Tinjauan sejarah hubungan keluarga Ki Sunan Gunung Jati, Tubagus Angke, Maulana Hasanuddin, dan Ki Fatahilah

Surosowan-Jakarta art doc

Pangeran_Jayakartahttp://www.sufiz.com/kisah-mujahid/pangeran-jayakarta-membumihanguskan-sunda-kelapa.html

Surosowan-Jakarta art doc

Step-1 cover Satria Surosena Fatahilah-Hasanuddin, by Tubagus Arief Z

Pangeran Jayakarta kedatangan utusan Inggeris

Pangeran Jayakarta masih garis seketurunan dengan keluarga bangsawan Banten (Surosowan), masih dari sekakek Dipati pesisir, Sang Surosowan dari putera ke-2 Prabhu Siliwangi. Putera ketiganya P. Cakrabuwana di Cirebon. Adapun putera sulungnya Prabhu Siliwangi, ialah putera mahkota Pajajaran, Sangiang, kemudian hingga di ganti Prabhu Surawisesa yang tewas ketika menghadapi pasukan Fatahilah yang juga terdiri dari pasukan Banten, Cirebon, Kuningan, Demak. Lantaran Prabhu Surawisesa bersekutu dengan penjajah Portugis.

Menurut sejarah Cirebon tulisan P. Sulendraningrat terdapat klarifikasi sejarah asal-usul Ki Sunan Gunung Jati, Ki Fatahilah, P. Jayakarta dan gunungsepuh Banten, Maulana Hasanuddin.
Kalau Fatahilah di sebut di sejarah Cirebon berasal dari keturunan Sultan Samudera Pase, Sultan Hud, di abad 15m. Dan punya adik saudara perempuan, puteri Samudera Pase.

Dan dari adik saudara perempuannya ini mungkin jadi penerusnya Samudera Pase ke kesultanan Aceh, dan kerabatnya di kerajaan2/ istana di Sumatera, meliputi kesultanan Deli, Padang, Malaka (sempat di duduki Aceh), Johor (Malaka/Malaysia yang sempat di duduki).

Adapun asal-usul ayahnya Fatahilah/ Pangeran Fadilah Khan, Sultan Hud juga putera dari Syekh Barkat Zaenal Alim, putera kedua Syekh Jamaludin al-Husain, yang pernah menjadi penasihat Sultan Irak, Sulaeman di abad 13m.

Syekh Jamaluddin al-Husain punya putera2 meliputi : putera sulung, Syekh Ali Nurul ‘Alim, berputera Syarif Makhmud Abdulah (Sultan Mamluk di Mesir), bercucu, sulungnya Syekh Syarif Hidayatulah Nurudin/ Ki Sunan Gunung Jati, Wali pandhita ratu, keduanya Syekh Syarif Nurulah (penerus takhta Sultan Mamluk di Mesir, hingga dinastinya berakhir di abad 18 m., setelah kedatangan pendudukan Napoleon-terdapat di lukisan pelukis Spanyol Fransisco. Goya, peristiwa perang sengit pasukan Mamluk dan Perancis di mana dari kedua kubu jatuh korban yang banyak). Jadi dinasti Syarif Mamluk di Mesir sejak abad 15 m., ialah juga kerabat adik sepupu dari dinasti Syarif Hidayatulah Nurudin.

Di Samudera Pase juga pada abad 13 m., terdapat nama seperti Sultan Zaenal Abidin yang juga di sebut masih turunan al-Husain ra. Dan temuan data Syekh Barakat Zaenal Alim menyebarnya ke Gujarat. Dari Gujarat ke Samudera Pase, hingga turunannya Sultan Hud jadi Raja Samudera Pase.(menurut sumber Sejarah Cirebon, Pangeran Sulaeman Sulendraningrat).

Kemudian kesultanan Samudera Pase mendapat gempuran dari Portugis. Portugis tibanya melalui menduduki Gujarat terlebih dulu, kemudian Malaka. Hingga ada munculnya figur Hangtuah, pahlawan dari Malaka.

Bahkan Hangtuah juga yang sempat membantu misi orang2 Jawa dengan Demak waktu itu merebut Malaka dari Portugis. Tapi malah di khianati Sultannya yang sekutu dengan penjajah Portugis. Hingga bahkan membuat orang2 Jawa, Demak, juga India yang sekelompok sebagian tertangkap kena di khianati mata2nya Portugis yang juga orang Malaka. (Sejarah tulisan Prof Slamet Mulyana terbitan kerjasama dengan Gramedia). Bahkan yang tertangkat juga di siksa dan di eksekusi mati.

Di 1980-an nama Hangtuah bahkan terdapat di truk2, dan kendaraan transportasi, seperti truk Chevrolet di Jawa Tengah.

Tapi sejak peristiwa TKI, munculnya peristiwa kelompok teroris bom2 nama Hangtuah jadi hilang di Jawa.

Mungkin kemiripan Hangtuah kini dengan Datuk Anwar Ibrahim.

Jadinya Pangeran Fadilah Khan setelah datang terlebih dulu ke Mekah, kemudian mendapat saran dari Ulama di Mekah untuk mendatangi ke Demak. Jika beliau bukan Pangeran keturunan Timurtengah, Samudera Pase mana mungkin hingga mengungsinya ke Mekah terlebih dulu, setelah kerajaannya di duduki Portugis.

Waktu itu Ulama Mekah mengatakan padanya dari Timur tengah terlalu jauh jaraknya memberi bantuan. Sedangkan dari kubu kerajaan Islam yang terdapat memiliki armada, artileri, pasukan yang kuat di Asia tenggara adalah Demak waktu itu.

Jadinya P. Fadilah Khan mendatangi ke Demak, dan tibanya di pelabuhan Moro, Demak.

P. Fadilah Khan kemudian melalui peristiwa kebetulan di perayaan Maulid, membuatnya di angkat masuk ke prajurit Demak di masa Sultan III Demak, Trenggono/ Tung-Ka-Lo. Hingga karena indeks prestasinya di ketentaraan Demak, membuatnya di angkat jadi Panglima armada laut. Karena di latihan perang regu pasukannya dominan unggul membuatnya di gelari Fatahilah.

Bahkan Fatahilah juga menggantikan posisi Ki Sunan Kalijaga (atau Gan-si-cang, cucu dari Kapten Gan-Eng-Chu dari armada Chengho) yang sejak masa Sultan I Raden Patah/Jimbun hingga Sultan II, P. Sabrangler/ Yunus/Yat-sun sebagai Kepala bagian produksi kapal2 armada dan pembuatan artileri Demak, di Semarang.

Dari hubungan latar sejarah juga di temukan jika orang2 Demak sebenarnya juga berasal dari keturunan orang2nya armada Chengho dari Cina yang di tempatkan menetap di Jawa. Kemudian ada yang menikah dengan penduduk setempat di Jawa. Makanya hingga kini ada orang Jawa rupanya semi Jawa-Cina, juga berkulit putih kekuningan. Contoh misal di pemain bulutangkis, Rudi Hartono, Liem Swie King, dll.

Tapi orang Jawa kini bahkan ada yg sudah menikahnya dengan org Jepang. Di mana bahkan perempuan Jepang ada mengakui bahwa pria muslim Jawa lebih baik ketimbang di banding suami dari orang bule.

Atau orang Asia yang menikah dengan pria bule, misal dari AS, malah belakangan selingkuh juga dgn perempuan2 bule di belakang hari. Menyesal kemudian hanya lantaran di awal buat gengsi.

Bahkan di keluarga Surosowan pun, nampak di orang2 tuanya, kerabatnya ada yang rupanya beragam dari berambut keriting, berkulit gelap padahal urang Sunda, ada yang seperti Arab, ada yang ketionghoaan, ada yang berupa Jawa, hingga berupa keindo-belandaan.

Bahkan di  teladan sejarah orang Surosowan menikah dengan perempuan bule, tiada nampak penyesalan dari si perempuan bulenya, atau berbanding masa kini pun perempuan bule, misal kisahnya Britney Spears yang juga kesal bersuami sesama bule  di AS.

Kenyataannya demikian. Hingga kini ada ungkapan dari orang Papua (yang berasal dari suku masih primitif) yang merasa beda dengan suku2 di Indonesia, tapi mungkin juga karena pengaruh budayanya dan sejarah pernikahannya. Karena jika di lihat misal di Kaimana yang wilayah kesultanan di Sorong, nampak orang Papuanya lebih putih, dan bersih, mungkin juga karena muslim.

Fatahilah kemudian menikah dengan Ratu Ayu Pembayun, janda mendiang P.Sabrangler yang mangkat setelah kepulangan dari ekspedisi ke-2 ke Malaka.
Yang juga puteri dari Ki Sunan Gunung Jati dari isteri ke-4nya. Atau masih kakak pada Sultan Trenggono.

Melalui Sultan Trenggono, Fatahilah di angkat jadi Panglima Demak. Dan dari pelabuhan Moro singgah terlebih dulu di pelabuhan Cirebon yang kemudian juga di namai Pesambangan.

Dan sejak bertemu Uwak sepupunya, Ki Sunan Gunung Jati yang telah berusia 105 tahun bersinggasana di astana Cirebon, Fatahilah jadi mulai berpindah mendekat ke Ki Sunan Gunung Jati. Termasuk adanya alasan2, seperti Sultan Demak Trenggono, berlakunya lebih keras. Dan kerap di panggil mendapatkan tugas2 yang terasanya berat di emban oleh Fatahilah. Terasanya oleh Fatahilah ketika mulai berusia tua dan masih mendapat tugas2 misi perang, di mana Fatahilah yang juga sudah berumahtangga juga ingin hidup damai, dan khawatir dengan resiko mendapat tugas perang ketika usianya mulai tua.

Kemudian melalui Ki Sunan Gunung Jati, Fatahilah sempat di pindahtugaskan di angkat sebagai penasihat pada putera sulungnya yang di angkatnya menjadi Sultan Banten, Maulana Hasanudin (gunungsepuh Surosowan), yang jika di telusur asal-usulnya walau berusia lebih muda (lantaran hubungan sejarah pernikahan sejak Syekh Ali Nurul Alim dan Syarif Makhmud Abdulah yang belakangan berketurunan di banding adik2nya, bahkan menikah lagi dengan puteri Pajajaran, Ni Rara Santang yang usianya jauh lebih muda darinya), tapi status sebenarnya kakak sepupunya Fatahilah (menurut sejarah Cirebon PS Sulendraningrat).  Di mana hingga masa kini pun, seperti pribadi pernah waktu remaja tiba2 bertemu saudara yang bahkan berusia jauh lebih tua tapi mencium tangan dan ternyata adik kemenakan, atau adik kemenakan perempuan dari Banten yang telah berusia 40-an tahun lebih dengan suaminya dari Medan yang juga berusia sesebaya juga mencium tangan. Hal ini bagian dari realita bahwa terdapatnya kasepuhan walau berusia muda/ kasepuhan muda.

Tapi di buku Sejarah Fatahilah Pahlawan Jakarta, Maulana Hasanudin tetap memanggil pada Fatahilah, Kanda, karena juga menghormati usianya yang jauh lebih tua, dan kedudukannya yang tinggi sebagai Panglima Demak yang di segani. Di samping kedekatannya Fatahilah dengan ayahandanya Ki Sunan Gunung Jati., yang juga telah mengangkatnya sebagai Penasihat kesultanan Banten Darussalam.

Ada juga pertanyaan, lantas dari pernikahan Fatahilah dengan Ratu Ayu Pembayun, apakah juga ada keturunannya?
Maka analisisnya berhubung situs ini. Yang di dalamnya juga terdapat kesimpulan bahwa Pangeran Jayakarta masih keturunannya dari Fatahilah.

Di mana di situs ini juga di sebut Fatahilah berputera 4. Di antaranya Pangeran Zakaria. Dan di antara P. Jayakarta juga terdapat keturunan dari P. Tubagus Angke.

Atau di analisa mengenai P. Wijayakrama yang juga masih di sebut turunan dari Fatahilah.  Sempat mendengar dari tetangga ada mengaku asal-usulnya dari keturunan P. Wijayakrama. Jadi Pangeran Jayakarta/P. Jakarta ada dari keturunan Tubagus Angke, Pangeran Surosowan (bahkan dari kasepuhan Surosowan-Kahibon ini juga peranakan Dul Gendhu Matarami/kasepuhan Mataram), dan Fatahilah. Tapi memang yang dari keturunan Fatahilah ini yang sempat di misteriuskan, lantaran hubungan masa gerilya menghadapi penjajah Portugis dulu.  Karena yang dari keluarga Fatahilah yang sempat di posisikan sebagai pasukan siluman.
http://www.sufiz.com/kisah-mujahid/pangeran-jayakarta-membumihanguskan-sunda-kelapa.html

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s