Sekilas Kaca Benggala Babad Mataram kasepuhan Surosowan-Kahinten-Dul Gendhu Matarami dulu hingga kini

Surosowan-Jakarta art doc

danang-sutawijaya (Raden Ngabehi Saloring Pasar). Raja pertama Mataram berkedudukan di keraton Kota Gede. Beliau juga di gelari Kanjeng Panembahan Senopati Ing Alaga Mataram waktu menghadapi bapak angkatnya, Hadiwijaya/ Joko Tingkir, Sultan Pajang

  • Kaca Benggala Babad Mataram

1. Danang Sutawijaya/ Raden Ngabehi Saloring Pasar

http://hsudiana.wordpress.com/2011/04/22/danang-sutawijaya/

Pernah pada sekitar 1999, di tayangan televisi muncul tayangan berseri yang menarik, berjudul Kaca Benggala. Yang bahkan di bintangi para pemeran-pemeran menarik seperti Adji Pangestu, Meriam Bellina dan Irgi yang waktu itu aktor muda.

Ceritanya di mulai dari pertentangan Sutawijaya dan bapak angkatnya Sultan Pajang, Hadiwijaya di masa berkuasanya Pajang.

Di masa itu terdapat juga Dipati Pajang (yang di perankan Ajie Pangestu) menikah dengan isterinya yang cantik jelita, kelak menjadi Nyai yang memiliki ilmu sihir yang kuat (diperankan Meriam Bellina).

Sutawijaya mendapat wejangan dari Ki Sunan Tembayat untuk membangun benteng. Sutawijaya memang tidak sudi di bawah kekuasaan Hadiwijaya.

Di jaman itu Jawa masih baru beberapa periode menjadi kesultanan-kesultanan Islam, setelah melalui masa Majapahit terakhir berkuasa. Para Pangeran, Pendekar dan nuansa ilmu-ilmu kependekaran dan ilmu mistis masih terdapat di Jawa.

Sutawijaya walau juga keras mendidik anak-anaknya, tapi beliau juga membekali tenaga dalam dan ilmu kanuragannya pada anak-anaknya.

Di masa pertentangannya Sutawijaya dengan Hadiwijaya, puteranya yang telah berusia dewasa ialah Raden Rangga. Yang lahir dari puteri dayang Ratu Kalinyamat, semula hadiah pada Hadiwijaya tapi di nikahinya oleh Sutawijaya.

Dan di masa itu, bagaimanakah situasinya di kesultanan Banten, masanya Sultan I gunungsepuh Maulana Hasanuddin?

Kemungkinan di masa bersamaan, Sultan Maulana Hasanuddin juga baru berduka di tinggal mangkat ayahandanya, Ki Sunan Gunung Jati di usianya ke 109 tahun. Kemudian dalam waktu dekat di susul Ki Fatahilah yang juga pernah dekat dengannya ketika menjadi penasihatnya di awal mendirikan kesultanan Banten.

Ki Sunan Gunung Jati dan Ki Fatahilah di makamkan berdekatan di Gunung Sembung, Cirebon. (menurut Sejarah Cirebon Pangeran Sulaeman Sulendraningrat). Dan ironisnya kini ada dari sumber yang mengatakan di sekitar kawasan makamnya jadi banyak terdapat  peminta-minta yang jadinya mengganggu peziarah yang datang ke sana. Bahkan ada juga lulusan dokter turut meminta-minta.  Entah juga bagaimana situasinya di komplek Banten lama yang juga terdapat makam Raja-raja Banten.

Dan Sultan Maulana Hasanudin juga menyibukkan di kegiatannya memperluas wilayah kesultanannya. Yaitu dengan melakukan ekspedisi pengiriman pasukan Surosowan di sekitar Gunung Pulo Sari untuk mengepung kerajaan Banten Girang.

 

Surosowan-Jakarta art doc

Prabhu Hanyakrawati/ Raden Mas Jolang, Raja kedua Mataram setelah Sutawijaya

Surosowan Jakarta art-doc

Sultan Agung Adi Prabhu Hanyokrokusumo masih berkeraton di Kota Gede. Di makamkan di Plered, Bantul

2. Sultan agung Adi Prabhu Hanyokrokusumo

http://dewikdewok.blogspot.com/2012/06/sultan-agung-hanyokrokusumo-dari.html

Surosowan Jakarta art-doc

Keraton kasepuhan Kotagede, masih terdapat penghuninya keluarga kasepuhan Dul Gendhu Matarami

Pustaka Babad Mataram- literatur komik novel agen Surosena : Surosowan-Kahinten-Kahibon-Dul Gendhu Matarami-Tubagus Arief Z M.P (Moelyo Pratomo) S.Sn.  Kahibon adalah keraton terakhir bertakhtanya Sultana Ratu Banten Darussalam di abad 18 m., setelah keraton Surosowan di hancurkan Daendels.

Keluarga bangsawan Bantennya di sebut juga kasepuhan Kahinten/ kasepuhan Kahibon. Dan keraton pertama/kasepuhan kerajaan2 Mataram adalah keraton Kota Gede. Keluarga Hadiningratnya di sebut juga Dul Gendhu/ kasepuhan Dul Gendhu Matarami.

Mataraminya dari gelar yang di dapat Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Raja Mekah, gelar Maulana Matarami, waktu masih bertakhtanya di keraton Kota Gede.

Tapi kemudian di antara turunannya pecah perang saudara lantaran perebutan takhta Mataram, dari kubu Amangkurat dan Pangeran Puger. Ada pun dari keraton Kota Gede bersikap netral tidak ikutan pralaya. Tapi sempat mendapat blokade dari Amangkurat. Lantaran simpatinya ke Pangeran Puger yang tetap bertujuan untuk melawan penjajahan kolonial VOC. Tapi dari Amangkurat duluan yang bersekutu dengan VOC. Hingga sempat berganti turunan Pangeran Puger yang kerjasama dengan Belanda, turunannya Amangkurat telah jadi Kartasura yang bertentangan.

Dan posisinya keluarga keraton Kota Gede yang justru pucuk kelompok keluarga sulung di Mataram tidak nampak di kancah perselisihan antar adik2nya dari keraton Kartasura dan Pangeran Puger II (kemudian jadi keraton Pakubhuwono dan keraton Ngayogyakarta).

Hingga di abad 17m., Mataram terpecah menjadi keraton kasepuhan Kota Gede (di Propinsi DI Yogya),  dari Amangkurat jadi keraton Kartasura, dari Pangeran Puger menjadi keraton Pakubhuwono dan keraton Ngayogyakarta.

Di akhir abad 18 m., dari antara keluarga kasepuhan keraton Kota Gede/ Dul Gendhu menikah dengan keluarga dari kasepuhan keraton Kahinten Kahibon, hingga menjadi kasepuhan Surosowan Kahinten-Dul Gendhu Matarami.

Bahkan seperti pribadi dari ibu/bapak dari hubungan asal-usul dengan Mataram, keduanya sama berasalnya dari keraton Kota Gede/ kasepuhan Dul Gendhu.

Tapi yang jadi Raja-raja Mangkubhumi pun hingga kini keraton Surakarta, keraton Pakubhuwono, keraton Ngayogyakarta.

Seperti ada pepatah siapa di kedudukan tinggi dekat uang pula maka di sekitar situ justru paling dekat dengan banyak kena masalah.

Seperti juga di kedudukan eksekutif Kepala Negara/ Presiden. Karena salahnya sendiri memperebutkan jabatan sebagai Presiden, Raja, tapi ketika sudah jadi tidak sesuai amanat sebagai Pemimpin negara/ Raja, bahkan walau telah berbuat durhaka, mencurangi bagian hak istimewa, bahkan berkhianat dengan mengirim blokade embargo pada kasepuhannya. Atau hanya “politik pencitraan.”

Seperti kini ada saja jika bukan masalah apa, muncul bencana alam. Contoh Merapi kerap meletus di samping juga sebagai gunung berapi paling aktif. Dan yang nampak di berita justru yang paling kena dampak bencana alamnya, Solo / Surakarta.

Dan di ayat Qur’an juga tercantum, ALLOH dan para Malaikat mengawasi keadilan di langit dan bumi.

Hingga di jaman modern pun, di antara segenap keluarga besar segenap keraton Mataram di baliknya ada rasa kecewa, karena pada Raja-raja Mataram, yang sudah jadi Raja-raja, melihatnya seolah ada membantunya ke rakyat, tapi hanya buat citra kedudukannya sebagai Raja, tapi kenyataannya juga pada kerabat2 juga ada tembok arogansi, bahkan juga mengabaikan ketelantaran segenap kerabat di keluarga besar yang juga berasal dari segenap keraton Mataram. Padahal ada di hadits Nabi SAW., belum sempurna iman seseorang jika ia belum bersedekah pada keluarganya. Juga ada di hadits Nabi SAW., berkata pada seorang umat Islam yang bertanya padanya, soal keutamaan bersedekah, dan Nabi SAW menjawabnya dahulukan terlebih dulu menafkahi keluargamu, kerabatmu yang masih miskin-miskin.

Sementara buat keluarga kasepuhan Surosowan-Kahinten-Kahibon-Dul Gendhu Matarami yang juga termasuk keluarga kasepuhan Pangeran Jayakarta di samping juga warga lama Ibukota DKI Jakarta (dgn kerabat2 yang bahkan sejak masa Batavia sudah jadi warga), jika di balik di tanya kan kamu sudah di Jakarta, tapi kenyataannya juga di Jakarta situasinya juga dengan adanya inkonsistensi2, kontroversi2, juga banyaknya para koruptor, pertumbuhan Jakarta yang menjadi kota kapitalisme, dan penguasaan sebenarnya juga pada Presiden, pejabat, anggota elit MPR, DPR yang juga di antaranya ada mafia korup2, para bhayangkari dulunya tunduk di bawah Sang Prabhu Kutaramanawa (Prabhu dari keluarga sulung) dan lain kenyataan di jaman modern kini. Dengan juga adanya bahkan sanggahan dari warga yang mungkin pendukung kapitalisme karena sudah jadi pengawai, usahawan sukses tinggal dengan bilang Jakarta kan kota heterogen. Tapi lantas apa turut juga menghargai hak para keluarga besar bangsawannya yang bahkan juga para kasepuhan Raja2, bahkan dzuriyah internasional. Itulah bagian dari fenomena ketidakadilannya.

Seperti dari hari ke hari kemudian ada muncul orang2 durhaka, sombong dengan kelakuan, ucapan, bahkan pada kasepuhannya berbuat rooina. Mengabaikan kenyataan pada segenap kasepuhan P. Jayakarta, justru yang nampak kebanyakan hidupnya di garis kemiskinan, Ulama tua bahkan rumahnya di dalam pasar kecil, setiap hari sedari Subuh berjalan dari rumahnya di pasar kecil yang lantainya juga tanah becek, bahkan telah dengan berkaki tiga dengan tongkatnya. Ada jadi UKM pun masih di level kecil, di dalam pasar. Ada anak yatim sejak lama tanpa mendapat lapangan kerja di Jakarta. Kebanyakan masih di garis menengah miskin-miskin nyatanya, padahal sebenar juga para kasepuhannya Raja-raja di Jawa dan Indonesia, bahkan di Asia Tenggara dan internasional. Kenyataannya kasepuhan raja-raja itu bersama rakyat segolongan di kelas ekonomi menengah miskin.

Bahkan terdata sebagai keluarga kasepuhan Pangeran Jayakarta pun tidak. Bahkan di kota Jakarta. Padahal keluarga Pangeran Jayakarta ini terdiri meliputi : keturunan Tubagus Angke, keturunan Pangeran Surosowan kasepuhan Kahinten-Kahibon dan Dul Gendhu Matarami, dan keturunan Fatahilah/ P. Fadilah Khan.

Dulunya  dari sejarahnya sempat ada keraton Jayakarta. Tapi karena akibat perbuatan J.P Coen dan awal masuknya VOC sebagai awal bibit kolonial di Indonesia, bahkan, juga membuat keratonnya Jayakarta di hancurleburkan.

Padahal di UUD 45 pasal 18 juga tercantum isi pasal Pemerintah, MPR, DPR dan negara wajib memandang hak asal-usul istimewa kedaerahan.

Seperti pernah teringat ucapan teman kelahiran Yogyakarta berasal dari SMSR Yogya yang sama, bahkan seangkatan kuliah di FSRD IKJ, pernah berpameran bareng di TIM hingga ke Yogya, bahkan belakangan baru tahu ternyata masih hubungan kerabat, pribadi dari Kota Gede, ia dari keraton Yogya, walau usianya lebih tua dia setahun, tapi secara status bangsawan keraton sulungnya masih pribadi.

Pernah dari bapaknya juga dia ketika sempat berbincang iseng ketika di menginap di Yogya berkata, mungkin ada lainnya juga pengaruh kalau di Yogya ada kerajaan, maka perhatian Yogya sebagai kota seni budaya lebih besar daripada di Jakarta.

Yang bahkan dulu sempat di anggapnya bagaikan kota koboy, hutan beton, kota kapitalisme, kota heterogen.

Bersama dia juga kadang sempat mengeluhkan susahnya hidup di Jakarta, cari kerja, duit, harga juga lebih mahal, ketika teringat membandingkan ketika di Yogya.

Tapi buat pribadi yang lahirnya di Jakarta, di Yogya tidak cocoknya terasa lebih panas suhu udaranya. Bahkan membuat jadi susah tidur ketika sempat menginap di sana. Atau mungkin juga karena lokasi rumah teman yang di Jatimoelyo, Sleman, berbeda ingatan ketika pernah waktu kecil menginap di rumah Bude di jl. Sosrowijayan, Malioboro. Kini rumahnya statusnya rumah kosong. Tapi keluarganya pada pindah di Bekasi.

Memang beda kalau ingat menginap di rumah Bude di Yogya lebih nyaman, adem rumahnya ada pohon2, apalagi dekat ke Malioboro. Tapi itu kenangan dulu.

Dari bapaknya teman juga sempat terdengar cerita, jika terdapat dari antara warga di sekitar yang juga petani sempat berselisih bahkan nyaris berkelahi lantaran waktu itu musim kemarau panjang memasuki Yogya, dan mereka berebut saluran irigasi buat mengairi sawah. Waktu itu masih di sekitar tahun 1996. Dan di banding di sepuluh tahunan kemudian berentetan terjadi letusan gunung Merapi. Kalau ingat masa itu, jadi berkesimpulan mungkin terjadinya musim kemarau panjang yang juga sangat panas suhu udaranya di Yogya mungkin juga bagian dari tanda-tanda gejalanya.

Teringat waktu itu bapaknya teman sedang baru menyelesaikan lukisannya, mengenai cerita letusan gunung Galunggung.

Tapi Presiden, para elit MPR, DPR, kapitalisme yang bahkan numpang berkedudukannya sejak lama di Jakarta, menimbun kekayaan, korupsi atau memboroskan uang negara. Menjadikan pengorbanan menjadi kesia-siaan, mudhorot tidak maslahat, tidak adil.

Juga terdapat di hadits Nabi SAW., memberitahukan ciri-ciri tanda akhir jaman/kiamat, termasuk : bangsawan-bangsawan (dzuriyah) jadi miskin-miskin, tapi muncul dari golongan hamba sahaya mendadak menjadi kaya. Di samping jadi muncul kejahatan merajalela, banyak pembunuhan2, bencana alam, matahari mulai terbit dari barat (seperti contoh di Rusia tadinya biasa musim dingin, tiba2 kini jadi banyak bersinar matahari).
WALLOHU A’LAM BISHSOWAB

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s