Telusur keluarga kasepuhan Pangeran Jayakarta by Tubagus Arief Z art

Surosowan-Jakarta art doc

Step-1 cover Satria Surosena Fatahilah-Hasanuddin, by Tubagus Arief Z

Tubagus Arief Z art-doc

Ki Fatahilah Pahlawan pendiri Jakarta

Surosowan-Jakarta art doc

Pangeran_Jayakartahttp://www.sufiz.com/kisah-mujahid/pangeran-jayakarta-membumihanguskan-sunda-kelapa.html

Sejarah keluarga kasepuhan Pangeran Jayakarta

http://www.sufiz.com/kisah-mujahid/pangeran-jayakarta-membumihanguskan-sunda-kelapa.html

Sejarah siapa-siapa saja  keluarga Pangeran Jayakarta ini memang nampaknya jarang di ungkap. Justru orang Jakarta sendiri dari Sarjana, peneliti sejarah kedapatannya berputar dahulu ke sejarah keluarga raja-raja di sekitar Jawa, seperti sejarah Babad Cirebon, Banten, dan Mataram.

Bahkan makamnya Pangeran Jayakarta pun masih misteri hingga kini di mana. Karena hanya terdapat satu. Padahal beliau punya keturunan 4 anak, dan masih ada lagi kerabatnya yang masih di sebut termasuk keluarga Pangeran Jayakarta, dari Wijayakrama dan Tubagus Angke, dan kasepuhan Surosowan di Jakarta yang bahkan sudah terdapat sejak masa Jakarta masih bernama Batavia di masa pemerintahan Hindia.

Hal misterinya berhubung dengan masa ketika menghadapi penjajah Portugis, hingga kemunculan VOC Belanda. Di sembunyikannya sebagian dari anaknya Pangeran Jayakarta juga karena melalui pendudukan VOC di Batavia.

Dan seperti pengakuan sejarah Belanda, di Batavia juga Belanda mendapatkan gangguan perlawanan bumiputera dari antara tenggang-tenggang waktu, seperti di daerah lain.

Dan dari temuan kini pun masih terdapat pimpinan kelompok silat di Jakarta, hingga Ulama tua, ternyata juga masih keturunan dari Pangeran Jayakarta.

Keluarga Pangeran Jayakarta di temukan dari website terdapat dari beberapa keturunan yang masih dekat hubungan kekerabatannya, yaitu :

1. Keluarga keturunan Fatahilah/ Pangeran Samudera Pase, Fadilah Khan. Ialah keturunan dari pernikahan Ki Fatahilah, Bupati I Jayakarta dengan Ratu Ayu Pembayun, janda mendiang Sultan II Demak, Yunus/ Pangeran Sabrang Ler. Dan Ratu Ayu Pembayun masih puteri keturunan kesekian dari isteri ke-4nya (Nyai Tepasan) Ki Sunan Gunung Jati.

2. Keluarga Tubagus Angke. Pangeran Tubagus Angke di sebut juga ayahnya berasal dari keturunan Pangeran Cirebon,, dan Ibunya ialah Ratu Winahon, kakak perempuan dari Maulana Hasanuddin, dari pernikahan Ki Sunan Gunung Jati dengan isteri ke-2nya, Nyai Kawunganten, masih puteri keturunan dari Dipati Surosowan, putera keduanya Prabhu Siliwangi.

3. Keluarga kasepuhan Surosowan (dari Ratu Kahinten keraton Kahibon akhir abad 18 m)  di Jakarta sejak masa Batavia. Dari hubungan asal-usul pernikahan Pangeran Mohammad Damien dari cucu uyut Ratu Kahinten, Sultana Ratu terakhir dari keraton Kahibon, akhir abad 18 m. Waktu akhir abad 18 m., keraton Kahibon di jadikan pengganti keraton Surosowan yang hancur rata dengan tanah akibat perbuatan Daendels. Dan keraton Kahibon yang paling lama bertahan hingga awal abad 19 m., lantaran di tinggalkan. Sedangkan keturunan dari Ratu terakhirnya, Ratu Kahinten, ke Pangeran Mohammad Damien pindah ke Batavia, lantaran mesti bekerja. Mungkin juga di masa pemerintahan Hindia, Batavia jadi pusat ekonomi dan ibukota negara Hindia.

Waktu itu untungnya Pangeran Mohammad Damien bekerjanya di Batavia termasuk di angkat sebagai pegawai tinggi di pemerintahan Hindia yang mulai di pegang langsung oleh kerajaan Belanda. Dan Belanda mulai menghapus VOC, di samping tiba-tiba VOC bangkrut. Tapi ada juga peneliti yang memperkirakan walau VOC bangkrut, tapi masih ada peninggalan harta-harta karun yang di sembunyikannya. Mungkin masih di sekitar Jakarta, atau pulau Oonrust.

Tapi sejak abad 16m hingga ke abad 18 m., juga VOC telah lama menjajah dan menjarah harta kekayaan di Indonesia. Maka harta-harta karun itu jika di temukan masih milik bangsa Indonesia selayaknya.

Bahkan dari sejak VOC menanamkan pondasi penjajahannya, Belanda membangun negaranya dari miskin hingga menjadi negara yang di bangun dari dasar permukaan laut.

 

Pangeran Mohammad Damien ini ibu dan kakeknya orang-orang muslim yang juga keturunan Belanda. Maka hingga Pangeran Mohammad Damien rupanya masih sebagai Pangeran bule tapi muslim. Bahkan masih hingga di sekitar anak-anaknya yang juga masih para nenek dan kakek ke generasi pribadi.

Tapi Pangeran Mohammad Damien justru memilih jodohnya dari puteri Jakarta. Kemudian karena isteri pertamanya mangkat tapi sempat berketurunan, kakek uyut P. Mohammad Damien menikah lagi dengan sekali lagi puteri Jakarta.

Kemudian ketika lama bertugas di Rangkasbitung, menikah dengan puteri Rangkasbitung. Dari tiap isterinya, Pangeran Mohammad Damien berketurunan, makanya keturunannya/ keluarga Pangeran Mohammad Damien yang juga sebagai satu-satunya sisa Pangeran putera mahkota dari keraton terakhir Kahibon, cucu uyut dari Ratu Kahinten, jadinya juga berketurunan banyak di masa pemerintahan Hindia Belanda.

Dan Pangeran Mohammad Damien di awal  nikahnya sebenarnya monogami. Tapi baru poligami  (dengan 2 isteri) setelah lantaran Takdir IlaHi isteri pertamanya mangkat. Dan menurut bagian pengetahuan dari fiqih Islam soal poligami, juga baru boleh jika sudah di ijinkan isteri terdahulunya.

Memang seperti pengakuan Sri Sultan Hamengkubhuwono X, ia juga mengakui hasil produk poligami. Tapi beliau juga tidak mau meneruskan demikian seperti orang-orang tua terdahulunya.  Mungkin di hati nurani sebagian bangsawan di masa modern kini pun sama kebanyakan sebenarnya maunya monogami, tapi juga dengan pilihan yang cocok, dan istimewa. Di samping dengan kenyataan berhubungan asal-usul istimewa. Bahkan telah terdapat di regenerasi kini bangsawan-bangsawan dari Banten, Mataram, laki-laki atau perempuan, ada yang bahkan telah mangkat masih di usia muda tapi belum sempat menikah, masih dalam keadaan perjaka atau perawan.

Bahkan ada yang telah mangkat di usia masih kanak remaja, lantaran kena penyakit yang juga berhubungan dengan pasangan yang di nikahinya. Tapi jika di tinjau dari sejarah dari kronologi keluarga Raja-raja yang nampak masih wajar-wajar soal data fisik kesehatannya.

Tapi setelah misal fenomena dari Uwak Surosowan melalui mengambil pasangan pernikahan ada yang misal mendapatkan pasangannya kebanyakan darah putih, yang juga ada rawannya ke dalam fisik ke keturunannya. Tapi jika sudah cinta, soal hati, bisa tak mempermasalahkan soal hal ikhwal demikian.

Atau seperti di realitas pernikahan Ibu dan bapak pribadi, yang sebenarnya masih ada hubungan kekerabatan, antara bangsawan Surosowan dengan Kota Gede Mataram, bahkan Ibu masih peranakan Surosowan dan Kota Gede, tapi dari Ibu-ibunya/nenek. Sedangkan menurut terjemah fiqih, jika kedapatannya hubungan saudara sepupu dari Ibu masih boleh menikah.

Bahkan sempat pernah masih curiga dan meragukan juga melalui ucapannya tabib Malang yang hanya dari ocehan terawangannya, ketika di tanya soal asal-usul kakek, di jawabnya lurah di desa Kutoarjo, dan berputera pendekar. Belakangan wilayah ini juga di ketahui dari pemberian lintasan info teman, juga bernama Kutohardjo.

Padahal dari sepengetahuan dari bukti nyatanya, di batu nisannya di pantai Karanganyar, Petanahan kabupaten Kebumen, tercantum namanya dengan gelar Raden Brodjo Soetomo (kakek uyut) kemudian puteranya Raden Moelyopratomo (kakek dari bapak).

Dan pantai Karanganyar di lihat di peta letaknya persis bersebelahan pantai Bantul, atau juga mungkin Plered, Bantul tempat makamnya Sultan agung Adi Prabhu Hanyokrokusumo. Apalagi belakangan juga di temukan kakek R. Moelyopratomo juga meninggalkan pusaka berupa tombak.

Atau ketika di tanya soal Kian Santang, di jawabnya oleh si Tabib Malang, memang benar ketemu sayidina Ali ra., dan rupanya Kian Santang itu bertaring, berambut gondrong, mengenakan kalung dan atribut berlambang Singa. Ia juga putera dari Pangeran Singosari. Di mana Tabib Malang itu juga menyebut dari ceritanya di sebut gelarnya putera Brawijaya. Dan Brawijaya adalah gelar dari Majapahit/Singosari.

Dan di website dari seperti label kelompok Islam kini, menyebutnya Kian Santang itu sebenarnya Pangeran Sengara di Garut, putera bungsunya Prabhu Siliwangi. Dan bertemunya dengan Syekh Ali.

Jadi bingung juga ada 2 versi mengenai gambaran Kian Santang.

Tapi bapak juga sebelumnya sejak ketika menikah dengan Ibu, bahkan masih belum tahu siapa sebenarnya bapaknya. Hingga telah berketurunan sekian, bahkan bapak pernah kedengaran bertanya pada Mbah puteri di Klaten (yang dari cerita dulu, bapaknya/ kakek uyut dari Mbah puteri ini berasal dari keraton Kota Gede).

Pertanyaan bapak yang hingga membuat Mbah puteri tadinya menyambut jadi masuk ke kamar, dan nampak terdengar menangis, adalah: siapa sih bapaknya sebenarnya.  Hingga kemudian menemukan situs Petanahan, pantai karang Anyar persis di sebelah Bantul/ Plered, Bantul.

Jadinya membuat dengan Ibu, anak-anak, bahkan Bapak juga jadi kasihan pada Mbah puteri. Tapi juga hak anak mengetahui siapa bapak sebenarnya.

Dan Mbah puteri juga ada menyesali sikapnya pada bapak sedari kecilnya malah seperti nampak mendiskriminasikannya, sejak menikah lagi. Dan ayah tirinya bapak  juga keras, waktu bapak masih kecil tiba-tiba di tinggal mangkat bapaknya (kakek), dan di pindah asuh. Tapi di antara anak-anaknya Mbah puteri Klaten juga, Bapak dengan Ibu membawa anak-anaknya paling sering mengunjungi Mbah puteri Klaten yang nampak kesepian di tinggal anak-anaknya, bahkan berjauhan rumah dengan kerabat tinggalnya di lain kota.

Kalau dulu, sempat pribadi dengan kakak-kakak menduganya termasuk penyebab perceraian kakek Moelyopratomo dan Mbah puteri Moegirah Moelyowihardjo juga lantaran masih saudara sepupu dari segaris ayah. Tapinya bahkan walau sudah sempat berketurunan melalui berumahtangga kemudian bercerai. Tapi kakek pun mengambil isteri lagi, juga masih dari hadiningrat Surakarta. Mungkin sejak cerai, kakek menikah lagi hingga 2 kali. Tapi ada perempuan yang pernah mengajukan dirinya jadi isterinya, tapi di jadikan saudara angkat. Hingga kini ada keturunannya di Solo.

Jika mendengar cerita mengenai kakek R. Moelyopratomo dari Pakde, nampaknya kakek di masanya termasuk pria yang punya daya tarik tinggi hingga kedatangan perempuan bahkan mengajukan diri jadi isterinya. Tapi masa lalu kakek dulu, lain dengan masa regenerasi cucu-cucunya di masa modern. Di samping kakek memang di fotonya dulu nampak bertubuh tinggi, tegap, bertangan kekar, berurat, bahkan punya ilmu kanuragan tinggi bagaikan pendekar Mataram handal.

Juga wajahnya nampak setampan Setiawan Jodi, di samping termasuk pria terkaya di Jawa waktu itu, dan masih mengenakan blangkon, pakaian bangsawan Jawa. Dan sehari-harinya mengendarai kuda, kereta kuda atau mobil Ford sport klasik (yang sudah tidak memakai engkol). Dan tatapan sorot mata-karakternya mungkin mirip seperti Clint Eastwood.

Dan jika mendengar cerita dari penduduk sekitar nampaknya kakek juga dulu di masanya orang yang di segani. Rumahnya juga di sebut ‘Gedong’satu-satunya yang bahkan walau ada yang sudah jadi puing-puing, tapi jika di lihat keseluruhan nyaris seukuran istana Merdeka dan halaman luasnya. Bahkan masih ada lagi areal buat kebunnya yang terdiri dari pohon-pohon kelapa dan pisang raja,hingga tanah masih di bilangan pasar di Petanahan, hingga sawah. Kakek dulu juragan tanah sawah, kebun dan juga punya simpanan emas yang banyak. Bahkan punya rumahsakit sendiri. Mungkin juga kakek masih punya perusahaan lain. Tapi yang terdengar kakek nampaknya juga berhasil sebagai pebisnis/entrepreneur.

Padahal menurut biografi Bapak Soeharto, mantan Presiden ke-2 RI, yang juga lahir di sekitar masa itu, di masa Sri Sultan HB VI, situasinya penduduk Jawa justru sedang mengalami krisis ekonomi yang sangat parah. Bahkan Pak Harto lahirnya di desa juga bermula dari keadaan ekonomi sangat miskin.

Tapi juga ada temuan asumsi, di masa pemerintahan Hindia pun, Belanda juga punya pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, lantas bagaimana jika di masanya juga seumpama pengusaha Belanda bahkan yang juga di lindungi kuat oleh penguasanya yang juga Belanda waktu itu, kemudian kemunculan ada orang Jawa menjadi pengusaha berhasil juga. Dan asumsi adanya juga perseteruan di bidang bisnis.

Apalagi masih di jaman kolonial walau di rubah oleh Belanda menjadi pemerintah Hindia, tapi manipulasi-manipulasi tekanan sebagai penguasa pada bumiputera nampaknya masih ada juga. Di samping mungkin ada juga kecurigaan2 dari elit Belanda jika pengusaha2 bumiputera yang muncul justru juga dapat jadi bumerang padanya.

Karena juga dengan menggunakan hartanya misal kemudian untuk membiayai pergerakan2 gerilya. Bumiputera yang mungkin di sengaja di buat krisis ekonomi parah sehingga banyak mengalami kemiskinan parah supaya bergantung pada penguasa pemerintah Belanda, atau jaringan2 perusahaannya, sebagai buruh rendahan, bahkan di jadikan budak, dengan adanya kemunculan bumiputera (apalagi yang bangsawan ) jadi kaya justru malahan mengancam kedudukan kekuasaannya Belanda di Indonesia.

Justru orang Belanda atau sebagai perwakilan penjajah barat lebih senangnya yang kaya justru dari golongan bukan bangsawan. Atau bangsawan walau kaya jadi mengabaikan kerabatnya sendiri yang miskin2 terpecah2 tidak bersatu seperti pernah kejadian ada jalinan di masa menentang penjajah walau telah masuk ke masa pemerintah Hindia. Supaya nantinya ada rasa ketidakadilan malah jadinya ada lagi macam2 imbas di baliknya, menambah perpecahan, dan paregreg yang sempat padam kemudian tersulut lagi. Dan bangsawan Jawa kini juga sudah termasuk dzuriyah pula.

Di mana soal keadilan hak-haknya juga turut di awasi ALLOH SWT., dan para Malaikat mengawasi keadilan di langit dan bumi.

Apalagi nyatanya walau dengan alasan melakukan latihan perang, Belanda dari pangkalannya dari Australia kemudian melakukan pengeboman semena-mena di sekitar Petanahan, pantai Karang Anyar dan Kebumen. Bahkan bomnya ada jatuh persis di rumah kediamannya kakek R. Moelyopratomo.

Dan karena peristiwa itu pula malahan membuat anak-anaknya kakek R.Moelyopratomo bahkan segenap anak-anak bangsa yang tumbuh sedari masa itu jadi kebanyakan berminatnya masuk ke militer. Dengan sekalian di upaya sekalian mendapat peluang untuk memerangi Belanda, bahkan dengan bersenjata pula. Tapi waktu itu juga Belandanya penjajah, bahkan kemudian juga ada teman-temannya membantunya sebagai nekolim, termasuk Inggeris dan AS.

Tapi, setelah masuk ke jaman orba, Pak Harto juga mencanangkan repelita, mengarahkan generasi bangsa jadi mengisi kemerdekaan, ke pendidikan; Tut Wuri Handayani, partisipasi di membangun bangsa dan negara. Maka motivasi generasi pun turut berubah.

Dan bapaknya Ibu ialah Ulama Raden Sumedang. Jadinya ke keturunannya hanya terpengaruh di beda-beda soal turunnya golongan darahnya, antara O dan A. Tapi masih masuk di golongan darah normal di kesehatan. Yang berat adalah golongan darah AB, karena soal donornya paling sulit dan golongan minoritas di golongan darah.

Tapi untungnya Takdir ALLOH SWT., masih memberi rahmat pada segenap manusia.

Menurut website Pangeran Jayakarta membumihanguskan Sunda Kelapa (benteng Inggeris), pelakunya ialah Pangeran Jayakarta termasuk keturunan dari Fatahilah, keturunan Tubagus Angke, Sultan ageng Tirtayasa dan Dipati Aria Banten masih keturunan putera sulung dari Tirtayasa (sebenarnya putera mahkotanya Tirtayasa).

Di mana putera keduanya, Pangeran Haji/ Abdul Kohar yang berkhianat pada Tirtayasa. Kemudian menerima takhta Sultan Banten dari VOC Belanda. Di samping sebelumnya menyeberang ke kubu kompeni VOC kolonial Belanda.

Di waktu itu sempat kesultanan Banten dan Pangeran Jayakarta beserta keluarganya, bumiputera juga dalam posisi sulit, lantaran melalui J.P Coen mengusulkan ibukota VOC di kota Jayakarta yang juga dengan mengajukan syarat-syarat pendirian VOC sejak di Banten. Kemudian juga datang Inggeris yang juga ada maksud ikutan menjajah di Indonesia melalui pengiriman utusan dan orang-orangnya ke Banten dan Jayakarta.

Inggeris memang di sebut berasal dari kerajaan kaya, tapi di waktu itu juga Raja-rajanya berlaku sombong bahkan juga penindas, dan kejam. Contoh jika melihat perbandingan dengan cerita di masanya Inggeris menjajah di Skotlandia dan Irlandia melalui cerita Rob Roy, Braveheart  Sir William Wallace. Atau seperti masih nampak di abad 20 m., dengan peristiwa rasisme apartheid, pemenjaraan Nelson Mandela di Afrika Selatan.

Tapi di era 2000-an mulai berubah ke Italia yang rasisme (yang nampak di pertandingan sepakbola, kasus Materrazi menghina Zidane, atau kasus Balotelli). Dan di sejarah juga asal-usul Raja-raja dan bangsa Inggeris juga ada dari Italia, sejak masuknya pendudukan Romawi di Inggeris.

Atau ketika melalui komik petualangan Asterix-Obelix, nampak orang-orang Galia mencemooh Kaisar dan bangsa Romawi yang kerap juga di gambarkan dengan parodi nampak arogansi.

Tb Arief Z-art

Anak miskin menjaga modal becak bapaknya (Step-1 1997). By Tb Arief Z. lukisan cat minyak di kanvas 120 X 90 cm

Tubagus Arief Z art-doc

karya lukisan lama, di terminal Blok M 2004, by Tubagus Arief Z

Tb Arief Z-art

Di tempat sablon Muda karya bersama pemiliknya (keturunan PJayakarta/Wijayakrama) Bang Adi dan Oding (staf). (2012). By Tubagus Arief Z. Sketsa cat air di kertas concord A4

Tb Arief Z-art

The Battle at Jakarta unsatisfy. (2012). By Tb Arief Z-art.
Lukisan cat akrilik di kanvas 3 panel @65 X 165cm= 195 X 165 cm
Price : Rp 2 juta/ 2 million rupiahs (unframe)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s