luar negeri, seperti di masa nasional kini, seperti dari peninggalan masa kib-sby.

Ki Bentong yang juga Wali dan pengajar dari mazhab aliran Hanafi (Imam Abu Hanifah), juga bahkan memberikan puterinya (yang juga cakep) ke Prabu Kertabumi yang dari pernikahannya dengan permaisuri Dwarawati belum kunjung berketurunan.

Di masa itu, dari pesisir barat Sumatera yang merupakan tempat pertama di misi syi’ar Islam sejak di abad 8 masehi, juga dengan memandang di Jawa dengan pusat kekuasaan Majapahit yang di masa itu pengaruh kekuasaannya bahkan juga di Asia, para Wali juga mendatangi ke Prabu Majapahit.

Dan Prabu Kertabumi juga yang meminta pada Ki Bentong untuk mengambil puterinya untuk di jadikan selir. Di samping telah dengan persetujuan dari permaisuri Dwarawati, untuk di tujuan semula mendapatkan keturunan.

Dan setelah beberapa bulan, puteri dari Ki Bentong, hamil, malah dari permaisuri Dwarawati jadi iri hati.

Kemudian permaisuri Dwarawati yang menyuruh ke Prabu Kertabumi supaya menceraikan selirnya puteri Ki Bentong dan bahkan membunuhnya sekalian dengan menggugurkan bayi dalam kandungannya.

Tapi Prabu Kertabumi juga tak setega itu, maka ia memberikan puteri Ki Bentong pada bawahannya, raja Palembang, Aria Damar sekalian buat di nikahinya. Dan Aria Damar setelah sekian waktu jadi raja Palembang bawahan Majapahit juga belum menikah.

Dan terdapat pepatah bahkan dari Nabi SAW., Belajarlah kamu hingga ke negeri Tiongkok. Dulu di kerajaan Majapahit pernah menjalin hubungan dengan Tiongkok bahkan Prabunya menikah dengan puteri dari Tiongkok, hingga melalui masa demi masa ke masa modern ini, di antara keluarga Majapahit juga telah terdapat peranakannya kaukasia, atau indo eropa.

Di samping dari sejarah masa Hindu  tansisi  masuknya Islam ke Jawa, dari Al-Kitab juga terdapat surat dengan ayat, bahwa Bani Israil yang moyangnya bangsa eropa juga terdapat di ciptakan dengan berakal pandai. Di samping ada juga yang di sebut dengan kontroversi atau wanti-wanti pada yang jahatnya.

Tapi kejahatan juga pernah terdapat hampir di tiap bangsa negara di dunia, seperti di realita kekinian. Kata Edward Brightman, filsuf realisme, realita itu plural. Pernah terdapat impian untuk menciptakan utopia  sedunia, dengan khayalan dunia indah, damai, aman, sejahtera semuanya,dan saling berhubungan bagaikan kesatuan publik global, tapi juga di realita seperti bualan.

Seperti contoh dengan bila pergi ke negara lain, juga dengan urusan visa, paspor, apalagi misal mau punya 2 kewarganegaraan. Bisa pulang-pergi antar negara misal dari Indonesia-AS. Apalagi bila misal mau ke eropa, misal wisata ke Perancis mau coba cicipi kulinernya ( yang kata ibu juga enak, di samping ingat asal  saus moustard, juga dari perancis, tapi di Indonesia juga banyak kuliner lezat), di samping ada bedanya produk kain kanvas eropa, seperti di produk Picasso, atau dari Italia, belanda, juga perancis dengan di Jakarta (yg kian tipis), atau kertas gambar cat air, Canson yang juga asal dari Perancis,,,atau apalagi sekalian mencoba naik kereta lintas se-eropa sekalian wisata melihat pemandangan di eropa.  Melihat dengan nyata dengan mata kepala sendiri, bagian dari sempat jalan2 wisata di dunia, tidak hanya dari tv yang juga ada memberi wawasan. Di Indonesia juga banyak terdapat daerah-daerah eksotis dan juga berpemandangan indah. Tapi di kenyataan, hanya lama di Jakarta, itupun di dalam rumah. Di samping sebagai termasuk di umat Islam juga ada kewajiban, bila mampu sebaiknya mendahulukan pergi melaksanakan ibadah haji ke tanah suci, yakni paket ke Mekah dan Madinah, kata ibu bahkan sempat ke Jedah juga, sekalian belanja dan pernah menemui adanya pasar barang2 murah di sana. Seperti kamera, dll, tapi juga produk lama dari Rusia. Di bawa ke Indonesia hanya beberapa tahun terpakai setelah macet, komponen/onderdilnya tak ada di Jakarta.

Juga dengan melakukan pemotretan dg kamera slr, juga menggambar sketsa. Yang bisa di hal leluasa itu cuma yang kaya, atau pernah pun dari pejabat korup, yang bahkan dengan keluarganya, di masa dengan kesenjangan ekonomi dengan realita dengan kemiskinan dari buat sekedar kecukupan ekonomi dan fasilitas di negeri sendiri, bahkan hanya seperti katak dalam tempurung di rumah di dalam kota Jakarta saja. Hal utopia adalah khayalan. bahkan walau ke pangeran dzuriyat kaukasia-majapahit kini, yang juga berhak istimewa tapi di kenyataan, marjinal, juga terzolimi di bahagian kecukupan ekonominya, fasilitasnya, hingga di usia paruh baya. Dan hal itu juga terasa muluk.  Mojo with king family of sorrow. Kontroversinya yang nyata dapat jatah istimewa itu juga para koruptor, atau dengan dalih studi banding kemudian yang untung siapa, atau di kontroversi studi banding juga buat korupsi buat ketamakannya, atau cuman buat dalih kibul.

Padahal di dalam negeri di hal kereta, baru terdapatnya di Jawa, seperti di dalam hingga segenap masing2 pulau di negara kepulauan Indonesia juga ada yang belum ada keretanya. Di Jawa pun terdapat stasiun, hingga jalur dan jembatan kereta hingga lama terabaikan. Contoh seperti di jalur ke stasiun terujung di barat Jawa, di Labuan dan sekitar pandeglang, cilegon, rangkasbitung, apalagi ke ujung kulon.

Dari rumpun Cina di dapat juga ke bangsa Korea, Jepang.

Setelah lama menikah Aria Damar dengan puteri Ki Bentong di Palembang, juga lahir raden Kusen ( di dialek berita klenteng Semarang, raden Kin-san).

Raden Jimbun setelah tumbuh remaja, sempat curiga dan bertanya pada ibunya hal siapa bapak sebenarnya. Walau Aria Damar juga sangat sayang padanya, dan sempat berupaya menyembunyikan keterangan itu.

Bahkan Aria Damar sempat membujuk raden jimbun dengan menawarinya warisan takhta Rajanya di Palembang. Di samping dengan membuat taman-taman dan lingkungan sekitar istana untuk membuat betah  raden jimbun.

Tapi Jimbun ngotot dengan rencananya mau pergi ke Jawa. Di masa itu pulau Jawa juga masih ada keindahannya sebagai Jawadwipa, di samping melihat di peninggalan ibukota Majapahit dulu di trowulan, dengan candi, kolam petirtaan/pemandian, seperti candi surowono dekat gunung juga di pakai sebagai rumah vila peristirahatan, dengan taman2nya yang juga indah. Dulu juga Palembang kerajaan yang indah.

Andai Jimbun tak pergi ke Jawa, tak ada sejarah Demak Majapahit, dan di temuan sejarah, setelah Demak kehilangan kerajaannya berganti Mataram sebagai penguasa di Jawa,terdapat sejarah Raden Mas dengan sepupunya Banten, Maulana Mohammad setelah jadi Sultan melakukan ekspedisi ke Palembang buat merebut kembali palembang seperti di masa pernah jadi kerajaan bawahan Majapahit.

Hingga raden Jimbun diam-diam meninggalkan istana palembang, tempatnya bertahun-tahun yang karena ayahnya Aria Damar lama mengurungnya di istana, kabur keluar dari sempat Aria Damar menguncinya di kamarnya. Setelah raden Jimbun menentangnya untuk ngotot pergi ke Jawa.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Sejarah berdirinya Masjid Demak di awal abad 14 masehi kemudian Masjid Sang Cipta rasa di Cirebon.

http://id.wikipedia.org/wiki/Masjid_Agung_Demak

Awal masa di dirikannya Masjid Demak, dengan atap limas dari berjumlah 1, dan di masa Sultan Demak Raden Patah juga di teruskan di kembangkan hingga dengan 3 atap limas, yang bermakna rukun iman, rukun Islam, dan rukun ihsan (keikhlasan/kesukarelaan).

Di awal di dirikan Masjid Demak, juga dengan 4 tiang tatal, atau di sebut juga tiang soko guru. Yang bermakna di masa Wali Songo mengajarkan agama Islam dengan 4 mazhab, Syafi’i, Hanafi, Maliki, Hambali. 4 mazhab ini juga termasuk di kepercayaan Ulama dari kaum sunah.

Di bagian 2 tiang di kiri/ada yang terjemah menandai kutub barat (Jawa) di bangun oleh Ki Sunan Gunung Jati dan Sunan Kalijaga dan di bagian kanan, atau kutub timur Jawa, di bangun oleh Ki Sunan Ampel dan Ki Sunan Bonang.

Kisah pengusiran selir puteri Cina Wali Ki Bentong dari keraton Majapahit yang hamil duluan (jabang putera raden Jimbun) akibat iri hatinya permaisuri Dwarawati.

Menelusur dari sejarah, di keturunan permaisuri, atau isteri pertama Prabu Kertabumi, yakni puteri  Dwarawati (puteri raja Islam Campa/Kamboja_Prabu Anom), ialah hingga di cucunya Jaka Tingkir/Hadiwijaya.

 

Kekesalan Prabu Kertabumi pada puteranya (sulung), Raden Jimbun dipati demak bintoro karena  menghimpun pasukan mau melakukan pemberontakan untuk menggulingkannya.

Di kisah latar kelahiran dari raden Jimbun karena ibunya (puteri Wali  Ki Bentong), di usir dari keraton Majapahit, dan di buang ke Palembang di berikan pada Aria Damar (Swan Liong), raja Palembang_bawahan Majapahit di masa itu, membuat dendam di diri raden Jimbun yang merasa di anaktirikan, mendapatkan terzolimi dari ketidakadilan, untuk membalaskan dendamnya pada ayahandanya, Prabu Kertabumi.

Dipati Demak bintoro, raden Jimbun sempat di panggil menghadap ke Prabu Kertabumi di istana Majapahit. Ketika sampai di hadapan Prabu Kertabumi, juga ayahandanya, Jimbun sempat bersimpuh sungkem di depannya. Seperti di tradisi Majapahit jika menghadap sang Prabu. Walau hal itu di lakukan dengan siasat kepura-puraan. Karena di Demak, kekuatannya di rasa belum cukup untuk melawan Kertabumi.

Keterpaksaan perang laskar Suronata untuk membentengi Islam di Jawa, di samping dari buat menolong tekad senapati panatagama Jimbun.

Karena Prabu Kertabumi yang gelap mata mengirimkan pasukan Majapahit ke Demak, untuk memerangi semenanya di kubu raden Jimbun yang juga di tempatnya terdapat baru mendirikan Masjid Demak yang juga di pakai sebagai tempat pertemuannya para Wali Songo, juga dengan umat Islam di Jawa yang juga belajar ilmu pendidikan agama Islam di sana, pada Ulama Wali Songo.

 

 

 

Sejarah berdirinya kasultanan Demak Moro Majapahit dengan sultan pertama raden patah yang menjunjung keadilan dan kebijaksanaan.

Setelah senapati raden jimbun memenangkan perang fisabilillah, dengan pertempuran sengit dan susah payah menghadapi pasukan Kertabumi, setelah menangkap ayahandanya sendiri, Prabu Bhre Kertabumi, dengan memindahkan singgasana Majapahit ke Demak, buat di taruh di Masjid Demak, raden Jimbun mentahbiskan dirinya sebagai Sultan Demak, di samping di gelari raden Patah. Yang bermakna dari kata Fatah, yang meraih kemenangan dan di lisan Jawa jadi raden Patah.

Sejak itu setelah lama berabad kekuasaan di Jawa, bahkan hingga di sekitar Asia, telah lama dengan berpusat kekuasaan di Majapahit, di ibukota Trowulan (Mojokerto kini), setelah dari peristiwa sejarah tersebut berpindah kekuasaannya di Demak.  Di samping Raden Jimbun juga merasa sebagai keturunan sulung di antara wangsa Majapahit di waktu itu, yang merebut kekuasaan juga dari ayahandanya sendiri. Maka juga di sebut kasultanan Demak Moro Majapahit.

Di waktu itu juga merupakan waktu istimewa di Jawa, di masa sejarah tersebut.

 

 

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

relief hijau Ki Ageng Jaka Tarub

  • Kisah dzuriyah Joko Tarub cucu Ki Sunan Kudus bertemu Bidadari.

Putera Sunan Kudus menentang perintah ayahnya di jodohkan dengan perempuan pilihan ayahnya yang keras, Ki Sunan Kudus. Yang juga mantan Panglima Suronata berjasa, pahlawan perang Suronata.

Karena sudah punya pilihan sendiri jodohnya, kemudian kabur dari Kudus. Tapi di pelarian kekasihnya yang sedang hamil mangkat, tapi bayinya sempat tertolong lahir. Yakni Jaka Tarub.

Joko Tarub mulanya tumbuh sebagai pemuda yang suka berburu hingga ke pedalaman hutan.

Suatu ketika Joko Tarub tak sengaja menemukan bidadari dari langit turun ke kali jernih dekat air terjundi hutan.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

Joko Tarub di hutan yg belum dirambah

Dasar mata pemuda nakal, Joko Tarub terus saja melihat pemandangan itu. Dan matanya memperhatikan tiap sosok-sosok gadis bidadari yang sedang hendak mandi bertelanjang.Ketika satu-persatu dari mereka melepaskan busananya. Semakin nampak tiap-tiapnya cantik bertubuh elok bagaikan bidadari.

Dan pandangannya tertuju pada satu sosok bidadari yang di anggapnya paling menarik di antaranya, Dewi Nawangwulan.

Maka rencana usilnya pun muncul. Tadi teringatnya selendangnya Dewi Nawangwulan berwarna hijau, dan Jaka Tarub mengambilnya. Kemudian menyembunyikannya.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

Kisah Jaka Tarub lukisan R Basuki Abdulah

Kemudian Jaka Tarub mendatangi para bidadari yang sedang asyik mandi. Membuat mereka tiba-tiba terkejut dengan kedatangan Jaka Tarub. Dan meninggalkan keasyikannya sedang mandi di air terjun di hutan.

Surosowan-Tb Arief Z-art doc

lukisan Jaka Tarub

Ketika satu-persatu gadis-gadis bidadari meninggalkan kolam, naik ke darat mengambil selendangnya. Tinggal Dewi Nawangwulan yang sembunyi saja di kolam, dan nampak kebingungan menemukan selendangnya hilang.

Sedangkan tanpa selendangnya berarti ia tidak bisa terbang pulang kembali ke kahyangan.

Tapi teman-temannya pada meninggalkannya. Tinggal Jaka Tarub memanfaatkan situasi.

Kemudian memboyongnya pulang ke desanya.

Di desa ia Jaka Tarub di wanti-wanti oleh Dewi Nawangwulan untuk tidak memberitahukan siapa dirinya sebenarnya sebagai Bidadari dari surga.

Kemudian Dewi Nawangwulan dan Jaka Tarub menjadi suami-isteri.

Dari pernikahan Dewi Nawangwulan dan Jaka Tarub berketurunan puteri Dewi Nawangwulan.

Hingga suatu ketika Jaka Tarub dalam urusan pergi bekerja, Dewi Nawangwulan menemukan kain selendangnya.

Setelah Jaka Tarub pulang, Dewi Nawangwulan memperlihatkan kain selendang temuannya. Tanda Jaka Tarub yang selama ini telah berbohong padanya.

Karena sudah menemukan kain selendangnya Dewi Nawangwulan kembali pulang terbang ke kahyangan. Meninggalkan Jaka Tarub yang sudah usia separuh baya bersama anak perempuannya, Dewi Nawangsih.

Setelah dewasa, Dewi Nawangsih bertemu Raden Bondan Kejawan, putera bungsunya Prabhu Kertabhumi.

Perrnikahannya di restui Ki Jaka Tarub, lurah di desa Citarub (entah juga desa Citarub ini di mana, ada pula wilayah bernama Citeureup kini dekat Cibinong, Bogor).

Dari pernikahan Raden Bondan Kejawan dan Dewi Nawangsih, berketurunan Ki ageng Selo. Ki ageng Selo ini di Babad Mataram yang di ceritakan sejak masa kanak dan pertumbuhannya memiliki kemampuan aneh. Seperti menangkap petir, Ki Bicak. Mungkin juga karena pengaruh masih dekat puteranya bidadari.

Di mana cerita Babad Mataram juga di katakan peneliti barat, seperti buatan politik kekuasaannya Sultan Agung Mataram.

Dan di babad Mataram sejak Ki Ageng Selo, dan masih turunan awal Mataram juga di ceritakan tiapnya memiliki kemampuan sebagai pendekar, di samping lurah desa. Hingga turunannya Ki ageng Ngenis hingga Ki Gede Pemanahan di samping sebagai lurah juga menjadi pendekar prajurit bayaran.

Ki ageng Ngenis juga pernah di minta bantuan oleh kesultanan Demak waktu itu pemerintah pusat.

Ki Ageng Ngenis kemudian berketurunan Ki Gede Pemanahan.

Di samping sebenarnya antar sebagai sesama keturunan Majapahit ada seperti rasa ketidakpuasan, lantaran takhta Majapahit jadi hanya jatuh ke Demak. Seperti yang juga di rasakan Jaka Tingkir.

Tapi Jaka Tingkir sejak muda belajar ilmu kanuragan ke banyak guru, hingga menjadi kuat.Dan di terima menjadi prajurit di Demak, bahkan hingga naik pangkat ke senopat dan Dipati, bahkan di angkat menjadi menantu Sultan III Demak, Trenggono, walau dalam pengabdiannya di Demak, Joko Tingkir juga kadang berseberangan pendapat dengan Trenggono.

Waktu itu Sultan Demak Trenggono punya puteri-puteri Demak yang cantik-cantik.

Sultan Demak Trenggono punya menantu-menantu seperti Pangeran Madura, Pangeran Maulana Hasanuddin Dipati Banten yang menikah dengan puteri ke3,  Pangeran Dipati Kalinyamat, Dipati Hadiwijaya (Joko Tingkir) menikah dengan puteri ke-5 Trenggono.

Maulana Hasanuddin ini pernah di bantu Sultan Trenggono waktu misinya menggulingkan Dipati korup di Banten, dengan mengirimkan Panglima Demak, Fatahilah. Hingga melalui ayahnya Ki Sunan Gunung Jati yang berusia 105 tahun waktu itu sekalian di angkat menjadi Sultan Banten Darussalam. Bahkan Fatahilah kemudian naik pangkat jadi penasihat Sultan Maulana Hasanuddin, melalui Ki Sunan Gunung Jati. Dan Sultan Trenggono waktu itu sangat hormat pada Wali Pandita Ratu.

Sejak Trenggono mangkat, terjadi gono-gini perebutan takhta dan warisan di kesultanan Demak. Antara puteranya Trenggono, Sunan Prawoto dengan adiknya Trenggono dari lain ibu, atau isteri ke-2 Raden Patah dari puteri Kanduruwan. Alias paman Sunan Prawoto, P. Seda Lepen. Jika P.Sabrangler dan Trenggono dari isteri puteri Sunan Giri yang juga masih kesultanan Giriprapen waktu itu di Jatim, terletak di dekat Surabaya.

Dalam pertikaian di sungai, P.Seda Lepen tewas bersimbah darah. Puteranya Aria Penangsang, yang juga Dipati Jipang, menuntut dendam pada P. Sunan Prawoto yang juga di tabalkan menjadi penerus Sultan Demak (IV).

Aria Penangsang berhasil membalas dendam dengan memimpin pasukan Jipang-kang membakar kota Demak, tinggal sisa Masjid. Sunan Prawoto yang kabur ke Semarang tewas ketika sempat terkejar pasukan Aria Penangsang.

Munculnya Aria Penangsang sempat membuat cemas di sekitar para Pangeran Demak, termasuk para Pangeran Dipati menantu-menantu Trenggono. Karena Aria Penangsang ini juga di kenal kuat, punya ilmu kebal, di samping di bantu Ki Sunan Kudus (kesekian). Dan punya senjata keris pusaka.

Pangeran Kalinyamat yang menentang padanya di bunuh secara licik, dengan suruhan orang-orang pasukannya. Aria Penangsang pun menjadi ‘bigbos’ waktu itu.

Aria Penangsang yang punya ambisi merebut kekuasaan juga mengincar para sisa Dipati menantu-menantu Trenggono, termasuk Hadiwijaya bahkan hingga Maulana Hasanuddin, dengan adanya rencana misi ekspedisi pasukanya ke Cirebon terlebih dulu.

Makanya di Jayakarta, mendadak bupati Fatahilah di panggil Ki Sunan G. Jati ke Cirebon, untuk membangun benteng.

Dan Fatahilah jadi pensiun sebagai Bupati dan menyerahkan jabatan pada Tubagus Angke, masih keturunan dari kakak perempuannya Sultan Banten Maulana Hasanuddin. Tubagus Angke ini yang juga kemudian bergelar P. Jayakarta I/ P.Wijayakrama I.  Tapi di masa kekhawatiran di Cirebon, Sultan Banten malah menugaskan Tubagus Angke yang juga mantunya, untuk menjaga Banten dari Jayakarta, karena ia hendak memimpin ekspedisi pendudukan di Lampung buat mendapatkan lahan perkebunan baru buat kesultanan Banten. Dari sejarah yang nampak, Maulana Hasanuddin nampak tidak khawatir dengan munculnya Arya Penangsang, karena ia punya adik ipar Dipati Hadiwijaya yang bisa di andalkan.

Dan Hadiwijaya dengan Aria Penangsang sempat berhadap-hadapan, bahkan nyaris bertarung setelah memperlihatkan keris pusaka masing-masing. Aria Penangsang sempat khawatir ketika Hadiwijaya mengatakan masih punya keris pusaka lebih kuat dari Ki Setan Kober, dan Ki Cerubuk. Kemudian datang Ki Sunan Kudus kesekian melerai, sebenarnya khawatirnya justru Aria Penangsang yang tewas.

Dipati Hadiwijaya kemudian memanggil Ki Gede Pemanahan, Ki Panjawi buat di sewa untuk membantunya di misi membunuh Aria Penangsang.

Ki Gede Pemanahan bahkan sudah punya putera yang sudah berusia pemuda, Raden Ngabehi Saloring Pasar, atau Sutawijaya. Hadiwijaya yang memberikan senjata pusakanya, tombak Ki Plered, senjata pusakanya rata-rata peninggalan pusaka Majapahit. Semuanya di yakini ada ‘isi’nya.

Kemudian Ki Gede Pemanahan memberikan tombak Ki Plered pada puteranya, Sutawijaya.

Siasat di jalankan, tukang kudanya Aria Penangsang di potong kupingnya. Hingga dalam keadaan masih memegang bagian telinganya yang berdarah, membuat Aria Penangsang yang sedang makan jadi menggebrak meja hingga patah menjadi 2. Dengan keadaan marah, Aria Penangsang langsung naik kudanya Gagak Rimang.

Tapi begitu masuk hendak menyeberang sungai, langsung di panah pasukan Hadiwijaya.

Walau sudah di hujani panah demikian banyaknya, Aria Penangsang masih mengamuk di sungai. Kemudian Sutawijaya datang menusukkan tombak Ki Plered, hingga kena Aria Penangsang pun tewas.

Sejak itu, Ki Gede Pemanahan dengan puteranya Sutawijaya menagih janjinya pada Sultan Pajang, Hadiwijaya yang telah berjanji jika misi sudah di kerjakan, maka di beri hadiah tanah Mataram.

Tadinya Hadiwijaya sempat mau urung membayar janjinya, tapi setelah di datangi Ki Sunan Kalijaga membela Ki Gede Pemanahan, Hadiwijaya jadi segan.

Lagi2 Hadiwijaya kesal pada Sutawijaya, karena puteri cantik titipannya dari hadiah Ratu Kalinyamat malahan di nikahi Sutawijaya.

Kemudian lagi2 Hadiwijaya di datangi Ki Sunan Kalijaga, dan Hadiwijaya pun jadi merestui.

Sepeninggal Ki Gede Pemanahan yang sebenarnya juga ada perseteruan dingin dengan Sultan Pajang Hadiwijaya, ketegangan antara Mataram dengan Pajang meningkat.  Dan ada faktor2 yang menguntungkan Mataram, di antaranya faktor Hadiwijaya yang telah berusia tua.

Oleh Ki Sunan Tembayat, Sutawijaya di anjurkan membangun benteng.

Sutawijaya yang sempat belajar juga dari Hadiwijaya, lama-kelamaan enggan membayar pajak saban tahunannya, atau menghadap pada bapak angkatnya, Hadiwijaya. Bahkan hasil-hasil pajak dari Dipati lain di cegatnya, kemudian di belokkan ke Mataram.

Bahkan di Mataram Dipati yang di belokkannya di ajak pesta, hingga para Dipati tadinya bawahan Pajang jadi berbelok mendukung Sutawijaya di Mataram.

Sultan Pajang Hadiwijaya mendengar laporan dari mata-matanya bahwa Sutawijaya sedang membangun benteng di Mataram.

Kemudian ia mengirim utusannya ke Sutawijaya.

Utusan Pajang menemukan Sutawijaya nampak sedang menaiki kudanya.

Sutawijaya menyuruh mereka langsung saja menyampaikan pesan dari Romo Hadiwijaya di tempat itu.

Si utusan Pajang mengatakan bahwa Sultan Hadiwijaya menanyakan kenapa Sutawijaya tidak lagi datang menghadap padanya.

Hadiwijaya juga menyuruh Sutawijaya supaya memotong rambutnya. ( Mengurungkan rencananya memberontak).

Justru Sutawijaya menyampaikan pesan baliknya pada utusan ayah angkatnya, Hadiwijaya. Sampaikan pada Romo, jangan terlalu mencampuri urusanku. Sebaiknya ia bercermin pada kelakuan dirinya sendiri, jangan suka main merebut isteri orang.

Jika aku ingin memanjangkan rambutku, maka itu semauku.

Utusan pun kembali menghadap Sultan Hadiwijaya, dan menyampaikan pesan balik dari Sutawijaya.

Peristiwa Bupati mayang di tangkap Sultan Hadiwijaya

Pada hari kemudian, putera bupati Mayang (wilayah kabupaten kiranya di sekitar Solo kini, bagian dari kesultanan Pajang di waktu itu ) memadu kasih dengan puterinya Hadiwijaya. Hubungannya hingga membuat hamil puteri Hadiwijaya. Peristiwa itu membuat marah Sultan Hadiwijaya.

Raden bupati Mayang di tangkap dan sempat di jatuhi sanksi hukuman mati.

Bapaknya, bupati Mayang juga ikut di tangkap Sultan Hadiwijaya.

Bupati Mayang masih bapak mertuanya Sutawijaya. Peristiwa penangkapan bupati Mayang membuat Sutawijaya mengumpulkan pasukan Mataram berusaha mencegat pasukan Pajang.

Di tengah jalan, pasukan Pajang di cegat Sutawijaya dan pasukannya kemudian membebaskan Bupati Mayang.

Peristiwa aksi Sutawijaya membuat Sultan Hadiwijaya marah. Hadiwijaya segera memerintahkan pasukan Pajang berangkat menyerang Sutawijaya di Mataram.

Sutawijaya juga mendengar Hadiwijaya sudah berangkat bersama pasukannya untuk menyerangnya.

Sutawijaya juga memberanikan mengumpulkan pasukannya. Bahkan ia mengangkat dirinya sebagai Senopati ing Alaga Mataram.

Di pertemuan kedua pasukan, Sutawijaya menyambut serangan pasukan Hadiwijaya.  Tapi pasukan Pajang berjumlah lebih besar dan kuat, di samping keberadaan Hadiwijaya mengendarai gajah tunggangannya.

Di pertempuran tak seimbang itu, Sutawijaya dan pasukan Mataram kalah. Hingga membuat Sutawijaya pun memerintahkan penarikan mundur bersama pasukannya.

Hadiwijaya tetap memerintahkan pasukan Pajang mengejar Sutawijaya dan pasukannya yang kabur.

Tapi di tengah perjalanan tiba-tiba gunung Merapi meletus, dengan goncangan gempa dadakan.

Sutawijaya dan pasukannya sudah berada di radius aman. Tapi Hadiwijaya terjatuh dari gajah tunggangannya. Gempa dan letusan Merapi mendadak juga mengakibatkan beberapa pasukannya tewas seketika, dan sebagian luka-luka.

Mungkin juga gunung Merapi di waktu itu telah meletus beserta keluar awan Wedus gembel dengan lemparan-lemparan batu laharnya.

Mungkin juga asap Wedus gembel turut  mengenai Hadiwijaya, hingga menjadi penyebabnya mendadak jatuh sakit setelah terjatuh dari gajah tunggangannya.

Atas rahmat ALLOH SWT., Sutawijaya dan pasukannya selamat dari peristiwa letusan Merapi. Bahkan membalik keadaan menghasilkan korban di kubu Hadiwijaya.

Sumber referensi:

-Buku Babad Mataram : Purwadi M.Hum_UGM.

http://bmataram.blogspot.com/